MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....


Rabu, 01 Juni 2011


By: H.Khaeruddin Khasbullah.

Noble life or Die a Martyr.

When his aging illness was closing in and neared to his death bed, Kholid bin Walid - The Sword of God, the name given by The Prophet – weept sadly. His best friends felt surprised and It certainly amzed to see him wept sadly. Imagine, Kholid bin Walid was a hero of Islam, he was a smart commander (general), in every battle he encountered, the victory is always guaranteed. Before he was converted to Moslem, he scattered Moslem army in the battle of Uhud. He was a war hero of Yarmuk War in 636 AD and finally managed to annex Palestina and Syria. He was a high commander who could trouble the Roman and Persian armies, the two super powers nations at that time. So his friends who surrounded his bed asked him astonishly: "O - Sword of God, why are you crying in times like this. Are you crying because you fear when facing death?".

Kholid replied: “I’m crying not because I’m afraid to die, but due to sadness and envy toward all my brothers who died in shahid. Why do I have to die in my bed. All my lifelong goal is to die on the battlefield like my brothers where they can die and meet Allah as martyrs...”

Died as a martyrs (shaheed) has been instilled in the mind of Moslem children, especially on the small traditional village. I still remember some verses that I memorized without knowing the meaning when reading Sirroh Nabawiyyah(Mauludan)/reciting poetry about the Prophet Muhammad’s life in the mosque. These children and many children on the other nations used to read Barzanji’s litany; although most of them they only recite without knowing the meaning. There is one verse on the litany that these children recite which reads as follow:

ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺼﻞ ﻋﻟﻰ ﻤﺤﻤﺪ
ﻴﺎ ﺮﺐ ﺑﻟﻐﻪ ﺍﻟﻭﺴﻴﻟﺔ
Dst dst
ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺼﻞ ﻋﻟﻰ ﻤﺤﻤﺪ
ﻴﺎ ﺮﺐ ﻭﺍﺮﺯﻗﻨﺎ ﺍﻟﺸﻬﺎﺪﺓ

”May Peace and blessings be upon Prophet Muhammad”.
“O Robb (Lord), Place Prophet at high level position in Heaven”.
“May Peace and prosperous be upon Prophet Muhammad”.
“O Robb make us die as martyrs”.

These Lyrics which were written by Sheikh Abdurrahman Ad-Diba'I who was able to memorize 100,000 hadiths were not without any basis, but based on several hadith of the Prophet, including:

Inded the Propehet has spoken: ”Those who appeal to Allah in his rightousness to die a martyr, then Allah will give them a martyrdom even though he died on bed. (Hadith History of Tirmidzi, Nasa'i, Ibn Majah, Ibn Hibbaan - Al-Hakim- judge that hadist have strong legitimated).

So it is understandable that in the colonial era, Indonesia has never run out of heroes. In Indonesia and throughout the moslem word that the word one died one thousand will rise. Since the have been taught since their childhood to willing and even die in the state of shaheed/martyrdom.

The famous slogan:

ﻋﺶ ﻜﺮﻴﻤﺎ ﺍﻮ ﻤﺖ ﺸﻬﻴﺪﺍ

“Noble life or Die a Martyr”!!!

Allah says in Surah Baqoroh 154 and Ali Imran 169:
ﻮﻻ ﺘﻗﻮﻟﻮﺍ ﻟﻤﻦ ﻴﻗﺘﻞ ﻔﻲ ﺴﺑﻴﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺍﻤﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺍﺣﻴﺎﺀ ﻮﻟﻜﻦ ﻻ ﻴﺸﻌﺮﻮﻦ

[2.154] Do not say that those killed in the Way of Allah are dead, they are alive, although you are unaware.

ﻮﻻ ﺘﺣﺴﺑﻦ ﺍﻟﺫﻴﻦ ﻗﺘﻟﻮﺍ ﻔﻲ ﺴﺑﻴﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺍﻤﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺍﺣﻴﺎﺀ ﻋﻧﺪ ﺮﺑﻬﻡ ﻴﺮﺰﻗﻮﻦ

[3.169] You must not think that those who were killed in the way of Allah are dead. But rather, they are alive with their Lord and have been provided for rejoicing in the Bounty

Types of Shaheed/ martyr.

Please note the term Shaheed according to Islam.

There are two types of Shaheed, namely the “Worldly and Hereafter Shaheed” and “Hereafter Shaheed”only.

a) “Wordly and Hereafter Shaheed” is someone who dies in while performing duty, or battles of defending the religion that has been decided by the Head of Sates as the Ahlul Halli Wal Aqdi.(Syariat Senat/ Congress to execute the Holy War – See: Resolusi Jihad K.H.Hasyim Asy’ary at: )

ﺍﻋﻟﻡ ﺍﻦ ﺍﻟﻤﺻﻨﻒ ﺮﺤﻤﻪ ﺍﻟﻟﻪ ﺬﻛﺮ ﻔﻲ ﻀﺎ ﺑﻁ ﺍﻟﺸﻬﻴﺪ ﺜﻼﺚ ﻗﻴﻮﺪ : ﺍﻟﻤﻮﺖ ﺤﺎﻞ
ﺍﻟﻗﺗﺎ ﻝ ﻮ ﻜﻮﻧﻪ ﻗﺗﺎ ﻞ ﻜﻔﺎﺮ ﻮﻜﻮﻧﻪ ﺑﺴﺑﺐ ﻗﺗﺎﻞ

That is:
The definition of martyrdom has to have three conditions namely; died in the battlefield, war against infidel, and died because of war. (Hamisy Qolyubi Wa Umairoh1 / 337).

b) “Hereafter Shaheed” is the one who dies with the “Shahadah/death” causes as follows: among others as death while seeking knowledge or while Islamic syar'i preaching, sudden death due to disaster or drowning, abdominal pain or die while give birth, crushed by debris, was convicted and exiled because considered extremist such as P. Diponegoro, Cut Nya'dien, Kiyai Mojo, K.H.A. Rifa'I, etc.

So according to Islam, martyrdom not only achieved by involving holy war, but also can be achieved by searching and seeking knowledge or by teaching and preaching qur’an or hadith, etc.

As testimony in the Book of Matan Syarqowi J.1/338:

ﻮﺧﺭﺝ ﺑﺷﻬﻴﺪ ﺍﻟﻤﻌﺮﻜﺔ ﻏﻴﺭﻩ ﻤﻦ ﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻜﻤﻦ ﻤﺎﺖ ﻤﺒﻁﻮﻧﺎ ﺍﻮ ﻤﺤﺪﻮﺪﺍ ﺍﻮﻏﺭﻴﻗﺎ ﺍﻮ ﻏﺭﻴﺒﺎ ﺍﻮ ﻤﻘﺘﻮﻻ ﻈﻟﻤﺎ ﺍﻮ ﻂﺎﻟﺐ ﻋﻟﻤﺎ ﻔﻴﻐﺴﻞ ﻮﻴﺼﻟﻲ ﻋﻟﻴﻪ ﻮﺍﻦ ﺻﺪﻖ ﻋﻟﻴﻪ ﺍﺴﻡ ﺷﻬﻴﺩ ﻔﻬﻮ ﺷﻬﻴﺩ ﻔﻲ ﺛﻮﺍﺐ ﺍﻷﺨﺮﺓ

That is:
"Excluded from the status of martyrdom in battlefield is the martyrs' who died not in the battlefield as well, such as sudden death due to abdominal pain (Tho'un / Cholera/ die while give birth ), or died in captivity, or drowning (ghoriq), or exiled, or murdered in abused (dzalim), or while searching of knowledge. So they all had to be bathed, prayed for, although they have martyrdom status, he was martyred as the reward of the hereafter. "

So to expect Shaheed in peace times nowadays, where there is no holy war fatwa from Ahlul Halli Wal Aqdi (Syariat Senat/ Congress), can be achieved by seeking knowledge and lifelong education, teaching the Quran and Sunnah tirelessly, preaching with sincerity to convey the truth, teaching and writing any usefully science/ shari'ah sciences and other activities of positive duties until our death, not with Heretics Jihaad such as bombing here and there, which is the wrong way that is not justified by FIQH Jihaad (Syariat Law of Holy War) as the Prophet Muhammad left a message to his companion - Mu'adh bin Jabal- when he was assigned governor in Yemen: "You should not destroy the trees, or burn the building, may not destroy places of worship (any religion), may not kill the monk (priest), children, women and elderly people, unless they attack you" .... So say the message of the Prophet.

Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah.

Hidup Mulia atau Mati Syahid!

Tatkala sakit tuanya telah bertambah lanjut dan ajal hampir menjemput, Kholid bin Walid - Si Pedang Allah menangis dengan sedih. Tangisan ini tentu terasa aneh dan mengundang tanya bagi para sahabatnya yang lain. Betapa tidak, Kholid bin Walid adalah pahlawan Islam, panglima yang sangat cerdik, dan dalam setiap pertempuran yang dilakukannya, hampir selalu diakhiri dengan kemenangan telak. Dia pula yang saat sebelum masuk Islam sempat membuat kocar kacir pasukan muslimin di Perang Uhud. Dia pula pahlawan perang Yarmuk pada tahun 636 dan akhirnya berhasil menguasai Palestina dan Suriah. Dia Pula yang dapat membuat kocar kacir pasukan Romawi dan Persia, dua super power pada masa itu. Maka para sahabat yang mengelilingi tempat tidurnya bertanya dengan nada heran: “ Wahai Pedang Allah, kenapa kau menangis disaat seperti ini. Apakah kau menangis karena kau takut tatkala menghadapi kematian?”.

Maka Kholid pun menjawab: “ Aku menangis bukan karena aku takut mati, tapi aku menangis, sedih, serta iri pada teman- temanku seperjuangan yang telah SYAHID. Sungguh mengapa hidupku harus berakhir di tempat tidur seperti ini. Padahal cita- citaku seumur hidup ialah memohon agar aku dapat mati seperti teman- temanku yang lain, dimana mereka dapat menghadap Allah sebagai Syuhada…” .

Cita- cita mati Syahid sudah sangat ditanamkan sejak kecil bagi anak- anak muslim, terutama dikampung-kampung. Saya masih ingat beberapa bait yang saya hafal tanpa tahu artinya tatkala membaca Sirroh Nabawiyyah (Mauludan) di surau. Anak- anak kampung di Indonesia dan di sebagian Negara muslim terbiasa membaca Barzanji-Diba’I, walaupun pada awalnya mereka hanya sekedar menghafal tanpa tahu maknanya. Dalam bait-bait syair yang biasa dihafal anak-anak dan orang kampung tradisional tersebut ada sebaris bait syair yang berbunyi:

ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺼﻞ ﻋﻟﻰ ﻤﺤﻤﺪ
ﻴﺎ ﺮﺐ ﺑﻟﻐﻪ ﺍﻟﻭﺴﻴﻟﺔ
dst... dst...
ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺼﻞ ﻋﻟﻰ ﻤﺤﻤﺪ
ﻴﺎ ﺮﺐ ﻭﺍﺮﺯﻗﻨﺎ ﺍﻟﺸﻬﺎﺪﺓ

Semoga Salam Sejahtera tersanjung ke baginda Nabi Muhammad
Wahai Robb, karuniailah Nabi suatu kedudukan yang tinggi di Sorga.

Semoga Salam Sejahtera tersanjung ke baginda Nabi Muhammad
Wahai Robb Karuniailah kami MATI SYAHID.

Bait- bait syair ini tentu ditulis oleh pengarangnya , Syekh Abdurrahman Ad-Diba’I yang hafal 100.000 hadist itu bukannya tanpa dasar, tetapi mengacu pada beberapa hadist Nabi, diantaranya:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : “Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

Maka jangan heran apabila seperti di Indonesia tidak pernah kehabisan jumlah pahlawan. Di Indonesia dan di seluruh dunia muslim pada zaman penjajahan dahulu para pahlawan patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu, karena mereka sejak kecil sudah dididik agar rela dan bahkan mengharap mati dalam keadaan Syahid.
Terkenal saat itu sebuah semboyan:

ﻋﺶ ﻜﺮﻴﻤﺎ ﺍﻮ ﻤﺖ ﺸﻬﻴﺪﺍ

“Hidup Mulia atau Mati Syahid”!!!

Allah berfirman dalam Surat Al- Baqoroh 154 dan Ali Imron 169:

ﻮﻻ ﺘﻗﻮﻟﻮﺍ ﻟﻤﻦ ﻴﻗﺘﻞ ﻔﻲ ﺴﺑﻴﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺍﻤﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺍﺣﻴﺎﺀ ﻮﻟﻜﻦ ﻻتشعرون

ﺑﻞ ﺍﺣﻴﺎﺀ  عند ربهم يرزقون

“Dan janganlah kamu sekalian mengatakan bahwa orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah itu dalam keadaan mati, bahkan dia hidup, namun mereka tidak memahaminya” Surat Al- Baqoroh 154

ﻮﻻ ﺘﺣﺴﺑﻦ ﺍﻟﺫﻴﻦ ﻗﺘﻟﻮﺍ ﻔﻲ ﺴﺑﻴﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺍﻤﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺍﺣﻴﺎﺀ ﻋﻧﺪ ﺮﺑﻬﻡ ﻴﺮﺰﻗﻮﻦ

“Dan janganlah kamu menganggap bahwa orang-orang yang terbunuh dalam perang sabil itu dalam keadaan mati, bahkan mereka itu hidup, disisi Tuhan mereka diberikan karunia rizki sorgawi”.
Ali- Imron 169.

Jenis- jenis Syahid.

Perlu diketahui dulu istilah Syahid menurut pengertian Islam.
Ada dua jenis Syahid, yakni Syahid Dunia Akherat dan Syahid Akherat saja.
a). Syahid Dunia Akherat adalah seseorang yang mati dalam tugas, atau peperangan membela agama yang kewajiban perangnya telah diputuskan oleh Pemimpin Negara sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi.

ﺍﻋﻟﻡ ﺍﻦ ﺍﻟﻤﺻﻨﻒ ﺮﺤﻤﻪ ﺍﻟﻟﻪ ﺬﻛﺮ ﻔﻲ ﻀﺎ ﺑﻁ ﺍﻟﺸﻬﻴﺪ ﺜﻼﺚ ﻗﻴﻮﺪ : ﺍﻟﻤﻮﺖ ﺤﺎﻞ
ﺍﻟﻗﺗﺎ ﻝ ﻮ ﻜﻮﻧﻪ ﻗﺗﺎ ﻞ ﻜﻔﺎﺮ ﻮﻜﻮﻧﻪ ﺑﺴﺑﺐ ﻗﺗﺎﻞ

Maksudnya :

Ketahuilah bahwa sesungguhnya musonnif (Imam Nawawi) dalam hal definisi mati syahid menuturkan tiga syarat, yaitu mati ketika berperang, perangnya melawan kafir, dan matinya karena sebab berperang. Hamisy Qolyubi Wa Umairoh Jus 1/337.

b). Syahid akhirat; adalah orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah sebagaimana berikut: antara lain mati dalam mencari ilmu, sedang berdakwah, karena mati mendadak tersebab bencana: tenggelam, sakit perut atau mati melahirkan, tertimpa reruntuhan, dihukum karena dianggap extremist seperti P. Diponegoro, Cut Nya’dien, Kiyai Mojo, K.H.A.Rifa’i misalnya, dll.
Sebagaimana keterangan dalam Kitab Matan Syarqowi J.1/338:

ﻮﺧﺭﺝ ﺑﺷﻬﻴﺪ ﺍﻟﻤﻌﺮﻜﺔ ﻏﻴﺭﻩ ﻤﻦ ﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻜﻤﻦ ﻤﺎﺖ ﻤﺒﻁﻮﻧﺎ ﺍﻮ ﻤﺤﺪﻮﺪﺍ ﺍﻮﻏﺭﻴﻗﺎ ﺍﻮ ﻏﺭﻴﺒﺎ ﺍﻮ ﻤﻘﺘﻮﻻ ﻈﻟﻤﺎ ﺍﻮ ﻂﺎﻟﺐ ﻋﻟﻤﺎ ﻔﻴﻐﺴﻞ ﻮﻴﺼﻟﻲ ﻋﻟﻴﻪ ﻮﺍﻦ ﺻﺪﻖ ﻋﻟﻴﻪ ﺍﺴﻡ ﺷﻬﻴﺩ ﻔﻬﻮ ﺷﻬﻴﺩ ﻔﻲ ﺛﻮﺍﺐ ﺍﻷﺨﺮﺓ

“Dikecualikan dari status mati syahid dalam peperangan ialah para Syuhada’ selain dalam peperangan, seperti halnya mati karena sakit perut (Tho’un/ Kolera / mati karena melahirkan), atau di had (hukum), atau tenggelam (ghoriq), atau diasingkan, atau dibunuh secara dzalim, atau dalam waktu mencari ilmu. Maka mereka semua itu di mandikan, dan disholati, meskipun berstatus mati syahid, karena dia mati syahid dalam perhitungan pahala diakhirat.”

Maka mengharap Syahid pada masa damai sekarang ini, dimana tidak ada fatwa perang dari Ahlul Halli Wal Aqdi, bisa kita dapatkan dengan mencari ilmu disetiap waktu, mengajarkan Al- Qur’an tanpa kenal lelah, berdakwah dengan ikhlas untuk menyampaikan kebenaran, mengajarkan dan menulis ilmu- ilmu syari’at dan ilmu-ilmu yang bermanfaat atau melaksanakan tugas- tugas yang bernilai positive sampai ajal menjemput, tidak harus dengan cara mencari mati cara-cara sesat, yakni dengan mengebom sana-sini, bahkan cara model seperti ini adalah cara yang salah dan tidak dibenarkan menurut FIQH JIHAD, sebagaimana pesan Rasulullah SAW kepada sahabat Mu’adz bin Jabal tatkala beliau akan ditugaskan menjabat sebagai gubernur di Yaman: “ Kalian tidak boleh sembarangan menebang pohon, membakar bangunan, tidak boleh merusak tempat ibadah (agama apapun), tidak boleh membunuh para Rahib (pendeta), anak- anak, para wanita dan orang tua, terkecuali mereka menyerang kalian”…. Demikian pesan Nabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar