MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Jumat, 16 Maret 2012

BLT DAN SEBILAH KAPAK UNTUK SI MISKIN

Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah.

Dalam waktu tak lama lagi harga BBM kita akan disesuaikan karena ulah Amerika menyatroni Iran sehingga harga minyak bumi meroket sampai menembus angka 105 USD/ barel. Bagi Negara- yang tak memliki refinery apalagi yang tak memiliki cadangan minyak bumi maka kenaikan harga dunia akan sangat- sangat menyulitkan dan memukul mereka. Indonesia memang juga penghasil minyak mentah yang belum langsung dapat dipakai (masih dalam bentuk crude oil) dan HARUS DISULING (REFINERY) dulu, dan kalau tidak salah Indonesia hanya memiliki satu refinery yakni di Balongan Indramayu yang tentu saja kapasitasnya tidak cukup dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang mencapai 10% pertahun. Maka tentu saja dengan harga minyak dunia yang melonjak tiba- tiba dengan begitu tajam, subsidi pemerintah pun membengkak dan mengancam APBN, karena Indonesia harus MEMBELI MINYAK YANG TELAH DISULING dengan harga baru yang tinggi . Di Amerka sendiri harga premium sudah mencapai 4 dollar/gallon, sedang di Jepang = 160,3 yen/ liter atau 5,76 USD/ gallons.




Nah untuk meringankan beban kaum dhu’afa’ yang tak siap dengan perubahan mendadak itu, pemerintah menyiapkan BLT (Bantuan Langsung Tunai), atau apapun namanya untuk meringankan beban mereka. Namun sejatinya pemberian BLT tersebut menurut kacamata Islam agak kurang tepat, karena akan menciptakan ketergantungan. Untuk jelasnya kita lihat saja salah satu peristiwa tentang bagaimana cara Rasululloh membantu kaum dhu’afa’.

Suatu hari Rasululloh SAW sedang duduk- duduk dengan para sahabatnya.

Tiba- tiba datang seorang miskin memohon bantuan financial untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang serba kekurangan.

Maka Rasululloh dengan lembut bertanya: “Apakah kamu memiliki sesuatu dirumahmu?”

Orang itupun menjawab: “ Dirumah hanya ada sebuah cangkir dan selembar selimut usang”.

“Bawalah kesini secepatnya!”, kata Nabi SAW.

Maka dengan tergesa- gesa orang itu pulang mengambil barang- barang miliknya dan membawa kembali kehadapan Rasululloh. Maka Rasululloh segera MELELANG barang- barang itu kehadapan para sahabatnya: “ Siapa diantara kalian yang mau membeli cangkir dan selimut ini?”.

Maka dengan semangat ingin menolong, cangkir dan selimut itu laku terjual seharga 2 dirham. Dalam Alquran memang disebutkan diantara sifat- sifat orang yang bertaqwa yaitu: “Orang-orang yang suka menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan sanggup memaafkan kesalahan orang lain. (QS Ali Imran [3]: 134).

Nabi pun berkata kepada si miskin:” Pakailah yang satu dirham untuk beli makanan dan kebutuhan keluargamamu, dan yang satu dirham lagi, belikanlah sebuah kapak!”

Maka besoknya orang itu datang kehadapan Nabi dan mengucapkan terimakasihnya serta membawa sebilah mata kapak. Maka Rasulpun membuatkannya gagang yang baik, mengasahnya dan berkata: “Bawalah kapak ini ketempat tempat dimana ada ranting dan dahan roboh. Jangan datang ke tempatku kecuali setelah setengah bulan!”

Setengah bulan kemudian orang itu datang dan mengkhabarkan bahwa ia kini telah memiliki 10 dirham dari hasil mencari ranting dan dahan. Maka Nabi bersabda: “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat cacat di wajahmu di akhirat nanti (dalam satu riwayat: mereka akan datang menghadap Allah dengan keadaan wajah tidak berdaging). Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.”

Dalam riwayat ini kita bisa melihat bagaimana cara Nabi membantu seseorang, ibarat pepatah: Lebih utama memberikan PANCING daripada memberikan seekor IKAN. Namun sebagaimana kata Bapak Jusuf Kalla di tv One pagi 16/03/012 ini, masalahnya para petani dan nelayan/ kaum dhu’afa’ kita tidak cukup siap dengan perubahan kebutuhan yang terlalu cepat, sehingga mereka diberikan nafas sampai mereka bisa menjual komoditi mereka sesuai dengan harga ekonomis setelah semua harga barang- barang stabil dan mereka bisa mengambil keuntungan dari hasil usaha mereka.(tanbihun.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar