MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Selasa, 21 Mei 2013

NAWAWI ALBANTANI- SALEH DARAT- RIFA'I KALISALAK, DIANTARA PARA ULAMA REFORMIS INDONESIA ALUMNI AL- HARAMAYN PADA ABAD 19

Ulama Indonesia di Haramayn (Mekah & Madinah) dan transmisi Islam reformis di Indonesia (1800 - 1900)

           (Nawawi Albantani-Saleh Darat-Rifa'i Kalisalak)






Sebuah disertasi

Author: Basri Basri


Abstrak:



Penyebaran Islam reformis di abad kesembilan belas Indonesia dipengaruhi secara signifikan oleh jaringan intelektual yang dibangun di Mekkah dan Madinah antara para tokoh kunci Indonesia dan para Ulama Haramayn. Pada abad kesembilan belas, dua  Kota Suci (Mekah/ Medinah) telah dapat menarik sejumlah ulama Jawa yang, selain belajar dan mengajar, juga menulis risalah kitab- kitab hukum Islam yang penting- penting, di mana mereka mentransmisikan dan menyebarkan ide-ide reformis mereka keseluruh nusantara. 

   Setelah menyelesaikan tujuan mereka belajar dengan para ulama terkemuka di Haramayn tersebut, sebagian besar dari mereka kembali ke Jawa, di mana mereka membentuk diri sebagai para reformis terkemuka, yang pengaruhnya tetap penting sampai hari ini. Nawawi al-Bantani, Salih Darat, dan Rifa `i Kalisalak berada di antara kesembilan belas Ulama Jawa yang paling terkenal pada abad 19 yang belajar di Haramayn tersebut. 

   Setelah menguasai berbagai ilmu Islam mereka pulang ke tanah air untuk menyebarkan ide-ide reformis mereka, ini termasuk upaya bertahap untuk memurnikan Islam dari pengaruh local yang merusak (sincretisme, bid’ah dan khurafat. pen)upaya me reformulasi doktrin Islam agar dapat menjadi pedoman yang lebih praktis dan fungsional, dan upaya rekonsiliasi untuk mengubah Islam yang saat itu berorientasi mistis ke amaliyah praktek berorientasi yang lebih SYAR’I

   Cita-cita reformis mereka tidak diragukan lagi merupakan perubahan besar dalam perjalanan Islam di wilayah tersebut, terutama di abad kesembilan belas. Disertasi ini berusaha untuk menjelaskan ide-ide reformis Islam yang ditularkan oleh ketiga `ulama tersebut. Terlepas dari kenyataan bahwa mereka semua belajar di Haramayn dibawah bimbingan para Ulama Madzhab Syafi `i, mereka berbeda dalam hal penekanan dan pendekatan dalam agenda reformis Islam mereka. Nawawi Al-Bantani, yang menghabiskan bertahun-tahun di Haramayn sebagai mahasiswa dan kemudian diangkat sebagai syekh (Syaikhul Hijaz), terutama berkaitan dengan reformasi Islam pada tingkat KONSEPTUAL. Salih Darat, yang menghabiskan waktu yang lebih singkat dibanding dari keterlibatan intelektual dengan para Ulama Haramayn lainnya, lebih menekankan pada penterjemahan ajaran Islam ke dalam risalah yang realistis dan lebih mudah dipahami (kedalam bahasa Jawa)  yang dimaksudkan untuk mengatasi kehidupan ibadah sehari-hari orang Jawa  dan masalah keagamaan praktis lainnya

   Di sisi lain, aktivitas Rifa'i Kalisalak terutama berkaitan dengan transformasi ajaran Islam ke dalam aktivitas gerakan progresif (Harakah), terutama dalam konteks sikap perlawanan pada kehadiran penjajah kolonial Belanda di Indonesia (Dikemudian hari beberapa tahun setelah kemerdekaan, para santri beliau KH. Syekh Ahmad Rifa'i membuat sebuah jama'ah yang kemudian disebut sebagai Jama'ah Rifa'iyyah, sebuah Jama'ah yang bersifat sosial keagamaan yang ber- asaskan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah, dalam Fikih bermadzhab Syafi'i, dalam Aqidah berpedoman pada methode Asy'ary dan Ma'turidy, serta dalam Tasawwuf berpedoman pada methode Tazkiyyatun Nafs Imam Junaidy Albaghdady.........Lihat dan bandingkan dengan Anggaran Dasar Nahdhatul Ulama hasil Mu'tamar XXVII No 02 /MNU-27/1984, Point 3 tentang Dasar- dasar keagamaan Nahdhatul Ulama , b (1-2-3).Pent...........(Tag: Sejarah)



Translated by:Ibn Khasbullah 

Tulisan asli:

 

 (Nawawi Albantani- Saleh Darat- 


Rifa'i Kalisalak)

Dissertation
Author: Basri Basri
Abstract:
The transmission of reformist Islam in nineteenth century Indonesia was influenced significantly by intellectual network that was established in Mecca and Medina between key Indonesian and Haramayn `ulam a' . In the nineteenth century the holy cities attracted a number of Javanese `ulama' who, in addition to studying and teaching, wrote important legal treatises, by which they transmitted their reformist ideas throughout the archipelago. Having accomplished their objectives of studying with leading scholars in the Haramayn, most of them returned to Java, where they established themselves as leading reformers, whose influence remain important this day. Nawawi al-Bantani, Salih Darat, and Rifa`i Kalisalak were among the most notable nineteenth century Javanese `ulama' who studied in the Haramayn. After mastering various Islamic sciences they returned home to transmit their reformist ideas; these include a gradual effort to purify Islam from local corrupting influences, reformulation of Islamic doctrines into more practical and functional guidelines, and a reconciliatory effort to transform mystical oriented Islam into more shari`a oriented practice. These reformist ideals undoubtedly constituted a major change in the course of Islam in the region, especially in the nineteenth-century. This dissertation attempts to elucidate Islamic reformist ideas transmitted by these three `ulama'. Despite the fact that they all studied in the Haramayn under the tutelage of Shafi` i scholars, they differed in terms of the emphases and approaches in their Islamic reformist agenda. Al-Bantani, who spent years in the Haramayn as a student and was appointed as a shaykh, was primarily concerned with Islamic reform on a conceptual level. Salih Darat, who spent a shorter period of his intellectual engagement with the Haramayn `ulama', emphasized the translation of Islamic teachings into realistic and more easily understood treatises which were intended to address daily life and practical issues. On the other hand, Kalisalak was mainly concerned with the transformation of Islam into more progressive activism especially in the context of his adversarial attitudes towards the Dutch colonial presence in Indonesia...................... 



See: udini.proquest.com/view/indonesian-ulama-in-the-haramayn-goid:304687102/

Seni & Sejarah> Sejarah Timur Tengah




  


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar