MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................

Rabu, 12 Januari 2011

QUR'AN MADINAH & TAJWID PRAKTIS

TAJWID PRAKTIS
Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah

DAFTAR ISI;

1.Ghunnah - Bighunnah - Ma'al ghunnah
2.Ghunnah.
3.Ikhfa'
4.Iqlab
5.Idghom Bighunnah.
6.Idghom Bilaghunnah.
7.Idhar.
8.Idhar Wajib.
9.Hukum Mim Sukun.

10.Idghom Mutamatsilain.
11.Idghom Mutajannisain.
12.Idghom Mutaqorribain.
13.Qolqolah.
14.Lafadh Allah.
15.Hukum "AL".
16.Hukum Ro'
17.Hukum Mad.
18.Fawaatihus Suwar.
19.Hamzah Qotho' dan Hamzah Washol.
20.Nun Iwadh.
21.Waqof dan Ibtida'
22.Makhorijul Khuruf
23.Sifaatul Huruf.
24.MUSYKILAT QUR'AN MADINAH.


بسم الله الرحمن الرجيم

Allah berfirman :

وَرَتِّلِ اْلقُرْآنَ تَرْتِيْلًاً

“Bacalah Al- Qur’an dengan TARTIL”.
(Al- Muzammil 4)
Imam Ali berkata:
“Tartil adalah membaguskan bacaan huruf- hurufnya dan memahami tentang Waqof (Ibtida’) nya”…sesuai contoh bacaan Nabi .

1. Ghunnah – Bighunnah- Ma’al Ghunnah

ﻏﻨﺔ - ﺑﻐﻨﺔ - ﻤﻊﺍﻟﻐﻨﺔ

Ghunnah – Bighunnah- Ma’al ghunnah, artinya bunyi dengung seperti suara lebah karena suara ber- resonansi di rongga hidung (Bunyi nasal) seperti ketika membaca Bank- Slank- Bung.

Semua Ghunnah, Ikhfa’, Ikhfa’ Syafawi, Iqlab, Idghom bighunnah, Idghom mitsli harus dibaca DENGUNG, ditahan sampai 2 ~ 3 harokat.

Karena sering diabaikan, maka pada buku ini sengaja ditulis sebutan: Ikhfa’ ma’al Ghunnah, Iqlab ma’al Ghunnah, dll, dimana biasanya hanya ditulis ikhfa’ saja atau Iqlab saja dalam kitab / buku lain.

2. Ghunnah

ﻥّ -- ﻡّ

Nun dan Mim bertasydid

Ghunnah artinya “Dengung”
Dibaca dengung selama 1(satu) alif = 2 harokat, sekadar dua ~ tiga ketukan.


Contoh :

إِنَّ - أَنَّ - هُنَّ
... - ... - ...

عَمَّ - ثُمَّ - فَلَمَّا
... - ... - ...

(Dengan Ghunnah Ashliyyah nya Nun sebelumnya dihitung menjadi 3 ketukan).

Misal:

إِنَّ

Harus dibaca: “In… na”. – ditahan tiga ketukan.
Tidak cukup dibaca: “Inna” tanpa dengung.

3. Ikhfa’ (Ma’al Ghunnah)

Ikhfa’ artinya MENYAMARKAN nun sukun/ tanwin nya.

Ingat: Ikhfa’ harus disertai dengung!!!

نْ \ ً ٍ ٌ
(-----------------)
Bertemu huruf- huruf:

ﺖ - ﺚ - ﺝ - ﺪ
ﺫ - ﺯ - ﺲ - ﺶ
ﺺ - ﺾ - ﻁ - ﻅ
ﻒ - ﻖ - ﻚ
Li - mabelas huruf- hurufnya
(Dilagukan dengan Bahr Rojaz)

Contoh :

Nun sukun -- Tanwin

جَنَّاتٍ تَجْرِىْ--------وَإِنْ نُتْبُتُمْ---ت

مَاءً ثَجَّاجاً--------مِنْ ثَمَرَةٍ---ث

صَبْراً جَمِيْلاً--------مِنْ جَنَّاتٍ---ج

قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ--------مِنْ دَابَّةٍ---د

نَفْسٍ ذَائِقَةٍ--------مِنْ ذِكْرٍ---ذ

يَوْمَئِذٍ زُرْقاً--------فَإِنْ زَلَلْتُمْ---ز

قَوْلًا سَدِيْدًا--------أَنْ سَيَكُوْنُ---س

غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ--------مِنْ شَيْئٍ---ش

قَاعًا صَفْصًفًا--------مِنْ صِيَامٍ---ص

قَوْمًا ضَآلِّيْنَ--------إِنْ ضَلَلْتُمْ---ض

قَوْمًا طَاغِيْنَ--------مِنْ طِيْنٍ---ط

ظِلًّا ظَلِيْلًا--------مِنْ طَهِيْرٍ---ط

خَالِدًا فِيْهَا--------وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ---ف

عَلِيْمًا قَدِيْرًا--------وَلَئِنْ قُتِلُوْا---ق

يَوْمٍ كَانَ--------مِنْ كَأْسٍ---ك


Penting:

Setiap Ghunnah, termasuk Idghom Bi Ghunnah, Ikhfa’ Ma’al Ghunnah (baik ikhfa’ Haqiqi atau ikhfa’ Syafawi), Iqlab Ma’al Ghunnah, harus selalu dijaga dengungnya 1 ~ 1,5 alif/ 2 ~ 3 ketukan. (Satu alif “ Ghunnah Albaqiyah” ba’da Ikhfaa’il harf).

Misal:

مِنْكُمْ

Harus dibaca:”Ming… kum” – ditahan tiga ketukan
Tidak cukup dibaca: “Mingkum” tanpa dengung.

4. Iqlab (Ma’al Ghunnah)

Iqlab artinya Nun sukun/ tanwin berubah bunyi menjadi mim sukun yang tersamar (Ghunnatan Mukhfaatan).

Ingat: Iqlab’ harus disertai dengung!!!

Yakni bila ada NUN SUKUN atau TANWIN bertemu dengan HURUF BA"

Contoh:

مِنْ بَعْدِ - يَنْبُوْعًا - سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ - عَوَانٌ بَيْنَ


Misal:

من بعد


Harus dibaca :”Mim… ba’di” – ditahan tiga ketukan.
Tidak cukup dibaca: ”Mimba’di” tanpa dengung.


5. Idghom Bighunnah

Idghom artinya nun sukun/ tanwin nya lebur ke huruf berikutnya.
Bi- Ghunnah artinya disertai dengung.

Yakni bila ada NUN SUKUN atau TANWIN bertemu dengan huruf- huruf:

ﻱ - ﻥ - ﻡ - ﻭ

Contoh :

Tanwin -- Nun sukun


أَنْ يَضْرِبَ - خَيْرًا يَرَهُ---ي


فَمَنْ نَكَثَ - يَوْمَئِذٍ نَّاعِمَةٌ---ن


مِنْ مَشْهَدٍ - سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ---م


مِنْ وَّلِيٍّ - سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ---و

Misal:

من ولي

Harus dibaca: “Miw…waliyyi” – ditahan tiga ketukan dengan sengau.
Tidak cukup dibaca: “Miwwaliyyi” tanpa dengung.

Pengecualian:

Pada lafadh- lafadh ini nun mati dibaca jelas, yaitu pada:

صِنْوَانٌ - قِنْوَانٌ - بُنْيَانٌ - الُّدنْيَا


Karena “nun sukun” bertemu و atau ي dalam satu lafadh. (Lihat tentang Idzhar Mutlaq).


6. Idghom BILA- GHUNNAH.

Bila- Ghunnah artinya tanpa dengung/ tanpa ditahan.

Yakni bila ada NUN SUKUN atau TANWIN bertemu dengan dua huruf tersebut dibawah ini, yakni:

ﻞ - ﺮ

Contoh :

Tanwin -- Nun sukun

مِنْ لَدُنْكَ - قَلِيْلٍ لَيُصْبِحُنَّ---ل

فَمَنْ رَّبُّكُمَا - عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ---ر

Misal:

مِنْ لَدُنْكَ

Dibaca “Milladung…ka”
Tak boleh dibaca: “Mil…ladungka”- (tertahan dil Milll.. dan tidak dengung di kalimat: Dung...)


7. Idhar

Artinya jelas bunyi “N” nya.

Yakni bila ada NUN SUKUN atau TANWIN bertemu dengan huruf- huruf halqy (huruf tenggorokan), yakni huruf- huruf berikut dibawah ini:

ﺀ - ﻫ - ﻉ - ﻍ - ﺡ - ﺥ

Contoh :

Nun sukun -- Tanwin


عَيْنٍ أنِيَةٍ - مَنْ أمَنَ---ء

فَرِيْقًا هَدَا - مِنْ هَادٍ---ه

جَنَّةٍ عَالِيَةٍ - مِنْ عِلْمٍ---ع

عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ - مِنْ غِلٍّ---غ

عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ - مِنْ حَسَنَةٍ---ح

يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ - مِنْ خَيْرٍ---خ

Peringatan: Baca Idzhar tidak boleh TAWALLUD, seperti:

عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Harus dibaca: “Aliimun hakiim”
Tak boleh dibaca: “ Aliimune hakiim”


8. Idlhar Wajib.

Nun sukun harus dibaca JELAS
Yakni bila bila ada Nun sukun bertemu ﻮ (Wau) atau ﻱ (Ya’) dalam satu kalimat.

صِنْوَانٌ - قِنْوَانٌ - بُنْياَنٌ - الُّدنْيَا

Hati- hati, setiap Idhar punya potensi TAWALLUD, SEPERTI:

Sinwaanun (benar) - dibaca: Sinewaanun (salah).
Qinwaanun (benar) - dibaca Qinewaanun (salah).
Bunyaanun (benar) - dibaca Bune yaanun (salah).
Ad-Dunyaa (benar) - dibaca Ad- Duneyaa (salah).

Cari dan belajarlah kepada guru yang bersanad.

9. Hukum Mim Sukun

9.a. Idghom Mitsli/Mitslain
(Ma’al ghunnah).

Yakni bila ada MIM SUKUN ketemu MIM

ﻡْ + ﻡ


Contoh :

عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ - لَكُمْ مَّا سَأَلْتُمْ - كُنْتُمْ مُّسْلِيِنْ


Harus dibaca: Alaihim...mu’shodah, ditahan tiga ketukan.
Tidak cukup dibaca : Alaihimmu’shodah


9.b. Ikhfa’ Syafawi
(Ma’al ghunnah)

Yakni bila ada MIM SUKUN ketemu BA'

ﻡْ + ﺐ

Contoh :

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ - ذَالِكُمْ بَلَاءٌ - وَهُمْ بَارِزُوْنَ


Harus dibaca : Tarmiihim...bihijaarotin. Ditahan tiga ketukan.
Tidak cukup dibaca : Tarmiihimbihijaarotin.


9.c. Idhar Syafawi

(ﻡ) Mim sukun bertemu dengan huruf selain ﺐ + ﻡ

Contoh :

اَنْتُمْ عَابِدُوْنَ - اَلَمْ تَرَ - هُمْ نَائِمُوْنَ


Mim harus dibaca jelas.
Hati- hati jangan “Tawallud”, yakni seperti:

اَلَمْ تَرَ

Harus dibaca: Alam Taro
Tidak boleh : Alame Taro


10. Idghom Mutamatsilain

Yakni Huruf mati selain Mim dan Nun
ketemu huruf yang sama

Hati- hati, tak boleh dtahan lebih dari
satu harakat (satu ketukan)!!!.

Contoh:

إِضْرِبْ بِعَصَاكَ

Harus dibaca : Idhribbi’ashooka.
Tidak boleh dibaca: Idhrib…bi’ashooka.

Catatan: Huruf bertasydid selain Mim dan Nun diberlakukan sama dengan hukum Idghom Mutamatsilain.

Seperti: كَلَّا بَلْ dan وَلاَ الضَّالِّيْنَ

Harus dibaca : Kallaa bal ----Waladdhoooolliiiin

Tidak boleh dibaca : Kal…laa bal—Walad...dhooool…liiiiin.


11. Idghom Mutajannisain

Yakni bila ada huruf Sukun selain Mim dan Nun yang bertemu dengan huruf se MAKHROJ tetapi LAIN SIFAT.

Yaitu:


ت + ط------وَقَالَتْ طَائِفَةٌ

ط + ت--------لَئِنْ بَسَطْتَ

ت + د--------أَثْقَلَتْ دَعَوَا

د + ت--------قَدْ تَبَيَّنَ

ل + ر--------قُلْ رَبِّ

ذ + ظ-------- إِذْ ظَلَمُوْا

Catatan:

1. Untuk memudahkan menghafal, diucapkan:

TATHO-THOTA- TADA-DATA-LARO-DZADHO.

2. Berdasarkan Qiro’ah Imam Ashim, lafadh ﻗﺪ selain bertemu ( ﺪ - ﺖ) Da-ta’ harus tetap dibaca Qolqolah.

Seperti:

قد ضل - قد جاء - قد صدق

12. Idghom Mutaqorribain.

Yakni bila ada huruf Sukun selain Mim dan Nun yang bertemu dengan huruf yang BERDEKATAN MAKHROJ.

Yaitu:


ث + ذ------- يَلْهَثْ ذَالِكَ

ق + ك ------- أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ

ب + م ------ إِرْكَبْ مَعَنَا

Perhatian:

Pada lafadh إِرْكَبْ مَعَنَا tidak cukup dibaca: Irkamma’anaa (tanpa dengung).
Tapi harus dibaca: Irkam…ma’anaa (dengan dengung di Mim).


13. Qolqolah.

Qolqolah artinya suara memantul.

Yakni pada huruf- huruf:
ﺐ - ﺝ - ﺪ - ﻄ - ﻖ

Ada dua jenis qolqolah, yakni:

1. Qolqolah Sughro, yakni bila ada huruf qolqolah MATI ASHLI.

Contoh:


ب --- أَبْوَابُ

ج --- مَجْذُوْب

د --- مِدْرَارًا

ط --- أَطْوَارًا

ق --- مَقْعَدِ

Disebut Qolqolah Sughro karena arah Qolqolahnya masih dipengaruhi oleh harakat huruf berikutnya, seperti:

إِدْرِيْس … Qolqolahnya dal mengarah ke KASROH.

إِبْلِيْس … Qolqolahnya ba’ mengarah ke KASROH.

أُدْعُ …… Qolqolahnya dal mengarah ke DHOMMAH.

أُقْتُلُوْا..Qolqolahnya qof mengarah ke DHOMMAH.

2. Qolqolah Kubro, yakni bila ada huruf qolqolah HIDUP diakhir lafadh, di MATIKAN/DI WAQOF.

Contoh:

ب -- وَمَا كَسَبَ ۞

ج -- ذَاتِ الْبُرُوُجِ ۞

د -- الله الصَّمَدُ ۞

ط - قَوْمِ لُوْطٍ ۞

ق - مِنْ ﻭَﺍﻕٍ۞

Perhatian:

Huruf qolqolah BERTASYDID harus dibaca ditahan satu harakat LEBIH LAMA dibanding huruf qolqolah lain yang tak bertasydid.

Contoh:

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ ۞ مَآ اَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ۞


14. LAFADH JALALAH (LAFADH ALLAH).

Yang dimaksud lafadh JALALAH yakni lafadh ALLAH

1. Lafadh Allah dibaca TAFKHIM (tebal) jika didahului huruf berharakat FATKHAH atau DHOMMAH.

Seperti:

Didahului huruf berharokat fatkhah

خَلَقَ الَله - رَبّنُاَ الله - قّالَ الله

Didahului huruf berharokat dhommah

نَصْرُ الله - فَضْلُ الله - وَاعُبُدُوا الله

Penting: 

Membaca Lam ’ TAFKHIM, posisi pangkal lidah naik (isti’la’) ke langit- langit seperti membaca huruf Isti’la’, karena Lam dan Ro’ dalam keadaan Tafkhim itu termasuk bagian dari huruf Isti’la’ ‘Aridhiyyah,



2. Dibaca TARQIQ atau tipis, bila didahului huruf berharakat KASROH :

Contoh:

أَعُوْذُ بِالله - أَفِى اللهِ شَكٌّ - لِلهِ مَا فِى السَّمَوَاتِ


15. HUKUM "AL" (ﺍﻝ)

(Idlhar Qomariyah dan Idghom Syamsiyyah).

1. Dibaca IDLHAR/ JELAS sebagaimana mengucapkan lafadh Al- QOMAR, bila bertemu dengan huruf- huruf berikut:

ﺃ - ﺐ - ﻍ - ﺡ - ﺝ - ﻚ - ﻮ - ﺥ - ﻒ - ﻉ - ﻖ - ﻱ - ﻡ - ﻫ

Baca: Abghi Hajjaka Wakhof ‘Aqiimah.

Contoh:



أ - اَلْأَوَّلُ

ب - اَلْبَصِيْرُ

غ - الغيْبِ

ح - الحَيُّ

ج - الجَوَارِ

ك - الكَوْثَرُ

و - الوَلِيُّ

خ - الخَيْرُ

ف - الفُسُوْقُ

ع - العَلِيْمُ

ق - القَيُّوْمُ

ي - اليَوْمَ

م - المُسْلِمُوْنَ

ه - الهِجْرَةُ

Hati- hati, mengucapkan Al Qomaroyah, ada potensi TAWALLUD, misal …ﺍﻟﺤﻤﺪ jangan dibaca: ALEhamedu.

2. Dibaca IDGHOM/ LEBUR kedalam huruf berikutnya seperti mengucapkan lafadh AS- SYAMS, bila berhadapan dengan huruf- huruf berikut:

ﺖ - ﺚ - ﺪ - ﺬ
ﺭ - ﺯ - ﺱ - ﺶ
ﺺ - ﺾ - ﻁ - ﻆ
ﻞ - ﻦ

Untuk memudahkan huruf- huruf dibawah ini dibaca secara berkelompok agar mudah hafal:

Ta - tsa - da – dza
Ro – za – sa – sya
Sho – dlo – tho – dho
La – na

Contoh:

ت - اَلتَّوْبَةُ

ث - الثَّمَرَاتِ

د - الدُّنْيَا

ذ - الذَّارِيَاتِ

ر - الرَّحِيْمُ

ز - الزُّمَرُ

س - السَّمِيْعُ

ش - الشَّمْسُ

ص - الصَّالِحِيْنَ

ض - الضَّلَالَةِ

ط - الطَّلاَقُ

ظ - الظَّمْئَانُ

ل - اللَّطِيْفُ

ن - النَّاسُ


16. HUKUM RO’ ( ﺮ )

Ro’ memiliki dua cara baca:

I. Ro’ harus dibaca TAFKHIM/ TEBAL bila:

1. Ro’ fatkhah: رَأَيْتَ

2. Ro’ fatkhatain: أَنْهَارًا

3. Ro’ dhommah: رُوَيْدا

4. Ro’ dhommatain: غَفُوْرٌ

5. Ro’ sukun setelah fatkhah: يَرْفَعُ

6. Ro’ sukun setelah dhommah: مُرْتَفَقاً

7. Ro’ sukun setelah kasroh tapi DIDAHULUI Hamzah Washol, Ro' nya harus dibaca tebal, baik hamzah washolnya untuk ibtida' atau pada saat hamzah washolnya pada posisi tidak dibaca ketika ditengah, seperti:

إِرْجِعِيْ - إِرْكبْ مَّعَنَا - أَمِ ارْتَابُوْا


8. Ro’ sukun setelah kasroh tapi MENGHADAPI huruf ISTI’LA’, yakni:

ﺥ - ﺺ - ﺽ - ﻍ - ﻂ - ﻗ - ﻈ

Contoh:

مِرْصَادٌ - قِرْطَاسٌ

9. Ro’ HIDUP disukun, sebelumnya ada huruf sukun selain (ya’), dan sebelumnya tidak berharakat kasroh.Contoh:

۞وَالْعَصْرِ ۞ - الْقَدْرِ ۞ - الْفَجْرِ

Penting: 

Membaca Ro’ TAFKHIM, posisi pangkal lidah naik (isti’la’) ke langit- langit seperti tatkala membaca huruf Isti’la’

#. Jika sebelumnya ada ﻱ (ya’) sukun, maka harus dibaca tipis, seperti:

خَيْر ۞ قَدِيْر ۞ بَصِيْر 0۞


#. Jika sebelum huruf sukun berharakat kasroh, maka juga harus dibaca tipis, seperti:

بِكْر ۞ حِجْر ۞0


II. Perhatian:

Selain yang tersebut diatas, maka semua Ro’ harus dibaca TARQIQ/ tipis.

Seperti:

مِرْفَقًا - رِجَالٌ - فِرْعَوْنُ




17. HUKUM MAD

Mad adalah bacaan panjang, minimum satu alif/ dua harakat/ dua ketukan.

Contoh:

نُوْ حِيْهَا


Seperti:

(و)Wạ : bukan mad (satu ketukan/ satu harakat)

(وا)Wạạ : mad (dua ketukan/ dua harakat)

(ب)Bạ : bukan mad (satu ketukan/ satu harakat)

(با)Bạạ : mad (dua ketukan/ dua harakat)

Ada dua jenis mad:

1- Mad Thobi’i/ mad ashli.

2- Mad Far’I (Cabang dari mad thobi’i)

Catatan: Guru mengetuk dua kali setiap anak membaca mad Thobi’I diakhir kalimat/ sesuai huruf ạ - ị - ụ - yang sengaja diberi tanda titik dibawahnya. Seperti tatkala membaca lafadh/ Surat Ad- Dhuhaa: والضجى - (waddhuhạạ.)

17.1. Mad Thobi’I adalah:

* Dhommah ketemu Wawu sukun. Seperti:نو ( N ụ ụ)

* Kasroh ketemu Ya’ sukun. Seperti:جِيْ (ћ ị ị)

* Fatkhah ketemu Alif. Seperti:ﻫَﺎ (h ạ ạ).

Penting: Pada Mad Thobi’I, washol maupun waqof dibaca panjang SATU ALIF.


17.2. Mad Far’I (mad Cabang)

Mad Far’I ada 13 (tiga belas macam), yakni:

Ke-1: Mad Wajib Muttashil

Yakni bila ada Mad Thobi’I bertemu HAMZAH dalam satu kalimat.

Panjangnya 5 harakat/ lima ketukan = 2 ½ Alif.

Contoh:

لِقَآءَنَا - نِدَآءً - جَآءَ

Baca: Liqọọọọọ - anạạ



Ke-2: Mad Ja’iz Munfashil

Yakni bila ada Mad thobi’I bertemu ALIF dilain kalimat.

Panjangnya 5 harakat/ lima ketukan = 2 ½ Alif.

Keterangan:

Disebut Ja’iz karena ada sebagian Qori yang tujuh membacanya hanya satu alif. Tapi bagi para pembaca yang SANAD KEGURUANNYA kepada Imam ‘Ashim alaa riwaayati Hafash, MAKA HARUS TETAP MEMBACA 2 ½ ALIF.

Contoh:

وَمَآ اُمِرُوْا - لآ اَعْبُدُ - يَآ اَيُّهَاَ


Ke-3: Mad Iwadl.

Iwadl artinya pengganti. Yang dimaksud adalah FATKHATAIN diganti FATKHAH PANJANG.

Yakni setiap FATKHATAIN kecuali pada TA’ MATBUTHOH bila diwaqof harus dibaca panjang SATU ALIF/ dua harakat/ dua ketukan.

Termasuk HAMZAH FATKHATAIN walau tanpa alif dibelakangnya, bila diwaqof tetap dibaca panJang satu alif.

Contoh:

دَكَّآءً - نِسَآءً - نِدَآءً

Dibaca:

Dakkaaaa -aa, tidak boleh dibaca dengan mematikan hamzahnya : Dakkaaaa'.
Nisạạạạạ -ạạ, tidak boleh dibaca dengan mematikan hamzahnya : Nisạạạạạ’.
Nidaaaaa -aa, tidak boleh dibaca dengan mematikan hamzahnya : Nidaaaaa'.

Hati- hati lafadh ( دَكّآءَ ) dengan hamzah tidak bertanwin, tetap dibaca sukun hamzahnya: Dakkaaaaa'.

Begitu juga Hamzah Dhommah/ Dhommatain atau Kasroh/ Kasrotain, seperti

بَلاَءٌ - صَفْرَاءُ - السَّمَاءِ - مَاءٍ

Maka Hamzah yang bukan FTAKHATAIN, bila waqof DI SUKUN.


Contoh lain dari MAD IWADL yang akhirannya bukan hamzah:

ذِكْراً - رُوَيْداً - عَلِيْماً - اَفْوَاجاً

Perhatian:

Bila huruf fatkhatain tersebut adalah ﺓ / ﺔ (Ta’ Marbuthoh), maka bila diwaqof dibaca sebagai ﻫ (Ha’) sukun.



Ke-4: Mad Aridh lissukun.

Yakni bila ada HURUF HIDUP - DI MATIKAN/ di waqof, dan sebelumnya didahului mad Thobi’i.

Panjangnya PILIHAN minimum 1 atau 2 atau 3 (tiga) alif/ 6- harakat/ 6- ketukan. Yang terbaik adalah 3 (tiga) alif.

Contoh:

تُكَذِّبَانِ ۞ يَسْجُدَانِ ۞ صَادِقُوْنَ ۞

مُعْرِضُوْنَ ۞ يَوْمِ الدِّيْنِ ۞ العَالَمِيْنَ۞

مَنْ يَقُوْلُ ۞ ذَالِكَ الْكِتَابُ ۞ الصَّلاَة ۞ فِيْه ۞


Ke- 5: Mad Shilah

Yakni (Hu) atau (Hi) dhomir/ kata ganti bila DIDAHULUI HURUF HIDUP.

Ada dua jenis Mad Shilah, yakni:

1. Mad Shilah Qoshiroh. Yakni Mad Shilah yang tidak menghadapi ALIF atau HAMZAH. Panjangnya SATU ALIF atau dua harakat.

Contoh:

وَبِهِ يَعْدِلُوْنَ - بِعَبْدِهِ لَيْلاً - لَهُ مَا

2. Mad Shilah Thowilah, yakni Mad Shilah bila menghadapi ALIF atau HAMZAH. Dibaca panjang seperti Mad Ja’iz, yakni 2 ½ alif = 5 harakat/ 5 ketukan.

Contoh:

ظَهْرِهِ إِنَّ - أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Hati- hati, lafadh- lafadh dibawah ini bukan mad Shilah:

# نَفْقَهُ Karena “Hu” nya bukan dhomir tapi bagian dari lafadh tersebut, dari wazan Faqiha – Yafqohu- Nafqohu, artinya = faham/ faqih.(QS.11/91)

# فَوَاكِهُ Karena “Hu” nya bukan dhomir tapi bagian dari isim, jama’ taksir dari ﻔﺎﻜﻬﺔ - ﻔﻮﺍﻜﻪ ,artinya = buah- buahan.(QS.23/19)

# يَرْضَهُ Karena “Hu” nya dhomir, tapi walau kelihatannya didahului huruf hidup, sejatinya bukan huruf hidup karena disana ada fi’il mudhori’ Majzuum (mati) karena Jawaabus Syarthi, mahdzuf huruf Illah Ya’, (QS.39/7)dari kalimat :

رَضِيَ - يَرْضَى - يَرْضَ - يَرْضَهُ

# Demikian juga lafadh يَنْتَهِ , HI nya dibaca pendek karena berasal dari lafadh

إنتهى - ينتهى - لم ينته (QS.96/16)



Ke- 6: Mad Badal.

Yakni setiap (Aạ) (Iị) (Uụ) panjang, dia- awal lafadh.

Seperti:

أمَنُوْا - إِيْتُوْنِيْ - أُوْتِيَ


Panjangnya satu alif.



Ke-7: Mad Tamkin.

Yakni Ya' kasroh BERTASYDID bertemu Ya' Sukun

Contoh:

حَوَارِيِّيْنَ - حُيِّيْتُمْ - أُمِّيِّيْنَ

Ya’ bertasydid harus ditekan sehingga bagian tengah lidah menekan langit- langit dengan kuat. Panjang satu alif.



Ke- 8: Mad Lin:

Yakni bila ada huruf hidup di- WAQOF, sebelumnya didahului Huruf Lin.

Huruf Lin yakni (Wau) dan (Ya’) sukun didahului harakat FATKHAH. Seperti لَوْ (Lau) dan كَيْ (Kai). Huruf Lin tak boleh dibaca panjang, seperti: غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ

Sedangkan Mad Lin panjangnya 3 (tiga) alif sama seperti MAD ARIDH LISSUKUN.
Karena itu sering orang menganggap juga termasuk sebagai Mad Aridh Lissukun.

Contoh:

قُرَيْش ۞ الصَّيْف ۞ خَوْف 0۞

Ke- 9: Mad Lazim Mutsaqol Kalimi

Yakni jika ada Mad Thobi’I ketemu HURUF BERTASYDID.
Panjangnya 3 (tiga) alif.

Contoh:

وَلاَ الضَّآلِّيْنَ - اَلْحَآقَّةُ - التَّآمَّةُ - الصَّآخَّةُ - ضَآلَّةُ




Ke- 10: Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi

Yakni bila Mad Thobi’I ketemu sukun.

Panjangnya 3 (tiga) alif.

Contoh:

ﺁﻷﻦ Aslinya : ﺍﺍﻷﻦ

Dibaca: Ạạạạạl- ạạna. bukan : Al- ạạna
Seperti pada Surat Yunus ayat 91

Catatan: Hati- hati tulisan ﺍﻷﻦ tanpa tanda bendera seperti pada surat Al- Anfal 66, tetap dibaca pendek AL nya. (Dibaca: Al- ạạna).

Ke- 11: Mad Farqi.

Yakni bila ada Mad BADAL ketemu huruf bertasydid.
Panjangnya 3 (tiga) alif / 6 harakat / 6 ketukan.

Contoh:

قُلْ آللهُ - قُلْ آلذَّكَرَيْنِ



Ke- 12: Mad Lazim Musyba’ HARFI

Yakni huruf- huruf berikut yang berada di - AWAL SURAT.

ﺺ - ﻉ - ﺱ - ﻞ - ﻚ - ﻡ - ﻥ - ﻖ -

Baca : NAQOSHO ‘ASALUKUM

Panjangnya 3 (tiga) alif/ 6 harakat/ 6 ketukan.

Contoh: ﻥ - ﻖ - ﻋﺴﻖ

Catatan: Tentang huruf- huruf Hija’iyah yang terdapat pada Bagian Awal Surat (Fawatihus Suwar), akan diterangkan lebih lanjut pada bagian akhir pasal ini.


Ke- 13: Mad Lazim Mukhoffaf HARFI

Yakni huruf- huruf berikut yang berada di - AWAL SURAT.

ﺡ - ﻱ - ﻄ - ﻫ - ﺭ
Panjangnya satu alif / dua harakat / dua ketukan - tidak lebih.

Contoh: ﻄﻪ



14. PENJELASAN LEBIH LANJUT TENTANG FAWATIHUS SUWAR.

1. Fawatihus Suwar huruf- hurufnya HARUS DIBACA SESUAI ASMA’UL HURUFNYA.

Misal:

ﺍ dibaca ALIF – bukan A.

ﻝ dibaca Lạạạạạạm – bukan La

ﻡ dibaca Mịịịịịịm – bukan Ma , seperti pada
الم (dibaca: Alif lạạạạạạmmmịịịịm)

ك\ﻛ dibaca Kạạạạạạf, hati- hati Fa’nya – bukan Ka

ﻬ dibaca Hạạ

ﻱ dibaca Yạạ

ﻉ dibaca Aịịịịịịn – bukan ‘A.

ﺺ dibaca Shọọọọọọd, bukan Shoo ( perhatikan dengan Qolqolah nya "dal").

Seperti pada:

كهيعص

Dibaca: كآف ها يا عين صآد (Kạạạạạạf Hạa Yạạ ‘Aịịịịịnnn Shọọọọọd.

(Perhatikan mana huruf yang harus dibaca panjang 3 alif, mana huruf yang harus dibaca panjang satu alif saja sesuai pelajaran sebelumnya, mana yang dengung, mana yang idhar)

2. Huruf- huruf yang berakhiran SELAIN HAMZAH harus dibaca akhiran nya seperti: Qof (ﻗﺎﻒ)– Kaf (ﻜﺎﻒ) – Lam (ﻻﻡ) – Mim (ﻤﻴﻢ)- Nun (ﻨﻮﻦ) - Sin (ﺴﻴﻦ) – Shod (ﺼﺎﺪ) – ‘Ain (ﻋﻴﻦ).

3. Sifat- sifat hurufnya juga harus dijaga seperti Qolqolahnya huruf Shod atau hams nya huruf Kaf.

Kecuali yang berakhiran HAMZAH, seperti:

حاء - ياء - طاء - هاء - راء , misalnya pada tulisan يس

maka harus dibaca: Yạạ Sịịịịịịn ,

tidak boleh dibaca: Ya’ Sịịịịịịn.

Juga tidak boleh dibaca: Ya Sa

4. Pada Fawatihus Suwar, TETAP BERLAKU HUKUM TAJWID, seperti Ikhfa’ Idlhar Syafawi atau Ghunnah nya.

Seperti tulisan الر - dibaca dengan: الف لام را

Maka pada tatkala membaca Lạạạạạm, maka Mim nya harus Idzhar karena Mim sukun itu Idzhar Syafawi tatkala bertemu Ro’ (huruf selain Mim dan Ba’). Lihat pasal Idzhar Syafawi.

Demikian juga pada tulisan المص dibaca

الف لام ميم صاد (Alif Lạạạạạạm...ịịịịịịm Shọọọọd.) Dengan dengung Mim nya yang pertama karena Mim sukun bertemu Mim (Idghom Mitsli) dan dibaca Idzhar Mim terakhirnya karena Mim Sukun bertemu huruf Shod.

Juga seperti tulisan عسق dibaca : عين سين قآف maka Nun nya huruf Ain dan Nun nya huruf Sin harus dibaca Ikhfa’ dengan dengung 1 ~ 1 ½ alif karena ada Nun Sukun bertemu Sin dan bertemu Qof.

5. Fawatihus Suwar bisa disambung dengan ayatberikutnya. Ketentuan dan cara menyambungnya insya Allah akan dibahas dalam kesempatan lanjutan.

19. HAMZAH QOTHO' DAN HAMZAH WASHOL

I. Hamzah Qotho’ adalah hamzah diawal lafadh yang HARUS DIBACA saat washol maupun Ibtida’.

Contoh pada:

- isim:

أدَمُ - إِبْرَاهِيْمُ - إِدْرِيْسُ - ازَرَ - إِسُتَبْرَق

- fi’il :

أَنْزَلَ - أُنْزِلَ - أَنْزِلْ - لَأُقَطِّعَنَّ - لَأُصَلِّبَنَّ

- harf:

أَنَّ - إِنَّ - إِنِيْ - إِنَّا - إِنَّمَا - أَيْنَ - أَيْنَمَا - أَلَمْ - أَلَمَّا - إِذْ مَا -

أَي ِّ - أَيُّمَا - إِنْ مَا - أَوْ - إِلَى - إِذْ -- إِذَا - إِذَنْ - أَ - أَنْ


Catatan: 

Pada semua Fi’il Mudhori’ baik tsulatsi, ruba’I, khumasi atau tsudasi, hamzah selalu dibaca sebagai HAMZAH QOTHO’. Dan pada Fi’il Mudhori’ Ruba’I hamzah selalu dibaca dhommah, seperti

لَأُقْسِمُ - لَأُزَيِّنَنَّ - وَلَأُصَلِّبَنَّ

II. HAMZAH WASHOL adalah hamzah diawal lafadh yang HARUS DIBACA saat Ibtida’/ memulai bacaan, namun TIDAK DIBACA saat di washol.

Yakni pada:

1. Alif lam ma’rifah (ﺍﻝ) – seperti lafadh :

اَلْحَمْدُ - اَلْعَلِيْمُ - الرَّجْمنُ

PENTING: Hamzah washol jenis ini selalu dibaca FATKHAH.

2. Hamzah pada fi’il madhi – Mashdar dan fi’il Amr Khumasi maupun Tsudasi.

Seperti:

إِنْطَلِقُوْا - إِقْتَرَبَتِ - إبتغاء (Khumasi).

إِسْتَكْبَرَ - إِسْتَمْسَكَ - إِسْتَغْفَرَ (Sudasi)

3. Hamzah pada Fi’il Amr, baik Tsulatsi, Khumasi maupun Sudasi
Seperti:

أُشْكُرْ - إِنْطَلِقُوْا - إِسْتَغْفِرْ

Catatan: Hamzah pada Fi’il Amr Ruba’I adalah bukan hamzah Washol tapi hamzah Qotho’ yang selalu harus dibaca, seperti:

أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً - أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً

4. Hamzah pada isim- isim khusus berikut adalah HAMZAH WASHOL dan selalu dibaca KASROH:

إِبْنٌ - إِبْنَةٌ - إِمْرُؤٌ - إِمْرَأَةٌ - إِثْنَيْنِ - إِثْنَتَيْنِ - إِسْمٌ - إِسْتٌ)


III. Cara baca Hamzah Washol tatkala untuk ibtida’/ memulai bacaan:

#. Bila setelah sukun ber harakat DHOMMAH, maka hamzah washol dibaca DHOMMAH.

Seperti :

أُدْخُلُوْا - أُقْتُلُوْا

#. Bila setelah sukun ber harakat KASROH, maka hamzah washol dibaca KASROH.

Seperti:

إِضْرِبْ - إِصْبِرْ

#. Bila setelah sukun ber harakat FATKHAH, maka hamzah washol dibaca KASROH JUGA.
Seperti:

إِذْهَبْ - إِفُتَحْ - إِرْكَبْ مَعَنَا

إِتَّبِعُوْا asalnya : إِتْتَبِعُوْا



PERINGATAN: TAK ADA HAMZAH WASHOL yang DIBACA FATKHAH, kecuali pada AL.

Catatan:

Pada Qur’an cetakan Asia Tenggara, diatas Hamzah Washol tak ada tanda apapun, dan sebagian besar Hamzal Washol untuk Ibtida’ telah diberikan harokat untuk memudahkan bagi para pembacanya.

Hati- hati:

Pada Qur’an cetakan Timur Tengah, pada semua Hamzah Washol diberi tanda potongan huruf Shod kecil, bentuknya seperti dhommah, sehingga sering dibaca salah sebagai dhommah. Seperti:

ﭐذْهَبْ إِلَىَ - ﭐنْطَلِقُوْاْ - ﭐصْبِرُوْا -

ﭐصْلَوْهَا - ﭐرْجِعِى - ﭐعْلَمُوْا


16. Nun Iwadl. (نون العوض)

Nun Iwadl adalah Nun berharakat kasrah sebagai pengganti tanwin, apabila ada TANWIN BERTEMU HAMZAH WASHOL (tatkala bacaan di washol).

Tapi NUN IWADL tidak dibaca bila untuk Ibtida’, seperti:

ﻥﺍﻟﺬﻴﻦ

Catatan:

Pada Qur’an cetakan Asia Tenggara, Nun Iwadl (nun kecil dibawah hurf) sebagian besar telah dituliskan untuk memudahkan pembacanya.

Hati- hati pada Qur’an cetakan Timur Tengah, Nun Iwadl tidak ada yang dituliskan, sehingga sering terjadi salah baca.

Ketentuan:

Setiap TANWIN yang bertemu HAMZAH WASHOL maka:

1#. Tanwinnya hilang. Harokat nya tetap.

Contoh:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ۞ اللهُ الصَّمَدُ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ ﻦِِِﭐُللهُ الصَّمَدُ

2#. Tanwinnya diganti dengan Nun berharakat KASROH.
3#. Fatkhatain atau fatkhah panjang dibaca FATKHAH PENDEK,

لَهْواً ﭐنفَضُّوْا

لَهْوَ ﻦِِﭐنفَضُّوْا  لهوا ﻦﭐنفضوا ....


4#. Bila terpaksa waqof/ berhenti, harus dibaca panjang satu alif sebagai MAD IWADL.

Seperti:

لَهْواً ﻦﭐنْفَضُّوْا

لَهْوَا ۞ ﭐنْفَضُّوْا

Tapi harus di ulang dari kalimat sebelumnya.


17. WAQOF DAN IBTIDA'

1.WAQOF.

Dalam kitab Nihayah Lil Qoulil Mufid diterangkan bahwa seseorang belum patut diberikan Ijazah mengajarkan Al- Qur’an sebelum ia menguasai bagaimana cara WAQOF dan IBTIDA’ yang benar.(Nihayah 151).
Waqof, boleh dilakukan dimana saja, lebih- lebih dalam keadaan darurat atau kehabisan nafas, yang penting harus diperhatikan adalah:

#. Agar keutuhan lafadh dijaga, seperti lafadh ﻤﻼﺌﻜﺔ harus berhenti pada Ta’ marbuthohnya, tidak boleh berhenti ditengah lafadh seperti :

ملا ۞ ئكة Atau seperti lafadh: من اللذين tidak boleh berhenti pada
من اللذي ۞ ﻦ

#. Harf ( Huruf- huruf) – tidak boleh dipotong, dan jika ada lebih dari satu Harf, maka harus Ibtida’ dari Harf paling awal jika setelah waqof.

Seperti: ﻭَﻟَﻗَﺪْ ءَﺍﺗَﻴْﻨَﺎ tidak boleh di potong pada Harf “Wa”, “La” atau setelah “Laqod”.

#. Struktur / Tarkib kalimat “ JER MAJRUR” tidak boleh di potong, seperti:
ﻤِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ --- ﻤِﻦْ ۞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ

#. Struktur / Tarkib Kalimat Majemuk /” Mudhof- Mudhof Ilaih” juga usahakan jangan dipotong,

seperti:


عَابِرِيْ سَبِيْلٍ --- عَاِبرِيْ ۞ سَبِيْلٍ

رَبِّ الْعَالَمِيْنَ --- ۞ رَبِّ ۞ الْعَالَمِيْنَ

#. Struktur/Tarkib Isim Maushul dengan Shilah nya, atau Isim Isyaroh dengan Musyar Ilaih nya usahakan jangan dipotong.

Seperti:

ذَالِكَ ۞ الْكِتَابُ صِرَاطَ الَّذِيْنَ ۞ أَنْعَمْت

#. Dijaga keutuhan BACAAN tajwidnya. Misalnya Ikhfa’, Ghunnah atau Idzharnya.ْ

Seperti pada lafadh:

۞ بِاْلأِمْسِ ۞ عَلَيْهنَّ ۞ يَنْهَوْنَ عَنْهُ ۞ لَمْ أخُنْهُ ۞ مِنَ الْإِنْسِ

#. Dijaga Mad atau qoshr nya. Misalnya:

QOSHR/ PENDEK:

مِنْ تَفَاوُتْ ۞

بِالنُّذُرْ ۞

مِنْهُمَا السُّدُﺱْ۞


MAD/ PANJANG

وَإِيَّايْ ۞

وَإِلَيْهِ النُّشُور ۞

مُعْرِضُوْﻦَ۞

#. Dijaga Makhrojnya. Posisi lisan/ lidah pada posisi Makhroj huruf ter- akhir.

Misalnya: وَالْفَتْحُ۞ بِالْهَزْلِ۞ مِنَ الْمَسِّ ۞ مِنَ اللَهْوِ ۞ ولله الحمد۞ ۞

#. Dijaga Sifatul Hurufnya.

Misal:

- Isti’la’ dan rokhowahnya: ۞مِنَ الْغَيْظِ ۞ مِنْ بَعْضٍ ۞

- Qolqolahnya: ۞ وَمَا كَسَبَ ۞ لَهبٍ وتَبَّ

- Hams atau Rokhowahnya: ۞ وَاسْتَغْفِرْهُ ۞ يَلْهَثْ ۞ يَوْمَئِذْ

- Tafkhim atau tarqiqnya: لاَ وَزَرْ ۞ مُسْتَقَرٌّ۞ بِمُصَيْطِرٍ۞ وَازْدُجِرْ۞

Agar diperhatikan: Apakah huruf tersebut bertasydid atau tidak.
Huruf bertasydid harus di sukun / di waqof dengan posisi lesan tertahan pada huruf tersebut selama 2 harakat,

seperti:

۞ مَا كَسَبَ (tertahan satu harakat)

۞ لَهَبٍ وَتَبَّ (tertahan dua harakat)

لاَ وَزَرْ۞ (tertahan satu harakat)

مُسْتَقَرٌّ۞ (tertahan dua harakat)

Penting:

Ada beberapa tempat yang sangat buruk untuk waqof, yakni tempat tempat bila diwaqof, kandungan makna nya menjadi rancu, seperti:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ ۞ - ثَاِلُث ثَلاَ ثَة ۞ - أُقْتُلُوْا يُوْسُفَ

Karena itu penting untuk menanyakannya lebih lanjut kepada para pakar.

2.IBTIDA'

Tidak sebagaimana saat waqof, dimana kita ias berhenti dimana saja saat darurat (Dhorury), maka saat memulai membaca lagi, terutama bila kita berhenti tidak pada akhir ayat, kita harus pandai- pandai memilih dari lafadh mana yang paling tepat (Ikhtiyary). Memahami dan mengerti bahasa Arab tentu merupakan syarat ideal agar kita tidak salah dalam memulai bacaan kita setelah waqof tadi.

Keterangan dibawah ini mencoba untuk memberikan panduan praktis, sebaiknya darimana kita dapat memulai bacaan Qur’an kita setelah terpotong dengan waqof, yakni:

1.Dari semua harf berikut :

- Harf Athof: ﻭ - ﻓ - ﺛﻡ - ﺤﺘﻰ - ﺃﻡ - ﺃﻮ - ﺇﻤﺎ - ﺑﻞ - ﻟﻜﻦ

Hati- hati “Wau” isim atau “Wau” fi’il, seperti: ﻭﺠﻪ - ﻭﺠﺪ

ﻮﻜﻝ - ﻮﻋﺪ - ﻭﻗﻊ - ﻮﻠﺪ - ﻭﺮﺪ . dll.

Hati-hati Wau Isim dan Wau Fi’il tersebut belum tentu baik untuk Ibtida’.

- Amil Nawashib: ﺃﻦ - ﻟﻦ - ﺇﺫﻦ - ﻜﻲ

- Akhowat Inna: ﺇﻦ - ﺃﻦ - ﻟﻜﻧﺎ

- Akhowat Kaana: ﻜﺎﻦ - ﺑﺎﺖ - ﺃﻤﺴﻰ - ﺃﺼﺑﺢ - ﺻﺎﺭ - ﻟﻴﺱ

- Amil Jawazim: ﺇﻦ - ﻟﻡ - ﻻ

- Harf JER: ﺑ.. - ﻜ.. - ﻟ.. - ﻠ.. - ﻔﻲ - ﻤﻦ - ﻋﻦ - ﻋﻠﻰ - ﻈﺮﻒ

- Harf Istitsna’ : ﺇﻻ - ﻏﻴﺮ

- Harf Istifham : ﺀ - ﺃﻡ - ﻜﻡ - ﻜﻴﻒ

- Harf lainnya, seperti :

ﺇﺬ - ﺇﺬﺍ - ﻗﺪ - ﺴ.. - ﺴﻮﻑ - ﻴﺎ - ﻴﺎﺍﻴﻬﺎ


2.Turunan dari lafadh : ﻗﺎﻞ - ﻴﻗﻮﻞ - ﻗﻝ - ﻗﺎﻟﻮﺍ - ﻗﻴﻞ

Setiap kalimat yang didahului lafadh QOOLA dan turunannya, apabila Waqof sesudahnya agar dimulai dari turunan lafadh QOOLA tersebut, seperti:

ويوم يناديهم فيقول أين شركاءي الذين كنتم تزعمون

Misal berhenti pada lafadh " Fayakuul", maka Ibtida' juga dari "Fayakuulu dst"

3.Isim Isyaroh, yang terbaik bila posisinya sebagai Mubtada' (Subject):

 ﻫﺬﺍ - ﻫﺬﻩ - ﺬﻟﻚ - ﺬﺍﻟﻜﻤﺎ - ﺬﺍﻟﻜﻡ - ﺘﻟﻚ - ﺘﻟﻜﻤﺎ - ﺘﻟﻜﻡ

Ingat: Jar Majrur dan Jumlah Idhofah tidak boleh dipisah.

Misal: ﻫﺬﻩ - ﻋﻦ ﻫﺬﻩ


4.Isim Maushul:

الَّذِيْ - الَّذَانِ - الَّذِيْنَ - الَّتِيْ - اللَّتَانِ - اللَّاتِيْ - اللاَّئِ - مَا - مَنْ

Ingat: Jar Majrur dan Jumlah Idhofah tidak boleh dipisah.

Contoh:

الَّذِيْنَ - صِرَاطَ الَّذِيْنَ - مِنَ الَّذِيْنَ - أُولَئِكَ الَّذِيْنَ

5.Fi’il Madhi jika tidak didahului Harf tersebut diatas, seperti:

ﺿﺮﺐ - ﻭ ﺿﺮﺐ - ﻭﻟﻗﺪ ﺿﺮﺐ

6.Fi’il Mudhori’ jika tidak didahului Harf tsb diatas.
Seperti:


يَقُوْلُ - وَيَقُوْلُ


7.Fi’il Amr jika tidak didahului Harf tsb diatas:

Misal ﻗُﻝْ - ﻭَ ﻗُﻝْ


8.Mubtada’ (Subject) atau Khobar .

Misal: ﻤﺤﻤﺪ ﺮﺴﻮﻞ ﺍﻟﻟﻪ



9.Kata keadaan/ Haal .

Misal:

أَفْوَاجاً - مُخْلِصِيْنَ

10.Dhomir Munfashil / kata ganti yang terpisah. Yakni:

ﻫﻮ - ﻫﻤﺎ - ﻫﻡ - ﻫﻲ - ﻫﻤﺎ - ﻫﻦ - ﺃﻨﺖ - ﺃﻨﺗﻤﺎ - ﺃﻨﺘﻡ -

ﺃﻨﺖ - ﺃﻨﺗﻤﺎ - ﺃﻨﺘﻦ - ﺃﻨﺎ - ﻨﺤﻦ

Misal:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ - هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ


Sepuluh tempat diatas InsyaAlloh dirasa cukup memadai agar seseorang dapat berhenti dan memulai bacaan Al- Qor’an dengan baik bagi mereka yang kurang memahami bahasa Arab.



CONTOH PILIHAN WAQOF DAN IBTIDA’ SERTA DASAR PEMILIHAN IBTIDA’NYA
Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah

Surat Al- BAQOROH

Dasar Ibtida’- No. Ayat - Waqof - Memulai:

Harf Athof- AYAT ويقيمون - الصلاة۞ -: 3
Khobar- AYAT سواء - ءأنذرتهم۞ -: 6
Fi’il Mudhori’ tak didahului harf- AYAT يقول - الأخر۞- : 8
Fi’il Madhi- turunan lafadh Qoola- AYAT قالوا - قالوا۞ -: 11
Idem -AYAT قالوا - أنؤمن۞ -: 12
Idem, AYAT- قالوا - معكم۞ -: 14
Fi’il Madhi tak didahului harf, AYAT- ذهب - بنورهم۞- : 17
Fi’il Mudhori’ tak didahului harf, AYAT يجعلون - أذانهم۞ -: 19
Fi’il Amr tak didahului harf, AYAT أعبدوا - خلقكم۞-: 21
Harf Athof, AYAT فأخرج به - فأخرج به۞ - : 22
Harf Athof, AYAT فأتوا يسورة - فأتوا بسورة۞ - : 23
Harf Athof, AYAT فاتقوا النار - فاتقوا النار۞ : 24
Akhowat Inna, AYAT ﺃﻦ ﻠﻬﻡ -- ﺠﻨﺎﺖ۞: 25
Fi’il Amr- turunan lafadh Qoola, AYAT ﻗﺎﻟﻮﺍ -- ﻫﺬﺍ۞: 25
Harf Athof, AYAT ثم - السماء۞ - : 29
Idem, AYAT ثم - الملائكة۞ - : 31
Harf Athof, AYAT فقال - هؤلاء۞ - : 31
Fi’il Madhi- turunalafadh Qoola, AYAT ﻗﺎﻞ -- ﺍﻗﻞ ﻟﻜﻡ۞: 32
Harf Athof, AYAT ﻔﺴﺠﺪﻭﺍ -- ﻔﺴﺠﺪﻭﺍ۞: 34
Fi’il Amr tak didahului harf, AYAT ﺃﺴﻜﻦ -- ﺍﻟﺠﻧﺔ۞: 35
Harf Athof, AYAT ﻭﻜﻼ -- ﺮﻏﺪﺍ۞: 35
Idem, AYAT ﻔﻤﻦ -- ﻫﺪﺍﻱ۞: 38
Fi’il Amr tak didahului harf, AYAT ﺃﺬﻜﺭﻭﺍ -- ﻋﻟﻴﻜﻡ۞: 40
Fi’il Amr tak didahului harf, AYAT ﺃﻭﻒ -- ﺑﻌﻬﺪﻜﻡ۞: 40
Harf Athof, AYAT ﻭﻻ ﺘﻜﻭﻨﻭﺍ -- ﻭﻻ ﺘﻜﻭﻨﻭﺍ۞: 41
Idem, AYAT ﻭﺘﻨﺴﻭﻦ -- ﺍﻨﻔﺴﻜﻡ۞: 44
Akhowat Inna, AYAT ﺃﻨﻬﻡ -- ﺮﺑﻬﻡ۞: 46
Fi’il Amr tak didahului harf, AYAT ﺃﺬﻜﺭﻭﺍ -- ﻋﻠﻴﻜﻡ۞: 47
Harf Athof, AYAT ﻭﻻﻴﻗﺑﻞ -- ﺸﻔﺎﻋﺔ۞: 48
Fi’il Mudhori’ tak didahului harf ﻴﺴﻭﻤﻮﻨﻜﻡ -- ﺍﻠﻌﺬﺍﺐ۞: 49
Harf Athof, AYAT ﻮﺃﻏﺭﻗﻨﺎ -- ﻔﺮﻋﻭﻦ۞: 50
Idem, AYAT ﺜﻡ -- ﺍﻠﻌﺠﻞ۞: 51
Harf Nida (Panggilan), AYAT ﻴﺎﻗﻭ -- ﺍﻧﻔﺴﻛﻡ۞: 54
Harf Athof, AYAT ﻔﺘﻮﺑﻭﺍ -- ﺑﺎﺮﺋﻛﻡ۞: 54
Harf Amil Nawashib, AYAT ﻟﻦ ﻨﺆﻤﻦ -- ﺟﻬﺭﺓ۞: 55
Harf Athof, AYAT ﻔﻜﻠﻭﺍ -- ﺮﻏﺪﺍ۞ : 58
Harf Athof, AYAT ﻭﺍﺪﺧﻟﻭﺍ -- ﺴﺠﺪﺍ۞ : 58
Idem, AYAT ﻔﺄﻧﺯﻠﻧﺎ -- ﺮﺠﺰﺍ۞: 59
Idem + La Nahiyah, AYAT ﻭﻻ ﺘﻌﺜﻭﺍ -- ﺍﻷﺭﺾ ۞ : 60
Harf Athof + Fi’il Amr, AYAT ﻔﺎﺪﻉ -- ﺮﺑﻚ۞ : 61
Fi’il Mudhori’ – tidak didahului Harf, AYAT ﻴﺨﺮﺝ ﻟﻧﺎ -- ﺍﻷﺭﺾ۞ : 61
Harf Athof, AYAT ﻭﻴﻗﺗﻟﻭﻦ -- ﺍﻠﻧﺑﻴﻴﻦ۞ : 61
Isim Maushul, AYAT ﻤﻦ -- ﺍﻤﻥ۞ : 61
Harf Athof, AYAT ﻭﺍﺬﻜﺮﻮﺍ -- ﻭﺍﺬﻜﺮﻮﺍ۞ : 62
Idem, AYAT ﻔﻗﻟﻧﺎ -- ﻟﻬﻡ۞ : 63
Akhowat Inna, AYAT ﺇﻨﻬﺎ -- ﺼﻔﺮﺍﺀ۞ : 65
Fi’il Mudhori’- tak didahului Harf, AYAT ﻴﺑﻴﻦ -- ﻤﺎﻫﻲ۞: 69
Harf Athof, AYAT ﻔﻬﻲ -- ﻜﺎﻟﺤﺠﺎﺮﺓ۞ : 70
Harf Athof, AYAT ﻭﻗﺪ -- ﻜﻼﻡ ﺍﻟﻟﻪ۞ : 74
Harf Athof, AYAT ﺜﻡ -- ﻴﺤﺮﻔﻮﻨﻪ۞ : 75
Fi’il Madhi tak didahului Harf –turunan Qoola, AYAT ﻗﺎﻟﻭﺍ -- ﺍﺘﺤﺪﺛﻮﻨﻪ۞ : 76
Harf La Nafiyah, AYAT ﻻﻴﻌﻟﻤﻮﻦ -- ﺍﻤﺎﻨﻲ۞ : 76
Harf Athof, AYAT ﺜﻡ -- ﻋﻧﺪ ﺍﻟﻟﻪ۞ : 77
Idem, AYAT ﻔﻟﻦ -- ﻋﻬﺪﻩ۞ : 80
Idem, AYAT ﻮﺍﺤﺎﻁﺖ -- ﺨﻄﻴﺌﺗﻪ۞ : 82
Harf La Nahiyah, AYAT ﻻﺘﻌﺑﺪﻮﻦ -- ﺍﻻ ﺍﻟﻟﻪ۞ : 82
Harf Athof, AYAT ﻭﺑﺎﻟﻮﺍﻟﺪﻴﻦ -- ﺍﺤﺴﺎﻨﺎ۞ : 82
Harf Athof +Fi’il Amr turunan Qoola, AYAT ﻭﻗﻮﻟﻮﺍ -- ﺤﺴﻧﺎ۞ : 82
Harf Athof + La Nahiyah, AYAT ﻭﻻﺘﺨﺭﺠﻮﻦ -- ﺪﻴﺎﺮﻜﻡ۞ : 84
Harf Athof, AYAT ﻭﺘﺨﺭﺠﻮﻦ -- ﻔﺮﻴﻗﺎ۞ : 85
Idem, AYAT ﻭﻗﻔﻴﻨﺎ -- ﺒﺎﻟﺮﺴﻞ۞ : 87
Kata Sifat, AYAT ﻤﺼﺪﻖ -- ﻤﻌﻬﻡ۞ : 89
Harf Amil Nawashib, AYAT ﺃﻥﻴﻜﻔﺮﻮ -- ﺃﻥﻴﻜﻔﺮﻮﺍ۞ : 90
Kata keadaan (Haal), AYAT ﺑﻐﻴﺎ -- ﻔﺿﻠﻪ۞ : 90
Fi’il Madhi- turunan lafadh Qoola, AYAT ﻗﺎﻠﻮﺍ -- ﺍﻧﺆﻤﻦ۞ : 91
Harf Athof, AYAT ﻮﻴﻜﻔﺮﻮﻦ -- ﻭﺮﺍﺀﻩ۞ : 91
Harf AthofAT, AY ﺜﻢ -- ﺑﻌﺪﻩ۞ : 92
Kata keadaan (Haal), AYAT ﺨﺎﻠﺻﺔ -- ﺍﻠﻧﺎﺱ۞ : 94
Harf Athof, AYAT ﻔﺈﻨﻪ -- ﻗﻠﺑﻚ۞ : 97
Idem, AYAT ﻔﺈﻦ ﺍﻠﻠﻪ -- ﻔﺈﻦ ﺍﻠﻠﻪ۞ : 98
Fi’il Madhi tak didahului Harf, AYAT ﻨﺑﺫ -- ﺍﻠﻜﺘﺎﺐ۞ : 101
Harf Athof, AYAT ﻮﻠﻜﻦ -- ﻜﻔﺮﻮﺍ۞ : 102



18. MAKHORIJUL KHURUF

No: - Makhrojnya - Yaitu huruf- huruf

1 JAUF/ Rongga Tenggorokan, yaitu Huruf MAD dan LIIN

2 A.Bagian terjauh tenggorokan : ﻫ - ﺀ
ﺃﻗﺼﻰ ﺍﻟﺤﻟﻕ

B.Bagian tengah tenggorokan : ﻉ - ﺡ
ﻮﺴﻄ ﺍﻟﺤﻟﻕ

C.Bagian terdekat tenggorokan : ﻍ - ﺥ

أدنى الحلق


3. Huruf Qof ( ﻕ )
Pangkal lidah dan yang bersesuaian dengan langit- langit atas,

أقصى اللسان وما يحاذيه من الحنك الأعلى

4. Huruf KAF ( ﻚ )
Pangkal lidah dengan posisi lebih dekat/kedepan dari huruf QOF

أقصى اللسان أسفل من القاف

5. Huruf JIM SYIN YA' (ﺝ- ﺶ - ﻱ)
Dibawah bagian tengah lidah dan yang bertepatan dengan langit- langit.

تحت وسط اللسان
وما يحاذيه من الحنك الأعلى

6. Huruf DHOD ( ﺾ )
Salah satu pinggir lidah (atau keduanya) dan yang bertepatan dengan gusi geraham

إحدى حافتي اللسان وما يليها من الأضراس

7. Huruf LAM ( ﻞ )
Awal /ujung salah satu pinggir lidah

أول إحدى حافتي
اللسان

8. Huruf NUN ( ﻦ )
Ujung lidah sedikit dibawah /dibelakang huruf LAM.

طرف اللسان تحت اللام قليلا

9. Huruf RO' ( ﺮ )
Berdekatan dengan makhrojnya huruf NUN dan masuk pada punggung lidah .

يقارب مخرج النون وادخل في ظهر
اللسان

10. Huruf THO'- TA'- DAL ( ﻁ - ﺖ - ﺪ )
Diatas ujung lidah dan pangkal dua gigi seri atas

فوق اللسان وأصول الثنيتين العليتين

11. Huruf SHOD- SIN- ZAI. ( ﺺ - ﺱ - ﺯ )
Ujung lidah dan sedikit diatas gigi seri atas

طرف اللسان وفوق الثنيتين العليتين

12. Huruf DHO'- DZAL- TSA' ( ﻇ - ﺫ - ﺚ )
Ujung lidah dan ujung gigi seri atas.

طرف اللسان وطرف الثنيتين العليتين

13. Huruf FA' ( ﻑ )
Bagian dalam bibir bawah dan ujung gigi seri atas.

بطن الشفة وطرف الثنيتين العليتين

14. Huruf WAWU- BA"- MIM ( ﻭ - ﺐ - ﻡ )
Diantara dua bibir atas bawah

بين الشفتين


15. Huruf GHUNNAH (Nasal)
Rongga hidung.

الحيشوم

حرف الغنة

Penting! Seseorang tak akan bisa mencapai TARTIL dan FASOKHAH dalam membaca Alqur’an bila makhroj dan Sifatul Khuruf setiap huruf yang diucapkannya belum sesuai dengan Luhun Al- Arob/ Bahasa AlQur’an.



23. SIFATUL KHURUF

Sifatul khuruf adalah KARAKTER setiap huruf Qur’ani yang diucapkan, seperti desis (Shofir), dengung (Ghunnah), Tafkhim (tebal), tarqiq (tipis) dsb. Setiap huruf tidak hanya memiliki satu karakter saja, tapi bisa beberapa karakter secara bersamaan. Untuk mengenal karakter masing- masing huruf, ada cara mudah yakni dengan mematikan huruf tersebut setelah Hamzah Fatkhah. Dibawah ini keterangan tiap- tiap karakter:

1. HAMS

Artinya secara bahasa adalah berbisik/lirih.
Saat mengucapkannya ada keluar NAFAS sedikit. Demikian juga disaat sukun, masih ada sisa nafas sedikit. Yakni huruf- huruf berikut:

فحثه شخص سكت

Seperti:
أف - أح - أث - أه - أش - أخ - أص - أس - أك - أت

2. JAHR

Adalah lawan sifat Hams.
Saat mengucapkan huruf tersebut, nafas ditahan, lebih- lebih saat sukun. Tidak sebagaimana beberapa suku di Jawa yang mengucapkan beberapa huruf Jahr dengan Hams, seperti Ad- diucapkan: Adh, Ab diucapkan Abh, dll. Yakni huruf- huruf berikut:

عظم وزن قارىء ذي غض جد طلب

Seperti:
أب – أل – أط – أد – أج – أض – أغ – أي – أذ – أء – أر – أق – أن – أز
– أو – أم – أظ – أع

3. SYIDDAH.

Artinya kuat, yakni tatkala mengucapkan huruf ini Nampak jelas tatkala di sukun) suara ditahan tidak mengalir. Yakni huruf- huruf berikut:

أجد قط بكت

Seperti:

أء – أج – أد – أق – أط – أب – أك – أت

Perhatikan, ada beberapa huruf Syiddah yang Hams seperti huruf Ta’ dan Kaf, ada pula huruf Syiddah yang Jahr seperti Hamzah, Qof, Tho’, Ba’, Jim, Dal.

4. BAINIYAH/ TAWASUTH.

Yakni huruf yang sifat- sifatnya berada diantara Syiddah (kuat/berhenti) dan Rokhowah (mengalir). Yakni huruf- huruf berikut:

لن عمر

Seperti:

أل- أن – أع – أم - أر

Hati- hati semua huruf Bainiyyah ada potensi Tawallud (keluar bunyi “E” tanpa sengaja)
Seperti: الحمد لله (kebaca: Alehameduliillaah).

5. ROKHOWAH.

Adalah lawan dari sifat Syiddah.
Yakni saat sukun, masih ada sisa SUARA mengalir.
Hati- hati ada huruf bersifat Rokhowah, tetapi juga JAHR seperti Za’( ز ) Dhod ( ض ) dan Dho’ ( ظ ). Yakni huruf- huruf berikut selain huruf Syiddah dan Bainiyyah:

ث– ح – خ – ذ – ز – س – ش – ص – ض – ظ – غ – ف – ه - ي

Seperti:

أث – أح – أخ – أذ – أز – أس – أش – أص – أض – أظ – أغ – أف – أه – أي

Bila huruf Rokhowah keliru diucapkan dengan Syiddah, maka akan terjadilah Tawallud atau Qolqolah. Seperti yang sering keliru diucapkan
Misalnya:

من فضل – أغوينا – أفواجا – وإذ قال – أثقالها

Sehingga terdengarnya seperti: Min fadhelin – Aghewaina – Afewaajan – Wa-idze qoola – Atseqoolahaa, dsb. Hati- hati, bergurulah pada ustadz yang mempunyai Sanad.

6. ISTI’LA’.

Yakni huruf diucapkan dalam keadaan PANGKAL LIDAH menyentuh langit- langit.
Ada dua jenis huruf Isti’la’, yakni Isti’la’ Ashliyyah dan Isti’la’ ‘Aridhiyyah.

Huruf Isti’la’ Ashliyyah yaitu:

خص ضغط قظ

Seperti:

أخ – أص – أض – أغ – أط – أق - أظ

Sedangkan huruf Isti’la’ ‘Aridhiyyah adalah huruf Lam dan Ro’ tatkala dibaca Tafkhim. Lihat pelajaran 14 dan 16.

Perhatian:

Karakter Isti’la’ ini tidak dijumpai pada huruf- huruf bahasa Indonesia yang memiliki karakter Istifal, maka perlu latihan khsusus untuk mengucapkan huruf dengan karakter ini dari guru yang bersanad. Terutama tatkala mematikan huruf Isti’la’, posisi mulut kembali seperti tatkala mengucapkan huruf tersebut dalam keadaan fatkhah, lebih- lebih huruf Isti’la’ yang juga memiliki sifat Qolqolah dan Ithbaq.

Misalnya:

وَلاَ تُشْطِط - وَغَوَّاص - مِنَ الْغَيْظ - مِنْ وَاق – إلّاَ الْبَلاَغ -


6. ISTIFAL.

Lawan dari sifat Isti’la’.
Yakni pada saat mengucapkan huruf- huruf tersebut posisi pangkal lidah datar dan merendah.
Yakni huruf- huruf selain huruf Isti’la’.

7. ITHBAQ.

Yakni huruf diucapkan dengan keadaan lidah diusahakan melekat/ mendekat kelangit- langit. Huruf- hurufnya adalah:

ص – ض – ط – ظ

Mempraktekkan pengucapan huruf- huruf Ithbaq juga membutuhkan Talaqqy/ Musyafahah dengan seorang guru yang ahli.

8. INFITAH.

Artinya secara bahasa adalah terbuka.
Adalah lawan dari sifat Ithbaq.
Yakni mengucapkan huruf dengan mulut terbuka dan lidah tidak melekat ke langit- langit. Huruf- hurufnya adalah selain huruf Ithbaq.
Seperti:

أَ – بَ – تَ – ثَ – جَ – حَ - خَ

9. QOLQOLAH.

Qolqolah artinya suara memantul.
Sifat ini sudah diterangkan pada pelajaran ke 13 halaman 53 ~ 54.

10. TAFASSYI.

Maksudnya pada saat mengucapkan huruf ini harus ada hembusan angin yang kuat menyemprot dari mulut, seperti menghardik binatang dengan ucapan: Husy!!!. Satu- satunya huruf yang memiliki sifat ini adalah huruf Syin (ش ). Hati- hati sering keliru/ saling tertukar dengan huruf Siin yang memakai UJUNG LIDAH, sedang huruf Syiin memakai BAGIAN TENGAH LIDAH. Lihat makhorijul huruf.

11. TAKRIR.

Artinya ujung lidah bergetar. Sifat ini hanya dimiliki huruf RO’ ( راء )
Harus diingat karakter getaran ini hanya SATU KALI tidak seperti karakter R nya bahasa Indonesia atau Rusia.
Lebih- lebih saat Tafkhim dan bertasydid, maka menyembunyikan takrirnya Ro’ lebih diutamakan ( فإخفاء التكرير عند الراء المفخمة المشددة آكد

12. ISTHITHOLAH.

Artinya saat membentuk huruf ini dalam mulut membutuhkan TEMPO. Sifat ini hanya dimiliki huruf Dhod ( ض ).
Seperti lafadh:

وَلاَ الضَّالِّيْنَ

13. SHOFIR.

Artinya suara seruit siulan/ desis..
Seruit atau desis ini terjadi karena adanya udara yang menerobos diantara ujung lidah dan pangkal gigi seri atas.
Yakni huruf huruf:

س – ص - ز

Hati- hati saat mengucapkan desisnya ZaY yang disukun, karena ia juga memiliki sifat Jahr, artinya suara desisnya harus tertahan.

14. IDZLAQ.

Idzlaq artinya ujung atau mudah, yakni huruf- huruf yang makhrojnya keluar dari ujung lidah sehingga mudah dan lancar dalam pengucapannya.
Huruf- hurufnya adalah:

فر من لب

Tidak ada yang khusus pada pengucapan sifat ini.

15. ISHMAT.

Yakni tatkala mengucapkan huruf- huruf ini agak sulit tidak seperti mengucapkan huruf – huruf yang bersifat Idzlaq. Huruf- hurufnya adalah:

جز غش ساحط صض ثقة إذ وعظه يخضك

Tidak ada yang khusus dalam pengucapan sifat dan karakter ini.


16.INKHIROOF.

Menurut bahasa artinya condong.
Yang dimaksud adalah condongnya huruf dari makhrojnya sendiri kepada makhrojnya huruf lain. Hurufnya ada dua yakni :

ل - Condong ke ujung lidah.
ر - Condong kedalam, sedikit kearah Lam.

Tidak ada yang khusus pada sifat ini karena akan terjadi dengan sendirinya.

17. LIIN.

Menurut bahasa artinya lembut/ fleksibel. Bibir secara fleksibel bergeser dari kondisi mengucapkan A ke U atau I ( AU - AI).
Yaitu sifat yang dimiliki huruf و atau huruf ي yang mati dan jatuh setelah harakat fatkhah.
Harus dibedakan antara HURUF LIIN dan MAD LIIN.
Huruf Liin tidak dibaca panjang, seperti mengucapkan:

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ

Beda dengan MAD Liin yang harus dibaca panjang 3 alif, seperti:

خَوْف ۞ قُرَيش ۞


18. GHUNNAH.

Yaitu bunyi dengung/ sengau yang muncul dari rongga hidung
( حيشوم )
Huruf Mim ( م ) dan Nun ( ن ) memiliki sifat Ghunnah Ashliyyah. Yaitu memang aslinya dengung. Dengung bisa dikenali dengan cara menutup dan membuka hidung. Ghunnah (bunyi sengau) tak akan muncul tatkala hidung tertutup. Begitu juga suara Mim dan Nun tak keluar dengan benar bila hidung ditutup.
Sedangkan dengung yang terjadi karena Ikhfa’- Iqlab- Idghom Bighunnah dan lainnya disebut Ghunnah ‘Aridhiyyah, maksudnya Ghunnah yang terjadi karena suatu sebab.
Perlu diingat bahwa Ghunnah ini temponya adala SATU ALIF, dihitung setelah Ghunnah Ashliyyah, ikhfa’, Iqlab, atau Idghom Bighunnah.
Misalnya : هن - عم , dihitung setelah Ghunnah Ashliyyahnya Nun dan Mim, sehingga Ahlul Fasokhah kedengarannya seperti membaca dengung lebih dari satu alif, padahal tidak.
( ألصفة الباقية بعد الإخفاء والإقلاب و.....)



24. MUSHAF MADINAH


Dewasa ini banyak beredar Al- Qur’an cetakan Timur Tengah yang memiliki tanda baca yang agak berbeda dengan tulisan Al- Qur’an cetakan Asia Tenggara. Banyak kaum muslimin yang menggunakan Qur’an ini bacaannya salah karena tidak mengerti dan tidak terbiasa dengan tanda bacanya.

Melalui tulisan singkat ini akan diterangkan sekedarnya tentang segala tanda baca dan methode penulisan Qur’an cetakan Timur Tengah itu yang kemudian untuk mudahnya disebut Mushaf Madinah, yaitu sebagaimana dalam jadwal ini









MENGENAL MUSHAF MADINAH DAN MUSYKILATNYA
Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah

Sekarang ini banyak beredar Mushaf cetakan Timur Tengah (selanjutnya disebut Mushaf Madinah). Karena cetakannya bagus dan tulisannya terang, banyak kaum muslimin yang tertarik untuk menggunakannya, namun disisi lain banyak kaum muslimin Indonesia yang belum mengenal tanda baca yang dipakai pada Mushaf ini sehingga mereka sering mengalami kesulitan bahkan salah dalam membacanya.

Tidak sebagaimana Mushaf Qur’an gaya tulisan Asia Tenggara, Mushaf Madinah walaupun sama- sama berdasar QIRO’AT IMAM ASHIM ALA RIWAYATI HAFSH BITHORIQOTI ASYATIHIBIYYAH, ia memiliki tanda- tanda baca dan penulisan khusus yang tidak biasa dipakai dalam Mushaf Indonesia/ Asia Tenggara, sehingga bagi pemula dan bagi mereka yang kurang memahami bahasa Arab, sering terjadi kesalahan baca yang kadang- kadang berakibat menjadi berubah makna kandungannya, dan ini tentu saja tidak boleh terjadi.

Maka atas dasar keprihatinan tersebut, atas karunia dan seizin Allah semata, penulis berusaha akan menjelaskannya kepada para pembaca dan pencinta Ilmu Al- Qur’an, mudah- mudahan dengan asbab tulisan yang kami buat ringkas ini dapat bermanfaat bagi segenap kaum muslimin muslimat dan bagi siapapun yang membaca dan mempelajarinya dan insya Allah Biaunillah akan menjadi amal jariyah bagi penulis sepanjang masa. Amin,

Maka inilah beberapa tanda baca dan tulisan khusus yang dipergunakan pada Mushaf Madinah, penulis paparkan kan berdasarkan Al- Mushaf Al- Muyassar karya As- Syaikh Abdul Jalil Isa dan berdasarkan kitab- kitab n yang lain seperti kitab Al- Muqni’u Fi Rosmi Masohifil Amshor oleh Imam Abu Amr Ad- Dani,dll :


MOHON MAAF SEBELUMNYA ADA BEBERAPA KARAKTER YANG TIDAK BISA DITULISKAN DENGAN SEBENARNYA PADA BLOG INI SEHINGGA MUNCUL GAMBAR KOTAK KECIL, TERUTAMA PADA BAB MENGENAL MUSHAF MADINAH. PENULIS SEDANG BERUSAHA MEMECAHKAN MASALAH TEKNISNYA. UNTUK SEMENTARA PEMBACA BISA MERUJUK KE MUSHAF ASLINYA







بسم الله الرجمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا مجمد وعلى ال سيدنا محمد

I. TANDA MAD/ GHOIRU MAD.

1.Mad Badal dituliskan dengan menggunakan Hamzah + Alif ( ءا ) sebagai pengganti alif dengan tanda Fatkhah panjang ( اٰ ). Seperti:

ءَادَمَ = اٰدَمَ - ءَامَنُواْ = اٰمَنُوْا - ءَازَرَ = اٰزَرَ

2.Bila Hamzah berada DITENGAH Lam Alif ( لأ ), maka Hamzah harus dibaca panjang sebagai Mad Badal, beda dengan Hamzah DIUJUNG Lam Alif ( لا ), seperti:

لَأَيَاتٍ = لاٰ يَاتٍ - لَأَيَةً = لَاٰيَةً

3.Sedangkan pada kalimat- kalimat dibawah ini dimana Hamzah ditulis DIUJUNG Lam Alif, maka Hamzah dibaca pendek, kecuali bila setelahnya ada Wawu, seperti:

لَا َٔوْضَعُوا - لَا َٔعَدُّوا - لَأَرَيْنَكُمْ - لَأَرْجُمَنَّكُمْ

4.Tanda Alif kecil ( ا ), Ya’ kecil ( ﮮ ) dan Wawu kecil (و ) TANPA SYAKAL adalah tanda mad, harus dibaca panjang. Seperti:

ذَٰلِكَ = ذَالِكَ - يَلْوُونَ = يَلْوُوْنَ - إِﮮلَٰفِهِمْ = اِيْلَافِهِمْ

5.Begitu juga bila Wawu kecil atau Ya’ kecil itu jatuh setelah Ha’ Dhomir, maka Ha’ nya dibaca panjang sebagai Mad Shilah. Seperti:

لَهُ و = لَه’ بِهِﮮ = بِهٖ

Hati- hati saat Waqof
(لَهُ و ) diwaqof =”Lah”. Bukan “Lahu”
(بِهِﮮ ) diwaqof =”Bih”. Bukan “Bihi”

6.Bila ada Wawu diatasnya ada Alif berdiri dan sebelumnya ada huruf berharakat Fatkhah, maka Wawunya dianggap tidak ada dan dianggap sebagai Alif (Mad). Seperti:


ٱلصَّلَوٰةَ = الصَّلَاةَ - ٱلزَّكَوٰة = الزَّكَاَةَ - ٱلحَيَوٰةَ = الحَيَاةَ -
ٱلرِّبَوٰ = الرِّبَا

7.Huruf Ya’ ( ى ) tak bertitik bila diatasnya ada tanda alif kecil, maka Ya’ nya dianggap tidak ada dan dibaca sebagai Alif (Mad). Seperti:

هَدىَٰنِ = هَدَانِ - التَّوْرَىٰةَ = التَّوْرَاةَ - أَرَىٰكَ = اَرَاكَ



8.Bila ada huruf Ya’ ( ى ) tak bertitik dan tak berharokat di AKHIR KALIMAT, maka berarti ia adalah Ya’ sukun sebagai tanda Mad. Seperti:

ٱلَّذِى = الَّذِيْ - يُوحِى = يُوْحِيْ - رَبِّى = رَبِّيْ


9. Namun bila DIBAWAH Ya’ ada Hamzah, maka Hamzah dibaca pendek, Ya’ bukan tanda Mad!... Seperti pada QS 10/15 dan QS 51/42:

تِلْقَآئِ نَفْسِى = تِلْقَآءِ نَفْسِيْ ( 10\15)

وَرَآئِ حِجَابٍ = وَرَءِ حِجَابٍ ( 42\51)



10.Bandingkan dengan tulisan dan tanda dibawah ini dimana Hamzah dibaca pendek:

مِن نَّبَإْ ى = مِنْ نَبَإِ (34/72) - لِشَاْىءٍ = لِشَيْءٍ (23/18)- وَمَلَإىْهِ = وَمَلَئِهِ (7/43)-

أَفَإِ ىْنْ = أَفَ ئِنْ (3/144 + 21/34


11.Tanda bulat kecil ( ° ) diatas sebuah huruf, berarti huruf tersebut dianggap tidak ada dan tidak usah dibaca. Awas hati- hati kabalikan dalam Qur’an Indonesia yang kadang dipakai sebagai tanda sukun. Seperti:

أُوْلٰئِكَ - أُوْلِى أَجْنِحَةٍ - أُوْلُوأ الْعِلْمِ - وَأُٔوْلٰتُ ٱلأَحْمَالِ -


يَتْلُواْ صُحُفاً - مِن نَّبَإِىْ الْمُرْسَلِيْنَ - ءامنواْ - بَنَيْناَ بأييْد


Hati- hati, Wawu tak berharokat justru sebagai tanda Mad!!!

Seperti:

أُولَٰهُمْ لِأُخْرَاهُمْ (7/39)- (لَفِى الصُّحُفِ الْأُولَٰىٰ (87/19

Penting: - Pada lafadh Tsamuuda bila di Waqof, “Dal” nya disukun, menjadi Mad Aridh Lissukun...Tsamuuud.

ثَمُوْداْ - ثَمُودَ - ثَمُودْ۞

12. Tanda BULAT PANJANG kecil ( ) diatas Alif menunjukkan bahwa pada SAAT WASHOL DIBACA PENDEK – SAAT WAQOF DIBACA PANJANG. Seperti :

أناْ - لكنا ْ - الظنونا ْ - السبيلا ْ - الرسولاْ-

قَوَارِيْرَاْ (الإنسان ١٥)

Catatan:

- Khusus pada Surat Al- Insan ayat 16, bila diwaqof DISUKUN:

قَوَارِيْرَا ْ قَوَارِيرْ۞ (الإنسان 15)

- Khusus pada Surat Al- Insan ayat 4 bila diwaqof BOLEH DISUKUN atau DIBACA PANJANG SATU ALIF, yakni:

سَلاَسِلَا ْ - سَلَاسِلاَ ۞ \ سَلاَسِلْ۞

13.Pada contoh dibawah ini Wawu dibaca pendek, bila terpaksa Waqof, Wawu disukun menjadi Mad Aridh Lissukun:


لِتَتْلُوَاْ - لِيَرْبُوَاْ - لِيَبْلُوَاْ - وَنَبْلُوَاْ - لَنْ نَدْعُوَاْ

14.Hamzah diatas Wawu + Alif bertanda bulat kecil, maka Wawu dan Alifnya tidak dibaca, seperti:

ٱلعُلَمَاؤُاْ = العُلَمَاءُ - أَنبَاؤُاْ = اَنْبَاءُ - ٱلضُّعَفَاؤُاْ = الضُّعَفَاءُ

شُرَكَآؤُاْ = شُرَكَاءُ - يَتَفَيَّؤُاْ = يَتَفَيَّأُ - يُنَشَّؤُاْ = يُنَشَّأُ


II. IDGHOM KAMIL/ NAQIS.


Dalam Mushaf Madinah dikenal Idghom Kamil (Lebur Sempurna) dan Idghom Naqis (Lebur Tak Sempurna) baik untuk Idghom Mutaqorribain/ Mutajannisain/ Idghom Bighunnah/ Idghom Mimy, dsb. Berikut penjelasannya.

15.Huruf TAK BERHARAKAT APAPUN disusul dengan huruf bertasydid menunjukkan bahwa huruf yang pertama “lebur” secara sempurna (Idghom Kamil), seperti:

أُجِيْبَت دَّعْوَتُكُمَا - يَلْهَث ذّالِكَ - وَقَالَت طَّائِفَةٌ - وَمَن يَّكْرَههُّن

16.Huruf TAK BERHARAKAT APAPUN disusul dengan huruf tak bertasydid menunjukkan bahwa huruf yang pertama:

a. “Lebur” secara tidak sempurna (Idghom Naqis) kedalam huruf berikutnya. Seperti:

فَرَّطتُمْ - اركب معنا - بَسَطتَ - أَلَمْ نَخْلُقكُمْ -
مَن يَقُولُ - مِن وَالٍ

b.”Samar” atau Ikhfa’ bila huruf yang tak berharokat itu ADALAH huruf NUN tatkala bertemu dengan huruf lima belas, atau huruf MIM ketika ketemu BA’. Lihat keterangan tentang Ikhfa’, baik Ikhfa’ Haqiqy atau Ikhfa’ Syafawi, seperti:


مِن تَحْتِهَا - مِن ثَمَرَةٍ - إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ


17.Meletakkan huruf MIM kecil didepan harokat Fatkhah, Dhommah atau Kasroh nya huruf NUN menunjukkan bahwa huruf NUN itu “berubah”/ Iqlab seperti membaca huruf MIM yang tersamar disertai dengung. Contoh pada QS 98/4 - QS 13/43 - 68/13:

شهيدا بينى ( 97\4) - من بعد ما جاءتهم 13\43) - عتل بعد ذالك زنيم ( 68\13)


18.Penulisan dua harokat GANDA Dhommatain- Fatkhtain- Kasrotain , menunjukkan TANWIN yang dibaca Idhar (jelas). Ingat kembali pelajaran Idhar.

سَمِيْع̋ عَلِيْمٌ - وَلاَ شَرَابا ًإِلَّا - قَوْمٍ هَاد

19.Penyusunan harokat ganda tersebut diatas bila diikuti huruf yang bertasydid, menunjukkan terjadinya Idghom Kamil. Ingat pelajaran tentang hukum Nun Mati dan Tanwin.

خُشُب̋ مُّسَنَّدَةٌ - غَفُوراً رَّحِيماً - وُجُوه̋ يَّوْمَئِذٍ نَّاعِمَةٌ

20.Meletakkan tanda potongan kepala huruf kha'tanpa titik diatas huruf NUN (dalam makalah ini ditulis pakai bulatan kecil kerana kesulitan teknis) - menunjukkan bahwa huruf NUN tersebut harus dibaca Idhar (jelas). Ingat pelajaran Idhar.

مِن خَيْرٍ - وَيَنؤَ ن عَنْهُ - مَنْ ءَامَنَ

قَدْ سَمِعَ - أَوَعَظْتَ - وَخُضْتُمْ



III. TANDA- TANDA KHUSUS

21.Bila ada tanda huruf Nun ( ) kecil, berarti harus dibaca disana ada Nun Sukun. Satu- satunya pada Qur'an Surat 21/88, Seperti:

 = نُنْجِيْ (\)

22.Bila ada Ya’ kecil diatas Ya’, berarti sesungguhnya ada dobel Ya’ (Ya’ ganda), seperti pada QS 3/20 - QS 5/111 - QS 7/196:

 = وَالْأُمِّيِّيْن (\ )   = الحَوَارِيِّيْنَ ( \ )
 = وَلِيِّيَ (\)

23.Bacaan TASHIL ditandai juga dengan BULATAN KECIL diatas Hamzah. Tashil artinya meringankan bacaan Hamzah ke II. Ikuti bacaan guru. Lihat pada Qur'an Surat 41/44:

أَاَعْجَمِيٌّ

24.Bacaan IMALAH ditandai dengan BELAH KETUPAT KECIL. Imalah artinya mencondongkan harokat Fatkhah ke 2/3 KASROH. Ikuti bacaan guru. Seperti pada Qur'an Surat 11/41:

بسم الله مَجْرَىهَا وَمُرْسَاهَا

25.Huruf SHOD bertanda SIN diatasnya, maka huruf tersebut harus dibaca SIN. Seperti pada Surat 2/245

والله يَقْبِضُ وَيَبْصُطُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

dan Qur'an Surat 7/69:

وَزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْطَةً

26.Huruf SHOD bertanda SIN dibawahnya, berarti huruf Shod tersebut BOLEH DIBACA SIN BOLEH DIBACA SHOD, tapi dibaca SIN lebih baik. Contoh pada Surat: 88/ 37:

أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُوْنَ

27.Huruf SHOD tak bertanda apapun tetap harus dibaca SHOD. Contoh pada Qur'an Surat 88/ 22.

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Bandingkan semua ini pada Mushaf Indonesia yang semua bertanda Sin diatasnya.

28. SAKTAH ditandai dengan Huruf SIN kecil diatas huruf selain Shod.
Saktah yakni berhenti sejenak tanpa nafas selama satu alif.

Menurut Imam ‘Ashim di Al- Qur’an hanya terdapat di 4 (empat) tempat, yaitu:

Surat Al- Kahfi ayat1, Surat Yasin ayat 52, Surat Al- Qiyamah ayat 27 dan Surat Al- Muthoffifiin ayat 14. Berikut contonya berturut- turut:

وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ و عِوَجاً ۞ قَيِّماً..(الكهف 1-2)

مِنْ مَرْقَدِنَا - هَذَا( يس 52)

وَقِيْلَ مَنْ رَاقٍ ( القيامة 27)

كَلَّا بَلْ رَانَ ( المطففين 14)


Bila ada tanda Saktah yang lain, diabaikan.



IV. HAMZAH WASHOL

29.Semua “Al” harus dibaca FATKHAH hamzahnya, baik Al Qomariyah atau Al Syamsyiyah.

Ingat, diatas Alif bukan tanda Dhommah, tapi TANDA HAMZAH WASHOL.

ٱلَّذِى - ٱلْحَمْدُ لِلهِ - ٱلصَّلَوٰةُ - ٱلزَّكَوٰةَ - ٱلشَّمْسُ - ٱلْقَمَرُ

30.Tidak ada TANDA NUN KECIL berharokat kasroh (Nun Iwadl) pada Mushaf Madinah, beda dengan Mushaf Indonesia. Hati- hati, sering keliru baca.

Agar tidak salah, ingat ketentuan berikut:

“Apabila ada TANWIN bertemu dengan HAMZAH WASHOL, maka tanwinnya DIGANTI DENGAN NUN IWADL.Bila harokat asalnya Fatkhatain atau Fatkhah panjang, maka harus dibaca pendek. Bila terpaksa waqof dibaca panjang satu alif “.

Contoh:

عُزَيْرٌ ٱبْنُ الله = عُزَيْرُنِ ابْنُ اللهِ (التوبة 30)

جَزَاءً ٱلحُسْنٰى = جَزَاءَن الْحُسْنَىٰ (الكهف 88)

لَهْواً انْفَضُّوا = لَهْوَنِ انْفَضُّوا (الجمعة 11)

قَوْماً اللهُ = قَوْمَ نِ اللهُ (الاعراف 164)

قل هو الله احد ۞ الله الصمد ...قل هو الله أجدن الله الصمد

31.Hamzah Washol tidak diberikan harokat sebagaimana pada Mushaf Indonesia, maka perhatikan ketentuan berikut:

a.Bila setelah huruf mati berharokat DHOMMAH, maka Hamzah Washol dibaca DHOMMAH. Contoh:

ٱنظُرْ = أُنْظُرْ (النساء 50 ) - ٱقْتُلُوا يُوسُفَ = أُقْتُلُوْا ..(يوسف 9 )

ٱدْخُلُوهَا = أُدْخُلُوْهَا (الحجر 46 )

b. .Bila setelah huruf mati berharokat KASROH, maka Hamzah Washol dibaca KASROH. Contoh:


ٱرْجِعُوأ = إِرْجِعُوْا (يوسف 71) – ٱنفِرُوأ = إِنْفِرُوْا (التوبة 41)

اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُوْلُ ( ص 18)

c .Bila setelah huruf mati berharokat FATKHAH, maka Hamzah Washol dibaca KASROH .

Contoh:
ٱعْلَمُوأ = إِعْلَمُوْا (المائدة 98) –

ٱتَّبِعُوأ = إِتَّبِعُوْا (أصله إِتْتَبِعُوْا) يس 21



Ingat: Tak ada Hamzal Washol DIBACA FATKHAH kecuali pada “AL” (ٱل)


والله الموفق الى اقوم الطريق


"BAGI YANG INGIN MEMILIKI BUKU INI DAPAT MENGHUBUNGI - YAYASAN AL-KHAIRIYYAH GRIYA PANORAMA INDAH-, TELEPON 0264- 313829. HARGA PER BUKU RP. 15.000;"

1 komentar:

  1. terima kasih pak ustadz.
    Jazakallah khoiron katsir.

    BalasHapus