MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Senin, 02 Desember 2013

BERTUNANGAN ATAU KHITHBAH DALAM ISLAM

BERTUNANGAN ATAU KHITHBAH DALAM ISLAM



______________________________________
A.  ARTI KHITBAH / TUNANGAN  

Khitbah (   ﺨﻄﺒﺔ Bahasa Arab) / atau  "bertunangan" (Bahasa Indonesia) adalah muqaddimah atau permulaan kepada pernikahan /az-zawaj (Bahasa Arab) atau kawin (Bahasa Indonesia). Sesungguhnya Allah menjadikan khitbah sebagai salah satu dari syariat-syariat / perundang-undangan Agama Islam. Apa hikmah, faedah atau kelebihannya???  Manfaatnya adalah: khitbah memberi peluang kepada kita semua untuk at-ta'arruf / berkenalan dengan pasangan masing-masing dari segi lahiriyah dan batiniyah sebelum kita menikah.

Khitbah berarti "bertunangan". "Tafsiran" lafaz atau perkataan "bertunangan" ini berbeda mengikuti kebiasaan tempat, kawasan, adat dan suasana masyarakat masing-masing. Berbeda di antara negara Malaysia, Singapura, Thailand dan Indonesia. Dan kemungkinan berbeda juga di antara beberapa tempat, adat, suasana serta kawasan-kawasan di dalam negara Islam masing-masing. Contohnya di dalam Indonesia, tafsiran "bertunangan" di Medan dan Jakarta berbeda. Di dalam Thailand, tafsiran "bertunangan" di Bangkok dan Pattani berbeda. Begitulah seterusnya di tempat-tempat lain.

Khitbah di dalam bahasa Arab apabila diterjemahkan maknanya ke dalam Bahasa Indonesia bermakna 'melamar' wanita untuk dijadikan bakal isteri. "Melamar" ini juga bermakna meminta persetujuan pihak wanita untuk menjadi isteri kepada pihak lelaki. Khitbah ini memakan 'masa/ waktu' berdasarkan kebiasaan atau adat yang masyhur dipegang kawasan, tempat, adat dan suasana masyarakat.

Khitbah juga bermakna sebuah proses ketika seorang lelaki meminta dari pihak perempuan untuk menikah  dengan cara-cara atau jalan-jalan yang diketahui masyhur di tempat masing-masing. Syed sabiq : Fiqh Assunnah).

Khitbah juga membawa makna mengumumkan dan mengiklankan kehendak / kemauan seseorang untuk berkawin dengan seseorang wanita.(Dr. Yusuf Qordhowi: Fatawa Muashoroh ). Dr. Yusuf Al- Qardawi juga berkata (dalam buku yang sama) bahwa di dalam khitbah / bertunangan ini tidak ada "hak" bagi khatib (tunangan lelaki) kecuali hak untuk sekedar melamar  (to reserve or booking) seorang makhtubah (tunang wanita), sehingga pihak lelaki selain darinya tidak datang untuk meminang wanita itu. Biasanya pihak lelaki memberikan tanda hadiah berupa cincin atau barang perhiasan lain yang mudah dikenali bahwa seseorang telah dilamar. Tapi ini juga tergantung kebiasaan setempat

B.  HUKUM KHITBAH / BERTUNANGAN  DI DALAM ISLAM

Hukum asal khitbah ini adalah "boleh", tetapi Imam As-Syafie mengatakan hukumnya adalah "al-istihbab / sunah" (Al-Mughni Almuhtaj). Dr. Abd. Karim Zaidan  mengatakan bahwa hukum "al-istihbab / sunah" ini lebih aula (utama / baik) dari hukum "boleh" tadi. (Almufassal fi Ahkam Al Mar'ah) . 

  
C.  DALIL ATAU BUKTI DISYARIATKAN (DIPERUNDANGKAN) NYA KHITBAH/ TUNANGAN 

Dalil atau bukti di "bolehkan nya"  khitbah / tunangan  ini terlalu banyak.
Diantaranya ialah...

1) Hadis Rasulallah saw:

       ﻻ ﻴﺨﻄﺏ ﺍﻟﺮﺠﻞ ﻋﻟﻰ ﺨﻄﺒﺔ ﺃﺨﻴﻪ ﺤﺘﻰ ﻴﻧﻜﺢ ﺃﻭ ﻴﺗﺭﻚ
yang mafhumnya: " Janganlah seorang laki- laki meminang wanita pinangan saudaranya sampai menikah atau saudaranya meninggalkannya". (HR.Bukhory. no 5144)

2)  ﺍﻟﻤﺆﻤﻦ ﺃﺨﻭﺍ ﺍﻟﻤﺆﻤﻦ ﻔﻼ ﻴﺤﻝ ﻟﻟﻤﺆﻤﻦ ﺃﻦ ﻴﺒﺘﺎﻉ ﻋﻟﻰ ﺒﻴﻊ ﺃﺨﻴﻪ
                 ﻭﻻ ﻴﺨﻄﺏ ﻋﻟﻰ ﺨﻄﺒﺔ ﺃﺨﻴﻪ ﺤﺘﻰ ﻴﺬﺭ

“Seorang mukmin itu adalah saudara orang mukmin, maka tidak halal seorang mukmin menawar barang yang telah dijual saudaranya, juga tidak halal pula seorang mukmin meminang wanita yang telah dipinang saudaranya, atau ia membatalkannya” (HR.Muslim no 3449)

Berdasar hadis- hadist  ini kita dapat fahami  bahwa kita tidak dibenarkan oleh syara' untuk meminang seseorang wanita / lelaki apabila wanita / lelaki itu sudah dipinang orang. Ini dalil dibolehkan 'khitbah' tetapi, dalil ini tidak 'Soriih' / tidak langsung sasaran (indirect) menunjukkan kalimat “sunnah”. Ulama’ dan orang-orang yang 'faqieh' mengambil hukum "boleh" khitbah dalam Islam dari kaedah Mafhum Mukholafah (in contradictio). Dalil diatas menunjukkan TIDAK BOLEH MEMINANG PINANGAN ORANG LAIN. Maka, khitbah boleh JIKA BUKAN PADA WANITA YANG TELAH DIPINANG ORANG LAIN. 

Lihat pula:(Shahih: Shahih Nasa’I no:3037, Fathul Bari IX:198 no:5142, dan Nasa’I VI:73):

Nabi saw. melarang sebagian di antara kamu menjual di atas jualan sebagai yang lain, dan tidak boleh (pula) seorang laki-laki melamar perempuan yang sudah dipinang saudaranya, sampai sang peminang memutuskannya terlebih dahulu atau sang peminang mengizinkannya (melamar bekas tunangannya).”

D). KEBOLEHAN MELIHAT/ MENGENAL WANITA YANG AKAN DIPINANG

Dianjurkan para lelaki yang akan meminang seorang wanita, agar mengenal lebih dulu wanita yang akan dipinangnya. Melihat/ mengenal tersebut tentu harus berada pada batas batas syar'i yang diperkenankan. (Lihat pasal G.) Berdasar hadist- hadist berikut:

1) Hadis. Dari Jabir bin Abdillah bahawa Rasulallah saw bersabda: Apabila salah seorang dari kamu bertunangan, maka jika sekiranya dia boleh melihat wanita itu hingga membawa kepada kehendak atau kemauan untuk bernikah / kawin, maka lakukan!!! ".

2) Dalam hadist riwayat Imam Muslim dari Abi Hurairoh RA, bahwa Nabi SAW telah berkata pada seseorang yang akan menikahi wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” dia berkata: “Belum”. Beliau bersabda: “ Maka pergilah, lalu lihatlah dia”.


3. Berkata Jabir (yakni perawi) hadis ini: " Aku telah bertunangan dengan wanita dari Bani Salamah, aku telah bersembunyi tanpa dilihat oleh wanita itu sehingga aku melihat sebahagian dari 'diri / tubuh badan' wanita itu yang boleh membawa kepada kehendak dan kemauan aku untuk menikahi atau mengawininya".( Syed Sabiq: Fiqh Assunnah).

E. MEMINANG DALAM MASA IDDAH

Tidak boleh juga seorang muslim meminang wanita yang sedang menjalani masa iddah karena "thalaq raj’i" karena ia masih berada di bawah kekuasaan mantan suaminya; sebagaimana tidak boleh juga melamar secara terang-terangan wanita yang menjalani masa iddah, karena "thalaq bain" atau karena ditinggal mati oleh suaminya, namun tidak mengapa ia melamarnya secara sindiran. Hal ini mengacu kepada firman Allah SWT,

ﻭﻻ ﺠﻧﺎﺡ ﻋﻟﻴﻜﻢ ﻔﻴﻣﺎ ﻋﺮﻀﺗﻢ ﺒﻪ ﻣﻦ ﺨﻄﺒﺔ  ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ  ﺃﻭ ﺃﻜﻨﻨﺘﻢ ﻓﻲ ﺃﻨﻔﺴﻜﻢ

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikannya (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu.” (QS. Al-Baqarah [2]:235).

F. TEMPOH ATAU MASA YANG DIBENARKAN OLEH SYARAK UNTUK BERKHITBAH / BERTUNANGAN  

1. Tempoh / masa khitbah yang dipersetujui oleh jumhur ulama’ (kebanyakan Ulama) ialah tempoh yang tidak panjang atau lama. Dan sebaiknya demikian agar terjaga dari hal- hal diharamkan.

2. Jumhur ulama’ berselisih pendapat dalam mentafsirkan / menentukan makna "tempoh panjang / lama" itu. Berapa hari, berapa minggu, berapa bulan, berapa tahun.

3. Maka tempoh ini semua ditentukan oleh 'uruf / adat yang masyhur dipegang di sesuatu tempat.

4. Jika di sesuatu tempat mentafsirkan tempoh lama satu HARI, maka satu harilah yang mesti dipegang oleh sesiapa yang menjalankan khitbah ini. Begitu juga jika kebiasaannya berbilang bulan atau tahun.Tentu saja makin cepat makin baik agar kesucian hubungan tetap terjaga dengan baik.

G. HUKUM BERKHALWAT / BERDUAAN DITEMPAT SEPI DENGAN TUNANGAN 

Agama Islam mengharamkan "khalwat" ini sehingga  mereka di- akad (ijab dan qabul) dan dinikahkan. Maka selepas akad (ijab dan qabul), baru bolehlah bagi pasangan laki dan wanita ini untuk berdua-duaan tanpa menimbulkan fitnah lagi. Dan hikmah, faedah dan kelebihan "haram khalwat" ini ialah untuk mencegah terjadinya maksiat. Sebagaimana sabda Rasulallah saw : " Tidak halal bagi seseorang lelaki berkhalwat dengan seseorang wanita yang tidak halal buatnya kecuali ditemani mahram (mahram-orang yang diharamkan nikah / kawin dengannya). Maka Jika dua orang ber duaan ditempat sepi, orang atau pihak ketiga yang ada bersama-sama ketika mereka berdua berkhalwat itu adalah syaitan". (Syed Sabiq: Fiqh As-Sunnah ).

Dr.Yusuf Al Qardawi dalam Fatawa Muashoroh berkata: 

" Selama akad kawin (ijab dan qabul) belum ditunaikan oleh tunangan laki dan tunangan wanita (belum sah nikah / kawin mereka mengikut 'uruf -adat, syara' dan undang-undang), maka keadaan masih seperti hukum asal. Yaitu:-

1. Tidak halal dan haram bagi makhtubah (tunangan wanita) untuk berkhalwat (berdua-duaan sehingga menimbulkan fitnah) dengan khatib nya (tunangan lelaki), KECUALI bersama-sama makhtubah (tunang wanita) itu ada salah seorang mahramnya seperti ayahnya atau abangnya.

2. Tidak halal dan bahkan haram bagi makhtubah (tunangan wanita) untuk bermusafir atau melancong  dengan khatib nya (tunangan lelaki) KECUALI bersama-sama maktubah (tunang wanita) itu ada salah seorang mahramnya seperti ayahnya atau abangnya.

Demikian, untuk pembahasan secara mendalam, silahkan konsultasi dengan para Ulama' yang soleh ditempat anda.


F.  BEBERAPA ISTILAH

01. Akad ------------------->> Ijab dan qabul
02. Al-istihbab ------------->> Sunah
03. At-ta'arruf ------------->> Berkenalan
04. Aula -------------------->> Utama atau Baik
05. Az-zawaj --------------->> Nikah atau Kawin
06. Berkhalwat-------------->> Berdua-duaan di tempat sunyi tanpa mahram hingga menimbulkan fitnah.
07. Disyariatkan ------------>> Diperundang-undangkan berdasar agama
08. Faqieh ------------------->> Ahli / Faham hukum - hukum Islam
09. Jumhur ulama' --------->> Ramai Ulama’/ Sebagian besar Ulama’
10. Khatib ------------------->> Tunangan lelaki
11. Khitbah ------------------>> Bertunangan
12. Mahram------------------>> Orang yang diharamkan nikah / kawin dengannya.
      Karena sebab 1- se Nasab, 2-sesusuan atau 3-besanan/Mushoharoh.
13. Muqaddimah ------------>> Permulaan
14. Makhtubah -------------->> Tunangan wanita
15. Tidak soriih ------------->> Tidak langsung/ tidak jelas mengarah ke masalah (indirect)
16. 'Uruf---------------------->> Adat yang masyhur dipegang di sesuatu tempat. 
17. Syarak/ Syari'at---------->> Ketentuan agama
18. Thalaq raj'i--------------->> Perceraian yang masih mungkin kembali di pertautkan
19. Thalaq ba'in-------------->> Thalaq putus, perceraian yang dilakukan lebih 3 kali atau thalaq 3 kali sekaligus.
  
  
  
(KHD) dari berbagai sumber 

  
  



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar