MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Senin, 06 Januari 2014

HAFIDZOH DARI CHINA




Inilah wajah- wajah Ibu- Ibu Penghafal Al- Qur'an dari negeri China yang baru saja mendapatkan 
Ijazah/ Syahadah.
Selempang Syahadahnya pakai tulisan mandarin.
Menantang anda para ibu-ibu (dan juga bapak- bapak) Indonesia 
untuk juga menghafal Al- Qur'an.
Jika ibu- ibu Indonesia tidak mampu menghafal 30 Juz, lumayanlah jika hafal Juz 30!!!.

Minggu, 05 Januari 2014

DETIK- DETIK WAFATNYA RASULULLOH




PAGI itu,  Senin 12 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 8 Juni 632 M,

Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah: “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,".

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya tengah menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum… .Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.

“Siapakah itu, wahai anakku?”

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan tangisnya.

Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini. (sepertinya Malaikat Jibril Tidak Sanggup melihat Rasulullah dicabut nyawanya)

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”  Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’,” kata Jibril. Artinya ummat Muhammad Muhammad akan masuk kesurga terlebih dahulu sebelum ummat yang lain.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah mengaduh lirih.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii. ummatii. ummatii.”.. "Ya rob, kutitipkan ummatku, kutitipkan ummatku, kutitipkan ummatku..."

Rasululloh kemudian juga berbisik saat sakaratul mautnya: "An- Nisa', an- nisa'- an- nisa'", artinya: "Lindungi kaum wanita, lindungi kaum wanita, lindungi kaum wanita..."

‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” 

“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku.”

Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan: 

”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”

Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid, karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.

Adapun Umar bin Khathab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui Rabb-Nya.” 

Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada Rasulullah, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” 

Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.” 

‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah manusia yang paling mulia, manusia yang paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi tercinta Rasulullah.

Allahumma shali'alla sayyidina wa mawlana Muhammad....


Kamis, 26 Desember 2013

DAKWAH DENGAN AKHLAQ

DAKWAH DENGAN AKHLAQ

Dari Facebook Abi Azka Ar Rifai
  • Di suatu tempat di Perancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim, ia adalah orang tua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen dimana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama “Jad” berumur 7 tahun.

    Jad si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat dimana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah, setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.

    Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.

    Ibrahim pun menjawab: “Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu!” Jad pun menyetujuinya dengan penuh kegirangan.

    Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi.

    Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.

    Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.

    14 tahun berlalu, kini Jad telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.

    Ibrahim pun akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya dimana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.

    Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak, Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya, dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.

    Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.

    Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.

    Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.

    Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, “Buku apa ini !?”

    Ia menjawab : “Ini adalah Al-Qur’an, kitab sucinya orang Islam!”

    Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,

    Jad lalu kembali bertanya: “Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?”

    Temannya menjawab : “Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!”

    Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!

    Jadullah seorang Muslim.

    Kini Jad sudah menjadi seorang muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur’an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur’an.

    Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur’an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.

    Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :

    ((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ…!!))

    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!…” (QS. An-Nahl; 125)

    Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.

    Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang diantaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zolo, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.

    Akhir Hayat Jadullah

    Jadullah Al-Qur’ani, seorang muslim sejati, da’i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

    Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.

    Kisah pun belum selesai

    Ibu Jadullah Al-Qur’ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.

    Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.

    Kemudian yang menjadi pertanyaan: “Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?”

    Jadullah Al-Qur’ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: “Hai orang kafir!” atau “Hai Yahudi!” bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: “Masuklah agama islam!”

    Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur’an.

    Kemudian dari kesaksian DR. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur’ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani.

    Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani. Dan Jadullah Al-Qur’ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.
    - See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/03/01/18487-kisah-seorang-yahudi-yang-mengislamkan-jutaan-orang-kisah-seorang-yahudi-yang-mengislamkan-jutaan-orang.html#sthash.m2mSbTjU.dpuf


Jumat, 20 Desember 2013

MENGENANG 9 TAHUN TSUNAMI ACEH


MENGENANG 9 TAHUN TSUNAMI ACEH

INDONESIAKU MENANGIS
Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah


Foto: Serangan Tsunami


Dipagi yang cerah itu
Minggu, Dua enam, Dua belas, Nol empat
Tidak seorangpun menyangka
Bencana datang tiba- tiba
Bumi bergetar
Ombak menggelegar
Hingar bingar
Gempar!

Semuanya terperangah
Terkejut
Terhentak
Terhenyak
Terkoyak
Luluh lantak dalam terjangan ombak

Menangis, menjerit, lari, lari, lari
Semuanya berbaur dalam histeri
Korban- korban berjatuhan
Tubuh- tubuh bergelimpangan
Pohon, bangunan, berantakan
Sawah, ladang bak lautan
Harta benda tak bertuan

Semuanya terpana
Semuanya terkesima
Semuanya tak menyana
Bencana datang begitu tiba- tiba

Ya Tuhan, Engkau sedang tunjukkan keperkasaan Mu
Dalam kedahsyatan alam ciptaan Mu
Dan betapa tiada berdayanya hamba- hamba Mu
Yang sering durhaka dan menantang Mu
Adakah ini kemurkaan Mu?
Ataukah ujian untuk para kekasih Mu?
Agar tercatat diantara para Syahid Mu?
Nabire, Alor, dan kini Aceh dalam cobaan Mu?

Ya Rob, kini dalam suasana duka
Diantara wajah- wajah kosong nan hampa
Dan berbaurnya bau anyir bangkai manusia
Dalam kesedihan tiada tara
Diantara isakan tangis duka Indonesia
Kami sujud kehadirat Mu seraya berdo’a

Hanya kepada Mu lah, ya Alloh, segala harapan
Limpahkan tuk mereka kesabaran
Teguh, tegar dalam cobaan
Untuk meraih kembali masa depan
Bangkit kembali dari puing kehancuran

Ya Allah, catatlah yang gugur sebagai syuhada
Karuniai mereka anugerah sorga
Bangkit kembali Sang Iskandar Muda
Benteng Barat Bangsa Indonesia










Rabu, 11 Desember 2013

FESTIVAL QIRAATI NASIONAL 2013 DI SEMARANG


SUKSESKAN: 
FESTIVAL QIRAATI NASIONAL 
22 ~ 25 DESEMBER- 2013
DI SEMARANG, JAWA TENGAH

FESTIVAL SEBAGAI AJANG SILLATURRAHIM 
DAN EVALUASI PEMBELAJARAN AL- QUR'AN.

SAKSIKAN PENAMPILAN KEMAHIRAN ANAK- ANAK DIBAWAH UMUR 9 TAHUN
DALAM TAHFIDH, PENGUASAAN TILAWAH 
DAN ILMU AL- QUR'AN.

GAMBAR: ANAK QIRAATI 5 TAHUN BACA ALQUR'AN





MIT Al- Khairiyyah - Griya Panorama Indah, Purwasari,perwakilan  Karawang//Kontingen Jawa Barat

Kamis, 05 Desember 2013



HURUF MUQOTTHO'AH PADA PEMBUKA SURAT DI ALQUR'AN
Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah





Pada beberapa surat, seperti pada Surat Al- Baqoroh, atau pada Surat Ya Sin, pada awal surat (Fawatihus Suwar) dimulai dengan Huruf Hijaiyyah yang terpotong potong (  ﺤﺮﻭﻒ ﺍﻟﻤﻗﻂﻌﺔ ). Maksud dan tujuan serta makna dari potongan huruf Hijaiyyah tersebut, hanya Allah yang tahu. Ada beberapa Ulama' yang mencoba mencari tahu rahasia dibalik tulisan- tulisan tersebut. Namun yang paling selamat adalah menyerahkan sepenuhnya makna dan maksudnya kepada pengetahuan Allah (Alloohu A'lamu Bi Muroodih).

Banyak para pembaca Al- Qur'an (bahkan yang sudah berani mengajar), ternyata salah ketika membaca huruf Muqottho'ah tersebut, karena mereka belum pernah belajar kepada seseorang yang bersyahadah/ bersambung SANAD nya kepada Rasululloh atau kepada orang yang layak mengajarkan Al- Qur'an.

Ada juga yang membacanya dengan cara berlebihan tidak sesuai Luhun Al- Arob. Padahal menurut Imam Sakhowy, ketika membaca Al- Qur'an: WAZIYAADATUHU KA NUQSHOONIHI - berlebihan dalam standar baca Alqur'an  sama saja dengan membaca dengan kekurangan.dari standar baca yang benar.

Walaupun penulis mencoba menjelaskan tentang  bagaimana cara membaca huruf Muqottho'ah tersebut melalui tulisan ini namun kepada mereka yang ingin membaca Al- Qur'an dengan benar, tetap harus belajar dan menyaksikan bacaannya kepada seorang guru Al Qur'an yang telah bersyahadah. Ingat, Nabi Muhammad saja diperiksa bacaannya tiap bulan Romadhon oleh Malaikat Jibril Alaihis Salam.

Tentang huruf Muqottho'ah ini memang tampaknya sederhana dan mudah, namun dari pengalaman penulis, cukup lama seorang santri agar dapat membaca huruf Muqottho'ah dengan benar. Bahkan kita bisa mengetahui apakah seseorang benar- benar telah mempelajari Al- Quran dengan baik, hanya dengan cara mendengarkan bagaimana seseorang membaca Huruf Muqottho'ah pada Fawatihus Suwar tersebut.

Adapun beberapa aturan dasar Tajwidnya adalah sebagai berikut:

1. Huruf Muqottho'ah pada Fawatihus Suwar huruf- hurufnya HARUS DIBACA SESUAI ASMA’UL HURUFNYA.

Misal:

dibaca ALIF – bukan A.

dibaca Lạạạạạạm – bukan La

dibaca Mịịịịịịm – bukan Ma , 


seperti pada:

الم (dibaca: Alif lạạạạạạmmmịịịịm)

ك\ﻛ dibaca Kạạạạạạf, hati- hati akhiran Fa’nya – bukan Ka

dibaca Hạạ

dibaca Yạạ

dibaca Aịịịịịịn – bukan ‘A.

dibaca Shọọọọọọd, bukan Shoo ( perhatikan dengan Qolqolah nya "dal").

Seperti pada:

كهيعص

Dibaca: كآف ها يا عين صآد (Kạạạạạạf Hạa Yạạ ‘Aịịịịịnnn Shọọọọọd.)

(Perhatikan mana huruf yang harus dibaca panjang 3 alif, mana huruf yang harus dibaca panjang satu alif saja sesuai pelajaran sebelumnya, mana yang dengung, mana yang idhar)


2. Huruf- huruf : Ha ()  Ya ( )  Tho  (  )  Ha ( )  Ro  ( ), 
Disingkat: حي طهر

 harus dibaca panjang satu Alif/ dua harokat, dan harus tidak ada kesan ada huruf hamzah diakhirannya.


3. Huruf- huruf yang berakhiran SELAIN HAMZAH  pada Asma'ul Hurufnya harus tetap dibaca akhiran nya seperti: 
 Nun (ﻨﻮﻦ) - Qof (ﻗﺎﻒ)- Shod (ﺼﺎﺪ)- ‘Ain (ﻋﻴﻦ)- Sin (ﺴﻴﻦ) - Lam (ﻻﻡ) - Kaf (ﻜﺎﻒ) - Mim (ﻤﻴﻢ) 
Disingkat:             نقص عسلكم  

4. Semua huruf yang tertera pada point 3 ( نقص عسلكم  ) harus dibaca mad  panjang  3 alif /6 harakat. (Kecuali huruf 'Ain, disana ada ikhtilaful ulama')

5.  Sifat- sifat hurufnya juga harus dijaga seperti Qolqolahnya huruf Shod atau hams nya huruf Kaf.

Kecuali yang berakhiran HAMZAH, seperti:

حاء - ياء - طاء - هاء - راء , pada point 2 diatas,  maka suara hamzahnya harus hilang.


misalnya pada tulisan يس - maka harus dibaca: Yạạ Sịịịịịịn , (tidak ada suara hamzah dibelakang suara Ya)
Tidak boleh dibaca: Ya’ Sịịịịịịn.(ada suara hamzah dibelakang suara Ya) walau pada asma'ul hurufnya ada hamzah.

6. Pada Huruf Muqottho'ah Fawatihus Suwar tersebut, TETAP BERLAKU HUKUM TAJWID, seperti Ikhfa’ Idlhar Syafawi atau Ghunnah nya.

Seperti tulisan الر - dibaca dengan: الف لام را

Maka pada tatkala membaca Lạạạạạm, maka Mim nya harus Idzhar karena Mim sukun itu Idzhar Syafawi tatkala bertemu Ro’ (huruf selain Mim dan Ba’). Lihat pasal Idzhar Syafawi.

Demikian juga pada tulisan المص dibaca

الف لام ميم صاد 

(Alif Lạạạạạạm...ịịịịịịm Shọọọọd.) Dengan dengung Mim nya yang pertama karena Mim sukun bertemu Mim (Idghom Mitsli) dan dibaca Idzhar Mim terakhirnya karena Mim Sukun bertemu huruf Shod.

Juga seperti tulisan عسق dibaca : عين سين قآف maka Nun nya huruf Ain dan Nun nya huruf Sin harus dibaca Ikhfa’ dengan dengung 1 ~ 1 ½ alif karena ada Nun Sukun bertemu Sin dan bertemu Qof.

6. Huruf Muqotto'ah  bisa disambung dengan ayat berikutnya. Ketentuan dan cara menyambungnya insya Allah akan dibahas dalam kesempatan berikutnya.


Silahkan lihat penjelasan Syekh Ayman Rushdi Suwayd tentang Huruf Muqottho'ah melalui video dibawah ini: