MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Rabu, 05 Oktober 2011

WALISONGO TERNYATA TIDAK HANYA "SONGO" (SEMBILAN)


 e
WALI SONGO TERNYATA LEBIH DARI “SONGO (9)”
Diterjemahkan oleh: H. Khaeruddin Khasbullah, dengan beberapa tambahan
Judul asli:
Walisongo
The Nine Sufi Saints of Java








“Tiada seyogyanya seseorang patut menjadi pemimpin suatu bangsa
  Kecuali tatkala ia telah menguasai tiga hal, yakni:
- Ilmunya para ulama dan para cendekia
- Kebijaksana an para bijak bestari,
- Dan Ia telah memiliki siasat raja- raja……”.
(Syekh Abdul Qodir Al- Jiilany)

“BAYANGKARI ISLAH”- CIKAL BAKAL WALISONGO

Peng- Islaman tanah Jawa tidak bisa dipungkiri adalah hasil strategi dakwah yang jitu dari Raden Rahmat, bergelar Sunan Ampel, bernama asli Haji Bong Tak Keng. Beliau lahir di Champa- Kamboja, anak dari Syekh Maulana Malik Ibrahim, pendakwah dari Turki Utsmany dari hasil perkawinan beliau dengan putri Champa. Dari perkawinan dengan putri Champa itu, terlahir: 1- Sayyid Ali Rahmatullah, bergelar Sunan Ampel, setelah berkarya di Ampeldenta, dan 2. Sayyid Ali Murtadho. (menurut Rafles yang dimaksud dengan Champa adalah Jeumpa- suatu daerah di Aceh).

Kedatangan beliau ketanah Jawa pada tahun 1443 H bersama ayahandanya Maulana Malik Ibrohim adalah untuk menemui BIBI nya, yakni putri Dwarawati yang menjadi permaisuri Raja Majapahit: Prabu Kertawijaya bergelar Prabu Brawijaya V, yang kemudian menjadi Raja Islam yang pertama di Jawa dengan rakyatnya yang mayoritas Hindu. Masuk Islamnya Sri Kertawijaya membuat geger keraton Majapahit dan mampu mentrigger suatu Coup d’etat oleh Sri Rajasawardhana yang didukung para Bhiksu, dan berhasil. Maulana Malik Ibrohim sendiri sebetulnya belum pernah berkarya nyata di Pulau Jawa karena keburu wafat, dan tugas beliau diteruskan oleh para putra- putra dan saudara- saudaranya dibawah pimpinan Raden Rahmat bergelar Sunan Ampel tersebut. Sunan Ampel juga sekaligus menyiapkan langkah strategi dan lahan dakwah untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa yang saat itu secara resmi dan dominan beragama Hindu dibawah naungan Kerajaan Hindu Majapahit yang saat itu makin sering dilanda pertikaian dan intrik antara keluarga kerajaan, serta pemberontakan sporadis dan berada dalam ambang kehancuran.

Maka dengan strateginya beliau membentuk suatu Dewan Dakwah (yang sering dikenal sebagai Dewan Wali) yang disiapkan dan diambil terutama dari kader- kader keluarga dekatnya, kemudian menugaskan mereka berdakwah didaerah- daerah penugasan mereka pada seluruh wilayah dan provinsi Kerajaan Majapahit.

Perlu diketahui bahwa kerajaan Majapahit pada pertengahan abad ke-15 dibagi menjadi sembilan provinsi, yakni: Trowulan (ibukota), Daha, Blambangan, Matahun, Tumapel, Kahuripan, Lasem, Wengker, dan Pajang. Maka Sunan Ampel mengatur suatu strategi dakwah dengan menunjuk seorang pendakwah untuk setiap daerah strategis di provinsi-provinsi tersebut.

Dalam strategi dakwahnya Sunan Ampel mengatur susunan dewan sebagai berikut:

1- Sunan Ampel sendiri, bertindak sebagai pemimpin dan mengelola ibukota Majapahit, yakni Trowulan, Jenggala Manik (dekat Ampel), Canggu, dan Jedong.

2- Raden Ali Murtadho, saudara Sunan Ampel, ditunjuk untuk berdakwah di wilayah Gresik dan Tuban. Dia juga disebut Raden Santri Ali di daerah itu.

3- Abu Hurairah, sepupu Sunan Ampel berdakwah di daerah Majagung dan memiliki gelar Pangeran  Majagung. Dia juga disebut Raden Burereh oleh masyarakat setempat.

4- Syekh Maulana Ishak, paman Sunan Ampel, pergi untuk berdakwah di provinsi Blambangan dan memiliki gelar Waliyul Syekh Islam. Dia juga disebut Syekh Wali Lanang.

5- Maulana Abdullah, paman Sunan Ampel itu, berdakwah di Pajang dan memiliki gelar Syekh Suta Maharaja.

6- Kyai Banh Tong ditugaskan untuk berdakwah di provinsi Lasem dan disebut Syekh Bentong oleh masyarakat setempat. Putrinya adalah salah satu dari banyak istri raja Majapahit.

7- Khalif Husain, sepupu Sunan Ampel itu, berdakwah di Madura, sebelah timur laut pulau Jawa.

8- Usman Haji, putra Husain Khalif, berdakwah di Ngudung di Provinsi Matahun dan memiliki gelar Pangeran Ngudung.

Kedelapan Pendakwah disebut sebagai “Bayangkari ishlah” oleh Sunan Ampel. Mereka yang semua adalah guru sufi dan tasawuf itu kemudian membuat dan menetapkan konsep dasar mereka dalam menyebarkan Islam. Karisma dan kecerdasan mereka membantu memenangkan simpati dari penguasa lokal dan banyak dari para pendakwah itu yang kemudian menikah (ditugaskan agar mereka bisa menikah) dengan gadis dari keluarga bangsawan (yang notabene masih beragama Hindu). Sunan Ampel sendiri menikah dengan Nyi Ageng Manila (atau Dewi Condrowati), putri dari seorang perwira tinggi di kerajaan Majapahit, yakni Arya Teja, Sang Bupati Tuban. Syekh Maulana Ishak menikahi putri Prabu Menak Sembuyu (Sadmuddha), raja Blambangan. Kalifah Husain dan Ali Murtadho menikahi putri dari Arya Baribin, penguasa Madura. Maulana Abdullah menikahi Endang Senjanila dari Tirang. Dengan memiliki hubungan keluarga dengan penguasa lokal mereka bisa mengajarkan Islam secara efektif.

Gelombang kedua Team Pendakwah dikirim beberapa tahun kemudian oleh Sunan Ampel untuk memperkuat para Pendakwah yang pertama:

1. Raden Hasan atau Raden Fatah, putra Sri Kertawijaya dengan istrinya yang keturunan Cina, berdakwah di Glagah Wangi, Bintara, di provinsi Lasem untuk menggantikan kakeknya, Syekh Bentong. Dia memiliki gelar Pangeran Bintara.

2. Raden Husen, setengah-saudara Raden Hasan, ditunjuk untuk berdakwah di Trowulan, ibukota Majapahit.

3. Raden Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel, dikirim ke Daha, dan memiliki gelar Pangeran Anyakrawati. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang.

4. Raden Hamzah, putra Sunan Ampel, ditugaskan untuk berdakwah di Tumapel dan memiliki gelar Pangeran Tumapel. Dia juga dikenal sebagai Syekh Ambyah atau Syekh Kambyah.

5. Raden Mahmud, putra Sunan Ampel, juga dikenal sebagai Syekh Sahmut, berdakwah di Sepanjang, Kahuripan, dan memiliki gelar Pangeran Sepanjang.

Sunan Ampel dan para rekannya menggunakan pendekatan persuasif untuk menarik orang Jawa masuk Islam. Mereka mengeksploitasi mitos Hindu dan kepercayaan untuk menyebarkan ajaran Islam. Mereka membuat cerita baru yang terkait dengan mitos seperti ceritera wayang dan memasukkan akidah Islam ke dalamnya, seperti adanya JIMAT KALIMUSODO alias kalimat Syahadat yang dimiliki oleh Pramu Samiaji. Begitu juga dengan memunculkan tokoh PONOKAWAN, seperti Semar (Syamir) Petruk (Fatruk), dan Nala Gareng (Nala Khoir) dan Bagong (Baghoo), yang tak ada dasarnya dalam kisah Mahabarata aslinya. Cerita-cerita yang telah berisi ajaran Islam tersebut secara bertahap menjadi populer di kalangan umat Hindu dan membuat mereka akrab dengan Islam, dan kemudian sanggup membentuk kultur Islam (Islamic culture) yang melekat kuat dihati sanubari rakyat Jawi.

Para Bhayangkari Islah juga mencoba untuk menghindari konflik dengan penguasa lokal dengan membuat hubungan baik dengan mereka. Tetapi gerakan mereka bukannya tanpa hambatan dan kesulitan. Syekh Maulana Ishak terpaksa meninggalkan Blambangan karena tuduhan palsu dan fitnah keji dari salah satu perwira raja. Isterinya yang sedang hamil pun terpaksa ditinggal di Blambangan. Kemudian ia melahirkan seorang putra, Raden Ainul Yaqin atau Raden Paku, yang diambil oleh Sunan Ampel sebagai muridnya. Syekh Maulana Ishak, menurut "Babad Tanah Jawi", setelah meninggalkan Blambangan kembali ke kerajaan Pasai di Sumatera. Namun menurut "Serat Kandaning Ringgit Purwa", ia pergi ke Semarang dan mengajarkan Islam kepada Batara Katong dari Wengker.

Di daerah lain mereka masih ditolak oleh para penguasa Hindu seperti Makdum Ibrahim yang punya kesulitan dengan bangsawan Daha ketika dia mencoba untuk membangun masjid di sana.

Di Pajang, basis Syekh Suta Maharaja diserang oleh tentara Prabu Andayaningrat dari Pengging, yang tidak menyukai perkembangan Islam di daerah itu. Syekh Suta Maharaja melarikan diri ke Demak dan meninggal di sana. Kemudian, tentara Pengging akhirnya dikalahkan oleh Raden Hasan.

Konfrontasi ini memaksa Sunan Ampel untuk merekonstruksi strategi dalam menyebarkan Islam di Jawa. Dia harus membentuk kelompok karismatik Penceramah Islam yang didukung oleh kekuatan politik yang kuat yang menyebabkan kelahiran Walisongo, sebuah dewan yang dengan pendekatan tasawuf akhirnya berhasil dalam mengkonversi hampir semua orang Jawa dari Hindu ke Islam.

KelahiranWalisongo

Alasan Keputusan Sunan Ampel untuk membentuk sebuah dewan misionaris Islam untuk membangun para Pendakwah Islam ber-tipe fleksibel. Dewan dapat dipandang sekaligus sebagai gerakan agama serta gerakan politik, karena Sunan Ampel juga mulai membangun kekuatan militer di Demak, Giri (Gresik) dan Tuban. Beberapa guru Sufi sebelumnya tidak termasuk dalam dewan karena berbagai alasan. Syekh Suta Maharaja telah meninggal setelah serangan dari kerajaan Pengging. Raden Husen telah ditugaskan sebagai Tandha (posisi pemerintah di kerajaan Majapahit) di Terung. Sementara Ali Murtadho, saudara Sunan Ampel, ditugaskan untuk mempertahankan unit militer Muslim di Gresik dan Tuban dengan Raden Burereh.

Akhirnya pada 1474, Sunan Ampel membentuk dewan Walisongo pertama yang terdiri dari:

1- Raden Rahmat (Sunan Ampel), sebagai pemimpin dewan dan tinggal di Ampel.

2- Raden Hasan ditempatkan di Bintara, Demak dengan gelar Pangeran Bintara. Kemudian ia dikenal sebagai Raden Fatah atau Raden Patah, raja pertama dari Kesultanan Demak.

3- Raden Makdum Ibrahim, putra pertama dari Sunan Ampel, tinggal di Daha dengan gelar Pangeran Anyakrawati. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang.

4- Raden Qosim atau Raden Alim, putra kedua dari Sunan Ampel, Raden diganti Burereh di Majagung, dan mendapat gelar Pangeran Majagung. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Drajad.

5- Haji Usman masih berdakwah di Ngudung, Matahun, dan memiliki gelar Pangeran Ngudung.

6- Raden Ainul Yaqin atau Raden Paku, putra Maulana Ishak, pergi ke Giri (dekat Gresik) dan memiliki gelar Pangeran Giri. Kemudian ia dikenal sebagai Sunan Giri.

7- Syekh Abdul Jalil.  Syekh Suta Maharaja diganti di Lemah Abang, Pajang, dan memiliki gelar Syekh Lemah Abang. Ia kemudian dikenal sebagai Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar dikemudian hari dihukum mati oleh Dewan Wali karena dianggap telah keluar dari Syari'at.

8- Raden Hamzah ditempatkan di Singosari, Tumapel. Dia memiliki gelar Pangeran Tumapel.

9- Raden Mahmud membangun sebuah basis di Drajad, dekat Tuban, kemudian berjuluk Sunan Drajat..

Pada saat itu pusat kegiatan dewan dakwah masih di Ampel, yang dekat ke ibukota Majapahit, Trowulan. Sunan Ampel berpikir bahwa itu perlu untuk memindahkan pusat ke tempat baru jauh dari Trowulan sehingga mereka bisa memiliki lebih banyak kebebasan untuk mengatur gerakan mereka. Walisongo memiliki dua basis yang kuat pada waktu itu, Demak dan Giri, yang memiliki banyak pengikut dan unit militer yang kuat. Demak dikelola oleh Raden Fatah (Raden Hasan), sedangkan Giri dikelola oleh Raden Ainul Yaqin (Raden Paku). Basis-basis ini adalah alternatif pusat baru dewan, tapi Giri masih dekat dengan Trowulan, sehingga pilihan terbaik adalah untuk memindahkan pusat ke Demak. Segera setelah dewan mulai membangun masjid besar di Demak yang akan digunakan tidak hanya sebagai pusat dewan untuk menyebarkan Islam, tetapi juga sebagai pusat studi Islam dan tasawuf. Masjid Demak selesai sekitar 1477 Masehi. Kemudian untuk mencegah persaingan antara Raden Fatah dan Raden Paku, Sunan Ampel secara bijak mengadopsi mereka sebagai anaknya secara hukum syari’ah, yakni dengan menikahkan mereka berdua dengan putri- putrinya. Raden Fatah menikah dengan Dewi Murthosiyah, sementara Raden Paku menikah dengan Dewi Murthosimah. Keduanya putri Sunan Ampel dari perkawinan dengan isteri kedua, Nyai Karimah.

Dua basis kekuatan Walisongo , yakni Demak dan Giri, makin hari makin bertambah kuat sehingga membuat penguasa Majapahit melakukan pengawasan yang ketat. Penguasa baru dari Majapahit, Bhre Kertabumi, penerus ketiga Sri Rajasawardhana, curiga terhadap kedua pemimpin dari dua basis kekuatan itu. Itu karena Raden Fatah adalah putra dari Sri Kertawijaya, raja Majapahit sebelumnya yang digulingkan dan digantikan oleh Sri Rajasawardhana. Sementara ibu Raden Paku adalah cucu dari Bhre Wirabumi dari Blambangan, musuh lama Majapahit yang mereka kalahkan jauh sebelum-itu.

Namun, posisi mereka di dewan Walisongo memberi mereka perlindungan sementara, karena Sunan Ampel masih dihormati oleh penguasa Majapahit, dan ada banyak perwira tinggi Majapahit masih setia ke Sri Kertawijaya dan putranya, Raden Fatah.

Pemberontakan-di-Majapahit

Saat itu kerajaan Majapahit berada di masa- masa penurunan pamor. Banyak negara bawahan dan provinsi telah mencoba untuk membebaskan diri dari mereka. Dua di antaranya adalah Kerajaan Daha dan Kerajaan Blambangan di bagian timur Jawa. Blambangan kurang kuat dari Daha, sehingga Majapahit bereaksi dengan mengirimkan pasukan besar untuk wilayah ini yang mereka anggap lebih mudah untuk ditangani. Raja Blambangan, Prabu Menak Sembuyu (Sadmuddha) yang juga disebut dalam cerita rakyat lokal sebagai Prabu Menak Jingga, memimpin pasukannya ke pertempuran melawan Majapahit. Prabu Menak Sembuyu tewas dalam perang, tapi banyak dari pengikutnya melarikan diri ke Giri dan mencari perlindungan dari Sunan Giri, yang merupakan cucu dari-raja-mereka.

Tentara Majapahit kemudian merencanakan serangan kedua, tapi kali ini ke Giri, untuk menghilangkan sisa-sisa tentara Blambangan yang melarikan diri di sana. Menurut ceritera rakyat, sebelum mereka bisa mencapai Giri, Sunan Giri mengalahkan mereka dalam perang dengan menggunakan kekuatan mistik seperti yang digambarkan dalam naskah "Babad Tanah Jawi". Tentara Majapahit mundur ke Trowulan, dikejar oleh para pengikut Sunan Giri itu. Meja peperangan itu pun kini beralih, kali ini Majapahit yang berada di bawah pengepungan. Sebelum perang menjadi lebih ganas, Sunan Ampel memerintahkan Sunan Giri agar menghentikan pasukannya dan menahan diri serta membuat gencatan senjata dengan Majapahit. Sunan Ampel tidak ingin Majapahit dihancurkan karena mereka telah sangat toleran dengan pertumbuhan Islam di Jawa. Selain itu, ada banyak bangsawan dan perwira di Majapahit yang sudah memeluk Islam.

Dalam gencatan senjata, Giri diberi otonomi di bawah kerajaan Majapahit dan begitu juga Demak. Bhre Kertabumi, raja Majapahit, juga mengadopsi Raden Hasan sebagai anaknya, sehingga ia tidak akan membalas kematian ayahnya. Posisi Walisongo menjadi kuat dan Majapahit tidak lagi merupakan ancaman bagi penyebaran Islam.

Situasi politik tak terduga pada waktu itu karena masih ada pemberontakan sporadic terhadap Majapahit di banyak daerah yang bisa membahayakan penyebaran lebih lanjut dari Islam. Kondisi ini memaksa Sunan Ampel untuk memperbarui strategi dalam mengelola Walisongo tersebut. Sunan Ampel juga melakukan kontak dengan Syarif Hidayatullah, seorang Guru Sufi dari Cirebon, sebuah pelabuhan penting kerajaan Pajajaran, saingan Majapahit di Jawa Barat. Syarif Hidayatullah adalah orang penting karena ia adalah keponakan dari Pangeran Cakrabuana, penguasa Cirebon. Dia juga cucu dari Prabu Silingawi, raja Pajajaran, sehingga jenderal Hindu Pajajaran tidak berani mengganggu umat Islam di Cirebon. Syarif Hidayatullah kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Untuk memperkuat kekuatan Islam di Jawa, Sunan Ampel mengundang Syarif Hidayatullah untuk bergabung dengan dewan Walisongo, dan bentuk dewan tersebut menjadi-seperti-ini:

1- Sunan Ampel masih memimpin dewan dan mengelola daerah Ampel, Canggu, dan Jedong. Raden Makdum Ibrahim ditarik dari Daha dan ditugaskan untuk mengelola Bonang, dekat Tuban.

2- Raden Makdum Ibrahim kemudian bergelar Sunan Bonang.

3- Raden Qosim atau Raden Alim ditarik dari Majagung dan ditugaskan untuk mengelola daerah Drajad, juga dekat Tuban, untuk menggantikan Raden Mahmud. Posisinya di Majagung digantikan oleh Syekh Sulaiman. Raden Qosim bergelar Sunan Drajad.
4- Raden Ainul Yaqin atau Raden Paku bertugas mengelola daerah Giri. Dia bergelar Sunan Giri.

Raden Fatah mengelola daerah Demak. Dia akhirnya menjadi Sulthan Demak. Oleh masyarakat beliau tak termasuk dalam dewan wali yang Sembilan karena tugas beliau kemudian sebagai Umaro’

5- Syarif Hidayatullah mengelola Cirebon dan wilayah di Jawa Barat. Dia bergelar Sunan Gunung Jati..

6- Syekh Abdul Jalil mengelola Lemah Abang, Pajang. Dia bergelar Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar. Oleh karena persoalan theology, nanti Syekh Siti Jenar diadili oleh dewan wali dan dihukum mati.

7- Haji Usman masih berdakwah di Ngudung, Matahun, dan memiliki gelar Pangeran Ngudung dan juga Sunan Ngudung.

8- Raden Hamzah ditarik dari Tumapel dan ditugaskan untuk berdakwah di Lamongan. Raden Hamzah bergelar Pangeran Lamongan dan juga Sunan Lamongan.

9- Sunan Bonang dibantu oleh muridnya, Raden Sahid, dalam menjaga wilayah Bonang. Raden Sahid adalah anak dari penguasa Tuban dan kemudian dia mendapat gelar Sunan Kalijaga. Haji Usman juga dibantu oleh putranya, Ja'far Shadiq, yang kemudian bergelar Sunan Kudus. Namun keduanya pada saat awal belum termasuk dalam dewan Walisongo.

Formasi baru menempatkan semua anggota Walisongo di setiap pelabuhan penting di Jawa. Lokasi strategis, dengan bantuan dari pedagang Muslim, memungkinkan mereka untuk mendapatkan kontrol lebih dengan sistem ekonomi pulau dan memperkuat posisi Walisongo dan masyarakat Islam. Kontrol ekonomi di pelabuhan laut utara dan kekuatan militer yang kuat di Demak dan Giri, diperlukan untuk mengantisipasi panasnya politik di Majapahit. Selama berabad-abad, umat Islam Jawa selalu dilindungi di bawah kekuasaan Majapahit, yang toleran terhadap mereka, sementara sebagian besar pemberontak yang muncul dari berbagai daerah, ditumpas dan dihancurkan oleh pasukan Majapahit, tidak seperti Islam. Maka jika sesuatu terjadi pada Majapahit yang tanda- tanda kehancurannya mulai kelihatan, Walisongo memang sudah siap untuk membangun sebuah negara merdeka, kerajaan Islam pertama di Jawa untuk melindungi pertumbuhan agama baru, menggantikan Majapahit yang diambang keruntuhan.

Oleh: KHD- dari beberapa sumber. Lihat pada: http://www.starbacks.ca/Athens/5738/hj-wali9.htm
Karawang : 05/ 10/ 2011

English version:
Walisongo
The Nine Sufi Saints of Java
bar 

Introduction
Most Indonesians (as well as orientalists) only know Walisongo as the nine Sufi saints (Wali = Sufi saint, songo = nine) who spread Islam in Java. These Sufi masters were known as:
  1. Syekh Maulana Malik Ibrahim
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Drajad
  6. Sunan Kalijaga
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Muria
  9. Sunan Gunung Jati
This classic formation of Walisongo is taught to school children in Indonesia, and also stated in many books and references. But Walisongo is actually a COUNCIL of Sufi masters which always consist of nine members. If one member died or moved abroad, he would be replaced with a new one, elected by the remaining members. So Sufi masters who became members of Walisongo were more than nine.
The council of Walisongo was first formed by Sunan Ampel (Raden Rahmat) around 1474. While Syekh Maulana Malik Ibrahim died in 1419, so he couldn't possibly be a member of the council. But Indonesian Moslems regard him as a member of Walisongo because he was a great Wali of his time and built the first pesantren (Islamic school) in Java. He was also Sunan Ampel's cousin.
In fact there were many other Sufi Masters from various countries who came to Java around that time. Some of them are:
  • Syekh Ibrahim As-Samarkandy, father of Sunan Ampel
  • Syekh Maulana Ishaq, brother-in-law of Syekh Ibrahim As-Samarkandy
  • Maulana Ahmad Jumadil Kubra
  • Maulana Muhammad Al-Maghrobi
  • Maulana Malik Isro'il
  • Maulana Muhammad Ali Akbar
  • Maulana Hassanuddin
  • Maulana Aliyuddin
  • Syekh Subakir
Sunan Ampel - Founder of Walisongo
Sunan Ampel Around 1445 AD Sunan Ampel was given authority over Ampel region by his uncle, Sri Kertawijaya, king of Majapahit. At that time Ampel region has about 30,000 inhabitants. Ampel was located next to the main port of the kingdom, Jenggala Manik, which made it a strategic place to spread Islam with aid from the Moslem merchants in Java. These merchants had already made smalll communities along the northern coast of Java since the 11th century. Sunan Ampel must had great influence over them and received donations to finance the Islamic da'wah (propagation of the faith). Slowly but sure, the mission gained more and more new converts from the nobles, local people and foreign merchants. The donations also financed Sunan Ampel's pesantren, where Moslem children studied Islam to become future missionaries for the archipelago. In a short time, Ampel grew to be a centre for studying Islam in the island and hosted religious scholars from various countries. Sufism was the base of Sunan Ampel's teachings, which prevented confrontation among scholars from various mazhab (sects) in Islam, and attracted new converts by its non-agressiveness.
Sunan Ampel's aunt, Darawati, died in 1448. But before that, she had succeeded in persuading her husband, Sri Kertawijaya, to embrace Islam. The conversion of the king had ignited discontent among the Hindu nobles and priests who later revolted against him. The king was finally murdered in 1451, and the throne was taken by Sri Rajasawardhana. The coup gave a threat to further preaching of Islam, which was protected under the rule of Sri Kertawijaya. Aware of this danger, Sunan Ampel planned to send missionaries to all provinces of Majapahit in Java. The missionaries' goal was to build Islamic centres in all provinces to strengthen the da'wah over the island and also to anticipate the possiblity of the destruction of Islamic community in Ampel by Majapahit's army. The group of the missionaries was called Bayangkare Ishlah by Sunan Ampel.
Map of Java in 15th century
Bayangkare Ishlah - Embryo of Walisongo
The Majapahit kingdom in the mid of 15th century was divided into nine provinces: Trowulan (the capital), Daha, Blambangan, Matahun, Tumapel, Kahuripan, Lasem, Wengker, and Pajang. Sunan Ampel appointed a missionary to every strategic regions in the provinces:
  • Sunan Ampel acted as the leader and managed the capital Trowulan, Jenggala Manik (near Ampel), Canggu, and Jedong.
  • Raden Ali Murtadho, brother of Sunan Ampel, was appointed to preach at the region of Gresik and Tuban. He was also called Raden Santri Ali in that area.
  • Abu Hurairah, cousin of Sunan Ampel preached at Majagung region and had the title Pangeran (Prince) Majagung. He was also called Raden Burereh by the local people.
  • Syekh Maulana Ishak, Sunan Ampel's uncle, went to preach at the province of Blambangan and had the title Syekh Waliyul Islam. He was also called Syekh Wali Lanang.
  • Maulana Abdullah, Sunan Ampel's uncle, preached at Pajang and had the title Syekh Suta Maharaja.
  • Kyai Banh Tong was assigned to preach at Lasem province and was called Syekh Bentong by local people. His daughter was one of king Majapahit's many wives.
  • Khalif Husayn, Sunan Ampel's cousin, preached at Madura, an island northeast of Java.
  • Usman Haji, son of Khalif Husayn, preached at Ngudung in Matahun province and had the title Pangeran Ngudung.
These eight missionaries were called Bayangkare Ishlah by Sunan Ampel. They were all Sufi masters and made Sufism their basic concept in spreading Islam. Their charisma and intellect helped won sympathy from local rulers and many were married with girls from noble families. Sunan Ampel married Nyi Ageng Manila (or Dewi Condrowati), daughter of a high ranking officer in Majapahit kingdom. Syekh Maulana Ishak married daughter of Prabu Menak Sembuyu (Sadmuddha), king of Blambangan. Kalifah Husayn and Ali Murtadho married daughters of Arya Baribin, ruler of Madura. Maulana Abdullah married Endang Senjanila from Tirang. By having family ties with the local ruler they could preach Islam effectively.
The second wave of missionaries was sent a few years later by Sunan Ampel to reinforce the first one:
  • Raden Hasan or Raden Fatah, son of Sri Kertawijaya with his Chinese wife, preached at Glagah Wangi, Bintara, in the Lasem province to replace his grandfather, Syekh Bentong. He had the title Pangeran Bintara.
  • Raden Husen, half-brother of Raden Hasan, was appointed to preach at Trowulan, the capital of Majapahit.
  • Raden Makdum Ibrahim, son of Sunan Ampel, was sent to Daha, and had the title Pangeran Anyakrawati. He was later known as Sunan Bonang.
  • Raden Hamzah, son of Sunan Ampel, was assigned to preach at Tumapel and had the title Pangeran Tumapel. He was also known as Syekh Ambyah or Syekh Kambyah.
  • Raden Mahmud, son of Sunan Ampel, also known as Syekh Sahmut, preached at Sepanjang, Kahuripan, and had the title Pangeran Sepanjang.
Sunan Ampel and his coleagues used persuasive approach to attract the Javanese people to Islam. They exploited Hindu myths and beliefs to spread Islamic teachings. They made new stories related to the myths and include Islamic beliefs in them. The stories gradually became popular among the Hindu people and made them familiar with Islam.

The Bhayangkare Ishlah also tried to avoid conflict with local rulers by making good relationship with them. But their movement was not without trouble and difficulties. Syekh Maulana Ishak was forced to leave Blambangan because of false accusation from one of the king's officer. His pregnant wive was left behind. Later she bore a son, Raden Ainul Yaqin or Raden Paku, who was taken by Sunan Ampel as his disciple. Syekh Maulana Ishak, according to "Babad Tanah Jawi", after leaving Blambangan went back to Pasai kingdom in Sumatra. But according to "Serat Kandaning Ringgit Purwa", he went to Semarang and preached Islam to Batara Katong from Wengker.

In other areas they were still rejected by the Hindu rulers like Makdum Ibrahim who had troubles with nobles of Daha when he tried to build a mosque there.
In Pajang, Syekh Suta Maharaja's base was attacked by the army of Prabu Andayaningrat from Pengging, who didn't like the growth of Islam in that area. Syekh Suta Maharaja escaped to Demak and died there. Later, the Pengging army was finally defeated by Raden Hasan.
These confrontation forced Sunan Ampel to reconstruct his strategy in spreading Islam in Java. He needed to form a group of charismatic Islamic preacher backed by a strong political power which led to the birth of Walisongo, a council which approach of Sufism finally succeeded in converting almost all of Java to Islam.
Birth of Walisongo
The reason of Sunan Ampel's decission to form a council of Islamic missionaries was to build a flexible type of Islamic missionary. The council can be viewed as religious as well as a political movement, because Sunan Ampel also started to build military power in Demak, Giri (Gresik) and Tuban. Some previous Sufi masters were not included in the council for various reasons. Syekh Suta Maharaja had died after the attack from Pengging kingdom. Raden Husen has been assigned as Tandha (a government position in Majapahit kingdom) in Terung. While Ali Murtadho, brother of Sunan Ampel, was assigned to maintain Moslem military unit in Gresik and Tuban with Raden Burereh.
Finally in 1474, Sunan Ampel formed the first council of Walisongo which consisted of:
  1. Raden Rahmat (Sunan Ampel) led the council and stayed in Ampel.
  2. Raden Hasan was placed in Bintara, Demak with the title Pangeran Bintara. Later he was known as Raden Fatah or Raden Patah, the first king of Demak Sultanate.
  3. Raden Makdum Ibrahim, first son of Sunan Ampel, resided in Daha with the title Pangeran Anyakrawati. He was later known as Sunan Bonang.
  4. Raden Qosim or Raden Alim, second son of Sunan Ampel, replaced Raden Burereh in Majagung, and got the title Pangeran Majagung. He was later known as Sunan Drajad.
  5. Usman Haji still preached at Ngudung, Matahun,and had the title Pangeran Ngudung.
  6. Raden Ainul Yaqin or Raden Paku, son of Maulana Ishak, went to Giri (near Gresik) and had the title Pangeran Giri. Later he was known as Sunan Giri.
  7. Syekh Abdul Jalil replaced Syekh Suta Maharaja in Lemah Abang, Pajang, and had the title Syekh Lemah Abang. He was later known as Syekh Siti Jenar.
  8. Raden Hamzah was placed in Singosari, Tumapel. He had the title Pangeran(Prince) Tumapel.
  9. Raden Mahmud built a base in Drajad, near Tuban.
At that time the council's center was still at Ampel, which was close to Majapahit's capital, Trowulan. Sunan Ampel thought that it was necessary to move the center to a new place far from Trowulan so that they could have more freedom to manage their movement. Walisongo had two strong bases at that time, Demak and Giri, which had many followers and strong military units. Demak was managed by Raden Fatah (Raden Hasan), while Giri was managed by Raden Ainul Yaqin (Raden Paku). These bases were the alternatives of the council's new center, but Giri was still close to Trowulan, so the best option was to move the center to Demak. Soon afterward the council started to construct a large mosque at Demak which would be used not only as a center for the council to spread Islam but also as a center for Islamic and Sufism studies. The Demak Mosque was completed around 1477 AD. Then to prevent rivalry among Raden Fatah and Raden Paku, Sunan Ampel wisely adopt them as his son-in-laws. Raden Fatah was married to Dewi Murthosiyah, while Raden Paku was married to Dewi Murthosimah. Both are Sunan Ampel's daughters from his marriage with his second wive, Nyai Karimah.
Demak Mosque The two bases of Walisongo (Demak and Giri) which grew stronger and stronger everyday were always under the watchful eyes of the Majapahit kingdom. The new ruler of Majapahit, Bhre Kertabumi, the third successor of Sri Rajasawardhana, was suspicious of the leader of these two bases. It was because Raden Fatah was son of Sri Kertawijaya, previous king of Majapahit who was toppled and replaced by Sri Rajasawardhana. While Raden Paku's mother was the granddaughter of Bhre Wirabumi of Blambangan, an old enemy of Majapahit whom they defeated long before that.
However, their position in the Walisongo council gave them a temporary protection, because Sunan Ampel was still respected by the Majapahit ruler, and there were many high ranking officer of Majapahit still loyal to Sri Kertawijaya and to his son, Raden Fatah.
Revolt in Majapahit
Majapahit kingdom was at its decline at that time. Many vassal states and provinces had tried to break free from them. Two of them was the kingdom of Daha and the kingdom of Blambangan in the easternmost part of Java. Blambangan was less powerful than Daha, so Majapahit reacted by sending a large army to this region which they considered easier to deal with. King of Blambangan, Prabu Menak Sembuyu (Sadmuddha) which was also called in local folklore as Prabu Menak Jingga, led his army to the battle against Majapahit. Prabu Menak Sembuyu was killed in the war, but many of his followers fled to Giri and seek protection from Sunan Giri, who was the grandson of their king.
The army of Majapahit then planned a second attack, but this time to Giri, to eliminate the remnants of the Blambangan army who fled there. Before they could reach Giri, Sunan Giri defeated them in a war by using mystical power as was described in "Babad Tanah Jawi" manuscript. The Majapahit army retreated to Trowulan, chased by Sunan Giri's followers. The table was turned, this time it was Majapahit which was under siege. Before the war became more violent, Sunan Ampel ordered Sunan Giri to hold his army and made a truce with Majapahit. Sunan Ampel didn't want Majapahit to be destroyed because they had been very tolerant with the growth of Islam in Java. Furthermore, there were many nobles and officers in Majapahit who already embraced Islam.

In the truce, Giri was given autonomy under the kingdom of Majapahit and so was Demak. Bhre Kertabumi, king of Majapahit, also adopted Raden Hasan as his son, so that he wouldn't avenge his father's death. The position of Walisongo became stronger and Majapahit was no longer a threat to the spread of Islam.

The political situation was unpredictable at that time since there were still rebellions against Majapahit in many area which could endanger further spread of Islam. This condition forced Sunan Ampel to renew his strategy in managing the Walisongo. Sunan Ampel had also made contact with Syarif Hidayatullah, a Sufi Master from Cirebon, an important seaport of Pajajaran kingdom, rival of Majapahit in West Java. Syarif Hidayatullah was an important person because he was the nephew of Pangeran Cakrabuana, ruler of Cirebon. He was also grandson of Prabu Silingawi, king of Pajajaran, so the Hindu generals of Pajajaran didn't dare to disturb the Moslem community in Cirebon. Syarif Hidayatullah was later known as Sunan Gunung Jati. To strengthen the Moslem power in Java, Sunan Ampel invited Syarif Hidayatullah to join the council of Walisongo, and the formation became like this:
  • Sunan Ampel still led the council and managed Ampel, Canggu, and Jedong.
  • Raden Makdum Ibrahim was pulled from Daha and was assigned to manage Bonang, near Tuban. Raden Makdum Ibrahim then was titled Sunan Bonang.
  • Raden Qosim or Raden Alim was pulled from Majagung and was assigned to managae Drajad, also near Tuban, to replace Raden Mahmud. His position in Majagung was replaced by Syekh Sulayman. Raden Qosim was titled Sunan Drajad.
  • Raden Ainul Yaqin or Raden Paku managed Giri. He was titled Sunan Giri.
  • Raden Fatah managed Demak area. He was titled Sunan Demak.
  • Syarif Hidayatullah managed Cirebon and regions in western Java. He was titled Sunan Gunung Jati.
  • Syekh Abdul Jalil managed Lemah Abang, Pajang. He was titled Syekh Lemah Abang or Syekh Siti Jenar.
  • Usman Haji still preached at Ngudung, Matahun, and had the title Pangeran Ngudung and also Sunan Ngudung.
  • Raden Hamzah was pulled from Tumapel and was assigned to preach in Lamongan. Raden Hamzah was titled Prince Lamongan and also Sunan Lamongan.
Sunan Bonang was helped by his disciple, Raden Sahid, in maintaining the Bonang region. Raden Sahid was the son of ruler of Tuban and later he got the title Sunan Kalijaga. Usman Haji was also helped by his son, Ja'far Shadiq, which was later titled Sunan Kudus. But both of them hasn't been included in the Walisongo council yet.

The new formation put all member of Walisongo at every important seaports in Java. The strategic locations, with the help from Moslem merchants, enabled them to gain more control to the economic system of the island and strengthened the position of Walisongo and the Moslem communities. The economic control in the northern seaports and the strong military power in Demak and Giri, were needed to anticipate the political heat in Majapahit. For centuries, the Javanese Moslems were always protected under the rule of Majapahit, which was tolerant to them, while most of the rebels didn't like Islam. Should anything happened to Majapahit, Walisongo were already prepared to build an independent state, the first Islamic kingdom in Java to protect the growth of the new religion.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar