MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Rabu, 15 September 2010

@ HUKUM TAKBIRAN DI DUA HARI RAYA

Sighot & Hukum Takbiran Di Dua Hari Raya



اختلف العلماء في صفته على أقوال :
الأول : " الله أكبر .. الله أكبر .. لا إله إلا الله ، الله أكبر .. الله أكبر .. ولله الحمد "
الثاني : " الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. لا إله إلا الله ، الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. ولله الحمد "
الثالث : " الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. لا إله إلا الله ، الله أكبر .. الله أكبر .. ولله الحمد " . 


Ulama berbeda pendapat tentang kalimat yang dipakai dalam bertakbir lebaran, yakni:

 –Dalam mazhab Hanafi dan mazhab Hambali sighot takbir sebagai berikut:

"Allahu akbar 2x,
La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar,
Allahu akbar 2x
Wa li-Llahi l-hamd".

Sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir, dan sebagaimana yang dilakukan oleh dua orang Khalifah Rasyidah dan Ibnu Mas’ud.



Dalam mazhab Maliki dan Syafii (dalam qaul jadid) kalimat takbir sebagai berikut:

“Allahu akbar” 3x ini saja menurut mazhab Malik sudah lebih bagus.
Tapi jika ditambah dengan “La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar, Allahu akbar
wali-Llahi l-hamd” tidak masalah kata mereka (mazhab Maliki) karena ada hadis riwayat
Jabir dan Ibnu Abbas tentangnya.

Menurut mazhab Syafii disunnahkan menambah bacaan: “Allahu akbar kabiro wa l-hamdu li-Llahi katsiro wa subhana-Llahi bukrotan wa ashila” sehabis mengulang kalimat takbir di atas sebanyak tiga kali. Karena Nabi pernah mengucapkannya ketika berada di SHOFA

Kemudian disunnahkan menambah bacaan setelahnya dengan:
“La ilaha illa-Llah wa la na’budu illa iyyah, mukhlishina lahu d-din wa lau kariha l-kafirun, la ilaha illa-Llah wahdah, shodaqo wa’dah, wa nashora ‘abdah, wa hazama l-ahzaba wahdah. La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar”.

Tambahan di atas ini menurut madzhab Hanafi tidak diperbolehkan (tidak disunnahkan).

Dan diperbolehkan pula takbir ditutup dengan bacaan salawat:

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad wa ‘ala ashhabi Muhammad wa ‘ala azwaji Muhamad wa sallim tasliman katsiro”.

Hukum Bertakbir Pada Dua Hari Raya

Para fukaha sepakat (tidak ada yang berbeda pendapat) dalam masalah disyariatkannya bertakbir ketika:

1. Pergi di pagi hari menuju salat ied.
2. Setelah salat fardhu di hari-hari raya kurban, yakni khusus pada hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq.

Imam Abu Hanifah ra. berpendapat: disunnahkan bertakbir tapi tidak nyaring di hari raya idul fitri ketika keluar dari rumah menuju tempat salat id karena mengamalkan hadis nabi yang berbunyi: “Sebaik-baik dzikir ada yang tidak nyaring (khofiy) dan sebaik-baik rizki adalah yang mencukupi (tidak berlebihan)”. Dan kemudian berhenti bertakbir ketika telah sampai di tempat orang melaksanakan salat ied (dalam riwayat lain sampai dilaksanakannya salat).

( Hadis diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Baihaqi dalam bab cabang-cabang iman dari Saad. )

Tapi beberapa ulama madzhab beliau (Abu Hanifah) berpendapat sunnahnya adalah bertakbir dengan nyaring pada hari raya idul fitri tersebut.
Dan semuanya sepakat bertakbir dengan nyaring pada hari raya kurban.

Jumhur ulama berpendapat: disunnahkan bahkan bertakbir dengan nyaring di mana pun, di rumah, di pasar, di jalan-jalan, di masjid ketika menjelang dilaksanakannya salat id.
Adapun mazhab Hanbali mengatakan sampai selesai khutbah id.

Takbir di hari raya fitrah lebih banyak dan lebih kuat ketimbang takbir di hari raya kurban. Salah satu dasar dalilnya adalah firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 185:

"(Bulan Romadhon adalah bulan diturunkannya Al- Qur'an)......Dan agar kalian semua bertakbir kepada Allah atas apa yang telah Allah berikan hidayah kepada kalian dan agar kalian semuanya bersyukur".

قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله عز وجل ) رواه مسلم 1141

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Hari- hari Tasyriq itu adalah hari (halal) makan, minum, dan hari- hari berdzikir kepada Alloh". HR. Muslim.

Juga lantaran ia sebagai menampakkan syiar-syiar Islam dan peringatan bagi orang lain.

Takbir Muthlaq dan Takbir Muqoyyad.

Nabi Muhammad bersabda: "Hari- hari Tasyriq itu hari- hari (dihalalkan) makan, minum, dan hari- hari untuk berdzikir". HR.Muslim.
قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله عز وجل ) رواه مسلم 1141

Ada dua jenis Takbir, yakni:

1- Takbir Muthlaq.
2- Takbir Muqoyyad.

التكبير ينقسم إلى قسمين :
مطلق : وهو الذي لا يتقيد بشيء ، فيُسن دائماً ، في الصباح والمساء ، قبل الصلاة وبعد الصلاة ، وفي كل وقت .

1- Takbir Muthlaq yaitu Takbir yang dibaca tidak hanya setelah salat fardhu. Takbir Mutlaq dibaca setiap saat, pagi, petang, sebelum sholat maupun setelah sholat.

2- Sedangkan Takbir Muqoyyad adalah Takbir yang dibaca setiap selepas salat fardhu saja. Ini khususnya takbiran ketika Iedul Adlha + 3 hari Tasyriq.

وأما المقيد فإنه يبدأ من فجر يوم عرفة إلى غروب شمس آخر أيام التشريق - بالإضافة إلى التكبير المطلق – فإذا سَلَّم من الفريضة واستغفر ثلاثاً وقال : " اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام " بدأ بالتكبير .
Adapun takbir Muqoyyad adalah takbir yang dimulai dari terbit fajar hari 'Arofah, sampai terbenamnya matahari pada akhir hari Tasyrik. Maka Takbir Muqoyyad itu dilakukan setelah selesai baca Salam ketika sholat, membaca Istighfar 3 x dan kemudian membaca: "Allohumma antas salaam"....setelah itu bertakbir.
Imam Syafi'i berkata:
يكبر الحج عقب الصلوات من ظهر النحر لأنها أول صلاته بمنى ووقت اتهاء التلبية ويختم بصبح أخر التشريق لأنها أخر صلاته بمنى.....
"Para jema'ah haji membaca takbir setelah akhir sholat fardhu Dluhur hari Nahar (10 Dzul Hijjah), karena sholat itu merupakan awal sholat nya di Mina dan saat berakhirnya bacaan Talbiyyah, dan diakhiri pada Shubuh akhirnya hari Tasyriq, karena itu merupakan akhir sholatnya di Mina................dan yang tidak haji melakukan hal yang sama dengan yang haji menurut qoul yang Adlhar dan masyhur dalam madzhab,........."
Lihat: Fikhu l-Islam wa Adillatuh karya Prof. DR. Wahbah Zuhayli jilid 2 halaman 342- 343 cetakan Dar el fikr, Syiria. Lihat pula Bidayatul Mujtahid 1/213

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar