MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Kamis, 02 September 2010

@ MENGGAPAI SUKSES DAN RIDHO ILAHI DENGAN SOBAR DAN ISTIGHFAR

Disampaikan oleh: H.Khaeruddin Khasbullah
Pada Pengajian Romadhon 1431 di Mesjid Nurul Hayat, PT. PUPUK KUJANG- CIKAMPEK, JAWA BARAT.


ﺍﻟﺫﻴﻦ ﻴﻘﻮﻟﻮﻦ ﺮﺑﻧﺎ ﺍﻤﻧﺎ ﻔﺎﻏﻔﺮﻟﻧﺎ ﺬﻧﻮﺑﻧﺎ ﻮﻗﻨﺎ ﻋﺬﺍﺏ ﺍﻟﻧﺎﺮ۝
ﺍﻟﺻﺎﺑﺮﻴﻦ ﻮﺍﻟﺻﺎﺪﻗﻴﻦ ﻮﺍﻟﻗﺎﻧﺘﻴﻦ ﻮﺍﻟﻤﻧﻔﻗﻴﻦ ﻮﺍﻟﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻴﻦ
ﺑﺎﻷﺴﺤﺎﺮ ۝ ﺍﻞﻋﻤﺮﺍﻦ١٦٬١٧


“Mereka (yang ber-iman itu) berdoa: Wahai Rob kami, kami telah ber- iman, maka hendaknya Kau ampuni segala dosa kami, dan jauhkanlah kami dari api neraka. Yakni mereka yang Shobar, mereka yang jujur- jujur, mereka yang patuh- patuh, mereka yang suka ber- infaq, dan mereka yang selalu memohon ampunan di keheningan malam”. Ali Imron 16 – 17.

I. Sobar.

Pengertian Sobar.

Dalam terminology Qur’an, SHOBAR memiliki makna yang tidak terlalu identik dengan pengertian SABAR dalam bahasa Jawa, Sunda atau Indonesia.
Dalam bahasa Jawa atau Sunda, Sabar mengandung makna: “mengalah- tidak gampang marah- dan “nerimo” terhadap segala kejadian.

Bandingkan dengan makna SOBAR dalam pengertian Qur’an sebagaimana dapat difahami dari bunyi Surat Al- Baqoroh 250 ﺭﺑﻨﺎ ﺃﻔﺭﻍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺼﺑﺭﺍ ﻭﺛﺑﺖ ﺃﻗﺪﺍﻤﻧﺎ ﻭﺍﻨﺼﺭﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻠﻗﻭﻡ ﺍﻠﻜﺎﻔﺭﻴﻦ
yang artinya:

“Ya Rob kami, anugerahilah kami ke SOBAR- AN, dan teguhkanlah kedudukan kaki kami dan bantulah kami mengalahkan orang- orang kafir”.

Kita lihat dalam ayat tersebut terkandung arti SOBAR menurut Al- Qur’an yakni: “Ulet, pantang menyerah, pantang mundur, terus maju, tahan derita dan tahan pressure” - yakni tatkala kaum Bani Israel yang dipimpin raja Tholut harus menghadapi tentara Jalut (Goliath) yang perkasa dengan jumlah yang tak sebanding. Mereka pantang mundur dan terus bertempur dan tahan uji untuk kemudian meraih kemenangan yang besar.

Oleh karena itu sengaja penulis menuliskan kalimat tersebut dengan huruf O (sobar), tidak sebagaimana yang biasa dipakai dalam bahasa Indonesia “sabar”, untuk memberikan tekanan atas perbedaan makna mendasar yang ada dari pengertian Qur’ani dan pengertian menurut bahasa Jawa/ Sunda.


Kelengkapan makna Sobar

Sahabat Abdullah bin Abbas dalam keterangannya yang juga dinukil oleh Syekh Alwi Al Haddad dalam “Ad- Da’watut Tammah Wat- Tadzkirul ‘Ammah” dan Syekh Utsaimin dalam “Syarh Tsalatsatul Ushul” membagi kesabaran dalam tiga tingkatan, yakni:

# Sobar dalam melakukan ketaqwaan, apapun hambatannya.
# Sobar dalam menjauhi larangan Allah, apapun godaannya.
# Sobar dalam menghadapi ujian, betapapun beratnya.

Masing- masing tingkat kesobaran sesuai dengan tingkat nilai pahalanya, Dan nilai tertinggi disisi Allah adalah pahala yang disediakan bagi orang- orang yang mampu Sobar tatkala mendapatkan masalah, musibah atau ujian, tanpa mengurangi kebaktiannya kepada Allah.

ﺇﻧﻤﺎ ﻴﻭﻔﻰ ﺍﻠﺼﺎﺑﺭﻮﻦ ﺃﺠﺮﻫﻡ ﺑﻐﻴﺭ ﺤﺴﺎﺐ

“Sesungguhnya akan ditunaikan pahala bagi orang yang sobar tanpa hitungan lagi” (Az- Zumar 10)

Janji “Ma’iyyah” bagi orang yang sobar.

“Ma’iyyah” artinya kebersamaan. Dimana Allah berjanji akan “bersama” orang- orang yang Sobar. Sesuai firman Allah dalam Surat Al- Baqoroh 153/ Al- Anfal 47) :
ﺇﻦ ﺍﻟﻟﻪ ﻤﻊ ﺍﻟﺼﺎﺑﺭﻴﻦ
Tentu saja maknanya adalah “bahwa Allah akan selalu membantu- men- support dan menolong orang- orang yang sabar dalam perjuangannya mencapai suatu keberhasilan.

Dalam realita kehidupan terbukti bahwa orang- orang yang sukes dalam perjuangannya mencapai sesuatu, apakah itu masalah duniawi atau ukhrowi, pasti disana ada unsur kesabaran.

II. Istighfar/ Memohon ampun kepada Allah.

Istighfar adalah mengucapkan kalimat ﺃﺴﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻟﻪ sebagai kalimat pertobatan dengan tujuan memohon ampun kepada Allah SWT. Mengucapkannya mendapatkan pahala walau bagi orang yang tidak sedang melakukan sebuah dosa apapun. Namun memohon ampun/ taubat yang akan diterima Allah adalah TAUBATAN NASUUHA, yakni taubat yang telah memenuhi beberapa langkah (kaifiyat) dan syarat, yakni:

1- Membuang jauh- jauh/ berhenti dari perbuatan dosa itu
2- Menyesali yang telah dilakukannya itu
3- Bertekad kuat untuk tidak akan mengulangi perbuatannya nistanya itu
Dengan syarat:

1- Dilakukan sebelum nafas sampai ditenggorokan. (Surat Yunus 90)
2- Dilakukan sebelum tanda kiamat total muncul, yakni dengan terbitnya matahari dari arah barat.

Kemudian semua tindakan ini hendaknya diikuti dan dikuatkan dengan IKRAR yang berulang- ulang, yakni dengan membaca kalimat ISTIGHFAR tersebut diatas.
(Lihat: An- Nawawi: Riyadhus Sholihin , bab Taubat)

Memohon Ampun adalah sumber ridho Ilahi

Yang membedakan antara para pendosa dan para muhsinin adalah, bila para pendosa itu tidak pernah merasa berdosa, namun sebaliknya para muhsisin yang berperilaku taqwa itu bahkan selalu merasa penuh dosa dihadapan Allah SWT, mengikuti jejak “Pepunden” nya yakni Nabi Muhammad yang setiap harinya memohon ampun tak kurang dari 70 (tujuh puluh) kali.

ﻗﺎﻝ ﺭﺴﻮﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺼﻠﻰ ﺍﻟﻟﻪ ﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻟﻡ : ﻭﺍﻟﻟﻪ ﺇﻧﻲ ﻷﺴﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻟﻪ ﻔﻲ ﻜﻞ ﻴﻮﻡ ﺃﻜﺜﺮ ﻤﻦ ﺴﺑﻌﻴﻦ ﻤﺮﺓ . ﺮﻭﺍﻩﻤﺴﻟﻡ

“ Demi Allah, Sungguh aku ini beristighfar memohon ampun kepada Allah lebih dari 70 (tujuh puluh) kali setiap harinya”. H.R.Muslim.

Maka para muhsisin itu pada setiap kesempatan, terutama dikala dinihari, mereka bangun, dengan derai air mata beristighfar memohon ampun berpuluh kali, beratus kali bahkan beribu kali mengakui segala kekhilafan dan kekurangan dirinya dihadapan Sang Kholiq- padahal mereka itu dalam kehidupan sehari- harinya selalu menjaga diri dari segala noda dan dosa..
ﻭﺑﺎﻷﺴﺤﺎﺮ ﻫﻡ ﻴﺴﺘﻐﻔﺮﻭﻦ
“Dan dikeheningan malam mereka BER- ISTIGHFAR”. (Adz- Dzariyat 18)

Maka mereka itulah orang- orang yang paling berhak mendapatkan ridho ilahi dan mendapatkan perkenan Nya.

Bahkan tersebab banyaknya mereka penduduk sebuah negeri yang memohon ampun kepada Allah, Allah pun tak akan menjatuhkan adzab dan siksanya kepada penduduk negeri itu, sesuai janjinya:

ﻤﺎ ﻜﺎﻦ ﺍﻟﻟﻪ ﻟﻴﻌﺬﺑﻬﻡ ﻭﺃﻧﺖ ﻔﻴﻬﻡ ﻭﻤﺎ ﻜﺎﻦ ﺍﻟﻟﻪ ﻤﻌﺬﺑﻬﻡ ﻭﻫﻡ ﻴﺴﺘﻐﻔﺮﻮﻦ

“ Allah takkan meng- adzab mereka tatkala engkau Muhammad SAW ada ditengah mereka, dan Allah takkan meng- adzab mereka SELAMA MEREKA MEMOHON AMPUN”. QS.8- Al- Anfal/33.
Istighfar sebagai asbab terbukanya pintu- pintu rezeki
Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dgn karunia Allah Ta’ala. Dibawah ini beberapa nash dimaksud :
Sesuai apa yang disebutkan Allah Subhana Wa Ta’ala tentang Nuh Alaihis Salam yang berkata kepada kaumnya:

ﻔﻘﻟﺖ ﺍﺴﺗﻐﻔﺮﻭﺍ ﺮﺑﻜﻢ ﺇﻨﻪ ﻜﺎﻦ ﻏﻔﺎﺮﺍ ۞ ﻴﺮﺴﻞ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻋﻟﻴﻜﻡ ﻤﺪﺮﺍﺮﺍ ۞
ﻭﻴﻤﺪﺪ ﻜﻡ ﺑﺄﻤﻭﺍﻞ ﻭﺑﻧﻴﻦ ﻭﻴﺠﻌﻞ ﻟﻜﻡ ﺠﻧﺎﺖ ﻭﻴﺠﻌﻞ ﻟﻜﻡ ﺃﻧﻬﺎﺮﺍ ۞
Artinya : “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguh Dia ialah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada mu dgn lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. [Nuh : 10-12]
Ayat-ayat di atas menerangkan bagaimana cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan istighfar.
1. Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya.
Berdasarkan firman-Nya ﺇﻨﻪ ﻜﺎﻦ ﻏﻔﺎﺮﺍ : “Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”.
2.Hujan penuh berkah.
Sesuai firman Allah ﻴﺮﺴﻞ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻋﻟﻴﻜﻡ ﻤﺪﺮﺍﺮﺍ: “Allah akan menurunkan hujan lebat (yang penuh berkah)..”
Tentang makna: “diturunkan hujan yg lebat oleh Allah” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata “midraaraa” ialah (hujan) yg turun dgn deras. [Shahihul Bukhari, Kitabul Tafsir, surat Nuh 8/666], bukan hujan yang menyebabkan banjir dan bencana, namun hujan yang membawa berkah.
3.Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak yang membanggakan.
ﻭﻴﻤﺪﺪ ﻜﻡ ﺑﺄﻤﻭﺍﻞ ﻭﺑﻧﻴﻦ
Dalam menafsirkan ayat “wayumdid kum biamwalin wabanina” tersebut diatas, Atha’ berkata : Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian” [Tafsir Al-Bagawi, 4/398. Lihat pula, Tafsir- Al- Khazin, 7/154]
4.Allah akan menjadikan untuk mereka kebun-kebun.
5.Allah akan menjadikan untuk mereka sungai-sungai.
ﻭﻴﺠﻌﻞ ﻟﻜﻡ ﺠﻧﺎﺖ ﻭﻴﺠﻌﻞ ﻟﻜﻡ ﺃﻧﻬﺎﺮﺍ

Imam Al-Qurthubi berkata : “Dalam ayat ini, juga yg disebutkan dalam surat Hud ayat 3 yang artinya : “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhamnu dan bertaubat kpd-Nya”. Ini adalah dalil yg menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkan rizki dan hujan ”. [Tafsir Al-Qurthubi, 18/302. Lihat pula, Al-Iklil fis Tinbathil Tanzil, hal. 274, Fathul Qadir, 5/417]
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsir berkata :” Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada Nya dan kalian senantiasa menta’atiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yg di dalamnya menghasilkan bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)”. [Tafsir Ibnu Katsir, 4/449]
Demikianlah, sehingga Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu juga berpegang dengan apa yg terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah Ta’ala, sesuai peristiwa dibawah ini:
Mutharif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi : “Bahwasa Umar Radhiyallahu ‘anhu keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, “Aku tidak mendengar Anda memohon hujan”. Maka Umar menjawab: “Aku memohon diturunkan hujan dengan majadih[1] langit yang dengannya diharapkan bakal turun hujan. Lalu beliau membaca ayat.
“Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhamu, sesungguh Dia ialah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kpdmu dgn lebat. Diriwayatkan bahwa Imam Mujahid sering diminta ummat untuk menyelesaikan masalah dan mengatasi kesulitan yang terjadi pada diri mereka. Maka Imam Mujahid tidak terlalu banyak memberikan taushiyah kepada mereka, terkecuali agar mereka MEMPERBANYAK PERMOHONAN AMPUN dan Istighfar kepada Allah SWT. ”.[Nuh : 10-11]. [Tafsir Al-Khazin, 7/154].
Maka dengan Sobar dan Istighfar, kasih sayang Allah akan turun, adzab Allah akan menjauh, dan Allah akan membantu kita mencapai sukses demi sukses, sukses dunia dan akherat. Amiin.


Purwasari, 26- Agustus- 2010/ Mufie/Kingstone.
[1]Keterangan: Majadih jama’ dari kata Majdah, yakni rasi bintang yang dipercaya orang Arab sebagai tanda- tanda akan turunnya hujan. Dalam hal ini Sahabat Umar menganggap “istighfar” sebagai majadih/ sebab turunnya hujan atas karunia Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar