MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Minggu, 07 Juli 2013

MENGENAL THARIQAH SYATHIBIYYAH DAN THAYYIBAT AL-NASHR SERTA PERBEDAANNYA


MENGENAL THARIQAH SYATHIBIYYAH DAN THAYYIBAT AL-NASHR SERTA PERBEDAANNYA [1]
Oleh Abdus Salam
(Amanah Pentashih Qiraati Jabodetabeka)

A.      Pendahuluan
Dalam pembelajaran pembacaan al-Qur’an ada istilah yang disebut ‘tharîq’. Mengenai tharîq/tharîqah/tarekat ini, barangkali frasa yang lebih familiar di telinga adalah yang terkait aliran dalam ajaran tasawuf/sufisme, misalnya tarekat Naqsyabandiyah, tarekat Qadiriyah, tarekat Hashafiyah, dan lain-lain. Nama tarekat biasanya menggunakan nama guru yang mengajarkan atau yang menjadi rujukan dalam aliran. Bisa dibilang, tharîq al-Qur’an pun secara mekanisme mirip seperti itu.
Tharîq adalah tingkatan ketiga pada hirarki madzhab membaca al-Qur’an. Urutannya yaitu: qira’ât, riwâyah, kemudian tharîqah. Madzhab yang populer di Indonesia adalah qirâ’at-`Ashim riwayat-Hafsh tharîq-Syâthibi. Selain itu dapat juga berjuluk riwayat Hafsh `an `Ashim min tharîq Syâthibiyyah.

Seperti telah banyak dibahas, qira’ât adalah satu cara membaca al-Qur’an (baik yang seragam, maupun yang terjadi perbedaan) dengan me-nisbat-kan metoda bacaan tersebut pada satu imam qira’ât. Tiap imam qira’ât memiliki rawi-rawi yang membaca berdasarkan qira’ât imam tersebut. Rawi ini adakalanya merupakan murid langsung sang imam, ada pula yang tidak langsung (murid generasi berikutnya). Bacaan rawi ini disebut Riwâyat. Adapun Tharîq -secara asalnya- dibawa oleh mereka yang membaca dari râwi (baik murid langsung maupun tidak langsung).[2]
Bacaan yang disandarkan kepada imam disebut “qira’ât”. Contoh perbedaan qiraat pada lafazh “mâliki yaumiddîn” pada Surat Al-Fâtihah. `Ashim (bersama Al-Kisâ’i) meng-itsbât-kan “alif” pada lafazh “mâliki” sehingga mim dibaca panjang (mad). Adapun imam lain (Nâfi`, Ibnu Katsîr, Abu `Amr, Ibnu `Amîr, dan Hamzah) membuang/tidak memakai “alif” (hadzfu alif) setelah huruf “mim” sehingga dibaca “maliki” pendek/tanpa mad (sama seperti lafazh “malikin-nâs” pada Surat An-Nâs).
Imam `Ashim memiliki banyak murid yang belajar al-Qur’an padanya. Dalam ilmu qira’ât, biasanya dipilih dua orang yang diejawantahkan membawa bacaannya. Ditetapkan dua rawi `Ashim masing-masing yaitu Syu`bah (Abu Bakar; Syu`bah bin `Ayyasy Al-Asadi Al-Kufi) dan Hafsh (Abu `Amr; Hafsh bin Sulaiman Al-Asadi Al-Kufi).
Antara bacaan Syu`bah dengan Hafsh ada persamaan dan adapula perbedaan. Menurut atsar, imam `Ashim menerima bacaan (talaqqi) diantaranya dari Abu `Abdurrahman As-Sulami dan dari Zar bin Hubaisy. Abu `Abdurrahman As-Sulami membaca dari `Ali bin Abi Thalib; Zar bin Hubaisy membaca dari `Abdullah bin Mas`ud. `Ali dan Ibnu Mas`ud menerima dari Rasulullah. Imam `Ashim mengajarkan bacaan dari jalur Abu `Abdurrahman (dari `Ali dari Nabi) kepada imam Hafsh. Sedangkan imam Syu`bah diajarkan bacaan dari jalur Zar bin Hubaisy (dari Ibnu Mas`ud dari Nabi).
Jika kita membaca yang mana imam Syu`bah dan imam Hafsh sepakat (tidak terjadi perbedaan), misalnya Surat Al-Fatihah, maka kita dapat mengklaim bacaan kita sebagai “qira’ât `Ashim”. Tetapi apabila kita membaca yang mana antara Syu`bah dan Hafsh terdapat khilâf, maka bacaan tersebut harus dijuluki sebagai “Riwâyat”. Contoh perbedaan Syu`bah dan Hafsh adalah pada perkara saktah dan tashîl. Hafsh memakai saktah pada empat tempat (Surat Al-Kahfi, Yâsîn, Al-Qiyâmah, dan An-Nâzi`ât) serta tashîl pada Surat Fushshilat ayat 44. Sedang Syu`bah tidak memakai saktah dan tashil. Artinya bila kita sedang membaca dengan madzhab `Ashim kemudian menggunakan saktah dan tashîl maka bacaan kita merupakan “riwayat Hafsh `an `Ashim”. Namun bila kita tidak menggunakan saktah maupun tashil maka bacaan kita adalah “riwayat Syu`bah `an `Ashim”.
Selanjutnya imam Hafsh pun memiliki murid-murid. Secara asal-mula, bacaan yang dipraktekkan para murid inilah yang dinamakan “tharîq”. Berbeda dengan “riwâyat”, pada kasus “tharîq” ini tidak ditemui pembatasan jumlah yang ditahbiskan. Sebab perihalnya lebih kepada jalur pengajaran bacaan yang berhulu pada imam Hafsh. Disebutkan oleh Ibnu Jazari dalam kitabnya “An-Nasyr fi Al-Qira’ât Al-`Asyr” bahwa ada sekitar 58 kitab qira’ât yang dirujuknya yang masing-masing membawa tharîq tersendiri.
Untuk pembahasan kali ini kita ambil sampel dua buah tharîq yang populer. Diantara yang membaca pada imam Hafsh adalah `Ubaid bin Ash-Shobbah dan `Amr bin Ash-Shobbah. Dari jalan `Ubaid bin Ash-Shobbah ini imam Abul-Qasim Asy-Syathibi merumuskannya dalam kitab “Hirz Al-Amani wa Wajhu-al-Tahani fi al-Qira’ât Al-Sab`”. Muncullah terminologi “thariq Syathibiyyah”. Sedangkan dari jalan `Amr bin Ash-Shobbah, Imam Al-Mubarok Al-Baghdadi merumuskan kitab “Al-Mishbah fi al-Qira’ât al-`Asyr”. Ibnu Jazari telah mengumpulkan tharîq-tharîq tersebut dan selainnya pada kitab “Thayyibah-al-Nasyr fi al-Qira’ât al-`Asyr”. Atas dasar itu, tharîq `Amr bin Ash-Shobbah dari kitab Al-Mishbah lazim dikenal dengan “thariq Mishbah Jazariyyah”.
Pada tharîq yang satu dengan yang lain juga terdapat perbedaan. Namun tentu saja perbedaannya tidak seperti perbedaan qira’ât ataupun riwâyât. Hal yang paling menonjol antara tharîq Syathibi dengan tharîq Mishbah Jazari terletak pada masalah mad munfasil. Tharîq Syathibi menetapkan tawashshuth (panjang 4 atau 5 harkat) sedangkan tharîq Mishbah Jazari menetapkan qashar (panjang 2 harkat) ketika wasal.
Baik “qira’ât”, “riwâyât”, maupun “tharîq” merupakan khilâf wâjib. Artinya perbedaan itu harus kita kenali dan ketahui serta dipraktekkan bagi bacaan yang kita gunakan. Penetapannya bergantung pada apa yang diterima dari talaqqi kepada guru al-Qur’an serta validitas sanadnya. Seperti itulah keabsahan bacaan al-Qur’an sebagaimana ia diajarkan dengan metoda musyafahah bersambung secara mutawâtir. Dengan demikian tegaslah bahwa bacaan kita adalah bacaan yang benar dan bersumber dari Rasulullah Saw.

B.     PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA THARIQAH SYTHIBIYYAH DAN THAYYIBAH AL-NASHR


عاصم
حفص
                                      عبيد ابن الصبح
(الشاطبية)
عمرو ابن الصباح
(طيبة النصر)
NO
IKHTILAF
SYATHIBIYYAH
THAYYIBAH AL-NASHR
1
Mad Muttashil
4, 5 harakat
4 harakat
2
Mad Munfashil
4, 5 harakat
2 harakat
3
يَبْصُطُ
Shad dibaca sin
Shad dibaca shad
4
بَصْطَةً
Shad dibaca sin
Shad dibaca shad
5
ءَالذَّكَرَيْنِ, ءَالْأَنَ, ءَاللهُ
Ibdȃl, tashȋl
Ibdȃl saja
6
لَا تَأْمَنَّا[3]
Isymam, ikhtilash
isymam
7
[4]يلهَذْ ذّلِكَ
Dibaca idghâm
Dibaca idghâm
8
ارْكَبْ مَعَنَا[5]
Dibaca idghâm
Dibaca idghâm
9
Saktah
Wajib saktah (ketika washal)
Wajib saktah (ketika washal)
10
كهيعص حم عسق
Ainnya dibaca 4, 6 harakat
Ainnya dibaca 4 harakat
11
كُلُّ فِرْقٍ[6]
Ada 2 wajah: ra’ tafkhîm dan tarqîq
Ra’ dibaca tafkhîm
12
فَمَا ءَاتَانِ[7]
Ketika waqaf boleh hadf ya’ (membuang ya’) dan boleh itsbat (tetap membacanya)
Ketika waqaf wajib hadf ya’
13
ضَعْفٍ
Boleh fathah, boleh dhummah
Fathah saja
14
يس وَالْقُرْءَانِ الْحَكِيْمِ
ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ
Dibaca idzhâr
Dibaca idzhâr
15
اَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُوْنَ
Shad boleh dibaca shad, sin
Shad wajib dibaca sin
16
سَلَسِلَا
Waqaf; panjang, pendek (sukun)
Waqaf dibaca pendek
17
بِمُصَيْطِرٍ
Shad dibaca shad
Shad dibaca shad
18
Takbir
Tidak ada takbir
takbir

C.    MAD FAR’I
Mad far’i berdasarkan kuat atau lemahnya sebab dan ukuran panjangnya menurut thariqah syathibiyyah dan thayyibah al-Nashr:
NO
MAD FAR’I
THARIQAH
SYATHIBIYYAH
THAYYIBAH
1
Mad lazim
6 harakat
6 harakat
6 harakat
2
Mad muttashil
4 harakat
5 harakat
4 harakat
3
Mad ‘arid lissukun
2,4,6 harakat
2,4,6 harakat
2,4,6 harakat
4
Mad munfashil
4 harakat
5 harakat
2 harakat
5
Mad badal
2 harakat
2 harakat
2 harakat

D.     penutup
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan secara mutawâtir, cara bacanya pun ada aturannya, maka pembaca harus memperhatikan dan bisa membedakan antara qirâ’ah, riwâyah, dan tharîqah, sehingga tidak terjadi ikhthilâth (tumpang-tindih) bacaan yang menyebabkan jalur periwayatan menjadi tidak jelas dan tidah shahih. Yang terpenting adalah talaqqi dan musyafahah agar bacaan al-Qur’an kita mutawâtir sampai Rasulullah Saw.
Wallâhu A’lam bi al-Shawâb




[1] Makalah ini presentasikan di MMQ Koordintor Cabang Karawang  pada hari minggu 7 Juli  2013
[2] Abdul Fattah al-Qadhi, Al-Budûr al-Zâhirah fi Qirâât al-‘Asyar al-Mutawâtirah min Tharîqî al-Syâthibiyyah wa al-Durâ, (Beirut: Dar al-Kutub al-arabi, 2004), cet. Ke-1, hal. 10
[3] Q.S Yusuf: 11
[4] Q.S Al-A’raf: 176
[5] Q.S Hud: 42
[6] Q.S Al-Syuara’: 63
[7] Q.S An-Naml: 36

3 komentar:

  1. As. Mohon izin ambil manfaat makalahnya ustadz
    Bayhaki, Ampera, Cilandak Jakarta Selatan

    BalasHapus