MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Kamis, 06 Maret 2014

SULTAN QUTUZ, Sejarah » Kekalahan Dan Kemenangan Kaum Muslimin Atas Tentara Tartar Mongol, Antara Khurosan, Baghdad dan Ain Jalut

SULTAN QUTUZ: Kekalahan Dan Kemenangan Kaum Muslimin Atas Tentara Tartar Mongol, Antara Khurosan, Baghdad dan Ain Jalut



Gempuran Tatar ke Negara- Negara  Islam (617 H dan 628 H)

Peristiwa- peristiwa serial penyerbuan tentara Tartar Mongol meninggalkan kepedihan mendalam bagi ummat Islam, dimana lebih satu jiwa kaum muslimin dibantai dengan amat kejam oleh tentara Tartar dan sekutunya.
Serangan Tatar ke atas umat Islam yang kala itu di bawah pimpinan kerajaan Abbasiah sebenarnya tidak terjadi  hanya pada tahun 656 H di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad. Sebaliknya sebelum itu sudah ada dua serial serangan pendahuluan  Tatar yaitu pada tahun 617 H dan 628 H, ke negeri- negeri penyangga Baghdad.
Serangan pertama Tatar ke atas umat Islam terjadi pada tahun 617 H – 620 H di bawah pimpinan Genghis Khan. Serangan kali pertama ini sebab – musababnya yang diperselisihkan oleh ahli sejarah Islam. Menurut  Dr. Raghib as-Sarjani lebih cenderung untuk mengatakan bahwa niat untuk menjatuhkan kerajaan Abbasiah memang telah wujud di dalam hati Genghis Khan sejak sekian lama.
Oleh karena jarak yang jauh dari bumi China ke bumi Iraq (lebih dari 7000 km), Genghis Khan menumpukan serangan pertamanya pada kali ini ke atas bumi Afghanistan dan Uzbekistan, yang   dipilih karena ia mempunyai sumber alam bahan logistik yang banyak dan amat sesuai untuk dijadikan pengkalan tentara Tatar untuk melakukan serangan gelombang demi gelombang.
Serangan pertama ini sukses. Tatar berhasil menapakkan kakinya di bumi tersebut dan bumi sekitarnya (Turkimenistan, Kazakhastan, Tajikistan, Pakistan dan sebahagian dari Iran). Kesemua negara-negara ini dahulunya dikenali sebagai Daulah Khawarizmiah atau daerah Khurosan Kubro. Hasil dari keberhasilan ini, pemerintahan Tatar mulai kokoh di kawasan tersebut. Mereka mempunyai pangkalan dan pusat komando mereka di tengah-tengah kerajaan Islam.
Serangan kedua Tatar atas umat Islam pula terjadi pada tahun 628 H. Pada tahun 624 H, pada saat Genghis Khan telah digantikan oleh seorang lagi raja Tatar yang tidak kurang bengisnya yaitu Okitai. Kerajaan Tatar di Mongolia dan China pada masa itu berada dalam keadaan stabil dan kuat. Keadaan ini memberikan banyak kelebihan kepada Okitai.
Lalu dimulailah serangan kedua Tatar ke atas umat Islam sebagai menyambung serangan yang pertama di zaman Genghis Khan. Serangan pada kali ini diutamakan  di sekitar tanah Rusia dan Eropa. Okitai melantik panglima perangnya, Syurmajan untuk mengepalai serangan pada kali ini.

Keadaan Kaum Muslimin Saat Itu: Cinta Dunia dan Takut Mati

Suasana bertambah buruk pada serangan kedua ini karena pimpinan Islam pada masa itu berada dalam keadaan berpecah belah. Saat itu sebahagian umat pula telah mulai menunjukkan sikap pengecutnya dan tidak berani untuk melancarkan jihad sebagaimana keadaannya di prediksi oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadistnya:
Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)
 Ibnu al-Athir di dalam kitabnya al-Kamil meriwayatkan beberapa cerita yang didengarnya daripada sebahagian umat Islam yang berhasil lolos dari pembantaian pada serangan kedua ini.

Di antaranya:

a. Ada seorang tentera Tatar masuk ke dalam sebuah perkampungan seorang diri. Kemudian dia membunuh penduduk kampung tersebut seorang demi seorang tanpa mendapat tentangan dari siapa pun.
b. Seorang tentera Tatar menangkap seorang muslim. Oleh kerana tentera Tatar tersebut tidak bersenjata, dia telah memerintahkan pemuda muslim tadi agar menelungkupkan mukanya ke tanah dan tidak bergerak, untuk menunggu tentera Tatar tersebut pulang mengambil senjata dan kemudian datang kembali lalu membunuh pemuda tersebut.
c. Tentera Tatar memasuki kota Badlis (sekarang berada di selatan Turki). Jalan lewat ke kota tersebut adalah lembah di celah-celah bukit yang sungguh sempit. Yernyata tidak ada seorang pun tentera Islam yang berhasil melepaskan diri dari serangan Tatar di kota tersebut. Penduduk kota tersebut pun melarikan diri ke atas bukit dan membiarkan Tatar membakar keseluruhan kota tersebut. Padahal, jika tentara muslimin tidak ciut nyalinya, amat mudah menghacurkan tentara Tartar dilembah yang sempit itu.
 Serangan Ketiga (656 H) dan Kejatuhan Baghdad
Kerajaan Tatar pada masa itu dibagi menjadi tiga wilayah utama. Sebahagian ahli sejarah menamakannya ‘segitiga emas’. Raja Tatar pada masa ini adalah Manku Khan, seorang lagi Raja Tatar yang berjiwa keras dan mempunyai semangat yang kuat. Beliau memerintah ibu negara kerajaan Tatar, Qaraquram dengan dibantu oleh adiknya Ariq Bufa. Seorang lagi adiknya yaitu Qubilai mememerintah jajahan Tatar di sebelah Timur (meliputi China, Korea dan bumi sekitarnya). Sedangkan jajahan Tatar di sebelah Iran dan bumi sekitarnya diserahkan kepada adiknya Hulagu, nama yang tidak asing bagi umat Islam.
Manku Khan ingin meneruskan misi Tatar yang sebelumnya yaitu menjatuhkan kota Baghdad dan menyerang bumi Syam (Palestina, Syria, Jordan dan Lebanon) dan juga Mesir. Tugas ini telah disandarkan kepada Hulagu, pahlawan Tatar yang mabuk darah manusia dan dianggap sebagai jelmaan Genghis Khan. Dr. Raghib Sarjani menganggapnya sebagai manusia paling ganas sepanjang sejarah dunia. Kejahatannya itu makin bertambah setelah beliau kawin dengan Taqazkhatun, permaisuri Mongolia beragama Kristian yang amat membenci umat Islam.
Oleh karena Baghdad adalah ibu negara kerajaan Islam Abbasiah, persiapan yang dilakukan oleh Hulagu dalam serangan ini agak teliti dan hati- hati. Tentera Tatar telah dipecahkan kepada tiga kelompok dan nanti akan datang menyerang dari tiga arah yang berlainan.
a. Pasukan pertama dipimpin oleh Hulagu sendiri. Ia dibantu oleh tentera elit Tatar dibawah pimpinan Bato. Misi pasukan pertama ini adalah mengepung bahagian timur kota Baghdad.
b. Pasukan kedua dipimpin oleh Katabgha (Nestorian Christian Naiman Turk Kitbuqa Noyan.), pahlawan Hulagu yang terbaik keturunan Turki dan beragama Kristen. Tugas pasukan ini adalah mengepung bahagian tenggara kota Baghdad. Katabgha jugalah yang memimpin tentera Tatar melawan Saefuddin Qutuz di dalam peperangan Ain Jalut yang terkenal itu.
c. Pasukan ketiga pula dipimpin oleh Bigo. Pasukan ketiga ini adalah tentera yang menjaga sempadan Anadol/ Anatolia (sekarang di Turki). Tugas pasukan ini adalah untuk mendatangi Baghdad dari arah utara dan seterusnya mengepung bahagian barat kota Baghdad.
Pasukan gabungan dibawah Hulagu ini juga diperkuat  oleh beberapa pasukan Kristen, yang telah berhasil dirayu oleh Hulagu untuk bersama- sama mengalahkan Baghdad,  termasuk pasukan dibawah pimpinan langsung Raja Armenia, kontingen Frank dari Kerajaan Antiokhia, [19] dan kekuatan Georgia yang merasa dendam atas beberapa kekalahan yang mereka derita dari dynasty Abbasiyah sebelumnya. Serta diperkuat oleh 1000 orang ahli- ahli artillery dari China. Seluruh pasukan koalisi ini berkisar 120.000 ~ 140.000 pasukan melawan 50.000 pasukan Abbasiyah yang mempertahankan kota Baghdad.
(Lihat The Fall Of Baghdad. Wikipedia)

Ketelitian perancangan Hulagu bisa dilihat dari beberapa sudut:

a. Pasukan pertama dan kedua yang datang dari jarak 45o kilometer sebelum kota Baghdad dengan cara kamuflase, sehingga Hulagu berjaya mengaburi mata kerajaan Abbasiah sehingga tentera kerajaan Abbasiah hanya dapat mengetahui kedatangan tentera itu ketika mereka tinggal beberapa kilometer dari kota Baghdad (atau karena Baghdad sudah terlalu makmur sehingga meninggalkan kewaspadaan terhadap serangan musuh?)
b. Pasukan ketiga datang dari jarak 1,000 kilometer sebelum kota Baghdad. Tetapi pasukan ini berhasil sampai tepat pada masa yang ditentukan untuk bergabung dengan kedua-dua pasukan yang lain.
c. Pasukan ketiga terpaksa melewati 1,000 km perjalanan di bumi Turki dan Iraq (kedua-duanya adalah bumi Islam). Perjalanan ini akan melewati perkampungan Islam dan kemungkinan terpaksa berhadapan dengan pertempuran awal. Amat menakjubkan apabila mereka berhasil berjalan tanpa disadari oleh orang Islam dan tanpa gangguan kecuali setelah mereka berada pada jarak 50 km dari kota Baghdad di sebelah Barat Daya. Keberhasilan ini setelah mereka sukses menyogok  Gubernur Anadol, yakni Qalaj Arsalan dan Gubernur Mosul, Badruddin Lu’lu’ sehingga kedua-duanya tercatat telah bertindak mengkhianati umat Islam.
Maka terjadilah peperangan. Jatuhlah kota Baghdad dengan segala cerita duka di dalamnya. Menurut Abul Hasan Ali an-Nadwi, umat Islam yang terbunuh di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad tersebut adalah 1,800,000 orang. Satu angka yang cukup menakutkan siapapun yang mencoba membayangkannya. Darah mengalir di jalanan. Buku-buku dicampakkan ke dalam sungai Dajlah dan semua itu diperkirakan berjumlah sebanyak dua juta naskhah buku. Ahli sejarah menganggap itu sebagai awal kemunduran umat Islam sesudah itu. Semua itu berlaku dalam masa 40 hari yang penuh kengerian dan bersimbah darah.

Kejatuhan Syam

Kejatuhan Baghdad bukan akhir bagi penderitaan umat pada ketika itu. Sebaliknya umat semakin menderita dengan sikap sebahagian raja dan ulama’ Islam pada masa itu yang sanggup menggadaikan agama semata-mata untuk mendapat jaminan kehidupan dan keamanan dari Tatar.
Siapakah yang tidak sedih bila melihat sebahagian raja Islam menghulurkan tangan persahabatan dengan Hulagu sedangkan darah jutaan umat Islam masih lagi belum kering? Raja Mosul, Badruddin Lu’lu’ menghulurkan tangan persahabatan dengan Hulagu. Begitu juga Kaikawis II dan Qalaj Arsalan, Raja Anadol. Raja Halab dan Damsyik, al-Nasir Yusuf juga mengambil langkah sama. Raja-raja itu telah membuka Iraq Utara, sebahagian Syam dan Turki kepada Tatar tanpa peperangan. Tidak cukup hanya itu, tanggungan umat semakin berat apabila menyaksikan sebahagian ulama’ pada masa itu mengeluarkan fatwa mengharuskan perjanjian damai tersebut dengan hujah-hujah dan dalil- dalil  yang amat mereka selewengkan.
Hanya seorang Raja di daerah tersebut yang mengumumkan jihad. Raja tersebut adalah Al-Kamil Muhammad al-Ayubi, Raja Miyafarqin. Miyafarqin adalah kota yang sekarang ini terletak di timur Turki menuju ke sebelah barat Turki. Tentera Raja Al-Kamil Muhammad al-Ayubi menguasai timur Turki, barat laut Iraq dan timur laut Syria.
Tetapi kegilaan Tatar mengatasi segala-galanya. Bandar Miyafarqin dikepung dan akhirnya jatuh. Begitu juga dengan bandar Halab. Bandar Damsyik juga jatuh. Puncaknya adalah penjajahan Tatar ke atas bumi Palestina.

Mesir, Titik Balik Kemenangan Kaum Muslimin

Ketika Tatar sedang mempersiapkan serangannya ke atas umat Islam, Mesir kala itu berada dalam krisis yang amat runcing. Ia berada di bawah pemerintahan kerajaan Mamalik dan melalui satu pergolakan politik yang amat dahsyat. Kerajaan Mamalik Bahriah (salah satu periode dalam kerajaan Mamalik) memerintah Mesir selama 144 tahun. Dalam tempo tersebut Mesir diperintah oleh 29 orang sultan (berarti tiap sultan memerintah kurang lebih 5 tahun).  Satu jumlah yang banyak untuk pemerintahan selama satu setengan abad. Dari 29 orang sultan tersebut, 10 daripadanya mati dibunuh dan 12 daripadanya digulingkan. Ini jelas menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan dan kekerasan adalah asas perubahan di dalam kerajaan Mamalik.
Setelah fasa Mamalik Bahriah, menyusul pula fasa Mamalik Muizziah. Pemerintah awal di periode  ini adalah Raja Izzuddin Aibak. Beliau berhasil mengembalikan kestabilan politik kepada Mesir. Tetapi kestabilan itu hanya bertahan selama tujuh tahun. Keadaan kembali kucar kacir selepas pembunuhan beliau dan seterusnya pembunuhan isterinya, Syajarah ad-Dur. Setelah bertukar ganti pemerintah, akhirnya Mesir diperintah oleh Sulthan Mudhoffar Saifuddin Qutuz
 (ﺴﻴﻑ ﺍﻟﺩﻴﻥ ﻗﻄﺯ), Sang Penakluk Tartar.
Pembunuhan Raja Izzudin Aibak dan isterinya telah membawa kepada perselisihan di antara Mamalik Bahriah (penyokong kerajaan lama) dan Mamalik Muizziah (kerajaan baru yang diperintah oleh Qutuz) dan permusuhan itu masih berterusan di zaman Qutuz. Sebahagian penyokong Mamalik Bahriah mengambil sikap berpindah mengungsi ke bumi Syam dan lain-lain tempat yang dipandang aman. Manakala yang tinggal menetap di Mesir mengambil sikap mengasingkan diri. Ini menjadikan Mesir lemah dari sudut pertahanan karena pasukan tentera Mesir masih tetap loyal dan mendukung kepada Mamalik Bahriah
Di masa yang sama, serangan Tatar ke atas bumi Syam telah memutuskan hubungan Mesir dan Syam. Mesir juga tidak mendapat bantuan dari Sudan dan negara-negara di utara Afrika Islam lainnya karena ngeri melihat pembalasan pasukan Mongol. Ini menjadikan Mesir seolah-olah seorang diri di tengah-tengah krisis yang berlaku di seluruh negara Islam.
Keadaan menjadi semakin buruk apabila Mesir juga pada masa itu ditimpa krisis ekonomi. Berkali- kali perang Salib yang berlaku sebelum itu telah melumpuhkan ekonomi Mesir. Memang sebahagian dari lokasi perang salib adalah di bumi Mesir. Tentera Mesir juga adalah tentera yang paling banyak terlibat di dalam perang salib disbanding dari tempat lain. Ketika itu, Pahlawan Perang Salib yakni Solahudin Ayubi menjadikan Mesir sebagai salah satu benteng pertahanannya.
Disamping sebahagian tentera Salib yang masih ada di bumi Islam, masalah ditambah lagi dengan kedatangan musuh baru Islam yaitu Tatar.

Qutuz, Penyelamat Ummah

Quthbuddin Al Yunaini di dalam Al Bidayah Wan Nihayah(bab 658 H) mengatakan : Qutuz(sebelum menjadi raja) pernah bermimpi, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengatakan kepadanya bahwa dia akan menguasai Mesir dan memenangkan Perang melawan Tatar(Mongol)”
Qutuz  menaiki tahta Mesir pada 24 Zulqaedah 657 H.
Sebelum beliau menaiki tahta Mesir, Serangan pertama Tatar (617 H), dan  serangan kedua Tatar (628 H) dan disusul kejatuhan Baghdad (656 H) telah pun terjadi dan meninggalkan kesan yang amat parah kepada umat Islam di luar Mesir. Selepas beliau menaiki tahta Mesir pula, Halab jatuh ke tangan Tatar pada Safar 658 H dan Damsyik jatuh pada Rabi’ul Awal 658 H menjadikan keadaan di luar Mesir bertambah gawat. Kejatuhan Palestina secara keseluruhannya juga berlaku pada masa yang hamper bersama-an. Perlu diketahui bahwa Mesir berbatasan dengan Palestina di sebelah timur Mesir pada Kota Gaza.
Demikianlah kita melihat Qutuz terbebani dengan satu masalah yang cukup berat. Sasaran Tatar seterusnya adalah Mesir sedangkan Mesir sebenarnya  tidak bersedia untuk menambah masalah baru disamping masalah-masalah intern dalam negeri yang gawat.
Sikap yang ditunjukkan oleh Qutuz amat membanggakan umat Islam pada ketika itu. Sikap itu terus menerus menjadi puncak kepada kehebatannya pada pandangan mata umat sepanjang zaman. Qutuz mengambil keputusan untuk menghadapi Tatar dan tidak akan lari seperti mana yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam. Dia juga mengambil sikap tidak akan menghulurkan perdamaian kepada Tatar sebagai mana yang menjadi pilihan sebahagian Raja-raja Islam ketika itu.

Tiga Langkah Awal

Qutuz mengambil tiga langkah awal sebelum melancarkan peperangan melawan Tatar. Ketiga-tiga langkah ini dilihat amat berkesan dan menjadi sumber kekuatan kepada tentera Islam pada ketika itu.
Langkah pertama yang diambil oleh Qutuz adalah mengembalikan kestabilan keadaan dalam negeri  Mesir. Beliau memanggil golongan istana, pembesar-pembesar, menteri-menteri, ulama’-ulama’ dan golongan berpengaruh di dalam masyarakat. Beliau berkata kepada mereka: “Apa yang aku inginkan dari semua pejabat ini hanyalah agar kita bersatu untuk melawan Tatar. Urusan itu tidak akan mampu diselesaikan tanpa Raja. Apabila kita berhasil keluar dari masalah ini dan mengalahkan Tatar, urusan ini terletak di tangan kamu semua. Pilihlah oleh kalian siapa yang kamu kehendaki untuk menjadi pemerintah.”
Ucapan Qutuz tersebut telah meredakan ketamakan sebahagian dari pembesar yang berniat untuk merampas tahta Mesir dari tangan Qutuz.
Di masa yang sama beliau telah memecat Menteri, Ibnu binti al-A’az dan menggantikannya dengan Zainuddin Ya’kub bin Abd Rafi’. Ini karena beliau lebih meyakini kesetiaan Zainuddin Ya’kub daripada Ibnu binti al-A’az. Kemudian beliau mengekalkan Farisuddin Aqtai as-Soghir sebagai panglima tentera walau pun beliau adalah loyalis Mamalik Bahriah.
Langkah kedua yang telah dilakukan oleh Qutuz adalah memberikan pengampunan kepada semua penyokong Mamalik Bahriah. Perselisihan yang berlaku sebelum ini yang berpuncak dari pembunuhan Raja Izzuddin Aibak ingin segera dihentikan oleh Qutuz dengan cara pemberian amnesty kepada mereka.
Mamalik Bahriah mempunyai pengalaman yang luas di dalam medan peperangan. Di antara kehebatan yang pernah mereka tunjukkan adalah kemenangan mereka di dalam Perang Mansurah (salah satu siri perang Salib) pada tahun 648 H. Pengampunan itu telah berhasil membujuk mereka yang telah keluar meninggalkan Mesir untuk kembali ke Mesir. Rombongan penyokong Mamalik Bahriah kembali berduyun- duyun  ke Mesir dari bumi Syam, Karak (di Jordan sekarang) dan bumi kerajaan Saljuk. Dengan itu Mesir sukses mendapatkan kembali kekuatan tenteranya.
Langkah ketiga yang diambil oleh Qutuz adalah mengusahakan penyatuan semula antara Mesir dan Syam. Seperti yang diceritakan sebelum ini, Raja Damsyik dan Halab (sebahagian dari bumi Syam) iaitu Raja Nasir al-Ayubi telah melakukan perjanjian damai dengan Tatar. Perjanjian itu tidak berhenti sekedar memohon perdamaian, bahkan Raja Nasir al-Ayubi pergi lebih jauh dari itu dengan meminta bantuan Tatar untuk menjatuhkan Mesir. (Hal seperti ini pula yang dilakukan para penguasa Spanyol Islam yang saling menjatuhkan dengan meminta pertolongan pada Raja Kafir untuk menjatuhkan rivalnya sehingga akhirnya Kerajaan Cordoba Islam pecah berkeping- keeping dan musnah dari Spanyol).
Qutuz menulis surat kepada Raja Nasir al-Ayubi memohon penyatuan Mesir dengan Syam. Bahkan beliau menyatakan kesanggupannya untuk duduk di bawah Raja Nasir al-Ayubi. Malangnya surat tersebut tidak dilayani.
Tetapi apabila Damsyik dan Halab ditaklukkan oleh Tatar dan selepas Raja Nasir al-Ayubi lari menyelamatkan diri ke Karak, tentera Syam yang tersisa telah bergerak menuju ke Mesir dan bergabung dengan tentera Mamalik. Kesatuan ini menambahkan lagi kekuatan Mesir dan memberikannya satu semangat yang cukup kuat untuk berhadapan dengan Tatar.
Ketiga-tiga langkah ini telah memberikan Mesir satu kekuatan baru pada awal tahun 658 H. Di sini terlihat  kepada kita kecerdikan dan kesungguhan Qutuz. Ketiga-tiga langkah awal yang mungkin memerlukan masa yang panjang untuk dicapai, telah berhasil diselesaikan oleh Qutuz dalam masa tidak sampai tiga bulan saja dari tarikh beliau menaiki tahta Mesir.

Disimpulkan bahwa keadaan dunia Islam pada awal tahun 658 H adalah:

a. Mesir berhasil mendapatkan kekuatannya kembali dibawah kepemimpina Qutuz
b. Baghdad, Halab dan Damsyik telah  jatuh ke tangan Tatar disamping negara-negara lain yang telah jatuh sebelumya (Daulah al-Khowarizmiah, Daulah Arminiah, Daulah Karjiah)
c. Palestina secara keseluruhannya telah jatuh ke tangan Tatar termasuk Gaza yang terletak hanya 35 kilometer dari perbatasan Mesir

Surat Ancaman Hulagu

Ketika Mesir masih lagi di peringkat awal untuk mempersiapkan dirinya, empat orang wakil Hulagu telah datang memberikan surat perutusan dari beliau. Wakil tersebut datang beberapa hari selepas kejatuhan Halab (Safar 658 H), yaitu hanya tiga bulan selepas Qutuz menaiki tahta Mesir (Zulqaedah 657 H).
Surat tersebut telah melecehkan kekuatan tentera Islam dan memberikan dua kata pilihan kepada Qutuz; menyerah atau berperang. Sebahagian dari pembesar pada masa itu mulai merasa takut dan ingin menarik diri karena persiapan Mesir pada ketika masih lagi tidak seberapa jika dibandingkan dengan Tatar yang menguasai satu kawasan jajahan yang cukup luas (dari Korea ke Polandia hari ini).

Diantara bunyi surat dari Hulagu adalah sebagai berikut:

Dari Raja segala raja dari Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Qutuz Mamluk, yang melarikan diri untuk menghindari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang telah terjadi pada negara-negara lain yang telah menyerah kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kita telah menaklukkan sebuah kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang (musuh- musuh kami) yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah yang luas, membantai semua orang. Anda tidak bisa lepas dari teror tentara kami. Di mana Anda dapat melarikan diri? Apa jalan yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri kita? Kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kita seperti petir, hati kita sekeras pegunungan, tentara kita banyak seperti pasir. Benteng tidak akan dapat menahan kami, ataupun  tentara dapat menghentikan kita. Doa Anda kepada Allah akan sia-sia melawan kita. Kami tidak tergerak oleh air mata atau tersentuh oleh ratapan. Hanya mereka yang mohon perlindungan kita akan aman. Percepat balasan Anda sebelum api peperangan menyala. Jika anda melawan anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid dan mengungkapkan kelemahan Allahmu dan kemudian akan membunuh anak-anakmu dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Anda adalah satu-satunya musuh terhadap siapa kita harus berbaris. [·  ·  ^ Tschanz, David W.. “Saudi Aramco World : History’s Hinge: ‘Ain Jalut”.)

Qutuz mengumpulkan pembesar-pembesar dan panglima-panglima perangnya lalu berkata kepada mereka:

“Wahai pimpinan muslimin! Kamu diberi gaji dari Baitul Mal sedangkan kamu tidak suka berperang. Aku akan pergi berperang. Sesiapa yang memilih untuk berjihad, temankan aku. Sesiapa yang tidak mahu berjihad, baliklah ke rumahnya. Allah akan memerhatikannya. Dosa kehormatan muslimin yang dizalimi dan diperkosa akan ditanggung oleh orang yang tidak turut berjihad.”
Kata-kata beliau telah menyentak dan menyadarkan kembali pembesar-pembesar Mesir ketika itu. Mereka bukan berhadapan dengan dua pilihan yang diberikan oleh Hulagu, tetapi mereka berhadapan dengan pilihan yang diberikan oleh Allah terhadap mereka. Jihad pada ketika itu adalah fardhu dan mereka tidak ada pilihan selain dari itu.
Setelah berunding dengan semua pembesar, akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh keempat-empat utusan tersebut. Kepala mereka telah digantung di tengah kota Kairo di gerbang Zuwaila.
Perbuatan ini yang bertujuan untuk menegaskan keberanian tentera Islam untuk berhadapan dengan Tatar telah mendapat kritikan sebahagian dari pengkaji sejarah. Mereka berpendapat bahwa tidak terdapat sebab yang kuat untuk Qutuz membunuh kesemua utusan tersebut karena Islam adalah agama yang tidak membenarkan utusan perang dibunuh.Walau pun begitu ada juga yang mengandaikan kemungkinan berlaku beberapa peristiwa yang membawa kepada pembunuhan tersebut tetapi tidak diketahui dan tidak tercatat dalam sejarah. Misalnya karena para utusan itu telah bertindak kurang ajar dengan menghina Sulthan, Wallahu a’lam.

Masalah Belanja Perang dan Fatwa al-Izz bin Abdis Salam

Selesai dari masalah surat Hulagu, Qutuz berhadapan dengan satu masalah lain yaitu nagaimana mencari sumber keuangan untuk mempersiapkan Mesir menghadapi peperangan. Diperlukan dana yang besar untuk memperbaiki benteng, jambatan, membeli senjata dan peralatan perang serta bekalan makanan yang mencukupi untuk tentera dan rakyat jika Mesir dikepung oleh Tatar. Dalam keadaan Mesir yang dilanda dengan krisis politk dan ekonomi ketika itu, Qutuz tidak mempunyai masa yang banyak untuk menyelesaikan masalah itu setelah surat ancaman Hulagu sampai kepadanya memberikan isyarat bahwa serangan Tatar akan dating sewaktu- waktu, dan pasukan  Tatar sudah berada di perbatasan Mesir.
Qutuz memanggil para pembesar negara lalu melakukan musyawarah. Pilihan yang ada pada mereka adalah untuk mengutip duit dari semua potensi termasuk dari rakyat jelata. Ini perlu dilakukan segera. Mereka tidak ada pilihan selain dari itu. Tetapi pilihan ini memerlukan satu fatwa yang  dikeluarkan oleh ulama’ Islam karena umat tidak pernah mengenal adanya cukai  atau pajak lain selain dari zakat. Tanpa fatwa tersebut, Qutuz tidak akan melakukannya karena jika ia menyelesaikan masalah dengan jalan yang tidak syar’ie hanya akan menjebak Mesir ke dalam masalah lain yang mungkin lebih besar. Syariat adalah dasar bagi segala-galanya.
Di antara yang dipanggil untuk turut serta di dalam musyawarah tersebut adalah seorang ulama’ bernama al-Izz bin Abdis Salam (lebih dikenali sebagai Izzuddin Abdis Salam). Beliau lahir pada tahun 577 H. Ketika musyawarah tersebut umurnya sudah mencapai 81 tahun. Ibnu Daqiq al-Ied menggelarinya sebagai ‘Sultan nya semua ulama’. Gelar ini diberikan karena sifat beliau yang amat tegas di dalam menasihati para pemerintah dan panglima perang ketika perang Salib sedang seru serunya. Beliau bukan saja memberikan fatwa di dalam masalah ibadah tetapi juga turut campur tangan di dalam memberikan fatwa di dalam masalah politik dan peperangan.
Beliau pernah dipenjarakan di Damsyik dan di Quds kerana kelantangan fatwanya terhadap pemimpin Islam yang mengkhianati umat Islam dan melakukan persepakatan dan berkolaborasi dengan tentera Salib. Setelah dibebaskan oleh Raja Soleh Najmuddin Ayub, raja Mesir ketika itu, beliau berpindah ke Mesir dan menjadi Mufti Mesir setelah sebelum ini menjadi Mufti di Palestina dan Syam.
Ketika Qutuz merencanakan agar dilakukan pungutan dari rakyat jelata, Izzuddin Abdis Salam mengeluarkan satu fatwa yang cukup tegas. Beliau berkata:
“Apabila negara Islam diserang, wajib atas dunia Islam untuk memerangi musuh. Harus diambil dari rakyat jelata harta mereka untuk membantu peperangan dengan syarat tidak ada harta langsung di dalam Baitul Mal. Setiap kamu (pihak pemerintah) pula hendaklah menjual semua yang kamu miliki dan tinggalkan untuk diri kamu hanya kuda dan senjata. Kamu dan rakyat jelata adalah sama dan setara di dalam masalah ini. Ada pun mengambil harta rakyat sedangkan pimpinan tentera memiliki harta dan peralatan mewah, maka itu tidak boleh terjadi.”
Fatwa yang cukup tegas ini disambut juga dengan ketegasan oleh Qutuz. Beliau memerintahkan semua pembesar negara dan pimpinan perang agar menyerahkan semua yang mereka miliki kepada negara. Hasil yang menakjubkan; Mesir adalah negara yang kaya. Tetapi  ketika itu kekayaan tersebut telah disalahgunakan oleh sebahagian pimpinan pada masa itu. Penyerahan harta dari pembesar negara telah disambut oleh rakyat jelata. Mereka mulai menyumbangkan harta masing-masing untuk memenuhi tuntutan dana perang. Semua turut serta di dalam memberikan sumbangan. Fatwa Izzudin bin Abdis Salam benar-benar dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu singkat.

Kejutan Dari Qutuz; Memerangi Tatar Diluar Mesir, Bukan Bertahan di Mesir

Mesir sudah siap untuk menghadapi Tatar. Segala sunnah dan asbab telah diambil oleh Qutuz. Qutuz berhasil menaikkan semangat rakyat Mesir. Qutuz berhasil memadamkan perselisihan di antara pembesar Islam. Qutuz berhasil mendamaikan antara Mamalik Bahriah dan Mamalik Muizziah. Qutuz berhasil menyatukan antara Mesir dan Syam, dua wilayah Islam yang kuat. Qutuz berhasil memperkecilkan Tatar pada pandangan umat Islam. Qutuz berhasil membersihkan jiwa pembesar dan rakyat. Qutuz berhasil membersihkan uang-uang haram dan melancarkan jihad dengan menggunakan uang yang halal…. Subhanalloh!
Dengan kekuatan tersebut Qutuz memilih untuk melakukan tindakan yang cukup berisiko. Beliau telah mengumumkan pandangannya di dalam musyawarah dengan pimpinan tentera untuk mereka keluar menyerang Tatar di bumi Palestina dan mengubahnya dari rancangan awal yaitu menunggu serangan Tatar di Mesir. Pandangan ini amat mengejutkan pimpinan tentera,  sehinggakan sebahagian dari mereka bangun terkejut setelah mendengar pandangan tersebut. Berlakulah perbincangan dan Qutuz menerangkan kepada mereka rahasia pilihannya itu.

Qutuz menegaskan beberapa noktah yang kemungkinan tidak disedari oleh sebahagian pimpinan tentera akibat terlalu lama berada dalam krisis politik.

a. Keselamatan Mesir bukan terletak di Kairo tetapi sebaliknya bermula dari perbatasan Mesir di sebelah timur. Dengan itu usaha untuk menyelamatkan sempadan Mesir – Palestin mesti dilakukan dari peringkat awal dengan cara menyerang Tatar di Palestina
b. Berperang di luar Mesir memberikan Mesir kelebihan; iaitu mereka masih lagi ada peluang kembali ke Mesir untuk menyusun semula strategi. Tetapi jika mereka kalah di dalam bumi Mesir, mereka tidak mempunyai peluang tersebut. Sebaliknya Tatar dengan mudah dapat terus menerobos ke Kairo, ibu negara Mesir. Strategi inilah yang dipakai Nabi ketika perang Uhud.
c. Tentera Islam mesti melakukan kejutan ke atas musuh dengan cara mereka yang menentukan tempat dan masa untuk berperang (menentukan inisiatif peperangan). Dengan itu mereka berada dalam keadaan cukup bersedia untuk berperang dalam keadaan musuh tidak bersedia sepenuhnya.
d. Mesir bertanggungjawab bukan saja ke atas keselamatan Mesir tetapi juga ke atas keselamatan bumi-bumi Islam yang lain. Jihad mempertahankan negara Islam yang dijajah adalah fardhu ke atas negara jiran jika negara yang dijajah itu tidak mampu mempertahankan dirinya.
e. Umat Islam mempunyai kewajiban untuk menyerang dan mengalahkan negara Tatar lalu menawarkan kepada mereka pajak Islam atau jizyah. Apatah lagi jika sekiranya tentera Tatar berada di bumi Islam, kewajipan untuk membebaskan yang dijajah oleh Tatar tersebut lebih wajib lagi disbanding  menyerang negara Tatar ditanah mereka sendiri.
Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya keputusan diambil bersama. Tentera Islam akan bergerak menuju ke bumi Palestin dan menyerang Tatar di situ.

Perjanjian Damai Islam – Salib di Akka

Untuk sampai ke tempat yang sesuai dijadikan medan perang di Palestina, tentera Islam terpaksa melalui bandar Akka. Kota Akka pada ketika itu masih berada di bawah jajahan tentara Salib sejak tahun 492 H. Mereka telah berada di Akka selama 166 tahun. Disana terdapat generasi tentera Salib tersebut.
Ketika itu tentera Salib berada dalam keadaan yang cukup lemah di Akka. Kelemahan ini hasil dari keletihan peperangan yang mereka terpaksa hadapi dari tentera Solahudin Al- Ayyubi sebelum ini. Pembebasan Quds terjadi pada tahun 643 H. Peperangan Mansurah terjadi pada tahun 648 H. Selepas peperangan tersebut, banyak tentera Salib yang dijadikan tawanan termasuk King Louis IX, Raja Perancis.
Walau pun begitu, untuk membebaskan Akka dari tentara Salib tidaklah semudah yang disangkakan. Benteng terkuat tentera Salib adalah di Akka. Banyak percobaan termasuk percobaan oleh Solahudin al-Ayyubi untuk membebaskan Akka ternyata menemui kegagalan sebelum ini. Masa itu dimana tentara Tatar suda ada di Palestina, ada kemungkinan bisa terjadi  persepakatan di antara tentera Tatar dan tentera Salib yang tentu hal ini akan menguatkan kembali Akka.

Langkah yang diambil oleh Qutuz adalah melakukan perjanjian damai sementara dengan pemerintah Salib di Akka. Perjanjian damai ini akan berakhir apabila peperangan menentang Tatar selesai. Langkah ini diambil oleh Qutuz di atas beberapa pertimbangan:

a. Memerangi tentera Salib dan tentera Tatar serentak akan menghilangkan tumpuan tentera Islam dan melemahkan mereka.
b. Tatar adalah masalah utama ketika itu
Qutuz menghantar utusannya untuk menawarkan perjanjian damai. Beberapa syarat diberikan oleh Qutuz kepada tentera Salib yang menunjukkan bahwa Islam sebenarnya berada di posisi kuat ketika melakukan perjanjian dan bukan di posisi lemah. Ia tidak boleh disamakan dengan perjanjian yang berlaku sekarang ini  di antara sebahagian pihak yang mewakili Palestina sekarang (Fatah) dengan Yahudi penjajah.
Wakil Qutuz menawarkan kepada penduduk Akka keamanan. Mereka juga menawarkan akan menjual kuda-kuda tentera Tatar dengan harga yang murah kepada penduduk Akka jika mereka berhasil menjatuhkan Tatar. Tawaran ini amat menarik bagi penduduk Akka yang memang kekurangan kuda. Kuda-kuda Tatar terkenal di zaman itu sebagai kuda yang kuat dan cepat.
Tetapi di masa yang sama, wakil mengenakan syarat bahawa Akka perlu memberikan bantuan makanan dan apa-apa yang diperlukan oleh tentera Islam sepanjang mereka berada di Palestina. Wail juga memberikan pernyataan keras kepada tentera Salib di Akka bahwa jika terjadi sebarang pengkhianatan di pihak tentera Salib, tentera Islam akan meninggalkan peperangan melawan Tatar dan menumpukan sepenuh tenaga mereka kepada tentera Salib sehingga Akka berhasil dibebaskan.
Di pihak tentera Salib, mereka sebenarnya tidak mempunyai pilihan yang lebih baik dari menerima tawaran tersebut. Menolak tawaran perjanjian damai akan menaikkan kemarahan tentera Islam dan kemungkinan akan membawa kepada kejatuhan Akka. Dengan itu Akka dengan segera menerima perjanjian damai sementara itu.
Kini, jalan bagi  dan tentera Islam ke Palestin untuk berhadapan dengan Tatar kini terbuka.

Pembersihan dan Penyaringan Pasukan Muslimin

Kini peperangan benar-benar berada di ambang mata. Ia benar-benar akan berlaku. Kejutan berlaku kepada sebahagian tentera yang pada awalnya menyangka bahawa usaha tersebut hanyalah kampanye untuk  menaikkan semangat belaka, bukan sungguh akan perang. Ketakutan menyelubungi mereka karena Tatar adalah kekuatan gila yang tidak pernah dikalahkan. Tentera Salib tidak segila itu. Bahkan pada zaman itu tersebar dari mulut ke mulut satu mitos yang diterima oleh semua orang pada masa itu, yakni:  ‘jika kamu mendengar Tatar dikalahkan, jangan percaya’.
Sebagian kaum muslimin pun mulai ada yang lari meninggalkan tentera Islam sebagaimana kisah persiapan Nabi dalam menghadapi kekuatan Super Power Romawi pada perang Tabuk.. Sebahagiannya lari ke bumi Hijaz. Ada yang lari ke Yaman. Ada juga yang lari jauh sehingga ke Morocco. Hasilnya justru menguntungkan karena kini tentera Islam benar-benar bersih dari jiwa-jiwa yang kotor dan pengecut. Yang turut berperang adalah mereka yang benar-benar jelas leyakinannya, kuat dan berani menanggung segala risiko. Mereka bersedia dan siap untuk syahid di jalan Allah.
Barisan muslimin kini berada di puncak persiapan. Segala-galanya telah disiapkan oleh Qutuz, Raja yang menyerahkan kehidupannya untuk agama Allah. Usaha yang bermula dari Zulkaedah 657 H sehingga ke Sya’ban 658 H itu (tidak sampai 10 bulan) telah benar-benar membuahkan hasilnya.
Kini tentera Islam sudah benar-benar siap sedia untuk bertempur menghadapi Tatar.

Sya’ban 658 H:

Pasukan Bergerak ke Palestina Untuk Menumbangkan Tatar

Pergerakan tentara Islam bermula pada bulan Sya’ban 658 H. Ia bertepatan dengan  bulan Juli 1260 M. Bulan Juli adalah musim panas. Melewatii padang pasir di dalam musim panas bukanlah suatu yang mudah. Ditambah pula mereka akan menghampiri bulan Ramadhan. Tetapi Qutuz tidak menangguhkan langsung operasi tersebut dia ingin mengambil inisiatip dalam perang dan cukup untuk memahami medan, karena barang siapa yang lebih memahami medan, maka ia memiliki keunggulan dimedan itu.
Tentara Islam dilatih di Kairo, Asyut, Iskandariah dan Dimyath. Daripada Camp- camp latihan tersebut mereka berkumpul di Solehiah yang terletak di Syarqiah, Mesir sekarang ini. Dari situ mereka bergerak ke sebelah timur dan kemudian naik ke utara menuju ke Arisyh. Itulah kota pertama mereka berteduh setelah melintasi padang pasir dari Solehiah. Dari Arisyh mereka menuju ke Gaza yang kala itu berada di bawah penguasaan Tatar.
Qutuz telah membagi tenteranya kepada dua Kelompok/ Divisi/ Batalyon. Kelompok pertama agak kecil jika dibandingkan dengan kelompok kedua. Kelompok  pertama ini diketuai oleh panglima Islam yang hebat, Ruknuddin Baibras. Kelompok ini berjalan terpisah agak jauh dari kelompok kedua. Kelompok batalyon pertama ini sengaja berjalan menampakkan dirinya manakala batalyon kedua berjalan dengan perlahan dan menyembunyikan diri dengan kamuflase agar tidak diketahui keberadaannya.. Ini adalah antara taktik perang yang dilakukan oleh Qutuz untuk mengelabui mata musuh agar musuh silap di dalam menghitung kekuatan tentera Islam.

Kemenangan di Gaza

Pada 26 Julai 1260 M, Baibras sudah berjaya melewati perbatasan Mesir – Palestina. Dia berhasil melewatii Rafah, Khan Yunus dan Dir Balah. Kini dia berada sangat dekat dengan kota Gaza.
Para spion Tatar rupanya  berhasil mengendus kedatangan tentera Baibras. Namun ada yang salah, mereka menyangka bahawa pasukan itu adalah keseluruhan tentera Islam tanpa mengetahui tentang adanya pasukan kedua tentara Islam yang berada jauh dari Gaza. Berita tersebut sampai kepada tentara Tatar. Ketika itu tentera utama Tatar di bawah pimpinan Katabgha masih lagi jauh dari Gaza. Mereka berada di bumi Lebanon, masih 300 kilometer dari Gaza. Dengan itu mereka mengirimkan satu pasukan yang tidak begitu besar untuk menghadapi tentera Islam.
Kemudian terjadilah pertempuran dikedua belah pihak. Pertama kali setelah puluhan tahun, tentera Islam dalam kesempatan ini memperoleh kemenangan di dalam pertempuran melawan Tatar. Dalam peperangan tersebut sebahagian besar  tentera Tatar terbunuh. Tentera yang selamat melarikan diri menyampaikan berita tersebut kepada Katabgha.
Marah bercampur terkejut. Itulah reaksi Katabgha dan tentera Tatar ketika mendengar berita kekalahan mereka. Sebelum ini mereka sudah terbiasa membunuh orang Islam tanpa mendapat tentangan sengit. Mereka juga sudah terbiasa dengan beberapa Raja Islam yang menghinakan diri memohon perdamaian dari mereka. Di luar persangkaan mereka, masih ada lagi tentara Islam yang berani melawan mereka dan mampu mengalahkan mereka. Ini adalah pengalaman baru bagi Tatar.
Bagi  tentara Islam, kemenangan itu menaikkan semangat mereka untuk terus berjihad. Mereka tidak lagi menundukkan . Sebaliknya mereka kini berani menengadahkan kepala untu terus maju kedepan dan telah tiba saatnya untuk menghancurkan Tatar.

Peperangan: Ain Jalut (The Spring Of Goliath), titik balik kemenangan kaum muslimin.

Satu peristiwa penting yang terjadi di dalam bulan Ramadhan adalah peristiwa peperangan Ain Jalut. Peristiwa ini terjadi pada 25 Ramadhan tahun 658 H di Ain Jalut dan Bisan, Palestina. Medan pertempuran tersebut terletak tidak jauh dari Kota Yerussalem: al-Quds.
Ia adalah satu peperangan yang berhasil menebus kembali martabat  umat Islam setelah dikalahkan oleh tentera Tatar di dalam peristiwa beberapa kali seri  serangan pasukan Tatar ke atas daerah- daerah kekuasaan Islam. Panglima yang berjaya mengembalikan kemuliaan umat ini adalah Saifudin Qutuz, salah seorang panglima Islam yang hebat. Kehebatan Qutuz dan seberapa pentingnya  peperangan Ain Jalut hanya akan dapat dirasakan jika kita dapat menyelami penderitaan umat hasil dari serangan pasukan Tatar ke atas umat Islam.
Ketika itu dibawah Qutuz Tentara Islam terus bergerak dari Gaza melepasi Asqalan dan Yafa. Dari situ mereka singgah sebentar di Akka dan berjumpa dengan pimpinan tentera Salib di Akka untuk memastikan perjanjian masih lagi dipatuhi oleh mereka.
Seterusnya Qutuz dan tentera Islam bergerak meninggalkan Akka menuju ke Ain Jalut.

Di manakah Ain Jalut?

Ain Jalut terletak tidak jauh dari perkemahan Janin sekarang ini. Ia terletak di antara Kota Bisan dan Nablus. Ia terletak 65 kilometer dari Hittin, medan peperangan Hittin yang terjadi dahulu pada tahun 583 H dizaman Sahabat Nabi. Ia terletak 6o kilometer dari Yarmuk, medan peperangan Yarmuk yang terjadi enam abad sebelumnya. Kedudukannya banyak mengembalikan memori tentera Islam kepada kemenangan tentera Islam sebelum itu dibawah pimpina Panglima Perang Kholid bin Walid.
Ia dipilih karena ia adalah kawasan tanah lapang yang luas dan dikelilingi oleh bukit kecuali di bahagian utaranya. Bukit-bukit tersebut dipenuhi pokok-pokok kayu besar yang memudahkan tentera Islam untuk bersembunyi. Satu pasukan kecil di bawah pimpinan Baibras diletakkan di bahagian utara sementara tentera yang lain bersembunyi di balik pokok pepohonan.
Kini semua pasukan kaum muslimin telah berada dalam keadaan siap sedia menanti kedatangan Katabgha dan tentera Tatar.

Suasana Sehari Sebelum Perang: 24 Ramadhan 658 H

Ketika Qutuz dan tentera Islam sudah pun berada di bumi Ain Jalut, datang sejumlah sukarelawan dari Palestina. Sebelum ini mereka menyembunyikan diri dari medan peperangan. Kesungguhan Qutuz dan qudwah/ keteladanan yang ditunjukkan oleh beliau telah menghilangkan ketakutan mereka. Itulah pentingnya adanya seorang pemimpin teladan dalam setiap keadaan.
Sebelumnya, medan Ain Jalut juga mulai dipenuhi dengan petani-petani, kanak-kanak dan wanita. Sebahagiannya ada yang telah tua dan uzur. Kesemuanya kemudian keluar untuk memberikan bantuan dalam bentuk yang mereka mampu. Qutuz benar-benar berhasil menarik simpati rakyat dan sanggup  menggerakkan umat Islam kembali ke medan jihad yang sudah lama ditinggalkan ketika pintu- pintu kemakmuran telah dibukakan Allah.
Di hari yang sama, datang seorang utusan kepada tentera Islam dan memohon untuk bertemu dengan Qutuz. Dia memperkenalkan dirinya sebagai wakil Sorimuddin Aibak, seorang muslim yang dijadikan tawanan Tatar dan dipaksa berkhidmat untuk tentera Tatar. Wakil tersebut berkata bahawa dia membawa beberapa pesan rahasia dari Sorimuddin Aibak untuk disampaikan kepada Qutuz.

Pesan rahasia tersebut berisi beberapa maklumat penting untuk tentera Islam:

a. Tentera Tatar tidak lagi sekuat sebelum ini. Hulagu telah membawa sebahagian tentera dan panglima perangnya ke Tibriz, Iran. Kekuatan mereka tidak lagi sekuat ketika mereka menaklukkan Syam.
b. Bahagian kanan tentara Tatar lebih kuat dari bahagian kiri mereka dan terdiri dari pasukan elit Tartar yang memiliki keahlian khusus dalam berperang. Dengan itu tentera Islam hendaklah menguatkan bahagian kiri mereka untuk menghadapi bahagian kanan tersebut.
c. Asyraf al-Ayubi, Raja Hims yang sekarang ini bersama tentera Tatar ingin kembali ke pangkuan tentera Islam. Mereka akan melakukan tipu helah agar tentera Tatar yang bersama mereka dapat dikalahkan.
Maklumat ini diterima oleh Qutuz dengan penuh hati-hati, bimbang jika sekiranya ia adalah merupakan sebahagian dari taktik dan tipu daya Tatar.
Semua ini berlaku pada siang 24 Ramadhan 658 H di Ain Jalut.
Pada malamnya Qutuz dan tentera Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah kemenangan tentara Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam 25 Ramadhan658 H dan kemungkinan ia adalah malam Lailatul Qadar. Mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Moga-moga Allah menerima mereka sebagai hambaNya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari.
Moga-moga esok adalah hari di mana mereka boleh menebus semula kematian jutaan umat Islam di tangan Tatar.

25 Ramadhan 658 H Bertepatan dengan 3 – September- 1260

Fajar menyingsing tiba. Hari yang dinantikan oleh tentera Islam dan muslimin yang bersama dengan mereka sudah menjelma. Hari itu adalah hari Jum’at 25 Ramadhan 658 H.
Tentera Tatar di bawah pimpinan Katabgha (Nestorian Christian Naiman Turk Kitbuqa Noyan. ) tiba dari arah utara. Tentera Islam bersembunyi di sebalik pokok-pokok pohon. Pasukan kecil di bawah Baibras yang pada asalnya berjaga di sebelah utara dan sengaja menampakkan diri juga menyembunyikan diri mereka ketika tentara Tatar tiba untuk melakukan serangan dadakan.
Qutuz memberikan arahan agar tentera Islam keluar menampakrkan diri secara susul menyusul, satu regu demi satu regu.
Ketika regu/ kesatuan  pertama turun dari bukit dan menghampiri tentera Tatar, Katabgha dan tentara Tatar menjerit ketakutan. Pasukan ini turun dengan memakai pakaian berbelang putih dan merah. Keseluruhan peralatan senjata mereka dihias cantik. Mereka turun dalam keadaan tersusun. Pergerakan mereka sama dan seimbang serta kompak hasil dari latihan yang memadai.
Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah Regu Sanqar ar-Rumi.”
Kemudian turun pula regu kedua. Regu ini memakai pakaian berwarna kuning dan membawa senjata yang berhias indah. Mereka juga turun dalam keadaan tersusun, pergerakan yang sama dan seimbang.
Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah Regu Balban ar-Rasyidi.”
Kemudian turun pula regu- regu dan kesatuan  berikutnya dengan memakai pakaian berwarna lain. Setiap kali satu regu baru turun, Katabagha akan bertanya kepada Sorimuddin: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin yang tidak mengetahui keseluruhan nama-nama kesatuan regu Mamalik mulai mereka-reka nama tertentu untuk menambahkan ketakutan Katabgha.
Tentera Mamalik terpecah kepada banyak kesatuan. Setiap kesatuan memakai warna tertentu yang membedakannya dengan kesatuan lain. Kuda mereka juga dihias dengan warna yang sama. Begitu juga dengan senjata mereka , kemah dan bahkan rumah-rumah dinas mereka di Mesir. Semuanya dibedakan warnanya dengan warna kesatuan masing-masing.
Semua kesatuan ini adalah sebahagian tentera Islam yang dipimpin oleh Baibras. Belum termasuk tentara yang masih menyembunyikan diri bersama Qutuz.
Genderang perang  dan tambur  mulai ditabuh oleh pasukan genderang tentera Islam. Sudah menjadi kebiasaan tentera Mamalik, mereka akan meletakkan satu pasukan genderang di medan perang. Mereka memainkan rentak yang akan memberikan isyarat tertentu kepada tentera Mamalik.Isyarat tersebut hanya mampu difahami oleh tentera Mamalik. Setiap pergerakan tentara akan ditentukan oleh gendering komando tersebut.
Pasukan Baibras sudah berada hampir dengan tentera Katabgha. Peperangan sudah semakin dekat.

Keadaan Medan Perang Pada Serangan Pertama.

Pertempuran pun segera dimulai. Katabgha yang menyangka bahawa pasukan Baibras yang kecil itu adalah keseluruhan tentera Islam telah mengarahkan keseluruhan tenteranya untuk masuk ke medan pertempuran. Mereka menyerbu masuk dengan jerit pekik yang kuat.
Baibras dan tenteranya berdiri tenang di tempat masing-masing menantikan kedatangan tentara Tatar yang berjumlah berlipat ganda dari bilangan pasukan mereka. Apabila tentera Tatar sudah hampir kepada mereka, Baibras memberikan isyarat kepada tenteranya untuk menyerbu ke depan.
Pedang bertemu pedang, genderang dipalu bertambah kuat berselang seling memberikan komando dan arahan dengan takbir dari petani-petani yang berada di atas bukit. Darah mulai mengalir. Satu demi satu nyawa melayang. Walau pun begitu, Baibras dengan bilangan tentera yang sedikit mampu bertahan sehingga ke saat itu. Ketakutan mula meresap masuk ke dalam diri tentera Tatar. Belum pernah mereka menghadapi kekuatan sedemikian.
Pemilihan Qutuz kepada Baibars memangnya tepat. Panglima-panglima perang yang dipilih untuk bertempur di peringkat awal dengan Tatar dan menghabiskan tenaga Tatar adalah panglima perang Mamalik terbaik. Mereka adalah panglima yang pernah terlibat  di dalam mengukir kemenangan di dalam peperangan Mansurah menentang tentera Salib pimpinan Louis IX. Mereka memiliki kemahiran perang yang tinggi dalam olah tempur.
Qutuz dan Pasukan utamanya masih lagi menanti di sebalik tempat persembunyian mereka menyaksikan peperangan tersebut dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke serangan kedua.

Serangan Kedua: Mengepung Tentara Tatar

Setelah beberapa saat berjalan, masanya sudah tiba untuk Qutuz memberikan komando dan arahan baru. Arahan seterusnya adalah agar Baibras dan tenteranya berundur secara teratur dan berpura-pura lemah. Taktik ini adalah taktik yang sama digunakan oleh tentera Islam di dalam peperangan Nahawand ketika tentera Islam di zaman Saidina Omar r.a. mengalahkan tentara Parsi. Taktik ini digunakan untuk menarik tenaera Tatar yang sudah keletihan masuk ke tengah-tengah medan peperangan dan mengepung mereka di situ. Sebagaimana yang kita ketahui medan Ain Jalut berbukit di seluruh kawasannya kecuali di bahagian utara. Kepungan itu agak mudah untuk dilakukan jika sekiranya Baibras berhasil menarik tentera Tatar ke tengah medan.
Ia bukanlah taktik yang mudah. Ia memerlukan satu perkiraan yang tepat. Terlalu cepat akan menyebabkan musuh menyadari taktik tersebut. Terlalu lambat akan menyebabkan kematian tentera Islam saat menarik mundur.
Qutuz memberikan komando kepada pasukan genderang untuk memberikan perintah baru ini. Baibras memahami rentak genderang tersebut. Tanpa menunggu waktu dia dan tentaranya mulai mundur ke belakang sedikit demi sedikit dengan penuh hati-hati. Mereka berpura-pura menampakkan keletihan dan kelemahan mereka.
Katabgha  yang berkali- kali memenangkan perang itu kali ini tertipu. Dia mengarahkan seluruh tenteranya untuk masuk ke dalam medan perang tanpa menyadari taktik tersebut. Ini adalah satu yang cukup mengherankan berlaku kepada beliau. Katabgha adalah panglima perang Tatar yang mahir. Menjadi panglima perang sejak zaman Genghis Khan. Ketika peperangan Ain Jalut, beliau berusia lebih 60 tahun atau mungkin lebih 70 tahun. Satu usia yang memberikan pengalaman yang tidak sedikit berkenaan taktik-taktik perang di zaman itu. Tetapi Allah rupanya mengatur segala-galanya.
Taktik ini berhasil. Tentara Tatar telah berada dalam kepungan. Pada ketika Pasukan Utama tentera Islam muncul, Katabgha baru  menyadari kesilapannya. Di sini tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali terus berperang mati-matian. Mereka sudah melihat bahwa kematian semakin menghampiri mereka.

Serangan Ketiga: Kekuatan Bahagian Kanan Tatar

Katabgha memberikan komando agar semua tenteranya berjuang mati-matian. Mereka seolah-olah mengamuk dan menggasak tentera Islam. Di sini terbukti kebenaran apa yang dikatakan oleh wakil Sorimuddin Aibak berkenaan kekuatan bahagian kanan tentera Tatar. Bahagian kiri tentera Islam telah dilabrak dengan dahsyat oleh mereka. Berguguranlah tentera Islam seorang demi seorang sebagai syahid. Allohu Akbar!
Qutuz yang melihat dari atas bukit merasakan kesukaran yang dihadapi oleh tentera Islam. Langkah yang diambil oleh beliau amat menakjubkan. Beliau mencampakkan topi besinya lalu memekikkan kalimat: ‘wa Islaaamah’. Raungan dahsyat ini diucapkan oleh beliau sambil beliau turun ke medan perang dengan menunggang kudanya. Langkah ini diambil oleh Qutuz untuk menaikkan semangat tentera Islam. Dan ini adalah tindakan yang penuh resiko tapi penuh perhitungan. Karena jika ia terbunuh dengan tindakan ini, kaum muslimin pasti kehilangan komando dan akan sangat mudah dikalahkan oleh kepintaran Katabgha.
Tentara Tatar terperanjat dengan kehadiran Qutuz di tengah-tengah medan perang. Qutuz memerangi mereka dengan penuh semangat seolah-olah beliau tidak langsung sayangkan nyawanya. Beberapa libasan pedang dan tombak hampir mengenai beliau. Kudanya berhasil ditikam mati oleh tentera Tatar sehingga menyebabkan beliau terjatuh. Walau demikianbeliau meneruskan jihadnya dengan berjalan kaki sehinggalah beliau berhasil mendapatkan kuda bantuan.
Seorang pembesar istana menjerit dan mencelanya karena lambat menaiki kuda. Beliau khawatir  Qutuz terbunuh lalu dengan itu akan kalahlah tentera Islam. Tetapi Qutuz menjawab: “Ada pun diriku, sesungguhnya ia sedang menuju surga. Ada pun Islam, ia mempunyai Tuhan yang tidak akan membiarkannya.”
Tentara Islam bertambah semangat dengan turunnya Qutuz ke medan perang.

Kematian Katabgha

Dalam peperangan yang berkecamuk itu akhirnya Katbgha terbunuh. Ia dibunuh oleh Jamaludin Aqusy as-Syams. Beliau adalah salah seorang panglima perang Mamalik. Pernah berada di bawah Raja Nasir al-Ayyubi. Kemudian beliau meninggalkannya setelah melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh Raja Nasir al-Ayyubi.
Beliau menyerbu tentara Tatar sehingga berhasil masuk ke tengah-tengah tentara tersebut. Di situ beliau melihat Katabgha. Jamaluddin tidak menunggu lama. Beliau mengumpulkan seluruh tenaganya dan menebaskan pedangnya ke arah leher Katabgha. Kepala Katabgha berpisah dari badan dan tercampak ke tengah medan perang di hadapan tentera Tatar.
Ketakutan makin meningkat melihat kematian Katabgha di hadapan mata mereka. Tentera Tatar mulai melarikan diri melalui bahagian utara Ain Jalut. Tentera Islam pun terus mengejar mereka dan tak membiarkannya lolos.

Pertempuran Akhir di Bisan dan Berakhirnya Kekuatan Tatar

Tentara Tatar berhasil memecahkan kepungan tentera Islam di Ain Jalut. Mereka melarikan diri sejauh 20 kilometer dan berhenti di Bisan. Tentera Islam terus mengejar mereka.
Disana terjadi pertempuran yang lebih sengit. Kali ini tentera Tatar benar-benar menggila untuk memastikan mereka terus hidup. Qutuz berada di tengah-tengah medan peperangan memberikan semangat kepada tentera Islam. Beliau memekikkan: “Wa Islaamah. Wa Islaamah. Wa Islaamah. Ya Allah bantulah hambamu, Qutuz untuk menghancurkan Tatar.”
Akhirnya kemenangan berpihak kepada tentara Islam. Mereka berhasil menamatkan mitos bahwa Tatar tidak akan dapat dikalahkan kapanpun.
Medan peperangan kembali sunyi. Tidak ada lagi bunyi genderang. Tidak ada lagi jeritan Tatar. Tidak ada lagi takbir para petani. Tidak ada lagi bunyi libasan pedang. Mayat-mayat tentera Tatar mati bergelimpangan dalam bentuk yang mengerikan. Qutuz berjalan di tengah medan perang yang sudah sunyi melihat hasil peperangan selama sehari di bulan Ramadhan yang suci itu.

Kesudahan Yang Baik Buat Raja Yang Hebat

Qutuz sujud ke bumi mensyukuri kemenangan tersebut. Beliau dan tenteranya berhasil membunuh kesemua tentara Tatar. Ya! Kesemuanya. Tidak ada seorang pun dari tentera Tatar yang berhasil meloloskan diri mereka hidup-hidup. Semuanya mati dibunuh oleh tentera Islam di dalam peperangan yang cukup hebat ini.
Kehormatan  umat Islam kini telah kembali. Kematian jutaan umat Islam di Baghdad dan disemua tempat lainnya telah berhasil dibalas oleh Qutuz. Memang beliau adalah seorang pemimpin hebat yang sukses mencipta satu sejarah untuk dibanggakan bagi umat Islam sepanjang zaman. 10 bulan sudah cukup bagi Qutuz untuk menjatuhkantentara Mongol  Tatar yang bermaharajalela di bumi Islam selama lebih dari 40 tahun.
Semua itu berlaku pada hari penentuan, 25 Ramadhan.Memang banyak kemenangan umat Islam terjadi pada bulan Romadhon, bahkan perang Badar pun terjadi di bulan Romadhon.

Akibat Kekalahan Tartar

Pada tanggal 27- Romadhon 658 Qutuz bergerak menuju Damaskus yang sudah ditinggal kabur selama- lamanya oleh pasukan Tartar. Rupanya kemenangan Qutuz amat sangat menggemparkan dan menggentarkan mereka. Negeri Syam pun kini kembali ketangan kaum muslimin, dan Syams kini bersatu bersama Mesir dibawah panji- panji Mamalik dan sanggup bertahan 270 tahun kemudian sebelum akhirnya muncul kekuatan baru yakni kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.
Semoga pahlawan seperti Qutuz akan terus ada penggantinya disetiap masa. Aamin.

Kesimpulan

  1. 1. Islam akan hancur  jika ummatnya penyakit WAHN, yakni berlebihan cinta dunia, dan takut mati.

  1. 2. Pemimpin dan Ulama Islam yang suka memecah belah umat adalah bencana terbesar ummat ini sebagaimana sabda Nabi: “Ada yang lebih aku takutkan dibanding kemunculan Dajjal. Mereka adalah para Ulama yang bejat moral (Ulama’ as- Suu’). Al- Hadist.

  1. 3. Seorang pemimpin yang bermoral dan bertasamuh sebagaimana dicontohkan Nabi akan dicintai seluruh ummat dan akan sanggup mengukir sejarah dunia  sebagaimana Thoriq bin Ziyad, Kholid bin Walid, Qutuz maupun Muhammad Al- Fatih.

Dirangkum oleh: Ibn Khasbullah dari berbagai sumber sejarah

Jumat, 28 Februari 2014

Mengapa Para Ulama Berbeda Pendapat?

Mengapa Para Ulama Berbeda Pendapat?
                                                             Oleh: Ustadz Abidun Zuhri
 
Bismillahirrahmirrahim. 

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Semestinya Allah memerintahkan agar kaum muslimin agar tidak berselisih. Akan tetapi, dalam kenyataannya kita temukan mereka berselisih di dalam memahami ajaran agama dan mengamalkannya. Ini adalah sesuatu yang sudah wajar terjadi. Namun, yang saya maksud perselisihan di sini adalah perselisihan para ulama yang dalam mengambil pendapat berdasarkan ijtihad, bukan karena ta’ashub atau memperturut hawa nafsu. Sebab jenis perbedaan itu banyak sekali. Jika kita memperhitungkan setiap pendapat yang berbeda dari yang lain, kita akan menyandingkan para ahli bid’ah dan kelompok sesat dengan para ulama yang sejati. Ini adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi.

Adapun sebab-sebab para ulama berselisih pendapat itu ada empat.Yakni:

Sebab pertama; Nash (teks) yang ada termasuk kategori musytarak lafzhi (kata yang memiliki macam-macam makna).
Misalnya, kata al-qur` yang dapat berarti (1) suci dan (2)berarti haid. Maka kata quru` dalam ayat yang menyatakan bahwa wanita yang dicerai wajib menjalani masa idah selama tiga quru` (al-Baqarah: 228), 3 kali suci menurut Imam Syafi’i dan 3 kali haid menurut Imam Abu Hanifah.

Sebab kedua; Sebuah hadits sampai kepada sebagian ulama dan tidak sampai kepada ulama yang lain.
Misalnya, hadits tentang wanita yang telah ditalak tiga dilarang kembali kepada suaminya kecuali telah menikah dengan laki-laki lain dan melakukan jima’ dengannya, lalu dicerai olehnya (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini tidak sampai kepada Said bin al-Musayyab sehingga ia tidak menysaratkan sebagaimana yang ada dalam hadits.

Sebab ketiga; Hadits sampai kepada semua ulama, namun sebagian menggunakannya dan sebagian yang lain tidak menggunakannya.

Untuk yang ketiga ini ada empat macam, seperti berikut ini.

1. Ada hadits lain yang lebih kuat. Hal ini menurut ulama Hanafiyah yang mendahulukan tarjih daripada jama’ (kompromi) hadits-hadits. Misalnya hadits yang berbunyi,“Perempuan tidak boleh menikahkan perempuan dan tidak boleh menikahkan dirinya sendiri.” (HR. Thabrani) Hadits ini bertentangan dengan hadits lain yang berbunyi, “Janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sementara gadis dimintai perintahnya dan diamnya adalah tanda setujunya.” (HR. Muslim) Ulama Hanafiyah mendahulukan hadits yang kedua, sementara jumhur ulama menjama’kan/ mengkompromikan antara dua hadits tadi, yakni makna hadits pertama adalah larangan perempuan menikah tanpa wali dan makna hadits kedua adalah wali tidak boleh memaksa janda.

2. Ada hadits lain yang lebih kuat dan tidak mungkin dijama’kan. Hal ini menurut ulama selain Hanafiyah yang mendahulukan jama’ daripada tarjih. Misalnya, hadits yang mengisahkan seseorang yang bertanya kepada Nabi saw. tentang seseorang yang menyentuh zakarnya, apakah ia wajib wudhu? Nabi saw. menjawab, “Sesungguhnya dia (zakar) adalah bagian dari tubuhmu (tidak membatalkan).” (HR. Abu Dawud dan lainnya) Sementara hadits lain menyatakan, “Barangsiapa yang menyentuh zakarnya, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Ahmad dan lainnya) Menurut Imam Syafi’i hadits kedua ini lebih kuat.

3. Hadits sampai kepada sebagian ulama dengan jalur yang shahih dan sampai kepada ulama lain dengan jalur yang dhaif. Misalnya hadits tentang khuf (muzah). Ada satu hadits yang membolehkan membasuh sepatu khuf (ketika wudhu) dengan tenggang waktu tiga hari untuk musafir dan satu hari satu malam untuk muqim. (HR. Nasa`i, Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah) Sementara ada hadits lain yang membolehkan membasuh sepatu khuf tanpa memberi batasan waktu. (HR. Abu Dawud) Imam Malik mengambil hadits yang kedua ini, sedangkan Imam Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan lainnya mengambil hadits yang pertama. Perbedaan ini disebabkan masing-masing mengambil hadits yang shahih menurutnya dan tidak menggunakan hadits lain yang dianggap dhaif.

4. Hadits tidak memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan sebagian ulama, sementara ulama yang lain menganggapnya telah memenuhi syarat-syarat hadits shahih. Misalnya sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Aisyah ra berkata, “Hafshah mendapat hadiah makanan. Ketika itu kami berdua sedang berpuasa. Maka kami membatalkan puasa. Kemudian Rasulullah saw. datang kepada kami. Kami berkata kepada beliau, “Wahai Rasul, kami telah mendapat hadiah. Kami menginginkannya. Maka kami membatalkan puasa.” Beliau bersabda, “Tidak mengapa, gantilah dengan berpuasa pada hari yang lain.” Hadits ini mursal (sanadnya antara tabi’in dan Rasulullah saw. terputus). Hanafiah dan Malikiah mengamalkan hadits ini karena menurut mereka hadits mursal itu menjadi hujjah. Sementara Syafi’iyah dan Hanabilah tidak mengamalkannya, karena menurut mereka hadits mursal itu tidak dapat dijadikan hujjah.

Sebab keempat; Pertentangan (ta’arudh) antardalil.
Yang dimaksud pertentangan di sini adalah pertentangan secara zhahir saja, karena tidak mungkin secara hakiki ayat yang satu bertentangan dengan ayat yang lain atau hadits yang satu bertentangan dengan hadits yang lain.

Menyikapi hal ini, jumhur ulama berpendapat bahwa sikap pertama kali yang harus diambil adalah menjamakkan (mengkompromikan) antardalil yang saling bertentangan itu. Jika tidak mungkin dilakukan, maka ditempuh jalur nasakh (pengguguran), jika diketahui mana yang lebih dahulu dan mana yang lebih akhir. Yang lebih akhir membatalkan yang lebih dahulu. Jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka dilakukan cara tarjih atau mengunggulkan satu dalil atas dalil yang lain.

Sementara ulama Hanafiyah memiliki pandangan lain dalam menyikapi masalah ini. Menurut mereka, langkah pertama yang harus diambil adalah mencari murajjih (sesuatu yang merajihkan dalil). Jika mereka menemukannya, maka mereka mentarjih salah satu dalil yang unggul. Jika hal ini tidak mungkin dilakukan, maka diambil langkah nasakh dengan cara mengetahui mana dalil yang lebih dahulu dan mana dalil yang lebih akhir. Dalil yang lebih akhir membatalkan dalil yang lebih dahulu. Jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka ditempuh cara jama’ antardalil.

Demikianlah sebab-sebab yang menjadikan para ulama berselisih pendapat. Dan jelas, perselisihan mereka berangkat dari cara memahami dan menggunakan dalil. Dengan demikian semuanya berusaha menggunakan dalil yang benar dalam berpendapat. Hal ini menjadi warisan ilmu di dalam umat Islam jauh lebih kaya daripada umat yang lain. Semoga Allah mengampuni dan merahmati para ulama yang telah mendahului kita. Amin.

Ustadz Abidun Zuhri: Alumnus Al- Azhar University Mesir.




Kosakata:

Ijtihad = Mencurahkan segenap kemampuan untuk menghasilkan suatu produk hukum syar'i dari beberapa sumber dalil yang ada.

Ta'asshub = Fanatisme/ Fanatik kelompok atau golongan.
Al- Qur' = Suci/ Haid. Kata benda yang memiliki makna musytarok/ multiple meaning/ banyak arti.

Tarjih = Mengambil yang paling kuat setelah memperbandingkan dua atau lebih dalil

Jama' = Mengkompromikan dua atau lebih dalil, seperti pada contoh kasus 1.

Shohih = Kualitas hadist yang memenuhi syarat.

Dhoif = Kualitas hadist yang kurang memenuhi syarat

Ta'arrudl = Bertentangan antar dalil secara lahiriyah. Seperti misalnya Sabda Nabi: "Air itu tidak bisa dinajiskan oleh apapun" dan Sabdanya yang lain: "Jika ukuran air mencapai 2 Qullah, maka ia tidak menanggung najis"

Nasakh = Menggugurkan. Hadist yang belakangan datang, dapat bersifat menggugurkan hadist sebelumnya. Seperti "Aku dulu melarang ziarah qubur, maka sekarang ber ziarahlah kalian".Maka hadist- hadist yang mengandung makna larangan ziarah qubur sudah di gugurkan/ dianggap tidak berlaku lagi.

Mansukh = Yang digugurkan. Larangan ziarah qubur sudah di gugurkan dengan adanya yang baru yakni perintah ziarah qubur.

Sepatu Khuf = sepatu laras panjang sampai menutup betis

Selasa, 25 Februari 2014

ISTIQOMAH ADALAH LEBIH BERNILAI DARI SERIBU KAROMAH

ISTIQOMAH ADALAH LEBIH BERNILAI DARI SERIBU KAROMAH 
H.Khaeruddin Khasbullah

 

الإستقامة خير من الف كرامة


ISTIQOMAH ITU LEBIH BERNILAI DARI SERIBU KAROMAH”
(Almaghfurlah Mama (kiyai) Sempur, Purwakarta .
(Lihat riwayat hidup beliau di:https://www.facebook.com/permalink.php?id=334009626713647&story_fbid=338019839645959).

Maka, seorang guru ngaji yang ISTIQOMAH, yang mengabdikan ilmunya dengan ikhlas untuk masyarakat, adalah lebih berbekas dimasyarakat dibandingkan dengan kedatangan 1000 orang “hebat dan keramat” yang datang sekali saja memberikan taushiyahnya kepada masyarakat tersebut. 

Bahkan mungkin hanya dalam waktu 2 minggu, sebagian besar anggota masyarakat sudah melupakan isi taushiyah para orang hebat itu. Berbeda dengan hasil pekerjaan Guru Ngaji yang ikhlas dan istiqomah itu yang mampu membentuk masyarakat sekitarnya menjadi orang- orang yang berakhlaq qur'any, bahkan ketika Guru Ngaji itu sudah lama wafat.

Banyak orang awam mengagung- agungkan fenomena ke-ajaiban keajaiban karomah inderawi, seperti kemampuan tak mempan benda tajam, atau dapat berjalan diatas air. Padahal karomah seperti itu bisa saja muncul dari orang- orang fasiq/ kafir. Bahkan seakan Alloh sedang mentertawakan orang- orang yang terlalu ta'ajjub dengan kekeramatan jenis ini, ketika Alloh mentakdirkan negara- negara yang justru terkenal memiliki kekeramatan model ini ternyata dapat dikuasai musuh dengan waktu yang lama. Indonesia dengan debusnya dijajah Belanda 350 tahun. Iraq dengan permadani terbangnya dihancur leburkan berkali- kali, pertama oleh Hulagu Khan dan terakhir oleh Paman Sam. India dengan para fakirnya yang dapat tidur diatas paku ternyata dijajah Inggris lama sekali, bahkan Indonesia lebih dulu merdeka dari pada mereka.
Sejatinya karomah terpenting para Walisongo adalah kemampuannya MEROBAH (khoriqul 'aadah) tatanan masyarakat Hindu- Budha- Animisme kedalam rengkuhan Islam dalam waktu singkat, bukan kemampuan MERUBAH daun jati lembaran uang. Ini adalah sebuah bentuk sejatinya KAROMAH (Karomah Haqiqy) yang timbul dari KE- ISTIQOMAHAN mereka dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

ثم الحقيقي من الكرامة ان تحصلن لنفس الإستقامة .( الشيخ أحمد الرفاعي). -
Sesungguhnya karomah sejati itu muncul untuk jiwa- jiwa yang istiqomah”.(Syekh Ahmad Rifa'i).

Allah bahkan berfirman dalam Al- Qur'an, bahwa mereka orang- orang yang istiqomah dalam pengabdiannya kepada Allah, sebagaimana Guru Ngaji yang mendedikasikan dirinya secara istiqomah membentuk anak- anak/ masyarakat yang qur'any- mereka akan dicintai para Malaikat baik didunia dan di akherat, sebagaimana firman Nya dalam Surat Fusshilat ayat 30-31:
   
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka ISTIQOMAH (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". [Fusshilat: 41:30]



Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. [Fusshilat: 41:31]


Kemampuan para wali melakukan hal- hal yang Khoriqul 'Adah, sebagaimana MEROBAH pohon kelapa atau tanah yang dicangkul jadi emas, seperti dipercaya terjadi pada peristiwa Sunan Bonang dan Sunan Kalijogo dengan Ki Ageng Pandanaran adalah keajaiban yang sering dikagumi awam dan karena itu sering “dijual” melaui film atau sinetron, dan itu adalah bentuk karomah Hiisiyyah/ panca inderawi yang bisa muncul karena kasih sayang Allah dan para malaikatnya. Namun menurut Ilmu Hakekat bisa saja keajaiban seperti itu dilakukan oleh para pendosa seperti tukang sulap dan para penyihir dengan sebutan SIHIR. Dalam kitab Hikam Al- Haddad bab Mukasyafah disebutkan:
"Adakalanya perkara-perkara seumpama keramat dan sebagainya itu berlaku juga pada golongan orang yang tertipu dengan cita-cita untuk mencelakakan dirinya dan sebagai suatu 69 Petunjuk Jalan Thariqat pengujian terhadap kamu Mu’minin yang lemah I’tikadnya. Semua itu tidak boleh dikira sebagai keramat yang benar, malah ia merupakan sebagai suatu penghinaan kepada orang orang yang mendakwa keramat itu. Sebab keramat hanya lahir (ada) pada orang-orang ahli istiqamah, yakni orang-orang yang sudah terkenal lurus dalam perjalanannya". Tapi Karomah haqiqy yang sesungguhnya, yaitu ISTIQOMAH adalah sebenar- benarnya Karomah yang tidak bisa dilakukan para pendosa dan harus diupayakan dan dicari oleh para pencari kebenaran sejati.. 

Syaikh ABU MUHAMMAD AL-MURTA’ISY menyatakan:

“Orang yang dapat menguasai dirinya dan menentang hawa nafsunya sendiri adalah lebih hebat dari orang yang sanggup berjalan di atas air, atau bisa terbang di udara”.(Iqodlul himam Fi Syarhil Hikam. hal.175)

Maka karomah model keajaiban pancainderawi seperti ini tidak boleh menjadi tujuan seseorang pencari kebenaran sejati, sebagaimana pernyataan Syekh Abû ‘Alî al-Jurjanî:  Jadilah engkau pemilik istiqomah. Janganlah menjadi pemburu karomah. Sesungguhnya, nafsu kamu lah yang menginginkan karomah. Padahal Allah hanya menyuruhmu untuk istiqomah.”(As- Suhrowardi :Awariful Ma'arif Hamis Ihyau uulumiddin. Mujalld 4 hal.267)

Rabu, 19 Februari 2014

Siapa Yang Menang Dalam Perang Suriah

 Siapa Yang Menang Dalam Perang Suriah




Pertempuran di Suriah tak hanya membakar negeri itu, tapi juga memanaskan Timur Tengah. Bahkan, di Indonesia. Di Suriah tak hanya membuat mereka saling membunuh, tapi juga saling menggunakan dalil agama. Di dunia Arab, juga ada seruan mengirim relawan perang serta perang fatwa dan opini. Di Indonesia, yang ada hanyalah followers, ikut-ikutan. Kasus Suriah menjadi begitu sensitif dan panas masuk ke ranah agama.

Sejatinya rezim Assad adalah rezim sekuler dan otoriter dengan segala represinya. Nama partainya pun Partai Sosialis. Mirip dengan rezim Saddam. Namun, Arab Spring membuat dunia Arab bergolak. Awalnya, adalah program demokratisasi George W Bush untuk Timur Tengah. Sejak pidato pada 6 November 2003 itu, Amerika Serikat menebarkan dolar ke wilayah itu.Panennya terjadi pada masa Obama ini. Tentu, gelombang demokratisasi tak akan terjadi jika tanpa dukungan sosial. Arus internasional berpadu dengan arus bawah. Awalnya Tunisia, lalu Yaman, Mesir, Libya, dan kini sedang menunggu akhir pertarungan di Suriah. Apakah di negeri ini akan gagal seperti halnya di Bahrain? Arab Spring memang tak berlaku di negeri-negeri kerajaan, termasuk Bahrain, yang justru menjadi sekutu Amerika Serikat selama ini.

Gelombang demokratisasi di Suriah seolah sedang buntu. Secara geopolitik, negeri ini menjadi simpul kepentingan Rusia dan Iran. Bahkan, Cina ikut mendukung rezim Assad karena Cina memiliki perjanjian untuk saling mendukung dengan Rusia. NATO dan sekutunya terlibat aktif untuk menggulingkan Assad walau tak mengirim pasukan secara langsung.

Sunni- Syi'ah

Dimensi konflik di Suriah menjadi rumit. Apalagi di negeri ini, ada rivalitas antara Syiah dan Suni. Ketika kemenangan tak kunjung diraih salah satu pihak, paling gampang adalah memanfaatkan kekuatan nilai yang berlaku di masyarakat. Agama adalah salah satunya. Kelompok Sunni-seperti Ikhwanul Muslimin, kaum salaf/Wahabi, juga Alqaidah-yang selama ini tertekan di bawah rezim Assad menjadi kekuatan utama perlawanan. Sedangkan, kelompok Syiah menjadi pendukung rezim Assad. Negeri-negeri di sekitar Suriah, termasuk ulama dan masyarakatnya, menjadi terlibat secara emosional. Ketika Syekh Al- Buthy yang Sunni berusaha bersikap netral, justru beliau syahid menjadi korban pengeboman oleh kaum Sunni sendiri.

Sebenarnya Sunni- Syi'ah sudah mengakar di timur tengah sejak ribuan tahun yang lalu, tapi terbukti mereka sering bersatu melawan musuh bersama. Bahkan ketika perang 6 hari atau perang Yom Kippur melawan Israel yang melibatkan Mesir Lebanon, Suriah dan negara- negara Islam yang lain, tak terdengar unsur Sunni Syi'ah. Ketika Gaza dihujani bom dan tentara Hisbulloh pimpinan Hasan Nashrulloh melawan dengan heroik, belum ada suara- suara Sunni- Syi'ah, bahkan seluruh dunia Islam memujinya. Tapi kini suasananya lain.

Indonesia tak punya kepentingan apa pun secara langsung terhadap situasi di Suriah. Yang ada adalah rasa persaudaraan sesama Muslim. Tentu, kita berharap ada demokrasi di Suriah. Jalan demokrasi membuat umat bisa lebih mudah mengembangkan diri. Namun, penguasa selalu lebih cerdik. Umat diadu domba. Perbedaan Suni-Syiah menjadi jalan untuk membelah umat. Apalagi, kemudian terjadi perang fatwa dan opini. Dalil agama saling dilontarkan. Fitnah pun bertebaran.

Terjadi saling tuduh di antara umat pun terjadi di Indonesia. Kita harus benar-benar berhati-hati. Salah memilih diksi saja bisa menjadi kobaran api. Kita harus cermat memilih kata sebutan untuk kelompok yang melawan rezim Assad. Kata “pemberontak” pasti akan dikecam. Paling netral adalah “kelompok perlawanan bersenjata”. Bahkan, kata “oposisi” pun bisa dinilai tak tepat. Pilihan kata “gerilyawan” dan “pejuang” sudah menjadi usang dalam dimensi kekinian. Sejak Bush mengenalkan aksi multilateral tanpa melibatkan PBB, tata nilai dunia mulai bergeser. Diksi pun menjadi kacau.

Para penebar fitnah bukan hanya orang awam, melainkan aktivis keagamaan dan dai, bahkan ustaz. Tentu saja, yang namanya fitnah pasti salah, pasti bohong, pasti jahat, pasti buruk. Akan tetapi, ketika itu ditebarkan di mimbar keagamaan seolah menjadi positif. Lainnya melalui SMS berantai, mailing list, dan media sosial. Perang foto korban kejahatan perang pun dipamerkan oleh kedua belah pihak untuk memperkuat fitnah dan dakwaannya. Padahal jika terjadi perang saudara dimanapun itu terjadi, korban rakyat tak berdosa pasti berjatuhan termasuk anak- anak, wanita dan orang tua, dan itu dari kedua belah pihak. Kita seolah kehilangan pegangan, lupa pada moral agama yang kita kukuhi. Kita menjadi tercerabut dari akar kita sendiri. Kesalehan pribadi seakan sesuatu yang terpisah dari kesalehan sosial. Solidaritas kelompok seolah menjadi berbeda dengan solidaritas umat. Tentu, itu bukan akhlaqul karimah. Pada titik ini, kita makin sadar bahwa pengetahuan, gelar, atau profesi tak berbanding lurus dengan kualitas seseorang.

Israel Paling Diuntungkan

Di Perang Suriah, Israel minimal sudah memetik 3 kemenangan besar, yakni: 

1- Melucuti senjata Nuklir miskin Suriah (Senjata kimia itu sedahsyat senjata Nuklisr yang dapat dibuat dengan ongkos murah, dan akal sehat tidak habis mengerti mengapa rezim Assad berani menggunakan senjata kimia untuk rakyatnya sendiri. Padahal resikonya sebelumnya sudah tahu, yakni dia akan dihukum dunia. Teory paling mungkin, ada konspirasi Israel agar ada kelompok tentara yang tanpa izin menggunakan senjata itu). Kini Israel tak takut lagi pada kekuatan Suriah karena senjatanya sudah dilucuti.

2. Mengucilkan Hamas dari dunia mayoritas Sunni. Padahal pada operasi pengepungan Gaza (operasi cast lead) beberapa tahun yang lalu dunia Islam masih meng elu- elukan Hamas karena sanggup bertahan terhadap gempuran dahsyat Israel. Kini karena membela Assad dan dianggap beraliran Syi'ah, mereka mulai dihujat. Artinya sebentar lagi Israel akan menyerbu (lagi) Gaza tanpa pembelaan dunia Islam. 

3- Melemahkan dunia Islam dengan mengadu domba mereka, sehingga perjuangan melawan Israel terpaksa dana dan energinya dipakai untuk perang antar sesama. Sementara Israel bisa dengan bebas menggusur tanah- tanah Palestina tanpa takut pada negara- negara Islam.
 
Pada dimensi lain, umat Islam begitu mudah berpecah belah. Juga, begitu mudah dipantik dan dipicu sentimen agamanya. Adakah unsur agen- agen Mossad bermain disini? karena Suriah adalah adalah musuh Israel yang telah dianggap mampu menguasai teknologi Bom Nuklir Miskin (Bom Kimia). Maka tentu saja Israel akan berusaha agar Bom Nuklir Miskin Suriah dapat dimusnahkan. Caranya? : Devide and Capture (Adu domba dan kemudian kuasai).  Padahal, kasus Suriah adalah peristiwa politik. Soal Sunni dan Syi'ah sudah ada sejak ribuan tahun silam dan tidak ada masalah besar, tapi kini sanggup dinyalakan oleh para pemegang kepentingan yang ingin mendulang emas dari arena permusuhan. Sebagaimana para preman dan bromocorah yang berhasil meningkatkan omzet pendapatan mereka dalam keadaan Chaos. Kasus Suriah tak kering dari beragam kepentingan yang begitu rumit. Kasus Suriah makin menegaskan pada kita bahwa umat Islam saat ini tak memiliki daya kepemimpinan dan inisiatif.

Sebaiknya, energi kita difokuskan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Hanya dengan itu kita bisa membangun dan memajukan diri. Indonesia adalah tempat terbaik untuk itu. Jangan jadikan dunia Arab sebagai titik pusat. Betul Islam lahir di sana, tapi ajaran DIEN nya, bukan POLITIK PRAKTIS nya, bukan berarti apa yang dari sana pasti lebih baik. Islam Indonesia dengan segala kekhasannya jauh lebih menarik untuk zaman ini.

Mari kita merapikan diri di segala lini. Jauh lebih produktif berdaya kreasi daripada bersiasat. Misi suci akan berisi jika dari hati yang bersih, bukan dari hati yang sesat.

Sumber : Nasihin Masha, Republika.co.id - http://bit.ly/11MUX85 dengan beberapa tambahan dari admin.

Senin, 03 Februari 2014

PENGALAMAN GURU QIRO'ATI DARI MALAYSIA


PENGALAMAN ROHANI SEORANG GURU QIRO'ATI DARI MALAYSIA




(Saya berkesempatan bertemu beliau di SILAWIL QIRO'ATI di DI: WISMA TOEGOE DEPAG- PUNCAK- BOGOR, PADA 12- 14 OKTOBER- 2012")


KENAPA SAYA MENGAJAR AL QURAN ?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Setiap orang tentu ingin menjadi orang yang terbaik sama ada dari pandangan Allah SWT atau dari pandangan para makhluk-Nya. Saya ingin berkongsi sebahagian kisah hidup saya. Setelah selesai studi dan meraih Sarjana Muda di Madinah dalam jurusan Bahasa Arab, saya melanjutkan program Master di Mesir. Ketika itu saya kerap merasa bingung dan belum menemukan apa yang menjadi cita-cita saya. Nanti saya akan menjadi apa ? dan apa yang harus saya lakukan jika saya kembali ke tanah air ? Saat melihat orang-orang di sekeliling, saya merasa rendah diri, kerana merasa tidak memiliki apa-apa bakat seperti kawan-kawan yang lain. Ada antara kawan saya yang memiliki bakat kepimpinan yang terserlah sehingga selalu dikerumuni oleh kawan-kawan yang lain kerena pandai berpidato di hadapan orang ramai. Kawan lain pula memiliki kepandaian berorganisasi sehingga di mana-mana perkumpulan sahaja, ia selalu menjadi orang penting yang selalu diperlukan. Ada lagi kawan yang memiliki badan yang tinggi, segak dan tegar sehingga sentiasa nampak terpandang. Saya sering berkata dalam diri: aku ni siapa ? tidak ada bakat apa-apa ? anak orang desa ? badan kecil tidak tinggi dan tidak ada apa-apa yang bisa dibanggakan, tidak pandai berorganisasi apalagi berpidato di hadapan orang ramai. Itulah perasaan dan fikiran yang kerap berlegar-legar di fikiran dan hati saya. 

Itu dulu…..dulu dulu…. Saat ini Alhamdulillah saya merasa bahagia, memiliki keluarga, memiliki rumah, memiliki kendaraan dan keperluan-keperluan asas hidup sebagai manusia biasa. Dan banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang tidak terhingga yang tidak terhitung satu-satu. Semoga saya menjadi orang yang dapat mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT yang terlalu banyak ini. amin ya Robbal alamin. 

Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya: Mohammad Masruh bin Ahmad. Kepakaran saya adalah membantu mereka yang ingin membaca al Quran dengan bacaan yang benar agar mereka tidak menyebarkan ilmu bacaan yang salah yang akan dibawa sehingga akhir hayat. Alhmdulillah sudah ramai orang yang telah saya bantu memperbetulkan bacaan al Quran mereka, terutama para calon guru al Quran. Mereka merasa lebih yakin dan lebih mantap membaca al Quran dan dalam waktu yang sama mereka lebih bersemangat mengajar bacaan al Quran kepada yang lain. Di sinilah saya merasa mendapat lebih keyakinan diri bahawa hidup saya lebih bermakna apabila saya merasa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Apalagi teringat sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud bahawa orang yang paling baik antara kamu adalah orang belajar al Quran dan mengajarkannya. Inilah yang saya alami beberapa tahun terakhir ini, dan semoga akan menjadi amal ibadah saya yang berterusan sehingga akhir hayat saya. Saya merasa seronok teruja dan bahagia belajar al Quran dan berkongsi ilmu dengan orang lain. 

Pada permulaan dua tahun ketibaan saya di Malaysia, saya mengajar baca al Quran bukanlah seperti saat ini. Saya mengajar dari rumah ke rumah setiap hari pagi siang malam termasuk hari Sabtu dan Ahad, sehingga hampir dikatakan anak-anak dan isteri jarang bercuti bersama pada hujung minggu. Satu peristiwa mengaharukan dan sakaligus menyedihkan berlaku saat saya menyaksikan anak-anak kecil usia 4 tahun – 9 tahun pandai membaca al Quran dengan sangat-sangat cantik sekali. Cantik dari segi bacaan dan sekaligus dari segi tajwid. Saya termangu-mangu kagum kerana melihat keadaan ini. Peristiwa ini saya saksikan di Semarang Jawa Tengah Indonesia tepatnya di Kebon Arum di sekolah mengaji yang menggunakan kaedah Qiraati pada sekitar tahun 1989. Di depan kelopak mata saya anak-anak kecil pandai membaca al Quran dengan baik termasuk tajwidnya. Bahkan ada beberapa anak yang telah menghafal 5 juzuk al Quran. Anda bisa membayangkan kesedihan dan perasaan tercabarnya saya yang konon sebagai guru al Quran yang saat itu mempunyai anak yang berusia 4 tahun tapi sama sekali tidak mengenali walau hanya satu huruf hijaiyyah. Sedih dan amat sedih sekali. Saya menangis dan terharu melihat keadaan yang belum pernah saya saksikan sebelum itu. Dari situ saya bertekad balik ke Malaysia, saya akan mengajar anak saya membaca al Quran dengan sungguh-sungguh. Kesedihan yang kedua yang mungkin anda tidak dapat membayangkan adalah ketika Pak Dachlan Salim Zarkasyi penyusun Qiraati melarang saya mengajar al Quran setelah beliau mendengar bacaan saya dalam beberapa ayat yang ditunjukkan. Apa yang beliau ucapkan setelah saya membaca beberapa ayat ? beliau mengatakan kepada saya: “kalau bacaan kamu seperti ini, sebaiknya kamu jangan mengajar al Quran dulu. Dikhawatirkan kamu sama dengan menyebarkan dosa kerana bacaanmu masih banyak salah !.”. Masya Allah, bagaikan tersambar petir mendengar ucapan beliau. Saya terpinga-pinga dan bertanya-tanya. Apa bacaan saya yang salah ? bagaimana dengan kelas al Quran saya di Kuala Lumpur yang sudah 2 tahun saya mengajar ? saya telah terlanjur memberi ilmu yang salah ?. Astaghfirullahal ‘adzim. Itulah kesedihan yang teramat sangat yang berlaku saat itu. 

Akhirnya saya menyadari kesalahan-kesalahan saya dalam membaca al Quran setelah ditunjukkan oleh beliau. Dan ternyata setelah saya kembali ke Malaysia, ramai orang bahkan guru al Quran dan imam-imam yang melakukan seperti saya. Alhamdulillah sehingga sekarang saya lebih yakin dan bersemangat ingin berkongsi ilmu dengan mereka-mereka yang ingin memperbaiki bacaannya. Saya tidak ingin mereka seperti saya membaca al Quran tapi tidak menyedari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan ketika membacanya apatah lagi jika ingin mengajar al Quran kepada murid-muridnya. Berapa ramai antara anda yang ingin memperbaiki bacaan al Quran dan ingin mengajar al Quran ? Maka kaedah Qiraati adalah jawaban yang cukup tepat yang dapat menyelesaikan masalah anda. Qiraati adalah salah satu kaedah yang amat baik dan cepat untuk menscan bacaan anda. Dengan kaedah Qiraati, anda bisa lebih mudah mengetahui tahap bacaan al Quran anda hanya dengan membaca beberapa ayat yang telah dipilih. Ketika membaca ayat-ayat tersebut jika terdapat kesalahan baca, maka bacaan anda akan lebih mudah diperbaiki di bawah bimbingan seorang yang sudah dinyatakan lulus ujian guru al Quran kaedah Qiraati. Alhamdulillah setelah menggunakan Qiraati ini dalam mengajar baca Al Quran, hidup saya merasa lebih bermanfaat dan semoga Allah memberi keberkatan, ketenangan, kesihatan, kebahagiaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin ya Robbal. Semoga Allah mencucuri rahmat kepada penyusun Qiraati: al ustadz KH. Dachlan Salim Zarkasyi  almarhum. 

Marilah kita perhatikan anak-anak kita dalam membaca al Quran dengan baik dan kita doakan semoga mereka menjadi anak-anak yang sholih yang diterima doanya untuk kita ketika kita telah tiada kelak. Amin ya Robbal alamin. Perkongsian pengalaman ini saya tulis setelah menyelesaikan program TTT, dalam program platinum yang dipimpin oleh Dr Azizan Osman. Jutaan terimakasih kepada Dr. Azizan Osman yang telah berkongsi banyak ilmu selama program Platinum. Semoga Allah membalas dengan balasan yang berlipat ganda. Dan semoga bakat saya dalam berkongsi ilmu dan pengalaman di bidang pengajaran al Quran ini lebih dirasai oleh lebih ramai orang lain. amin ya Robbal alamin. Jika anda suka dengan perkongsian saya ini say: “I”. Wassalam.

Di copy paste atas seizin beliau oleh: H.Khaeruddin Khasbullah.