MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Rabu, 19 Februari 2014

Siapa Yang Menang Dalam Perang Suriah

 Siapa Yang Menang Dalam Perang Suriah




Pertempuran di Suriah tak hanya membakar negeri itu, tapi juga memanaskan Timur Tengah. Bahkan, di Indonesia. Di Suriah tak hanya membuat mereka saling membunuh, tapi juga saling menggunakan dalil agama. Di dunia Arab, juga ada seruan mengirim relawan perang serta perang fatwa dan opini. Di Indonesia, yang ada hanyalah followers, ikut-ikutan. Kasus Suriah menjadi begitu sensitif dan panas masuk ke ranah agama.

Sejatinya rezim Assad adalah rezim sekuler dan otoriter dengan segala represinya. Nama partainya pun Partai Sosialis. Mirip dengan rezim Saddam. Namun, Arab Spring membuat dunia Arab bergolak. Awalnya, adalah program demokratisasi George W Bush untuk Timur Tengah. Sejak pidato pada 6 November 2003 itu, Amerika Serikat menebarkan dolar ke wilayah itu.Panennya terjadi pada masa Obama ini. Tentu, gelombang demokratisasi tak akan terjadi jika tanpa dukungan sosial. Arus internasional berpadu dengan arus bawah. Awalnya Tunisia, lalu Yaman, Mesir, Libya, dan kini sedang menunggu akhir pertarungan di Suriah. Apakah di negeri ini akan gagal seperti halnya di Bahrain? Arab Spring memang tak berlaku di negeri-negeri kerajaan, termasuk Bahrain, yang justru menjadi sekutu Amerika Serikat selama ini.

Gelombang demokratisasi di Suriah seolah sedang buntu. Secara geopolitik, negeri ini menjadi simpul kepentingan Rusia dan Iran. Bahkan, Cina ikut mendukung rezim Assad karena Cina memiliki perjanjian untuk saling mendukung dengan Rusia. NATO dan sekutunya terlibat aktif untuk menggulingkan Assad walau tak mengirim pasukan secara langsung.

Sunni- Syi'ah

Dimensi konflik di Suriah menjadi rumit. Apalagi di negeri ini, ada rivalitas antara Syiah dan Suni. Ketika kemenangan tak kunjung diraih salah satu pihak, paling gampang adalah memanfaatkan kekuatan nilai yang berlaku di masyarakat. Agama adalah salah satunya. Kelompok Sunni-seperti Ikhwanul Muslimin, kaum salaf/Wahabi, juga Alqaidah-yang selama ini tertekan di bawah rezim Assad menjadi kekuatan utama perlawanan. Sedangkan, kelompok Syiah menjadi pendukung rezim Assad. Negeri-negeri di sekitar Suriah, termasuk ulama dan masyarakatnya, menjadi terlibat secara emosional. Ketika Syekh Al- Buthy yang Sunni berusaha bersikap netral, justru beliau syahid menjadi korban pengeboman oleh kaum Sunni sendiri.

Sebenarnya Sunni- Syi'ah sudah mengakar di timur tengah sejak ribuan tahun yang lalu, tapi terbukti mereka sering bersatu melawan musuh bersama. Bahkan ketika perang 6 hari atau perang Yom Kippur melawan Israel yang melibatkan Mesir Lebanon, Suriah dan negara- negara Islam yang lain, tak terdengar unsur Sunni Syi'ah. Ketika Gaza dihujani bom dan tentara Hisbulloh pimpinan Hasan Nashrulloh melawan dengan heroik, belum ada suara- suara Sunni- Syi'ah, bahkan seluruh dunia Islam memujinya. Tapi kini suasananya lain.

Indonesia tak punya kepentingan apa pun secara langsung terhadap situasi di Suriah. Yang ada adalah rasa persaudaraan sesama Muslim. Tentu, kita berharap ada demokrasi di Suriah. Jalan demokrasi membuat umat bisa lebih mudah mengembangkan diri. Namun, penguasa selalu lebih cerdik. Umat diadu domba. Perbedaan Suni-Syiah menjadi jalan untuk membelah umat. Apalagi, kemudian terjadi perang fatwa dan opini. Dalil agama saling dilontarkan. Fitnah pun bertebaran.

Terjadi saling tuduh di antara umat pun terjadi di Indonesia. Kita harus benar-benar berhati-hati. Salah memilih diksi saja bisa menjadi kobaran api. Kita harus cermat memilih kata sebutan untuk kelompok yang melawan rezim Assad. Kata “pemberontak” pasti akan dikecam. Paling netral adalah “kelompok perlawanan bersenjata”. Bahkan, kata “oposisi” pun bisa dinilai tak tepat. Pilihan kata “gerilyawan” dan “pejuang” sudah menjadi usang dalam dimensi kekinian. Sejak Bush mengenalkan aksi multilateral tanpa melibatkan PBB, tata nilai dunia mulai bergeser. Diksi pun menjadi kacau.

Para penebar fitnah bukan hanya orang awam, melainkan aktivis keagamaan dan dai, bahkan ustaz. Tentu saja, yang namanya fitnah pasti salah, pasti bohong, pasti jahat, pasti buruk. Akan tetapi, ketika itu ditebarkan di mimbar keagamaan seolah menjadi positif. Lainnya melalui SMS berantai, mailing list, dan media sosial. Perang foto korban kejahatan perang pun dipamerkan oleh kedua belah pihak untuk memperkuat fitnah dan dakwaannya. Padahal jika terjadi perang saudara dimanapun itu terjadi, korban rakyat tak berdosa pasti berjatuhan termasuk anak- anak, wanita dan orang tua, dan itu dari kedua belah pihak. Kita seolah kehilangan pegangan, lupa pada moral agama yang kita kukuhi. Kita menjadi tercerabut dari akar kita sendiri. Kesalehan pribadi seakan sesuatu yang terpisah dari kesalehan sosial. Solidaritas kelompok seolah menjadi berbeda dengan solidaritas umat. Tentu, itu bukan akhlaqul karimah. Pada titik ini, kita makin sadar bahwa pengetahuan, gelar, atau profesi tak berbanding lurus dengan kualitas seseorang.

Israel Paling Diuntungkan

Di Perang Suriah, Israel minimal sudah memetik 3 kemenangan besar, yakni: 

1- Melucuti senjata Nuklir miskin Suriah (Senjata kimia itu sedahsyat senjata Nuklisr yang dapat dibuat dengan ongkos murah, dan akal sehat tidak habis mengerti mengapa rezim Assad berani menggunakan senjata kimia untuk rakyatnya sendiri. Padahal resikonya sebelumnya sudah tahu, yakni dia akan dihukum dunia. Teory paling mungkin, ada konspirasi Israel agar ada kelompok tentara yang tanpa izin menggunakan senjata itu). Kini Israel tak takut lagi pada kekuatan Suriah karena senjatanya sudah dilucuti.

2. Mengucilkan Hamas dari dunia mayoritas Sunni. Padahal pada operasi pengepungan Gaza (operasi cast lead) beberapa tahun yang lalu dunia Islam masih meng elu- elukan Hamas karena sanggup bertahan terhadap gempuran dahsyat Israel. Kini karena membela Assad dan dianggap beraliran Syi'ah, mereka mulai dihujat. Artinya sebentar lagi Israel akan menyerbu (lagi) Gaza tanpa pembelaan dunia Islam. 

3- Melemahkan dunia Islam dengan mengadu domba mereka, sehingga perjuangan melawan Israel terpaksa dana dan energinya dipakai untuk perang antar sesama. Sementara Israel bisa dengan bebas menggusur tanah- tanah Palestina tanpa takut pada negara- negara Islam.
 
Pada dimensi lain, umat Islam begitu mudah berpecah belah. Juga, begitu mudah dipantik dan dipicu sentimen agamanya. Adakah unsur agen- agen Mossad bermain disini? karena Suriah adalah adalah musuh Israel yang telah dianggap mampu menguasai teknologi Bom Nuklir Miskin (Bom Kimia). Maka tentu saja Israel akan berusaha agar Bom Nuklir Miskin Suriah dapat dimusnahkan. Caranya? : Devide and Capture (Adu domba dan kemudian kuasai).  Padahal, kasus Suriah adalah peristiwa politik. Soal Sunni dan Syi'ah sudah ada sejak ribuan tahun silam dan tidak ada masalah besar, tapi kini sanggup dinyalakan oleh para pemegang kepentingan yang ingin mendulang emas dari arena permusuhan. Sebagaimana para preman dan bromocorah yang berhasil meningkatkan omzet pendapatan mereka dalam keadaan Chaos. Kasus Suriah tak kering dari beragam kepentingan yang begitu rumit. Kasus Suriah makin menegaskan pada kita bahwa umat Islam saat ini tak memiliki daya kepemimpinan dan inisiatif.

Sebaiknya, energi kita difokuskan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Hanya dengan itu kita bisa membangun dan memajukan diri. Indonesia adalah tempat terbaik untuk itu. Jangan jadikan dunia Arab sebagai titik pusat. Betul Islam lahir di sana, tapi ajaran DIEN nya, bukan POLITIK PRAKTIS nya, bukan berarti apa yang dari sana pasti lebih baik. Islam Indonesia dengan segala kekhasannya jauh lebih menarik untuk zaman ini.

Mari kita merapikan diri di segala lini. Jauh lebih produktif berdaya kreasi daripada bersiasat. Misi suci akan berisi jika dari hati yang bersih, bukan dari hati yang sesat.

Sumber : Nasihin Masha, Republika.co.id - http://bit.ly/11MUX85 dengan beberapa tambahan dari admin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar