MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Senin, 16 April 2012

MUJAHADAH, LAKUKAN YANG TERBAIK DIJALAN KERIDHO'AN ALLOH

Tingkatan (Maqam) yang ke-5 dalam konsep tasawuf adalah Mujahadah yaitu bersungguh-sungguh (do the best). Secara istilah mujahadah dapat diartikan sebagai satu bentuk kesungguhan untuk menjalankan perintah Allah dengan memenuhi segala kewajiban dan menjauhi atas larangan-Nya; secara lahir dan bathin dengan wujud nyata berupaya melawan (menundukkan) hawa nafsu.[1]
Dalam sebuah hadisnya, Rasul SAW bersabda:

مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِيْ طَاعَةِ اللهِ

“Seorang Mujahid (orang yang berjihad) ialah dia yang melawan hawa nafsunya karena Allah SWT”[2].

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan bahwasanya di antara tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah yaitu dia mengutamakan perkara yang di sukai-Nya daripada mengutamakan kehendak nafsu pribadinya. Sejalan dengan ungkapan indah Abdullah Ibnu Mubarak:”Jika cintamu benar, kamu akan menaati-Nya, karena seseorang yang mencintai sesuatu sanggup menaati sesuatu”. Orang-orang yang sanggup melawan hawa nafsu adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, inilah kekuatan yang ada dalam diri umat Islam. Kepercayaan ini menjadikan mereka sebagai golongan yang sanggup untuk menghindari kenikmatan sesaat demi mendapatkan kebahagian jangka panjang yang kekal nan abadi yaitu kebahagian akhirat. Denis Waitley dalam Empires of The Mind berkata: “Saya berpendapat, salah satu faktor utama yang menyebabkan Amerika bermasalah pada hari ini adalah, karena rakyatnya begitu asyik dan gairah dengan kesenangan jangka pendek dan melupakan jangka panjang”.


Isyarah ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami, Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Berkaitan dengan ayat diatas, Imam Ad-Darani berkata:”Mereka yang bermujahadah berdasarkan ilmu yang diketahui, maka akan di tunjukkan oleh Allah tentang perkara yang belum diketahui”. Fudhail al-Iyadh mengatakan: “Orang-orang yang bermujahadah untuk mencari ilmu, Allah akan tunjukkan kepadanya jalan untuk beramal”. Junaid al-Baghdadi berkata: “Mereka yang bermujahadah dengan bertaubat, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keikhlasan”, dan sahabat rasul SAW Abdullah Ibnu Abbas RA pernah mengatakan:”Orang-orang yang bermujahadah untuk melakukan ketaatan, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan pahala dan keagungan rahmat-Nya”.

Para ulama tasawuf sangat menekankan arti pentingnya mujahadah untuk mencapai martabat tertinggi dalam rangka menggapai derajat mulia di sisi-Nya, salah satunya dengan mujahadah (kesungguhan). Tanpa mujahadah seseorang tidak akan pernah tercapai apapun yang ia lalui dalam kehidupannya. Mujahadah di lakukan semata-mata untuk taqarrub (mendekatkan) dirinya kepada Allah SWT, bukan untuk mencapai kasyaf, karamah atau untuk mencapai berbagai maqamat (tingkatan) demi kepentingan individu ataupun yang bersifat duniawi, melainkan semata-mata hanya untuk mengharap ridha Allah SWT, sehingga dapat tercapai hakikat tauhid uluhiyyah dan tauhid rububiyah yang sebenarnya. Oleh sebab itu, dalam amalan tasawuf sering dilahirkan berbagai ungkapan, baik dalam bentuk doa ataupun munajat, seperti:

ِإلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ , أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَ مَعْرِفَتَكَ

“Ya Allah, Wahai Tuhanku! Engkau adalah yang kutuju, dan hanya keredhaan-Mu lah yang sentiasa kucari, anugerahkanlah padaku rasa untuk selalu mencintai-Mu dan selalu mengingat dalam setiap denyut nadiku”.

Imam al-Ghazali mengatakan, dalam setiap maqam (Tingkatan) terdiri dari tiga perkara untuk bisa dikatakan mencapai kesempurnaan, yaitu: ilmu, amal dan hal (nur). Ilmu dicapai melalui pembelajaran dan pengkajian, setelah diperoleh wajib untuk di amalkan, kemudian pengamalan yang jujur, sungguh-sungguh serta istiqomah akan membuahkan hal (nur=cahaya) bagi dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Inilah makna yang tersirat dalam pemahaman ayat diatas.

Manusia mempunyai lima unsur terpenting dalam dirinya, yaitu:

1. Ruh

2. Qalbu (Hati)

3. Hawa Nafsu (Syahwat)

4. Jasad

5. Anggota Badan

Peranan kelima unsur tersebut diatas, bisa kita umpamakan sebuah kerajaan dimana Ruh sebagai Sultan, Qalbu adalah Singgasananya, Hawa Nafsu musuh dalam selimut (musuh dalaman), Jasad kita artikan sebagai wilayah kekuasaan dan anggota badan adalah rakyatnya.

Di antara kelima unsur ini selalu wujud persaingan antara Ruh=Sultan, yang ingin memerintah dengan adil dan bijaksana, dan Nafsu=musuh yang datang umpama “duri dalam daging” yang berusaha untuk menzalimi rakyat, serta memiliki hasrat untuk menghancurkan wilayah kekuasaan dan pemerintahan sultan/jasad. Oleh karena itu, sultan di mohon untuk selalu waspada terhadap rancangan serta selalu memantau segala tindakan musuh yang akan menzalimi rakyat, ataupun bertindak anarkis untuk menghancurkan wilayah kekuasaan dan merebut tahta sang sultan.

Dari sini kita tahu bahwa semua aktivitas ruh terhadap hawa nafsu ini kemudian di namakan mujahadah, dengan kata lain ruh harus selalu bermujahadah ke atas hawa nafsu supaya nafsu tidak mengganggu atau dapat mempengaruhi anggota badan dengan perbuatan-perbuatan yang di larang oleh syari’at. Selain itu, karena supaya Qalbu tidak di usik dengan sifat-sifat tercela. Pada waktu yang sama, ruh akan berusaha meningkatkan kualitasnya sendiri agar ia selalu dihiasi dengan sifat-sifat yang mulia yang akan terpancar dan kembali memberikan pengaruh kepada Qalbu, Jasad dan anggota badan.

Imam Ibnu al-Qayyim dalam hal ini pernah berkata: “Allah menggantungkan hidayah dengan melakukan jihad. Maka orang yang paling sempurna hidayah-Nya adalah dia yang paling besar perilaku jihadnya. Jihad yang paling utama adalah jihad melawan nafsu, keinginan buruk (syahwat), bujukan syaitan, dan melawan rayuan duniawi.

Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jihad melawan keempat hal tersebut, maka Allah akan menunjukkan padanya jalan ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah-Nya”. Sebagaimana dalam Al-Quran di sebutkan:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْ وَى

Artinya:

“ Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya Syurgalah tempat tinggal(nya)”.

Mujahadah diri (mujahadah al-nafs) adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan egoisme (nafsu pribadi). Mengapa jihad atau perang melawan hawa nafsu sendiri menjadi sesuatu yang penting? Seandainya kita telusuri dari sudut pandang normatifnya, jelas karena agama sangat menganjurkan perilaku atau amaliah dalam kehidupan ini. Maka wajar, sampai Rasul SAW menyebutnya perang melawan hawa nafsu merupakan jihad akbar, yang nilainya lebih utama dibanding jihad memerangi orang-orang kafir; yang sering disebut oleh beliau sebagai jihad kecil(al-jihad al-asghar). Sebagaimana dalam Kitab Riayah Akhir karangan Syeikh Ahmad Rifa’I dalam halaman terakhir dari Korasan 19 dikatakan:

قَالَ النَّبِيُّ : رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأصْغَرِ إِلىَ جِهَادِ الأَكْبَرِ ,
قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرِ؟ قاَلَ اَلْجِهَادُ فِى النَّفْسِ

“Nabi SAW bersabda: Telah kembalilah kita dari sebuah perlawanan yang kecil (perang Badar dengan orang Kaum Kafir Quraisy waktu itu), menuju peperangan yang agung, bertanyalah para sahabat: Ya Rasulallah, apa yang engkau maksudkan peperangan yang besar, rasul menjawab: Perang melawan hawa nafsu”.

Jika kita telaah secara hakiki, hawa nafsu merupakan poros kejahatan (ma’wa kulli syarrin). Karena nafsu memiliki kecenderungan untuk mencari kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak yang seharusnya wajib ditunaikan, serta mengabaikan terhadap kewajiban-kewajibannya. Siapa pun yang gemar menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsu, maka sesungguhnya ia telah tertawan dan diperbudak oleh nafsunya, karena nafsu itu digemari, disenangi, dicintai, dan itu semua di sebabkan karena semua perbuatan yang mengarah kepada nafsu pasti menyenangkan. Maka sangat beruntung bagi sesiapa yang bisa mematahkan (mengalahkan) hawa nafsunya, dan tetap menjadikan akal fikiran bersihnya sebagai pemimpin dalam setiap aktivitas kehidupannya, sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ulama:

طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرًا وَهَوَاءُهُ يَكُوْنُ أَسِيْرًا[3]

Artinya:

“ Beruntung sekali kepada siapapun yang bisa menjadikan akal fikirannya sebagai Sultan (mampu memerintah), sehingga hawa nafsunya bisa dikalahkan”.

Mujahadah (Kesungguhan) dapat kita awali dengan cara memusuhi nafsu diri kita, mengangkat tabuh genderang peperangan terhadapnya. Banyak jalan menuju mujahadah, termasuk salah satu contohnya adalah dengan cara merenungi akibat/effect dari kebaikan (natijah al-hasanat) dan akibat/effect kejahatan (natijah al-sayyiat). Allah SWT berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.”

Oleh sebagian ulama ayat ini ditafsirkan bahwa: “Sesungguhnya amal kebaikan melahirkan cahaya dalam kalbu, kesehatan pada badan, kecerahan pada wajah, keluasan pada rezeki, serta kecintaan dari segala makhluk. Adapun kejahatan; sebaliknya, menciptakan kegelapan dalam hati, kesakitan badan, kesuraman wajah, kesempitan rezeki, serta kebencian dari hati segala makhluk.”

Para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor, pemakai narkoba(dadah), pembunuh, mereka adalah orang-orang yang gagal dalam melakukan mujahadah. Sebaliknya, mereka sentiasa asyik menuruti segala keinginan dan syahwatnya, sehingga tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah menyadari tentang buah kejahatan yang akan datang menjelang; cepat atau lambat. Yang mereka pikirkan adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat nan instan.

Kesan-Kesan Tasawuf

Realitas tertinggi dan amalan yang paling utama di sisi Allah SWT pada hari kiamat adalah orang-orang yang dalam hidupnya selalu memperbanyak zikir kepada-Nya, baik di saat dia berdiri, duduk, berbaring dan dalam berbagai posisi apapun, sejalan dengan Isyarah al-Quran surah Ali Imran ayat 190-191, Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِىْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَأَيتٍ لِأُولِى اْلألَبْاَبِ
اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَّفُعُوْدًا وَّعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِىْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Orang-orang yang masuk kategori dalam ayat di atas, mereka akan mendapatkan kesan dalam rangka mencapai satu jalan untuk menuju ridha-Nya. Oleh karena itu, ada beberapa manfaat yang bisa di rasakan sebagai upaya sebagai hamba Allah yang sesuai dalam konsep mujahadah[4], diantaranya:

Memperteguh keimanan dan membina jati diri muslim
Menimbulkan kesadaran jiwa
Membina kepribadian dan akhlak mulia
Membentuk hamba yang bertanggung jawab
Mewujudkan persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan serta menebarkan sifat rahmat bagi sesama manusia.

Ibnu Dahlan el-Madary
UNIVERSITY ISLAM ANTAR BANGSA MALAYSIA

PG.Bilal 3.34 UIAM, 15102010:1.00 am

Shollallahu ‘Alaa Muhammad Wa Aalihi

[1] Syeikh Ahmad Rifai, Riayah Akhir, bab ilmu tasawuf, Korasan: 19, halaman 17 baris 9.

[2] Shahih Bukhari, bab Jihad, Juz 20 halaman 154, Hadis ini termasuk dalam peringkat hadis yang Hasan.

[3] Syeh Ahmad Rifai, opcit. Korasan 19 halaman 19 baris 7

[4] Dr. Abdul Manam Bin Mohammad al-Merbawi, Konsep Tasawuf menurut Ahli Sufi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar