MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Senin, 20 November 2017

TASLIM = BAI'AT

TASLIM = BAI'AT
Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah







TASLIM = BAI’AT.


Makna
Kata Taslim berasa dari akar kata Sallama – Yusallimu – Tasliiman, artinya tunduk dan patuh. Dikatakan سلَّمَ الشَّخصُ : استسلم ، انقاد بدون مقاومة…. seseorang telah taslim berarti ia telah tunduk tanpa reserve.


Pernyataan ketundukan itu dilakukan dengan cara berbaiat dihadapan orang yang ia telah tunduk padanya dengan datang, bersalaman (bagi lelaki), diawali dengan mengucap dua kalimat syahadat dan berikrar mengucapkan ke taslimannya.


Ibnu Khaldun mengatakan dalam kitabnya, Al Muqadimah,”Bai’at ialah janji untuk taat. Seakan-akan orang yang berbai’at itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijaksanaan tentang urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, sedikitpun tanpa menentangnya; serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak.”



Hadist dan Tarikh/ Sejarah Tentang Baiat.

Pada periode awal, setiap sahabat yang masuk Islam baik lelaki atau wanita, mereka berbaiat dihadapan Rasul SAW dan berikrar Taslim/tunduk menyerah kepada Allah dan baginda Rasululloh. Sebagaimana firman Allah :


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. ألنساء 65
“………..dan merekaTaslim/ tunduk dengan sebenar- benar tunduk” QS.An- Nisa’ 65


Dalam sebuah hadist dinyatakan:
من مات و ليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية . رواه مسلم 1851
Rasululloh menyatakan: “barang siapa mati dan dia belum berbaiat, maka matilah ia dalam keadaan jahiliyyah”.HR. Muslim.

Dan masih banyak lagi hadist yang senada dengan itu.

Syekh Ibnu hajar Al- Atsqolany dalam Fatkhul Bary Syarah Sohih Bukhory menjelaskan tentang makna kalimat “mati dalam keadaan jahiliyyah”:

كموت أهل الجاهلية على ضلال وليس ‏لهم إمام مطاع، لأنهم كانوا لا يعرفون ذلك، وليس المراد أنه يموت كافراً بل يموت ‏عاصياً،

“Yakni seperti matinya kaum jahiliyyah yang tersesat tak punya pemimpin yang ditaati, karena mereka tidak tahu pentingnya ketundukan kepada pemimpin, maknanya bukan berarti dia mati kafir, tapi ia mati dalam keadaan maksiyat,….”.


Berbaiat Dengan Bersalaman (bagi laki- laki) Tidak Dilakukan Ketika Takluknya Kota Mekah.

Ikrar taslim/ tunduk dengan cara berbaiat dihadapan Rasul itu dilakukan oleh para sahabat Nabi sampai saat takluknya kota Mekah. Maka ketika Makkah takluk dan manusia berbondong bondong memasuki agama Islam, tak mungkin lagi Rasulullah menyalami mereka satu persatu, namun cukup dengan membuktikan diri mereka tunduk dan patuh kepada semua yang telah ditetapkan oleh Rasululloh. Ini sebagai dalil bahwa baiat secara berhadapan itu tidaklah wajib, namun keutamaan. Seandainya maju bersalaman satu persatu itu sebagai syarat keabsahan bai’at, tentu bagaimanapun Rasululloh akan memerintahkannya.

Maka berdasarkan riwayat tersebut para ulama tidak mewajibkan lagi masyarakat umum untuk berbaiat kepada Amir/ Imam/ pemimpin ummat, namun cukup dengan perwakilan mereka yang menyatakan Ikrar bakti/ Taslim kepada para pemimpin mereka.


صرح الحنابلة والشافعية بأن المعتبر في البيعة هم أهل الحل والعقد من العلماء ‏والرؤساء ووجوه الناس ، بخلاف العامة فإنهم لا يلزمهم مبايعة بالقول ولا بالحضور، بل ‏يلزمهم الطاعة وعدم الخروج، واعتقاد أنهم تحت أمر الإمام.‏


Madzhab Hanbaly dan Syafi’I menyatakan bahwa yang paling mu’tabar (yang memiliki argument terkuat) menyatakan bahwa Bai’at itu diberlakukan bagi Ahlul Halli wal Aqdy (pemimpin kelompok yang legitimated- lihat syarat Ahlul halli wal Aqdi) dari para ulama, pemimpin ummat dan perwakilan masyarakat. Berbeda dengan masyarakat umum, maka mereka tidak diwajibkan berbaiat dengan ikrar ataupun kehadiran. Yang wajib bagi mereka adalah taat dan tidak keluar dari ikatan suatu jama’ah (dalam hal ini daulah Islamiyyah/kepemimpinan Islam) dan berkeyakinan bahwa mereka tunduk dibawah urusan Imam/ pemimpin jama’ah tersebut.

وقال النووي رحمه الله في شرح صحيح مسلم :
أَمَّا الْبَيْعَة :
فَقَدْ اِتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لا يُشْتَرَط لِصِحَّتِهَا مُبَايَعَة كُلّ النَّاس , وَلا كُلّ أَهْل الْحَلّ وَالْعِقْد , وَإِنَّمَا يُشْتَرَط مُبَايَعَة مَنْ تَيَسَّرَ إِجْمَاعهمْ مِنْ الْعُلَمَاء وَالرُّؤَسَاء وَوُجُوه النَّاس , . . . وَلا يَجِب عَلَى كُلّ وَاحِد أَنْ يَأْتِيَ إِلَى الأَمَام فَيَضَع يَده فِي يَده وَيُبَايِعهُ , وَإِنَّمَا يَلْزَمهُ الانْقِيَادُ لَهُ , وَأَلا يُظْهِر خِلافًا , وَلا يَشُقّ الْعَصَا اهـ

Dan hanyasanya berbaiat itu, para ulama telah sepakat bahwa sesungguhnya baiat itu tidak disyaratkan sahnya dengan berbaiatnya setiap manusia satu demi satu, tidak juga para Ahlul Halli wal Aqdi, namun yang disyaratkan bagi yang mudah untuk mereka berkumpul, dari para ulama, para pemimpin dan perwakilan masyarakat. Dan tidak wajib bagi setiap orang untuk datang kepada Imam, kemudian meletakkan tangannya dengan tangan Imam ketika membaiatnya, namun yang wajib bagi mereka adalah TUNDUK kepada pemimpin itu dan tidak menunjukkan perselisihannya dengan pemimpin tersebut.


Baiat, Tradisi Bagi Ahli Thoriqoh Dan Aliran Tertentu.


Walaupun para ulama sebagaimana dalam madzhab Syafi’I dan Hanbali tidak mewajibkan Baiat/ Taslim secara langsung berikrar dan bersalaman dengan guru/ pemimpin/ imam jama’ah, tradisi ini masih berlaku bagi para pelaku jama’ah Thoriqoh seperti Thoriqoh Naqsyabandiyyah, Thoriqoh Syadhiliyyah, Thoriqoh maulawiyyah dll, juga pada aliran tertentu yang mewajibkan baiat seperti LDII, ISIS, dll. Bagi para calon murid, mereka menghadap kepada calon guru mursyid/ amir dan pemimpin kelompoknya dan kemudian mereka mengucapkan ikrar Taslim kepada calon guru mursyid/ amir/ pemimpin kelompok tersebut.

Bagaimana Dengan Jama’ah Rifaiyyah?


Jama’ah Rifa’iyah pada awalnya ketika masa perjuangan juga melakukan hal ini. Namun kini, sebagian besar jama’ah telah meninggalkan kebiasaan ini berdasar dalil dan nash dari Imam Nawawy yang mewakili madzhab Syafi’I yang menyatakan bahwa baiat masyarakat umum sudah tidak diwajibkan lagi sebagaimana Rasululloh tidak lagi melakukan baiat orang per orang ketika manusia sudah memasuki agama Islam dengan berbondong- bondong setelah Fatkhu Makkah, karena yang dipentingkan bukan lagi ucapan, namun bukti ketasliman dan ketundukan mereka terhadap aturan dan syari’at yang ada. Walaupun demikian, praktek taslim/ dan baiat adalah sebuah keutamaan, tapi bukan untuk dipaksakan, berdasar firman Allah: لا إكراه في الدين "tak ada paksaan dalam agama" QS. Al Baqoroh 256. Wallohu a’lam.


Rabu, 15 November 2017

REBO WEKASAN


REBO WEKASAN
 Hasil gambar untuk rajah jimat


Yakni hari Rabo terakhir bulan Shofar.
Pada hari itu ada kejadian penting, yakni mulai sakitnya Rasululloh terus selama 14 hari sampai ajal menjemput.
Sesuai keterangan dibawah ini:

وقال الواقدي
قالوا: بدئ برسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الأربعاء لليلتين بقيتا من صفر، وتوفي يوم الاثنين لاثنتي عشرة ليلة من ربيع الأول، وبه جزم محمد بن سعد كاتبه، وزاد: ودفن يوم الأربعاء،

Al Waqidy berkata: Rasululloh mulai sakit pada hari Rabo, dua malam menjelang akhir bulan Shofar (Rabo terakhir/ Rabo Wekasan), dan beliau wafat pada hari Senin pada hari kedua belas malam Rabiul Awwal, dan Muhammad bin Saad telah menetapkan sesuai dengan pendapat Al- Waqidy, dan dia menambahkan: Dan Nabi Muhammad SAW dikuburkan pada hari Rabo.
Fatkhul Baari Syarh Sohih Bukhory Juz 7 Kitabul Maghozy.

HARI REBO WEKASAN ADALAH HARI SIAL?

Maka ketika hari kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai “Hari turunnya rahmat”, oleh sebagian orang dianggap hari Rabo terakhir bulan Shofar sebagai “hari turunnya musibah”, dan lama kelamaan dengan berjalannya waktu karena "ghuluw" berubah menjadi hari naas yang menakutkan sebagian orang, seakan akan pada hari itu muncul ratusan ribu bala’ dan musibah dan memunculkan aneka amaliyah yang tidak bersumber dari baginda Rasululloh, diantaranya adalah “Sholat Rebo Wekasan”. Bahkan lebih dari itu semua bulan Shofar dianggap bulan nahas, yang tidak baik untuk usaha, pernikahan atau hajatan lainnya, padahal rasululloh menikah dengan S. Khadijah terjadi di bulan Shofar, begitu juga Fathimah menikah dengan S. Ali di bulan Shofar.

قال ابن إسحاق: «في شهر صفر كان زواج السيدة خديجة بنت خويلد رضي الله عنها من النبي محمد صلى الله عليه وسلم عقب خمسة وعشرين يومًا من صفر سنة ستة وعشرين»(سبل الهدى والرشاد (2/165)
قال ابن كثير: «وأما فاطمة رضي الله عنها فتزوجها ابن عمها علي ابن أبي طالب رضي الله عنه في صفر سنة اثنتين، فولدت له الحسن والحسين، ويقال: ومحسن، وولدت له أم كلثوم وزينب» ( السيرة النبوية لابن كثير (4/611)

Memang ada satu hadist yang menyebutkan tentang nahas nya hari Rabo Wekasan. Tapi hadist ini berderajat lemah:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي..

“Dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi. (dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).

Hadist ini bertentangan dengan hadist yang sohih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.

“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada penyakit menular (tersebar sendiri tanpa kehendak Allah). Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

HARI REBO WEKASAN DALAM ARTIKEL- ARTIKEL SYI’AH

Diantara aneka hadist yang mereka sampaikan adalah sebuah hadist dari Ahlul Bait yang menyatakan tentang Rabo Wekasan yang mengandung kesialan ini, tapi jika diteliti hampir semua hadist tersebut berderajat dhoif bahkan maudhu’, diantaranya:

محمد بن علي بن الحسين في ( العلل ) و ( عيون الاخبار ) و ( الخصال ) عن محمد بن عمر بن علي بن عبد الله البصري ، عن محمد بن عبد الله بن جبلة ، عن عبد الله بن أحمد بن عامر الطائي ، عن أبيه ، عن علي بن موسى الرضا ، عن آبائه عن امير المؤمنين ( عليه السلام ) ـ في حديث ـ إن رجلا قام إليه فقال : يا أمير المؤمنين ، أخبرنا عن يوم الاربعاء وتطيرنا منه وثقله ، وأي أربعاء هو ؟ فقال : هو آخر أربعاء في الشهر ، وهو المحاق ، وفيه قتل قابيل هابيل أخاه ، ويوم الاربعاء القي إبراهيم ( عليه السلام ) في النار ، ويوم الاربعاء وضعوه في المنجنيق ، ويوم الاربعاء أغرق الله فرعون ، ويوم الاربعاء جعل الله ( قرية لوط ) (1) عاليها سافلها ، ويوم الاربعاء أرسل الله الريح على قوم عاد ، ويوم الاربعاء أصبحت كالصريم ، ويوم الاربعاء سلط الله على نمرود البقة ، ويوم الاربعاء طلب فرعون موسى ليقتله ، ويوم الاربعاء خر عليهم السقف من فوقهم ، ويوم الاربعاء أمر فرعون بذبح الغلمان ، ويوم الاربعاء خرب بيت المقدس ، ويوم الاربعاء احرق مسجد سليمان بن داود بإصطخر من كورة فارس ، ويوم الاربعاء قتل يحيى بن زكريا ، ويوم الاربعاء أظل قوم فرعون أول العذاب ، ويوم الاربعاء خسف الله بقارون ، ويوم الاربعاء ابتلي أيّوب بذهاب ماله وولده ، ويوم الاربعاء أدخل يوسف السجن ، ويوم الاربعاء قال الله : ( إنا
دمرناهم وقومهم أجمعين ) (2) ويوم الاربعاء أخذتهم الصيحة ، ويوم الاربعاء عقروا الناقة ، ويوم الاربعاء أمطر عليهم حجارة من سجيل ، ويوم الاربعاء شج النبي ( صلى الله عليه وآله ) وكسرت رباعيته ، ويوم الاربعاء أخذت العماليق التابوت

Namun ternyata tidak semua tokoh Syi'ah sependapat, sebagaimana Sayid Muhammad Husain Fadhlulloh yang menyangkal nahas nya hari Rebo Wekasan sebagaimana dalam salah satu khutbahnya tanggal 4- November- 2016. Juga banyak ulama Syi’ah lainnya yang menyangkal tentang sialnya hari Rabo Wekasan dan adanya hari- hari sial lainnya.

SHOLAT RABO WEKASAN DAN ANEKA RITUAL LAINNYA

Di Indonesia banyak anggota masyarakat yang menganggap hari Rebo Wekasan adalah hari turunnya bala' dan menjadi hari yang menakutkan. Untuk menghindari bala', mereka banyak melakukan aneka amaliyah yang jika diteliti tak ada dasarnya bahkan bertentangan dengan aqidah Islamiyyah As- Sohihah.
Bentuk ritual Rebo Wekasan meliputi empat hal; (1) shalat tolak bala’yang disebut sebagai Sholat Rebo Wekasan atau sholat hadiyah; (2) berdoa dengan doa-doa khusus; (3) minum air jimat atau melarungkan jimat- jimat tertentu ke sumur, sungai dsb, dan (4) selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.
Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi). Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Tentang Shalat Rabo Wekasan dan Shalat Hadiyah, Hadlrotus Syekh Hasyim Asy’ary, pendiri Nahdlatul Ulama pernah memberikan fatwa dan menjelaskan demikian:

Bismillahirrahmanirrahim,
“Tidak boleh berfatwa mengajak-ajak dan melakukan shalat Rebo Wekasan dan shalat Hadiyah sebagaimana tersebut dalam pertanyaan. Sebab, kedua shalat itu bukan shalat yang disyariatkan dan tidak ada dasarnya di dalam syariat. Dalilnya adalah sama sekali tidak ada disebutkannya amaliyah tersebut dalam kitab-kitab yang mu’tamad (yang boleh dipegangi) seperti kitab Taqrib, al-Minhajul Qowim, Fathul Muin, at-Tahrir, terus keatas seperti kitab- kitab an-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulumuddin. Semua kitab itu tidak ada yang menyebutkan tentang kedua shalat tersebut. Dan tentu kita tahu jika Sholat Rabo Wekasan itu ada dasarnya, tentu kitab- kitab tersebut akan menjelaskan tentang fadhilahnya, dan diluar kebiasaan ada suatu ibadah Sunnah sampai terlewatkan dalam- kitab tersebut padahal mereka adalah ulama- ulama yang sangat alim yang paling faham tentang agama dan menjadi panutan masyarakat.……..Dan tidak benar memberi fatwa dengan mengambil hukum dari kitab Mujarrobat atau kitab Nazhatul Majalis sebagaima keterangan dalam Hawasyi Asybah wan Nadhair, Tadzirotul Maudlu’at dan Tanqihul Fatwa dll yang menyatakan: “Dan tidak boleh berfatwa dengan kitab- kitab yang tidak mu’tabarot (legitimated)….dst….dst….dst……..(Ini jawaban dari Al- Faqir Hasyim Asy’ary Jombang).
Berikut naskah lengkap bahasa asli dari beliau:

بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.
أورا وناع فيتوا أجاء – أجاء لن علاكوني صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت إع سؤال، كرنا صلاة لورو إيكو ماهو دودو صلاة مشروعة في الشرع لن أورا أنا أصلي في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها، كيا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأ فندوكور كيا كتاب النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين. كابيه ماهو أورا أنا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.
ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال: ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القاري: لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة انتهى. لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال: وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. سكيرا أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه تعالى محمد هاشم أشعري جومباع

Dikumpulkan dari berbagai sumber oleh H. Khaeruddin Khasbullah.
Diantaranya dari: http://jombang.nu.or.id/shalat-rebo-wekasan-dan-hadiyyah/

Rabu, 25 Oktober 2017

AHLUL HALLI WAL AQDI

AHLUL HALLI WAL AQDI

Hasil gambar untuk kumpulan para ulama

(Dari pengajian Akbar di Pondok Pesantren "An- Nihayah" Rawamerta Karawang, yang dihadiri oleh para ulama dan para habaib Karawang, Purwakarta dan sekitarnya pada Senin malam Selasa 16- Oktober- 2017 di halaman PonPes An- Nihayah" dengan thema "Ahlul Halli wal Aqdi", maka beliau ajengan K.H. Tatang menganjurkan kepada saya untuk menulis serba sedikit tentang apa dan siapa Ahlul Halli wal Aqdi dimaksud. Maka dengan Bismillahirrahmanirrahim, saya penuhi tugas beliau itu ala kadarnya.
Semoga bermanfaat.

Ahlul Halli Wal Aqdi
أهل الحل والعقد

Secara bahasa, Ahlul Halli Wal Aqdi berarti “orang yang berwenang melepaskan dan mengikat.” Disebut “mengikat” karena keputusannya mengikat orang-orang yang diangkat Ahlul Halli Wal Aqdi; dan disebut “melepaskan” karena mereka yang duduk disitu bisa melepaskan dan tidak memilih orang-orang tertentu yang tidak disepakati.

Tradisi Ahlul Halli Wal Aqdi dicontohkan oleh sahabat Umar bin Khattab ketika akan meninggal. Dia memilih orang-orang terpercaya sebagai wakil dari kaum Muslimin untuk mencari jalan keluar pasca meninggalnya sang khalifah (Umar bin Khattab). Mereka yang terpilih kemudian bermusyawarah, berdebat, dan memutuskan sesuatu yang harus ditaati anggota Ahlul Halli dan kaum Muslimin. Keputusannya saat itu, diantaranya adalah memilih Utsman bin Affan sebagai pengganti Khalifah Umar bin Khattab.

Tradisi ini semakin dikenal umat Islam setelah para Faqih memformulasikan dalam bentuk ilmu Fikih yang dipelajari oleh kaum Muslimin, seperti yang dilakukan Imam al-Mawardi dalam kitab "al-Ahkam as-Sulthoniyah", demikian juga dengan Ibnu Taimiyyah dalam "Majmu' Fatawa" nya. Al Mawardi memasukkan lembaga Ahlul Halli Wal Aqdi sebagai institusi tersendiri yang berfungsi semacam legislatif disamping institusi-institusi lain yang membantu khalifah dalam menjalankan pemerintahan.

Dalam konsep demokrasi barat, suara ada pada mayoritas rakyat (demos = rakyat, kratos= kedaulatan), kedaulatan suara mayoritas. Sehingga ketika seandainya ada 100 orang, dimana ada 51 orang pemabuk atau penjahat lainnya, dapat saja mereka mengalahkan 49 penentang dari orang baik- baik, pintar dan jujur yang kalah suara, dan hukum sesuai selera pemenang dapat diterapkan.

Apalagi saat ini ketika banyak ditemui kebanyakan sifat masyarakat awam yang sering kurang pikir, gampang dipengaruhi dan suaranya sering dapat dibeli, dan para politikus busuk yang suka berbuat licik dan curang (dan bahkan membawa misi asing), maka sudah barang tentu kebenaran ketika itu dapat dikalahkan, para politikus busuk dibawah kendali kekuatan uang menjadi pemenang, dan itu sudah sering terbukti dan terjadi.

Untuk menghindari itu semua Islam memperkenalkan suatu lembaga perwakilan yang dipercaya masyarakat dengan semua syarat- syaratnya yang berat, agar kelicikan dan kekuatan duit dapat di eliminir. caranya adalah dengan memilih orang- orang yang telah terbukti "Adil" dalam segala sendi- sendi kehidupannya. Mereka disebut sebagai "Ahlul Halli Wal Aqdi".

Dalam UUD 45, para pemikir Indonesia sebenarnya sudah memikirkan hal ini sehingga mereka para pendahulu kita mengadopsi asas "dalam permusyawaratan perwakilan", sebagai pengejawantahan asas Ahlul Halli wal Aqdi. namun sejak reformasi, dimana sejak saat itu pemilihan para pemimpin dipilih secara langsung bukan oleh MPR sebagai representasi Ahlul Halli Wal Aqdi, mulailah para politisi berduit termasuk para politisi busuk dan para politisi yang mengemban kepentingan asing berebut naik tahta, sedang orang baik- baik jujur dan pintar hanya bisa gigit jari karena tak punya dana. Bahkan kejujuran dan kepintaran serta ketenaran mereka sering dimanfaatkan oleh para politikus hanya sekedar sebagai "vote getter", para penggaet suara yang bagaikan daun salam, jika pesta demokrasi usai mereka akan dibuang dalam keranjang sampah.
Oleh karena itu sudah saatnya ummat kembali menaruhkan amanat dan kepercayaan hanya kepada para Ahlul Halli Wal Aqdi. Biarlah para ulama mukhlisin pilihan kita, kita berikan amanat untuk melakukan "bargaining"/ tawar menawar dengan para calon pemimpin. Rakyat hanya memilih para calon yang telah menandatangani "agreement" dengan para Ahlul Halli wal Aqdi demi kepentingan ummat, masyarakat tidak boleh memilih orang- orang yang tidak dipilih oleh para Ahlul halli Wal Aqdi, karena sudah terbukti selama ini pilihan mereka banyak madhorotnya dibanding manfaat yang diperoleh.

Lalu, siapakah Ahlul Halli Wal Aqdi dimaksud? Syekh Al- Mawardy menulis dalam "Ahkaamus Sulthoniyyah":
وأهل الحل والعقد: هم أهل الشأن من الأمراء والعلماء والقادة والسياسة ووجوه الناس.
Ahlul Halli Wal Aqdi adalah bagian dari para pakar urusan ummat dari para Umaro'- Ulama', para pemimpin bangsa dan ahli siyasat/ strategi kemaslahatan ummat.
والشروط التي يجب أن تتوافر فيهم ثلاثة كما قال المارودي في الأحكام السلطانية:

Adapun mereka yang berhak dipilih sebagai Ahlul Halli wal Aqdi, ada tiga syarat utama seperti ditulis oleh Imam Al- mawardi dalam kitab "Al- Ahkaamus Sulthoniyyah", yakni:

1- Adil
1- العدالة الجامعة لشروطها.
والعدالة : من الذين لم يرتكب كبيرة ولم يصر على صغيرة
ﻗﺎﻝ ﺍﻹ‌ﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ رحمه الله ﻓﻲ ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ
: “ﺷﺮﻁ ﺍﻟﻌﺪﺍﻟﺔ: ﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﻜﺒﺎﺋﺮ ﻭﺍﻹ‌ﺻﺮﺍﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﻐﻴﺮة”
Bersifat adil. Adil disini bermakna seseorang yang sudah menjauhkan diri dari dosa besar dan tak bergelimang dalam dosa kecil (Ulama' Sholih), bukan hanya sekedar adil dalam bersikap dalam pemberian dan hukuman.
Demikian sesuai pernyataan Imam Nawawy dalam kitab "Minhajut Tholibin".

2- العلم الذي يتوصل به إلى معرفة من يستحق الإمامة على الشروط المعتبرة في الإمام.
2- Pengetahuan tentang hak- hak dan kewajiban seorang pemimpin, yang memiliki sifat- sifat yang credible bagi seorang pemimpin.

3- Bijak bestari
3-الرأي والحكمة المؤديان إلى اختيار من هو للإمامة أصلح، وبتدبير المصالح أقوم وأعرف.
Pandangan luas dan bijak bestari yang didasari rasa keagamaan Islam yang kuat dalam memilih siapapun pemimpin yang paling membawa maslahat bagi ummat, dan yang paling mampu dan paling adil dalam mengelola kemaslahatan ummat.

Maka dipandang yang memiliki tiga sifat utama ini saat ini adalah para kiyai pondok pesantren tanpa memandang kelompok, partai atau golongan asal memenuhi ketiga syarat diatas, yang sudah terbukti mendarma baktikan segala harta tenaga dan ilmunya untuk pesantren dan pendidikan ummat.

Kepada mereka lah para ulama yang terpilih, kita percayakan amanat ummat untuk memilih siapapun pemimpin muslim yang dianggap mampu menjalankan hak dan kewajiban seorang pemimpin dengan baik. Kita sebagai masyarakat awam "sami'na wa atho'na" kepada pilihan mereka para ulama itu. Masyarakat tetap memilih langsung tapi dengan arahan dan bimbingan serta petunjuk para Ahlul Halli Wal Aqdi, sehingga pilihan kita menjadi sebuah ibadah yang diridhoi Allah SWT.

Semoga negara kita segera mencapai anugerah "Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur" dibawah pimpinan dan arahan para Ahlul halli Wal Aqdi. Amin.

Dari aneka sumber, diantaranya:

الإمامة عند أهل السنة

http://shiaweb.org/shia/aqaed_sunnah_shia/pa20.html



Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah
Khodim Al-Ma'had Al- Islam Terpadu "Al- Khairiyyah"
Griya panorama Indah, Purwasari, karawang, 23/11/2017