MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Minggu, 06 Maret 2016

KONTROVERSI HUKUM RO’ PADA LAFADH “NUDZUR” DAN “YASR”


KONTROVERSI HUKUM RO’ PADA LAFADH “NUDZUR” DAN “YASR”



Imam Mutawally (wafat 1313 H) berkata:

(وليس{نذر} من قبيل المضموم ، و{يسر} من قبيل الساكن ، إذ الراء متوسطة فيهما لأن أصلهما نذري ويسري بالياء وحكمها الترقيق على ما اختاره ابن الجزري ـ رحمه الله تعالى ـ
المعطي وغنية المقري في رواية ورش المصري) في باب الراءات: خاتمة في الوقف على الراء لكلهم
وقال في فتح المجيد

“Dan (tidaklah dibaca tebal) lafadh “Nudzur” yang sebelumnya dhommah dan lafadh “Yasr” yang sebelumnya sukun, karena Ro' itu berada diantara keduanya dan karena lafadh “Nudzur” itu aslinya “Nudzury” dan lafadh “Yasr” itu aslinya “Yasry” dengan huruf “Ya” dibelakang ro’., maka hukumnya “Tarqiiq”, seperti apa yang dipilih Ibnu Al- Jazary.” Demikian kata Imam Mutawally.

Lafadh “Nudzur” ada 6 tempat di Surat Al- Qomar, sedang lafadh “Yasr” terdapat dalam Surat Al- fajr ayat 4.

Selanjutnya Imam Al- Mutawally menulis:

والراجِحُ التفخيمُ في للبَشَــرِ والفَـجِــرِ أيضاً وكـذا بالنُـذر
وفي إذا يَسْرِاختيارُالجزري ترقــيــقـــــه وهـكـذا ونــذر
ومِصْرَ فيه اختارَ أن يفخما وعكسه في القطرعنه فاعلما
وذاك كـلـه بـحال وقـفـنــــا والرَّوم كالوصل على ما بُيِّنا)) ا.هـ كلام المتولي رحمه الله.
والشيخ المتولي ـ رحمه الله ـ توفي عام1313هـ

“Dan yang rajih dibaca Tafkhim pada lafadh Al- Basyar – Al- Fajr – Bin- Nudzur.
Dan dalam lafadh Yasr Imam Al- Jazary memilih Tarqiq, demikian juga pada lafah Wa Nudzur”.
Alasannya karena lafadh “Yasr” aslinya “Yasry”, sedang lafadh “wa Nudzur” aslinya “wa Nudzury” dari kalimat: ‘Adzaaby wa Nudzury”, karena ada wawu athof. Keduanya dibuang huruf “Ya’ “ nya.

Tentang “Ya’” nya lafadh “Yasr”, dalam tafsir “Al- Baghowy” disebutkan :
قرأ أهل الحجاز ، والبصرة يسري " بالياء في الوصل ، ويقف ابن كثير ويعقوب بالياء أيضا ، والباقون يحذفونها "

Pendapat Imam Mutawally ini kemudian diikuti oleh pendapat imam lain, seperti: Syekh Nuruddin ‘Ali bin Muhammad Ad- Dhobba’, Syekh Ibrohim bin ‘Ali As- Samnnudy, dan Syekh Abdul Fattah bin Sayyid Al- Ajamy Al- Mursofy, dll.

Apakah betul ini adalah pilihan Ibnul Jazary?

Ternyata pendapat tersebut tidak ditemukan pada ulama- ulama terdahulu sebelum masa Al- Mutawally. Syekh Al- Imam Syamsuddin Muhammad bin Qosim Al- Baqory (تـ1111هـ) dan Syekh Al- Imam Abu Hasan As- Sofaqusy (تـ 1118هـ) tetap menyatakan bahwa jika ada ro’ diwaqof sebelumnya sukun atau dhommah, maka dibaca Tafkhim. As- Sofaqusy menulis dalam kitabnya “Tanbihul ghofiliin wa irsyadil Jahiliin”: As- Sofaqusy:
وإن كان قبله غير ذلك فخمتَه ، ولو كان في الأصل مكسورا ، هذا هو المعول عليه عند جميع الحُذَّّاق ، وبه قرأنا على جميع شيوخنا).
“…..dan jika sebelumnya tidak seperti itu (didahului kasroh atau didahului ya’ kasroh atau didahului huruf mati yang sebelumnya kasroh), maka hendaklah dibaca Tafkhim walau ashlinya Makshur (ada ya’ nya). Demikian yang mu’tamad /yang kuat menurut seluruh pakar, dan dengan bacaan ini diri kami membaca dari beberapa guru kami.

Jika kita buka kitab lanjut dari beliau Imam Al- Jazary (Imam Bukhory nya Ilmu Al- Qur’an), yakni dalam kitab “An- Nasyr” , beliau tetap menyatakan bahwa lafadh “Nudzur” dan “Yasr” itu dibaca tebal sesuai apa yang tertulis karena asal dari hukum Ro’ itu Tafkhim kecuali jika TERTULIS sesuatu yang menyebabkan nya Tarqiq.

ثم إن الشيخ المتولي ـ تولاه الله برحمته ـ زعم أن الترقيق اختيار الإمام الجزري ـ رحمه الله ـ ، وليس ذلك كذلك بل الذي ظهر أن الإمام الجزري ـ رحمه الله ـ يختار التفخيم ، فإنه قال في النشر: (( فاعلم أنك متى وقفت على الراء بالسكون أو الإشمام نظرتَ إلى ما قبلها ، فإن كان ما قبلها كسرة أو ساكن بعد كسرة ، أو ياء ساكنة ، أو فتحة ممالة ، أو مرققة نحو: {بُعْثِر}{الشِّعْر}{والخنازير}{لاضَيْر}{نذير}{نكير }{والعِيْر}{الخَيْر}
{البِر}{القناطِير}{الطَّيْر}{الدار}{الأبرار} عند من أمال الألف ، و{بِشَرَر} عند من رقق الراء رققتَ الراء ، وإن كان قبلها غير ذلك فخمتَها:
هذا هو القول المشهور المنصور

“Imam Al- Mutawally menyangka bahwa membaca Tarqiq pada lafadh “Nudzur” dan “Yasr” itu pilihan Imam Al- Jazary, namun kenyataannya tidak seperti itu. Dalam kitab “An- Nasyr” jelas Imam Al- Jazary memilih membaca Tafkhim. Beliau berkata dalam “An- Nasyr:  "Ketahuilah bahwa sesungguhnya anda jika waqof pada Ro’ dengan cara waqof sukun atau cara waqof Isymam, anda harus melihat sebelumnya. Jika sebelumnya kasroh atau mati setelah kasroh, atau ya sukun atau fatkhah Imalah, (bagi yang membaca Imalah), atau yang membaca Ro’ tarqiq, maka agar dibaca Tarqiq, seperti : Bu’tsir - As- Syi’ir - Al- Khonaziir – Laa dhoir – Nadhiir – Nakiir - Wal ‘iir – A- Khoir- Al- Birr – Al- Qonathiir – At- Thoir – Ad- Daar – Al- Abraar, bagi yang meng- Imalahkan Alif, bi Syarar bagi yang men Tarqiqkan Ro’ (Imam Warosy: رقق ورش كل راء مفتوحة أو مضمومة إذا كان قبلها كسر أو ياء ساكنة (مدية أو لينة) أو كان قبلها كسرة إصلية متصلة لازمة وصلا ووقفا). Dan jika sebelumnya tidak seperti itu, maka bacalah Tafkhim", demikian kata Imam Al- Jazary.

Jadi: lafadh "Yasr" dan "Wa Nudzur" jika di waqof, Ro' nya dibaca Tafkhim/ tebal. 
Wallohu a’lam.



KHD, Purwasari, Karawang 7- Maret- 2016,

Sumber:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar