MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Kamis, 21 Juni 2018

MENURUT IBNU TAIMIYYAH, APAKAH BACAAN KALIMAH THOYYIBAH ITU SAMPAI KEPADA MAYAT YANG DIBACAKAN UNTUKNYA?



MENURUT SYEKH IBNU TAIMIYYAH, HADIAH BACAAN “LAA ILAAHA ILLALLOH” DAN KALIMAH SUCI YANG LAIN KEPADA MAYIT MUKMIN AKAN BERMANFAAT KEPADA MAYIT TERSEBUT

Seringkali kita dengar seorang muballigh melempar gurauan dan candaan dalam pidatonya tentang sampai atau tidak sampainya ayat Al- Qur’an kepada mayit.
Dengan santainya muballigh itu berkata:” Sampai, buktinya tidak pernah ada mayat yang mengembalikan bacaan al- Qur’annya”……semua hadirin pun tertawa kecut.
Secara tidak sadar mereka sedang melecehkan diri sendiri karena yang berbeda pendapat akan bergumam: “Tuh khan, tak ada dalilnya?”
Padahal dalilnya begitu berlimpah, termasuk dari masyayikh/ guru- guru mereka sendiri yang menganggap bacaan Al- Qur’an untuk si mayit tak ada gunanya. Tanpa mereka sadari justru panutan mereka menyatakan: bahwa bacaan Al- Qur'an, dzikir dan do'a- do'a itu itu sampai dan bermanfaat kepada si mayit.
Orang mungkin banyak yang akan terkejut membaca tulisan Syekh Ibnul Qoyyim Al- Jauzy, salah seorang murid terpandai dari Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitab “Ar- Ruh” halaman 119, demikian:
وذهب اهل البدع من أهل الكلام أنه لا يصل إلى الميت شيء البتة لا دعاء ولا غيره
“Dan para ahli- ahli bid’ah dari sebagian ahli kalam berpendapat bahwa sesungguhnya hadiah pahala itu tak akan sampai kepada mayit sama sekali, tidak do’a, tidak juga selainnya”.
Nah !...menurut Syekh Ibnul Qoyyim, justru orang yang tidak meyakini sampainya pahala apapun kepada mayit itu disebutnya sebagai Ahli Bid’ah, alias maling teriak maling.
Bagaimana menurut guru beliau Syekh Ibnu Taimiyyah tentang hal ini?
Dalam kitab beliau “Majmu’ Fatawa” Juz 24/ 323, ditanyakan kepada beliau tentang seseorang yang membaca 70.000 kali kalimat Tahlil (Laa ilaaha illalloh), beliau menjawab sebagai berikut:
(24/323)
________________________________________
وسئل
عن قراءة أهل الميت تصل إليه والتسبيح والتحميد والتهليل والتكبير إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا
فأجاب يصل إلى الميت قراءة أهله وتسبيحهم وتكبيرهم وسائر ذكرهم لله تعالى إذا أهدوه إلى الميت وصل إليه والله أعلم
وسئل
هل القراءة تصل إلى الميت من الولد أولا على مذهب الشافعى
فأجاب أما وصول ثواب العبادات البدنية كالقراءة والصلاة والصوم فمذهب أحمد وأبى حنيفة وطائفة من أصحاب مالك والشافعى إلى أنها تصل وذهب أكثر أصحاب مالك والشافعى إلى أنها لا تصل والله أعلم.
Dan beliau Syekh Ibnu Taimiyyah ditanya tentang bacaan Al- Qur'an keluarga mayit kepada si mayit, dan bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir apabila keluarga tersebut menghadiahkannya kepada si mayit, sampaikah pahalanya atau tidak?
Maka beliau menjawab: “Bacaan Al- Qur’an keluarganya akan sampai kepada si mayit, begitu juga bacaan tasbih mereka , takbir mereka dan seluruh dzikir- dzikir mereka kepada Allah jika mereka menghadiahkan nya kepada si mayit dan sampailah kepadanya. Wallohu a’lam.
Dan beliau pun ditanya:
“Apakah bacaan Al- Qur’an dari seorang anak kepada si mayit menurut madzhab Syafi’I sampai?”
Maka beliaupun menjawab:
“Adapun sampainya pahala ibadah badaniyyah seperti membaca Al- Qur’an atau Sholat atau Puasa, maka madzhab Imam Ahmad (Hanbaly), Abi hanifah (Hanafy) dan sebagian Ashab Imam malik (Maliky) dan Asy Syafi’I bahwa itu akan sampai pahalanya pada si mayit, namun sebagian besar Ashab malik dan As- Syafi’I ada yang menyatakan tak akan sampai. Wallohu a’lam.
Tentang seseorang yang membaca 70.000 kali Tahlil untuk dihadiahkan pada si mayit, apakah dzikir sebanyak itu bermanfaat bagi mayit? Beliau menjawab:
وقد سئل شيخ الإسلام ابن تيمية – كما في "مجموع الفتاوى" (24/323)
: عمَّن ( هلَّلَ سبعين ألف مرة وأهداه للميت يكون براءة للميت من النار ) حديث صحيح ؟ أم لا ؟
وإذا هلل الإنسان وأهداه إلى الميت يصل إليه ثوابه أم لا ؟
فأجاب :
إذا هلل الإنسان هكذا : سبعون ألفا ، أو أقل ، أو أكثر ، وأهديت إليه نفعه الله بذلك ، وليس هذا حديثا صحيحا ولا ضعيفا انتهى.
Syekh Ibnu Taimiyyah, sebagaimana dalam "Al Majmu' Al Fatawa" 24/323 ketika ditanya tentang: Seseorang yang bertahlil (mengucap Laa ilaaha illalloh) sebanyak 70.000 kali dan menghadiahkan nya untuk mayit, apakah betul dapat membebaskan si mayit dari siksa api neraka. Apakah ini berdasar hadist sohih atau bukan? Dan jika seseorang bertahlil dan menghadiahkannya pada si mayit akan sampai pahalanya untuk si mayit atau tidak? Maka Syekh Ibnu Taimiyyah menjawab: "Jika seseorang bertahlil sedemikian itu 70.000 kali, atau lebih banyak, atau lebih sedikit dan menghadiahkannya kepada mayit (mukmin..pent), maka Allah akan memberikan manfaat dengan sebab bacaan Tahlil itu.
Adapun hadis tersebut diatas tidaklah sohih dan tidak pula dhoif (karena kalimat tersebut adalah pernyataan Ibnu “Arobiy, bukannya sebuah hadist)........
Tentang pendapat Syafi'i dalam hal ini Imam Nawawy dalam Kitab Al- Adzkar dan Riyadhus Sholihin menukil:
قد نقل الإمام النووي في الأذكار ورياض الصالحين عن الإمام الشافعي رحمه الله قوله: ويستحب أن يقرأ عنده (الميت) شيء من القرآن وإن ختموا القرآن كله كان حسناً.
Menukil dari Imam Syafi'i Rohimahulloh: "disunahkan agar membaca sebagian Ayat- ayat Al- Qur'an disisi mayit. Jika dapat mengkhatamkan seluruh Al- Qur'an, tentu lebih baik".
Syekh Ibnu Katsier dalam kitabnya "Al- Bidayah wan Nihayah, Babu Wafaati Syekh Ibnu Taimiyyah" mencatat bahwa ketika beliau Syekh Ibnu Taimiyyah wafat, dibacakan untuk beliau beberapa khataman Al- Qur'an.....

Tapi ada syarat utama agar bacaan itu sampai pada si mayit, 
no 1. Niyat menghadiahkan kepada si mayat . no 2. Bukan karena bayaran.....Lihat: S. Sabiq:  Fiqhus Sunnah Bab Janazah 1/309
Wallohu a'lam.

H. Khaeruddin Ibn Khasbullah

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php…
http://islamport.com/d/3/tym/1/40/360.html
https://islamqa.info/ar/107450

fatwa.islamweb.net
تحرير مذهب الشافعية في وصول ثواب القراءة للميت جاء في تفسير ابن كثير في سورة النجم عند قوله تعالى وأن ليس للإنسان إلا ما سعى أن المفسر رحمه الله نقل ق..

Senin, 11 Juni 2018

ANALYSIS YANG ASAL DAN TERKESAN MENFITNAH

Buya Ashfi Bagindo Pakiah:


Tamparan keras atas kesoktahuan seorang Wahhabiyyun yg merasa paling paham Pemikiran Imam Abu Hasan al-Asy'ariy

Buya Ashfi Bagindo Pakiah:

A.R. Al Salafy bilang 👇;

//Itu bukan matan kitab aslinya pak..itu tambahan dari muhaqiqnya fauqiyah husein//

//Sy juga pnya kok pak pdf tahqiqkannya fauqiyah husein..itu adalah pasal tambahan dr muhaqiqnya bukan matan asli kitabnya//


Teks yang ia bilang tambahan itu adalah teks;

استواء منزها عن المماسة، والاستقرار، والتمكن، والحلول، والانتقال


"ISTIWA' yang suci dari makna "saling sentuh", "tinggal", "menetap" ,"menyatu" dan "berpindah".(pent.)
Kalam seperti ini ada di beberapa tempat dalam "Ibanah"(Kitab Tauhid karya Imam Asy'ary yang menurut Wahabiyyun ketika menulis ini beliau sudah ruju' kepada Ahlus Sunnah, padahal beliau memang Ahlus Sunnah setelah menyatakan keluar dari Muktazilah).

Pertanyaannya, Khi A.R. Al Salafy;

1. Apakah antum punya manuskrip kitab Ibanah?

2. Jika punya, ada berapa manuskrip? Dr. Fauqiyah punya 4 manuskrip. Disertasi studi naskah Ibanah di Riyadh ada 6 manuskrip. Disana teks yang antum anggap tambahan itu ada.

3. Apakah Ibanah cetak yang paling kredibel itu hanya yang punya antum; Dar Ibnil Jauzi Mesir? Jika teks yang dimaksud juga tidak ada di cetakan versi antum, maka sama saja dengan cetakan Dar Kutub Ilmiyyah.

4. Apaka antum sudah baca Ibanah cet. Dar Bayan Syiria, cet. Maktabah Muayyad Saudi, Dar Fadhilah 6 naskah Saudi? Semuanya ada teks yang antum katakan tambahan itu, padahal tidak ada Dr. Fauqiyah disana.

5. Apakah karena teks itu begitu mengganggu misi antum sehingga dianggap itu tambahan dari pentahqiq?

Lalu antum lanjutkan;

//Di bab istiwa matan aslinya yg dijadikan acuan tahqiiq fauqiyah husein gk sebanyak itu tambahannya katanya cm...من غير طول والاستقرار.... يلق به
//

Yaa akhi... antum apakah punya kitab al-Ibanah cet Darul Bayan Syiria, Maktabah Muayyad Saudi, Dar Fadhilah Saudi? Semuanya ada teks ini, tidak ada Dr Fauqiyah disana. Antum apakah sudah pernah belajar ilmu filologi?

Dan itu dikatakan "tambahan", tambahan dari siapa? Dan cuma "katanya"? Antum sudah pernah lihat manuskripnya?


(seterusnya kata anda):

//maka itu adalah penambahan dari muhaqiqnya//


Antum jangan memfitnah akhi kalau belum tahqiiq. Tanggung jawab di akhirat antum memfitnah muhaqqiq. Cetakan Saudi tidak ada Dr Fauqiyahnya, tapi teks itu ada.


(seterusnya kata anda):

//dia jabarkan sesuai pendapatnya//

Tambah lagi asumsi (anda) disini:


//atau bisa jd dia nukil dr qoul org lain...//


Ternyata belum yakin ya, akhirnya "bisa jadi". Dinukil dari siapa teks itu? Kalau cetakan Saudi, Syiria dinukil dari siapa?


(kata anda):

//taqdim,ta'liiq,tahqiiqnya fauqiyah sangat banyak..lebih banyak tulisan dia daripada matan asli tulisan imam asyaari//

Jika banyak yg dimaksudnya adalah banyaknya catatan kaki, ini justeru bagus, benar2 melakukan kajian studi naskah. Tapi jika yang dimaksud banyak disini adalah sisipan2 pentahqiq, ini jelas fitnah tanpa ilmu dan kapasitas.

Silakan dijelaskan dan jawab semua pertanyaan saya dari atas, sudah disusun poin per poin.

Percakapan Obrolan Berakhir

Rabu, 04 April 2018

MENANGKIS SYUBHAT WASIYAT IMAMAH SYI'AH


 MENANGKIS SYUBHAT WASIYAT IMAMAH SYI'AH
Oleh: H. Khaeruddin Ibn Khasbullah.





PENYERAHAN KEMBALI MANDAT KEKHALIFAHAN YANG DIPERCAYAKAN UMAR BIN KHOTTOB  KEPADA ALI SELAMA DI TINGGAL KE YERUSSALEM UNTUK MENERIMA KUNCI KOTA YERUSSALEM DARI USKUP SAPHORIUS ADALAH SEBAGAI BUKTI TAK TERBANTAHKAN AKAN BATALNYA SYUBHAT IMAMIYYAH KAUM SYI’AH.

Setelah Umat Islam memperoleh kemenangan di perang Yarmuk, Abu Ubaidah memerintahkan Khalid bin Walid untuk keluar menuju Homs, sedang Abu Ubaidah menggerakan pasukan mujahidin ke Damaskus.
Abu Ubaidah membagi Syam menjadi beberapa wilayah:
– Damaskus dan sekitarnya dengan komandan Yazid bin Abu Sufyan.
– Yordania dan sekitarnya dibawah komando Surahbil bin Hasnah.
– Sedangkan Abu Ubaidah berada di Homs dan sekitarnya.
Dengan izin Allah, seluruh komandon berhasil membersihkan daerah dari tentara Romawi dan pengikut mereka, maka tidak tersisa di depannya selain pembebasan Al-Quds/ Yerussalem.
Abu Ubaidah Al Jarrah mengepung Baitul Maqdis selama 6 bulan. Perjuangan mereka tak sia-sia. Saat itu, udara dingin musim semi April tahun 637, menjadi saksi bahwa umat Islam akhirnya dapat bersujud tenang di Al Aqsa. Penjaga kunci kota Al Quds, Pendeta Sophronius mensyaratkan tidak akan menyerahkan kunci kota Yerussalem kecuali kepada pemimpin tertinggi ummat Islam, yakni hanya kepada Khalifah Umar bin Khottob. Ra.

UMAR MENYERAHKAN MANDAT KEKHALIFAHAN KEPADA ALI.

Maka Ummar bin Khottob pun mempersiapkan diri untuk mengunjungi dan menerima kunci pintu gerbang Yerussalem yang berjarak 2400 km dari Madinah itu sesuai tuntutan uskup Saphorius. Umar pun memanggil S. Ali. Kw dan menyerahkan tugas- tugas kekhalifahan yang berkedudukan di Madinah kepadanya. Berangkatlah beliauUmar bin Khottob hanya ditemani seorang pembantu, bukannya konvoi pasukan kebesaran yang mengantarkan beliau menerima limpahan kekuasan AL- Quds, dan selama perjalanannya tak henti- hentinya beliau membaca surat Yasin (bid’ah hasanah?). Subhanalloh.

لم يمشي عمر بن الخطاب للقدس بخيل قوية مطهمة، ولا بجيوش جرارة، ولا بعظمة وأبهة غير عظمة الإيمان في قلبه، مشى إليها بناقة وخادم معه، وزاد هو عبارة عن كفايته الطريق من الماء والخبز والتمر.


ومشى إليها يقطع الفيافي، في رحلة تاريخية، من المدينة للقدس، يقطع وخادمه الصحراء، وحيدين، أعزلين، يتلوان سورة يس
https://web.facebook.com/notes/%D8%AD%D9%82-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%88%D8%AF%D8%A9/%D9%82%D8%B5%D8%A9-%D9%81%D8%AA%D8%AD-%D9%85%D8%AF%D9%8A%D9%86%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%AF%D8%B3-%D9%81%D9%8A-%D8%B9%D9%87%D8%AF-%D8%B9%D9%85%D8%B1-%D8%A8%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D8%A7%D8%A8-%D8%B1%D8%B6%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%86%D9%87/449157265249/?_rdc=1&_rdr

S. Ali, Kw pun melaksanakan tugas- tugas kekhalifahan dengan baik selama ditinggal Umar bin Khottob, Ra  ke Yerussalem selama kurang lebih satu bulan perjalanan bolak balik.
Ketika Ummar pulang kembali ke Madinah seusai tugasnya yang amat bersejarah itu, S. Ali, Kw pun menyerahkan kembali mandat kekhalifahan kepada S. Umar bin Khottob, Ra.

JIKA WILAYAH IMAMAH (ALI DAN AHLUL BAIT) ADALAH BAGIAN DARI POKOK AQIDAH, MENGAPA ALI TIDAK MEREBUTNYA DARI UMAR BIN KHOTTOB KETIKA ADA KESEMPATAN DAN KETIKA ITU MANDAT KEKHALIFAHAN ADA DITANGANNYA?
BAHKAN S. ALI MENGEMBALIKANNYA KEPADA UMAR BIN KHOTTOB, RA SEPULANG BELIAU MENERIMA KUNCI YERUSSALEM?

Jika Wilayah Imamah (Ali dan Ahlul Bait) itu adalah pokok aqidah dan tak ada rukhshoh/ keringanan untuk membiarkannya jatuh ketangan orang yang tak berhak, maka merebutnya dari orang tak tak berhak tersebut adalah suatu kewajiban.
Sebagai tokoh Ahlul Bait, bila benar ada wasiyat dari nabi saw tentang Wilayah Imamiyyah khusus untuk Ahlul Bait sesudah wafatnya baginda Nabi, maka S. Ali memiliki kewajiban sejarah untuk merebutnya dari orang yang tak berhak dalam hal ini dari Umar bin Khottob Ra. Membiarkannya ditangan orang tak berhak berarti telah melepas suatu aqidah keyakinan yang paling dasar menurut keyakinan Syi’ah.
Apalagi ketika itu kekuatan pasukan sepenuhnya ada ditangan S. Ali ketika memperoleh mandat dari Umar tersebut, bahkan Umar pun tak membawa pasukan sedikitpun seperti telah diriwayatkan diatas baik ketika ke Yerussalem dan juga ketika pulangnya. Mengepung dan menghancurkan Umar bin Khottob yang sedang seorang diri adalah hal yang amat mudah dilakukan oleh S. Ali. Mengapa hal ini tidak dilakukan oleh S. Ali Kw?
Bukankah berarti S. Ali telah membiarkan suatu aqidah penting lepas dari tangannya, dan ini mustahil dilakukan oleh S. Ali yang amat menjaga aqidah serta gagah berani, bahkan pintu benteng Khoibar dapat terbebas melalui kepemimpinanya, atau……
Jawabannya adalah: karena sejak awal S. Ali Kw memahami tak ada wasiyat Wilayah Imamiyyah khusus dari nabi, kecuali apa yang telah di syubhatkan oleh infiltran Yahudi untuk membenturkan kaum muslimin dan para pendukungnya (Syi’ah Ali) yang fanatic. Maka semua nash ataupun aneka ayat dan hadist yang dipersepsikan mendukung ke Imaman Ali dan Ahlul Bait, menjadi mentah dengan sendirinya tanpa perlu argument yang berkepanjangan.

Minggu, 11 Maret 2018

PENDAPAT SYEKH QORDHOWY TENTANG CADAR/ NIQOB

PENDAPAT SYEKH QORDHOWY TENTANG CADAR/ NIQOB



Syekh Yusuf Al- Qardhawi mengatakan, satu hal yang tidak akan disangkal oleh siapa pun  yang mengetahui sumber-sumber ilmu dan pendapat ulama, bahwa masalah memakai cadar tersebut merupakan masalah khilafiyah, masih ada perbedaan pendapat. Artinya, persoalan apakah boleh membuka wajah,  atau  wajib menutupnya — demikian pula dengan hukum kedua telapak tangan — adalah masalah yang masih diperselisihkan diantara para ulama.

"Masalah ini masih diperselisihkan oleh para ulama, baik dari kalangan ahli fikih,  ahli tafsir, maupun ahli hadits, sejak zaman dahulu hingga sekarang," ujarnya.

Diantaranya pendapat Syafi'i (admin)

وقال الشيرازي صاحب " المهذب " من الشافعية.
(وأما الحرة فجميع بدنها عورة، إلا الوجه والكفين (قال النووي: إلى الكوعين لقوله تعالى: (ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها) قال ابن عباس: وجهها وكفيها (قال النووي " في المجموع ": هذا التفسير المذكور عن ابن عباس قد رواه البيهقي عنه وعن عائشة رضي الله عنهم)، ولأن النبي -صلى الله عليه وسلم- " نهى المحرمة عن لبس القفازين والنقاب " (الحديث في صحيح البخاري، عن ابن عمر رضي الله عنهما : " لا تنتقب المحرمة، ولا تلبس القفازين) ولو كان الوجه والكف عورة لما حرم سترهما، ولأن الحاجة تدعو إلى إبراز الوجه للبيع والشراء، وإلى إبراز الكف للأخذ والعطاء، فلم يجعل ذلك عورة).
وأضاف النووي في شرحـه للمهذب " المجموع ": (إن مـن الشافعية مـن حكى قولاً أو وجها أن باطن قدميها ليس بعورة، وقال المزني: القدمان ليستا بعورة، والمذهب الأول).
 
Imam Syairozi sahib Madzhab Syafi'i menulis:
"Maka bagi wanita merdeka seluruh badannya adalah aurat terkecuali wajah dan kedua telapak tangan. Imam Nawawy berkata dalam kitab Al- Majmu': Ini adalah tafsiran yang tersebut dari sahabat Abdulloh bin Abbas ra, telah meriwayatkan hadist ini Imam Baihaqy dari nya dan dari 'Aisyah ra. Dan karena sesungguhnya Rasululloh saw " Telah melarang wanita yang sedang Ihrom untuk memakai kedua sarung tangan dan cadar". Hadist Sohih Bukhory. Seandainya wajah dan kedua telapak tangan itu aurat, tentu ketika Ihram lebih- lebih wajib untuk ditutupinya. Dan karena hajat keseharian itu memerlukan wajah dan tangan terbuka untuk jual beli, untuk mengambil dan menerima sesuatu  dsb. Maka Syari'at tidak menjadikannya aurat. Imam Nawawy menyandarkan pernyatannya pada Al- Majmu' Syarah Al- Muhaddzab dengan pernyataan: "Sesungguhnya Syafi'iyyah ada yang menyatakan suatu pendapat bahwa wajah dan kedua tangan itu bukan aurat, dan berkatalah Imam Al- Muzanie bahwa kedua telapak tangan itu juga bukan aurat, dan itu madzhab yang awal".
 
Selanjutnya Qardhawi menyatakan bahwa, perbedaan pendapat itu kembali kepada pandangan mereka terhadap nash-nash/ dalil- dalil Al- Qur'an maupun hadist yang berkenaan dengan masalah ini dan sejauh mana pemahaman  mereka  terhadapnya, karena sejauh  tidak didapatinya nash yang qath'i tsubut /pasti (jalan  periwayatannya) dan dalalah (petunjuknya) mengenai masalah ini. "Seandainya ada  nash yang tegas (tidak samar), sudah tentu masalah ini sudah terselesaikan."

Mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah:

ولا يُبْدِين زِيَنَتَهُنَّ إلا ما ظَهَـر منها

 "...Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak daripadanya..." (QS An-Nur: 31).

Menurut Qardhawi, mereka meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan "kecuali apa yang biasa tampak daripadanya" ialah pakaian dan jilbab,  yakni  pakaian luar yang tidak mungkin disembunyikan.

Mereka juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang menafsirkan "apa yang biasa tampak"  itu dengan celak dan cincin. Penafsiran yang sama juga diriwayatkan dari Anas bin Malik. Dan penafsiran yang  hampir sama lagi diriwayatkan dari Aisyah.  Selain  itu, kadang-kadang lbnu Abbas menyamakan dengan celak dan cincin terhadap pemerah kuku, gelang, anting-anting, atau kalung.

Ada  pula  yang  menganggap  bahwa yang dimaksud dengan "perhiasan" di sini ialah tempatnya. Sahabat Ibnu Abbas berkata, "(Yang   dimaksud bukan termasuk aurat itu  ialah)  bagian  wajah  dan telapak tangan." Dan penafsiran serupa juga  diriwayatkan  dari Sa'id bin Jubair, Atha', dan lain-lain.

"Sebagian  ulama  lagi  menganggap  bahwa  sebagian dari lengan termasuk "apa yang biasa tampak" itu. Ibnu Athiyah  menafsirkannya dengan apa yang tampak secara darurat, misalnya karena dihembus angin atau lainnya," jelas Qardhawi.

Syekh Qardhawi mengatakan, para ulama juga berbeda pendapat dalam  menafsirkan  firman Allah: "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan  istri-isti  orang  mukmin,  'Hendaklah mereka, mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian  itu  supaya  mereka  lebih  mudah  untuk dikenal, karena  itu  mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  (QS Al-Ahzab: 59).

Maka apakah  yang dimaksud dengan "mengulurkan jilbab" dalam ayat tersebut?

Mereka meriwayatkan  dari  Ibnu  Abbas  yang  merupakan kebalikan  dari  penafsirannya  terhadap  ayat pertama. Mereka meriwayatkan dari sebagian tabi'in—Ubaidah As-Salmani—bahwa ia menafsirkan "mengulurkan jilbab" itu dengan penafsiran  praktis  (dalam  bentuk peragaan), yaitu menutup muka dan kepala, dan membuka mata yang sebelah kiri. Demikian pula yang diriwayatkan dari Muhammad Ka'ab al-Qurazhi.
 
Namun, kata Qardhawi, penafsiran kedua tokoh ini ditentang oleh Ikrimah, mantan budak Ibnu Abbas. Dia  berkata, "Hendaklah ia (wanita) menutup lubang (pangkal) tenggorokannya  dengan  jilbabnya,  dengan  mengulurkan jilbab tersebut atasnya."
 
Sa'id bin Jubair  berkata,  "Tidak  halal bagi wanita muslimah dilihat oleh lelaki asing kecuali ia mengenakan kain di atas kerudungnya,  dan ia  mengikatkannya pada kepalanya dan lehernya."

"Dalam hal  ini  saya  termasuk  orang  yang  menguatkan pendapat  yang mengatakan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat dan tidak wajib bagi wanita Muslimah menutupnya.  Karena  menurut saya, dalil-dalil pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang lain," jelas Qardhawi.

Disamping itu, lanjut Qardhawi, banyak sekali ulama zaman sekarang yang sependapat dengan dirinya, yang menyatakan wajah dan kedua tangan itu bukan aurat,  misalnya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya Hijabul Mar'atil Muslimah fil-Kitab was-Sunnah dan mayoritas ulama Al-Azhar di  Mesir, ulama Zaituna di Tunisia, Qarawiyyin di Maghrib (Maroko), dan tidak sedikit dari ulama Pakistan, India, Turki, dan lain-lain.

Meskipun demikian, kata Qardhawi, dakwaan (klaim) adanya ijma'  ulama sekarang  terhadap pendapat  ini  juga tidaklah benar, karena  di  kalangan  ulama  Mesir  sendiri ada yang menentangnya. "Ulama-ulama  Saudi  dan  sejumlah  ulama  negara-negara Teluk menentang  pendapat  ini,  dan  sebagai  tokohnya adalah ulama besar Syekh Abdul Aziz bin Baz."

Banyak  pula  ulama  Pakistan  dan India yang menentang pendapat ini,  mereka  berpendapat kaum wanita wajib menutup mukanya. Dan diantara ulama terkenal  yang berpendapat demikian ialah  ulama  besar dan dai terkenal, mujaddid Islam yang masyhur, yaitu al-Ustadz Abul A'la Al-Maududi dalam kitabnya Al-Hijab.

Adapun diantara ulama masa kini yang masih  hidup  yang mengumandangkan wajibnya menutup muka bagi wanita ialah penulis kenamaan dari Suriah, DR Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi, yang mengemukakan pendapat ini dalam risalahnya Ilaa Kulli Fataatin Tu'minu Billaahi (Kepada setiap Remaja Putri yang Beriman kepada Allah) .

Disamping itu, kata Qardhawi, masih terus saja bermunculan risalah-risalah dan fatwa-fatwa dari  waktu ke waktu yang menganggap aib jika wanita membuka wajah. Mereka menyeru kaum wanita dengan  mengatasnamakan  agama  dan iman agar mereka  mengenakan  cadar, dan menganjurkan agar jangan  patuh  kepada  ulama-ulama  "modern"  yang ingin menyesuaikan  agama  dengan  peradaban  modern.
"Barangkali  mereka  memasukkan  saya  ke dalam  kelompok ulama seperti ini," ujarnya. "Jika  dijumpai  diantara  wanita-wanita  Muslimah yang merasa mantap dengan  pendapat  ini,  dan  menganggap membuka wajah itu haram, dan menutupnya itu wajib, maka bagaimana  kita  akan  mewajibkan  kepadanya  mengikuti pendapat  lain, yang dia anggap keliru dan bertentangan dengan nash?"

Qardhawi menegaskan, "Kami hanya mengingkari mereka jika  mereka memasukkan pendapatnya kepada orang lain, dan menganggap dosa dan fasik terhadap orang yang menerapkan pendapat lain itu, serta menganggapnya sebagai kemunkaran yang wajib diperangi, padahal para  ulama muhaqiq telah  sepakat mengenai  tidak  bolehnya  menganggap munkar terhadap masalah-masalah ijtihadiyah khilafiyah."

Bahkan, kata Qardhawi, seandainya wanita  muslimah tersebut tidak menganggap wajib menutup muka, tetapi ia hanya menganggapnya lebih wara' dan lebih takwa demi membebaskan  diri  dari  perselisihan pendapat, dan dia mengamalkan yang lebih hati-hati,  maka  siapakah  yang akan  melarang  dia  mengamalkan  pendapat  yang  lebih hati-hati untuk dirinya dan agamanya? Dan apakah pantas dia dicela  selama  tidak  mengganggu  orang lain, dan tidak membahayakan kemaslahatan (kepentingan) umum  dan khusus?

Syekh Qardhawi mencela penulis terkenal Ustadz Ahmad Bahauddin yang menulis masalah ini dengan  tidak  merujuk  kepada sumber-sumber  terpercaya, lebih-lebih  tulisannya  ini dimaksudkan sebagai sanggahan terhadap putusan pengadilan khusus  yang bergengsi. Sementara kalau dia menulis masalah politik, dia menulisnya dengan  cermat, penuh pertimbangan, dan dengan pandangan yang menyeluruh.

Boleh jadi, kata Qardhawi, karena dia bersandar pada sebagian tulisan-tulisan ringan yang tergesa-gesa dan sembarang yang membuatnya terjatuh ke  dalam  kesalahan  sehingga dia menganggap "cadar" sebagai sesuatu yang munkar, dan dikiaskannya dengan  "pakaian  renang"  yang  sama-sama tidak memberi kebebasan pribadi.

”Tidak seorang pun ulama dahulu dan sekarang yang mengharamkan memakai cadar  bagi  wanita  secara  umum, kecuali  hanya  pada  waktu ihram. Dalam hal ini mereka hanya berbeda pendapat antara yang mengatakannya wajib, mustahab (sunnah), dan jaiz (mubah)," jelas Syekh Qardhawi.

Sedangkan tentang keharamannya, tidak seorang pun ahli fiqih yang berpendapat   demikian, bahkan yang memakruhkannya pun tidak ada. Maka Qardhawi mengaku sangat heran kepada Ustadz Bahauddin yang  mengecam  sebagian  ulama Al-Azhar  yang  mewajibkan menutup muka (cadar) sebagai telah mengharamkan apa yang  dihalalkan  Allah,  atau sebagai pendapat orang yang tidak memiliki kemajuan dan pengetahuan yang  mendalam  mengenai Al-Qur'an, As-Sunnah, fiqih, dan ushul Fiqih.

"Kalau hal itu hanya sekadar mubah, sebagaimana pendapat yang saya pilih, bukan wajib dan bukan pula mustahab, maka  merupakan hak bagi muslimah untuk membiasakannya, dan tidak boleh  bagi  seseorang  untuk melarangnya, karena ia   cuma melaksanakan hak pribadinya. Apalagi, dalam membiasakan atau mengenakannya  itu tidak merusak sesuatu yang wajib dan tidak membahayakan seseorang," terang ulama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini.

Qardhawi menyitir sebuah pepatah Mesir yang menyindir orang yang bersikap demikian, "Seseorang bertopang dagu, mengapa anda kesal terhadapnya?"

Hukum buatan manusia sendiri, lanjut dia, mengakui hak-hak perseorangan ini dan melindunginya. Bagaimana mungkin kita akan mengingkari wanita muslimah yang komitmen pada agamanya dan hendak  memakai  cadar, sementara  diantara  mahasiswi-mahasiswi di perguruan tinggi itu ada yang  mengenakan  pakaian  mini,  tipis, membentuk  potongan  tubuhnya  yang  dapat  menimbulkan fitnah   (rangsangan), dan memakai bermacam-macam make-up,  tanpa seorang pun yang mengingkarinya, karena dianggapnya sebagai kebebasan pribadi.

"Padahal pakaian tipis, yang menampakkan kulit, atau tidak menutup bagian tubuh selain wajah dan kedua tangan itu diharamkan oleh syara'  demikian  menurut kesepakatan kaum Muslim," ujarnya.

Syekh Qardhawi mengaku heran, mengapa wanita-wanita yang berpakaian tetapi  telanjang, yang berlenggak-lenggok dan bergaya untuk memikat orang lain kepada kemaksiatan, justru dibebaskan saja tanpa ada seorang pun yang  menegurnya dan mengkritiknya? Kemudian  mereka tumpahkan seluruh kebencian dan celaan serta caci maki terhadap wanita-wanita bercadar, yang berkeyakinan bahwa hal itu termasuk ajaran agama yang
tidak boleh disia-siakan atau dibuat sembarang?

"Kepada Allah-lah kembalinya segala urusan sebelum dan sesudahnya. Tidak ada daya untuk menjauhi kemaksiatan dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan," tandasnya.

INTINYA:
BERCADAR ATAU TIDAK BERCADAR ITU PILIHAN.
TAPI MASING- MASING TAK BOLEH SALING MENYALAHKAN KARENA MASALAH INI TERMASUK KEDALAM MASALAH KHILAFIYYAH/ PERBEDAAN PENDAPAT DIANATARA PARA ULAMA.

Sumber:

http://alashrafe.yoo7.com/t25-topic

Catatan:

Yusuf al-Qaradawi (lahir di Shafth Turaab, Kairo, Mesir, 9 September 1926; umur 91 tahun) adalah seorang cendekiawan Muslim yang berasal dari Mesir. Ia dikenal sebagai seorang Mujtahid pada era modern ini. Selain sebagai seorang Mujtahid ia juga dipercaya sebagai seorang Ketua Majelis Fatwa. 

Minggu, 28 Januari 2018

YANG PALING DI KHAWATIRKAN RASULULLOH. SAW.

YANG PALING DI KHAWATIRKAN RASULULLOH. SAW.
Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah



Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca al-Qur’an, sehingga ketika telah tampak olehnya akan kebagusan al-Qur’an dan dia menjadi pembela Islam, dia kemudian terlepas dari al-Qur’an, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”.

Aku (Hudzaifah) bertanya,
“Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”.
HR. Ibnu Hibban.


أن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه حدثه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( إن مما أتخوف عليكم رجل قرأ القرآن ، حتى إذا رؤيت بهجته عليه ، وكان رداؤه الإسلام اعتراه إلى ما شاء الله انسلخ منه ونبذه وراء ظهره وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك ) ، قال قلت يا نبي الله أيهما أولى بالشرك المرمي أو الرامي ؟ ، قال : ( بل الرامي ). رواه بن حبان في صحيحه، المجلد الأول، ص 282.
قال ابن كثير رحمه الله :
" إِسْنَادٌ جَيِّدٌ " انتهى ، وحسنه الألباني في "الصحيحة" (3201) .
ويشهد لهذا المعنى ما رواه البخاري (6104) ، ومسلم (60)

YANG DIKHAWATIRKAN NABI TERNYATA BENAR- BENAR MUNCUL MELALUI DIRI IBNU MULJAM CS, DAN AKAN TERUS ADA SAMPAI HARI KIAMAT !

Siapakah yang dimaksud? Dia adalah pembunuh S. Ali kw. Namanya Abdurrahman bin Muljam dan dua orang temannya yang juga ditugaskan untuk membunuh S. Muawiyah dan Amr. Bin Al- Ash, Gubernur Mesir, walau yang kedua terakhir gagal menjalankan misinya.

Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, bukan orang jalanan yang terkenal peminum khamr, pezina, atau seorang fasik. Bukan! Justru orang akan heran ketika mendengar bahwa Ibnu Muljam adalah seorang ahli ibadah, ahli shalat, shaum ketika siang, qiyamullail ketika malam dan penghafal Al-Qur’an, bahkan dia dipilih Umar untuk mengajarkan Al- Qur'an di Mesir karena kealimannya dalam membaca Al- Qur'an.

Dalam surat pengantarnya kepada Gubernur Mesir Amr bin Al- Ash, S. Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, namanya ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”.*)

Akan tetapi demi Allah !, kecerdasan dan semangat ibadahnya tidak disertai dengan kesucian jiwa dan ketinggian akhlaq. Dia tenggelam dalam fitnah Khawarij dan keyakinan ekstrem yang melenceng, dan uang yang diberikan Umar kepadanya sebagai bisyaroh/ gaji mengajar, justru dipergunakannya untuk membeli pedang paling beracun yang dipersiapkan untuk membunuh S. Ali, kw. Masya Alloh, dia telah terpengaruh oleh keyakinan Khowarij, yang dicetuskan oleh seorang bani Tamim dari Nejed, yang bernama Dzul Huwaishiroh.(Silahkan browsing tentang Dzul Huwaishiroh (ذو الخويصرة التميمي). Maka jadilah ia seorang penebar terror yang pertama dalam Islam.
S. Ali menafisrkan QS. Al- Kahfi ayat 103 dan 104, diantara mereka yang dimaksud dalam ayat ini adalah Kaum Haruroh yang mengikuti pemikiran ekstreem Dzul Huwaishiroh. Ayat tersebut berbunyi:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103)
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104)

“Katakanlah wahai Muhammad, maukah kami beritakan kepada kalian tentang orang yang paling merugi dalam amaliyahnya?. Yakni orang- orang sesat dalam kehidupan dunia ini, namun mereka merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang terbaik”. QS. Al- Kahfi 103- 104.
قام ابن الكوّاء إلى عليّ، فقال: من الأخسرين أعمالا الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا، وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا، قال: ويْلُك أهل حَروراء منهم.

Ibnu Al- Kawwa’ (seorang pengikut Dzuul Huwaishiroh) berdiri didepan S. Ali dan berkata: “Siapa yang dimaksud oleh ayat tersebut? S. Ali menjawab: “Celakalah kamu dan penghuni kampung Haruroh’” (Tafsir Ibnu Katsier Qs. Al- Kahfi . 104- 104). Mereka celaka karena walaupun mereka adalah ahli ibadah yang tekun, namun tak memiliki akhlaq dan budi dan tak memiliki kesucian jiwa. Naudzubillahi mindzaalik. Mereka hanya mementingkan "Hablum minalloh", namun mencampakkan "Hablum minan naas".

Itulah sebabnya para ulama Salaf sangat mengutamakan kesucian jiwa sebelum memperdalam ilmu lainnya (orang dulu menyebut dengan istilah Tasawwuf, orang sekarang lebih suka menyebutnya: management Qolbu). Syekh Ibnu Mubaarok, seorang ulama salaf ahli fikih kurun ke 2 (118 H- 181 H), 100 tahun sebelum Imam Syafi'i berkata: “Aku belajar selama 50 tahun. 30 tahun aku pergunakan untuk mempelajari Adab/ tatakrama/ kesucian jiwa, baru 20 tahun sisanya aku pergunakan untuk mencari ilmu lainnya”. Subhanalloh !

Imam Malik pernah menasehati seorang pemuda Quraisy yang sedang berniat mencari ilmu, dengan kalimat terkenal:
يا ابن أخي تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم.
“Wahai anak saudaraku, belajarlah tatakrama sebelum belajar ilmu lainnya”.
Zaman sekarang terlalu banyak ilmu campur aduk dicari, namun terlalu sedikit ilmu adab dan tatakrama yang dipelajari dan difahami, sehingga muncullah sekarang Ibnu Muljam- Ibnul Muljam baru yang pinter namun keblinger. Semoga kita dijauhkan dari semua kejelekan itu. Amin.


*).Komentar Umar tentang kesalehan Ibnu Muljam, hanya melihat dan berdasar lahiriyahnya saja, karena apa yang ada di hati Ibnu Muljam, hanya Allah Yang Maha Tahu: 
 
قال السمعاني في الأنساب وكذا قال الذهبي في تاريخ الإسلام ومثلهما قال الصفدي، وابن حجر العسقلاني في لسان الميزان: قيل: إن عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- كتب إلى عمرو بن العاص: أن قرب دار عبد الرحمن بن ملجم من المسجد ليعلم الناس القرآن والفقه، فوسع له مكان داره. انتهى

Minggu, 21 Januari 2018

BACALAH AL-QUR'AN DENGAN BERTAJWID (TARTIL)

BACALAH AL-QUR'AN DENGAN BERTAJWID (TARTIL)
Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah.



Sesuai dengan firman Allah SWT:
   
وَرَتِّلْ الْقُرْآن تَرْتِيلًا. المزمل 4
 
 "Dan bacalah Al- Qur'an dengan Tartil"

MAKNA TARTIL

Menurut S. Ali.Kw, Tartil itu artinya "membaguskan huruf dan mengetahui dimana boleh waqof atau Ibtida' ".

Imam Al- Jazary menyatakan:

وَهُوَ إِعْطَاءُ الْحُرُوفِ حَقَّهَا ... مِنْ صِفَةٍ لَهَا وَمُستَحَقَّهَا
وَرَدُّ كُلِّ وَاحِدٍ لأَصْلِــــهِ ... وَاللَّفْظُ فِي نَظِيْرِهِ كَمِثْلــــــــــهِ
مُكَمِّلاً مِنْ غَيْرِ مَا تَكَلُّفِ ... بِاللُّطْفِ فِي النُّطْقِ بِلاَ تَعَسُّفِ
وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ تَرْكِهِ ... إلا رياضة امرئ بفكــــــــه. اهـ.
(المقدمة الجزارية)

Tajwid itu mengandung arti: Mengucapkan huruf dengan memenuhi hak- haknya
Dari segala sifat dan karakternya serta segala ketentuannya
Dan mengembalikan setiap huruf pada ashli makhrojnya
Dan mengucapkan Lafadh secara seimbang dan setara
Secara sempurna tanpa dipaksa- paksa
Dengan lembut ketika mengucapkan tanpa berlebihan
Dan tiadalah yang membedakan antara yang bertajwid atau tidak
Kecuali berdasar latihan seseorang dengan mulutnya
(Mukaddimah Ibnul jazary- bait ke 30-31- 32- 33 )

Al- Hafidz Imam Abu Amr Ad- Dhany menjelaskan:

قال الحافظ أبو عمرو الداني رَحِمَهُ اللهُ: "فليسَ التجويدُ بتمضيغ اللِّسَان، ولا بتقعيرِ الفَمِ، ولا بتعويج الفكِّ، ولا بترعيد الصوتِ، ولا بتمطيط المشدد، ولا بتقطيع المَدِّ، ولا بتطنين الغُنَّات، ولا بحصرَمة الرَّاءات، قِراءةً تنفر منها الطِّباعُ، وتَمُجُّها القلوبُ والأسماعُ؛ بل القراءة السهلةُ، العذبةُ، الحلوة اللطيفة، التي لا مَضْغَ فيها ولا لَوكَ، ولا تعَسُّفَ ولا تكلُّف، ولا تصنُّعَ ولا تنطُّعَ، ولا تخرج عن طباعِ العرب وكلامِ الفصحاء، بوجْهٍ من وجوه القراءاتِ والأداء".

Al- Hafidz Syekh Abu Amr Ad- Dany menjelaskan: "Maka bertajwid itu bukan berarti dengan membaca seperti bergumam, atau dengan merubah- rubah bentuk mulut, atau dengan cara membelokkan rahang bawah, atau dengan merintih- rintihkan suara, atau dengan melebih- lebihkan Tasydid, atau dengan memotong- motong Mad, atau dengan memanjang- manjangkan Ghunnah (lebih 1,5 alif), atau dengan men- cadel- cadelkan Ro' (mendekati suara Tho' atau Ghoin). bacaan yang lari dari tabiat nya orang Arab, yang dapat menggelisahkan hati dan pendengaran.
Namun (bacaan bertajwid itu) adalah bacaan yang simple, mudah, manis didengar dan lembut, yang tak tercampur suara menggumam atau seperti orang mengunyah (gerakan berlebihan), tidak dilebihkan dan tidak dipaksakan, tidak di buat- buat tidak menfasih- fasihkan (secara berlebihan), dan tidak keluar dari tabi'at cara bicaranya orang Arab dan kalam para Fusoha', denagn suatu bacaan dari sekian bacaan Qira'at (mutawatir) yang diamalkan.

STANDAR BACAAN

Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan:

صفة القراءة
أشار النبي
بقوله: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ القُرْءان غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءةِ ابن أُمِّ عَبْدٍ" ابن ماجه/ 135 ، يعني عبد الله بن مسعود(2) .
غَضُّ : الطَّرِيُّ الذي لم يَتَغَّيْر أرادَ طَرِيقَه في القراءة أي من غير تحريف وتغيير من زيادة ونقصان

“Barang siapa ingin membaca Al- Qur’an dengan Qira’at yang standar sebagaimana ia telah diturunkan, maka hendaklah ia membaca sesuai dengan Qira’ah Ibnu Ummi Abd, Yakni Abdullah bin Mas’ud”. HR. Ibnu Majah.

Kalimat “Ghodh”, artinya lembut, lunak ( الطري) standar, yang tidak berubah cara bacanya (sesuai bacaan ketika diajarkan nabi), artinya: yang tidak menyimpang, dan tidak merubah baik dengan cara menambah atau mengurangi.
اللوك = اللقمة مضغها ككلام السكران
النطع = المتشدقون في كلامهم
التحريف = انحراف الشيء عن وجهه
التحذيرُ من التعَسُّف في القراءة منتدى القرآن الكريم وعلومه
ahlalhdeeth.com

Kamis, 18 Januari 2018

DO'A KETIKA IMAM DUDUK DIANTARA DUA KHUTBAH JUM'AT .

DO'A KETIKA IMAM DUDUK DIANTARA DUA KHUTBAH JUM'AT .
Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah 




Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya dihari Jum'at ada suatu waktu, dimana seseorang hamba yang berdoa bertepatan dengan waktu itu dan ketika itu dia sedang dalam ibadah sholat dan kemudian dia memohon sesuatu kecuali pasti dikabulkan Alloh".
Dan dalam Sohih Muslim riwayat Abi Musa Al- Asy'ary disebutkan bahwa Nabi telah bersabda:" Sesungguhnya waktunya adalah diantara keluarnya Imam - yakni masuknya Imam kedalam mesjid- sampai selesai sholat". HR. Muslim.
Dan diantara waktu waktu mustajabah itu adalah ketika Imam DUDUK (أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ ) diantara dua khutbah
حديث أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول - يعني في ساعة الجمعة - : (هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ) رواه مسلم ( 853 ) .
Imam Ibnu Hajar Al- Haitami berkata: "Dan berdo'a ketika saat itu (yakni diantara dua khutbah) hukumnya adalah sunnah. Kemudian beliau berkata: "Dan diambil yang demikian itu dari Al- Qodhi, bahwa sesungguhnya sunah bagi hadlirin Jum'at untuk bersibuk- sibuk ketika duduknya Imam diantara dua khutbah ini dengan berdo'a sebagaimana ditetapkan, sesungguhnya yang demikian itu dianjurkan melakukannya saat itu.
Jika sibuk berdo'a, maka hendaklah do'a itu dibaca "sirr"/lirih, karena do'a dengan keras akan mengganggu jama'ah lainnya, dan karena dalam berdo'a itu yang utama adalah lirih kecuali pada hal- hal/ sebab tertentu. Selesai. Kitab Al- Fatawa Al- Kubro, oleh Al- hafidl Ibnu Hajar Al- Haitami 1/ 251- 252.
Khotib Syarbini berkata: "Adalah duduk diantara dua khutbah itu sekira membaca Surat Ikhlas (lamanya). Apakah sebaiknya membaca sesuatu (qur'an), atau berdzikir atau diam? tak ada masalah dalam hal ini, namun dalam Sohih Ibnu Hibban: "Sesungguhnya Nabi saw membaca (ayat Qur'an) pada saat itu. Selesai. Kitab Mughnil Muhtaj 1/ 557.
Catatan, doa; terbaik adalah do'a Qur'ani, dan do'a Qur'any terbaik yang paling sering dibaca Nabi dalam segala kesempatan adalah:
ربنا أتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار
--------------------------------
(قال النبي صلى الله عليه وسلم: أن في يوم الجمعة ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه ),,و لِما رواه مسلم,عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( هي ما بين أن يخرج الإمام إلى أن تُقضَى الصلاة ) .
فقد نقل ابن حجر الهيتمي عن القاضي أنه قال : والدعاء في هذه الجلسة [بين الخطبتين] مستجاب . ثم قال ابن حجر :
"ويؤخذ مما ذكر عن القاضي : أن السنة للحاضرين الاشتغال وقت هذه الجلسة بالدعاء ، لما تقرر أنه مستجاب حينئذ ، وإذا اشتغلوا بالدعاء فالأولى أن يكون سرا ، لما في الجهر من التشويش على بعضهم ، ولأن الإسرار هو الأفضل في الدعاء إلا لعارض " انتهى .
"الفتاوى الفقهية الكبرى" للحافظ ابن حجر الهيتمي (1/251-252).
قال الخطيب الشربيني رحمه الله :
"ويكون جلوسه بين الخطبتين نحو سورة الإخلاص ..
وهل يقرأ فيها ، أو يذكر ، أو يسكت ؟
لم يتعرضوا له ، لكن في صحيح ابن حبان : (أنه صلى الله عليه وسلم كان يقرأ فيها)" انتهى بتصرف .
"مغني المحتاج" (1/557).
لما كان هذا الدعاء المبارك الجامع لكل معاني الدعاء من أمر الدنيا والآخرة، كان أكثر أدعيته كما أخبر بذلك أنس أنه قال: كان أكثر دعاء النبي .
( صحيح البخاري، كتاب الدعوات، باب قول النبي :
(ربنا آتنا في الدنيا حسنة)).
‏واقتدى بذلك أنس ، فكان لا يدعه في أي دعاء يدعو به
(صحيح مسلم، كتاب العلم، باب فضل الدعاء باللهم آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار)،
وقد طلب منه بعض أصحابه أن يدعو لهم، فدعا لهم بهذه الدعوة المباركة، ثم قال:
((إذا آتاكم اللَّه ذلك فقد آتاكم الخير كله))
( فتح الباري، 11/ 229.).